KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Sebelas Dua Belas


__ADS_3

Pagi setelah solat subuh samar-samar aku mendengar suara isakan tangis.


Dan setelah aku dengar buka pintu kamar untuk mendengar lebih jelas, ternyata sumber suara dari kamar adek.


"sayang, Nahla yang nangis?" tanya Dian.


"iya, sepertinya begitu. Aku coba lihat ke kamar dia dulu ya" akupun khawatir, tapi sudah mengira pasti gara-gara teringat kak Jo.


"morning kis dulu" permintaan suami yang tidak bisa di hindari. Atau bisa-bisa ngambek sampai besok paginya lagi.


Setelah melakukan itu beberapa menit, karena sudah pasti bukan hanya morning kiss yang terjadi.Tapi dengan bonus plus-plusnya juga.


Aku keluar dari kamar dan mengetuk kamar adek. Sebab masih di kunci.


Saat dia membuka pintu, kedua kelopak mata sudah nampak bengkak. Entah dari jam berapa dia mulai menangis.


Aku memeluknya sejenak sebelum akhirnya bertanya.


"adek, kamu kenapa? Pesawat yang di naiki kak Jo baik-baik aja kan?" tanya ku, mencoba menyelidiki apa yang terjadi.


"gak kak" jawab dia singkat.


"trus kamu kenapa nangis sampe kaya gini. Perasaan semalam keluar dari bandara baik-baik saja"


Lalu adek berjalan menuju nakas mengambil sebuah kotak kecil dan menyodorkan nya pada ku.


Ada sebuah surat di sana. Kotak cincin. Dan beberap lembar foto.


Aku sempat tersentak beberapa saat. Lalu mengambil surat itu dan mencoba mencari tau apa yang membuat adek nangis sehebat ini.


*Assalamu'alaikum Nahla.


Saat kamu membaca surat ini semoga dengan perasaan gembira. Karena aku tidak ingin melihat kamu bersedih.


Jangan menangis, jangan pernah menangisi kepergian ku. Karna aku pergi hanya sebentar saja. Aku pasti akan kembali untuk menjemput kamu suatu saat nanti. Do'akan pendidikan ku selesai dengan cepat. Dan kamu juga harus berjanji untuk tetap dan selalu semangat untuk mengejar pendidikan dokter.


Nahla, aku minta maaf jika selama kita bersama aku terlalu sering bercerita tentang Kayra. Mungkin sebuah kesalahan aku yang dulu terlalu mengejar dan berharap pada sesuatu yang belum pasti.


Tanpa aku sadari bahwa sebenarnya Allah sudah mendekatkan ku pada seseorang yang sudah satu visi misi.


Semoga belum terlambat aku menyadari semua ini. Semoga hati mu belum terisi oleh orang lain melebihi aku.


Aku menyayangi mu, Nahla. Entah itu sebagai kakak, teman, sabahat, seperti yang dulu pernah kita ikrarkan. Lebih dari itu semua, aku ingin kamu selalu hadir di hidup ku.


Tunggu aku kembali, jangan ijinkan seseorang bertahta di hati mu selain aku. Karna begitupun dengan ku. Tidak akan ada seseorang yang bisa menggantikan posisi kamu.


Mungkin ini bukan sesuatu yang berarti. Tapi aku ingin kamu memakainya, sebagai tanda bahwa kamu bersedia menanti ku. Anggap saja ini ikatan antara aku dan kamu, sebelum aku mengikat resmi pada orang tua mu.

__ADS_1


You are my every think Nahla.


Semua yang aku cari ada di kamu. Semoga kamu menyadari itu, cepat atau lambat.


Sayang kamu,


JOHAN*


Akupun lega membaca isi dalam surat tersebut. Bersyukur jika pada akhirnya kak Jo menyadari perasaan nya terhadap adek. Orang yang lebih pantas untuk dia kejar cintanya.


Aku lipat kembali kertas tersebut dan berganti membuka kotak perhiasan. Cukup menarik, baru membuka saja sudah nampak kilatan batu permatanya.


Cincin emas dengan batu permata di tengah.


"jadi critanya nangis bahagia ini tadi?" adek menyembunyikan kepalanya di bawah bantal. Menahan isakan tangisnya yang masih saja keluar.


"aku gak tau kak harus gimana kak. Bahagia atau sedih. Dan itu, ada cincin segala.....apa artinya?


Aku bingung. Kenapa aku harus merasakan hal seperti ini juga?????"


Aku tersenyum kecil mendengar perkataan adek.


"ini bukan sesuatu yang aneh dek. Berarti kamu sudah mulai dewasa, waktunya menikah. Palingan sebentar lagi juga nyusul kakak" goda ku.


"apa?! Gak. Gak mungkin. Aku mau jadi dokter dulu" dengan cepat adek bereaksi.


Kini tangisan nya sudah benar-benar berhenti.


"lha itu...sudah di lamar sama kak Jo. Ecieeeee"


"kakak......bukan. Bukan sepertu itu. Mana mungkin itu lamaran. Orangnya aja pergi jauh"


"orangnya memang pergi jauh, tapi hatinya....masih tinggal di sini bukan?" aku menunjuk dada ku sendiri.


"kaaakak. Apaan sih. Aku tuh beneran gak tau deh, kenapa kak Jo jadi bersikap seperti ini" nampak wajah polos adek yang sepertinya memang belum menyadari akan perasaannya.


Berbeda dengan aku yang dulu, sudah tau tapi selalu berusaha menampik.


"gak masalah lagi dek. Udah sama-sama besar kan?


Dan kalian itu memang pantes, serasi. Kakak dukung kok.


Kakak yakin, cepat atau lambat kamu juga akan menyadari perasaan yang sama seperti kak Jo"


"kakak bercanda. Sudah jelas-jelas kak Jo pergi jauh untuk menghapus perasaan dia ke kakak" masih saja adek menyanggah.


"sungguh? Benarkah?

__ADS_1


Kakak rasa kamu lebih banyak tau tentang kak Jo daripada kakak. Cobalah untuk menerima lembaran baru, jangan terus menyangkalnya. Jelas-jelas kak Jo sudah mengungkapkan perasaan dia ke kamu. Sekarang tinggal kamu, kapan akan menyadari perasaan yang sama seperti kak Jo.


Maaf ya dek. Atas apa yang terjadi antara kakak dan kak Jo. Sungguh, itu bukan kemauan kakak. Andai memang benar kak Jo pergi untuk menghapus perasaan dia ke kakak, itu hanyalah sebagian alasan kecil.


Lebih dari itu, kamu sendiri pasti lebih tau alasan kak Jo.


Kak Jo orang yang baik, sungguh. Kamu juga anak yang baik sayang. Kita semua punya takdir dan jalan hidup masing-masing yang harus di lalui.


Apapun yang akan terjadi nantinya dengan kamu dan kak Jo. Semua itu terlepas dari sangkut paut tentang kakak"


Adek masih saja tertegun memandangi kotak yang berada di samping ranjang. Aku menggenggam sebelah tangannya, berusaha memberikan semangat dan dukungan.


"aku perlu ngasih tau mama soal ini apa gak kak?"


"mending gak usah dulu. Sampai kamu faham dengan perasaan kamu sendiri. Lagian juga orangnya gak ada di sini kan?" aku menggodanya kembali.


Adek hanya menganggukkan kepala tanda setuju. Lalu kembali menyandarkan tubuh di atas ranjang.


"pantes aja kak Jo itu kemaren sikapnya aneeeeehhhh banget"


"aneh gimana?" tanya ku penasaran.


"ya aneh kak. Gak seperti biasanya.


Peluk itu pakek kenceng trus laaaamaaa banget. Udah gitu semua bagian wajah aku dia ciumin. Malahan dia berani nyium bibir ku juga sekilas.


Trus dia juga nitip pesen kaya gini sama mama papanya "ma...pa...tolong jagain Nahla buat aku". Aneh banget kan kak?"


"sebenernya bukan aneh dek. Itu karena kak Jo sudah menyadari perasaan nya ke kamu. Perasaan yang mungkin selama ini hanya dianggap sebagai sahabat mungkin"


"oh iya, satu lagi pesen dia kaya gini "*tunggu sampe aku kembali dan j*angan pernah biarkan cowok manapun deketin kamu". Tapi dari dulu kak Jo emang suka gitu kan, nglarang-nglarang aku buat di deketin cowok"


"trus kamu nurut aja gitu? Jadi itu sebabnya kamu gak pernah punya pacar?"


"ya gak gitu juga sih kak. Aku emang gak tertarik aja buat punya pacar. Deket sama kak Jo itu udah buat aku merasa punya segalanya. Jadi buat apa lagi punya pacar.


Lagian tuh ya, di agama juga gak boleh yang namanya pacaran. Mama papa juga pasti gak ijinin. Kakak kaya gak tau aj"


"yaaaa yaaa, mungkin aja cintanya udah dari dulu tapi sadarnya baru sekarang.


Menurut kakak, kamu itu sebenarnya juga udah punya perasaan yang sama lagi dek, hanya saja belum menyadari perasaan itu" aku tertawa kecil.


Ternyata kak Jo udah posesif ke adek dari dulu. Dan si adek nurut-nurut aja gitu.


Mereka itu sebenarnya punya perasaan yang sama. Hanya saja belum saling menyadari. Aku jadi punya firasat, akankah orang yang dulu pernah mengejar ku akan menjadi ipar ku???


____________________^_^___________________

__ADS_1


__ADS_2