
Dengan terpaksa kepulangan menjadi sangat alot. Kalau biasanya pihak RS yang belum memberi ijin pulang, kali ini justru orang rumah yang maunya tetap di RS dulu.
"daripada bolak-balik" kata papa. Karena tau sendirilah antrian di RS. Belum antri dokter, belum antri obat, belum lagi macetnya di jalan.
Ya sudah, apa kata komandan sajalah.
Kali ini aku konfirmasi pada 3M bahwa mereka bisa datang ke RS.
Disisi lain, ada anak OSIS juga yang mau rombongan besuk.
haduw, jadi riweh gini sih. Bisa-bisa jadi tempat reunian nih RS
"trimakasih atas perhatian teman-teman, tapi aku sudah baikan kok. Beneran deh, palingan besok juga sudah bisa masuk sekolah"
~send
aku coba untuk meyakinkan teman-teman supaya mereka membatalkan rencana untuk datang kesini.
Kemudian adzan dzuhur terkadang dan aku mengambil wudhu untuk segera solat. Takut kalau 3M datang, sudah pasti mereka tidak akan sebentar disini.
Disaat rokaat terahir, terdengan suara pintu di ketuk. Tapi tak juga ada yang masuk, ahirnya kak Anggun yang membukakan pintu.
Mungkin saja 3M, tapi karena aku belum selesai solat jadi masih ditahan oleh kak Anggun.
Tak berlama-lama, bahkan do'a yang biasanya aku baca terpaksa beberapa aku skip.
Segera ku hampiri mereka, karena kak Anggun nampak tengah bercakap di depan pintu.
Belum juga menyapa, mereka sudah bergegas masuk dan menghamburi ku dengan pelukan.
Jadilah kami berpelukan seperti teletubbies.
Seakan mengobati kerinduan selama beberapa hari kemarin. Karena terpaksa harus ada jarak antara kami disebabkan kesibukan masing-masing.
"eh kalian ini, berapa hari sih gak ketemu" ucap kak Anggun. Yang kemudian membuyarkan pelukan kami.
"mumpung kalian disini, kakak tinggal dulu ke bawah ya. Cari makanan" lanjut kak Anggun.
"ini kami bawa nasi pandang kak, ada lebih kok" Melan memberi tau.
"gak apalah, biar gak bosen dari tadi disini terus" iya deh kak.
Setelah mendapat persetujuan kak Anggun meninggalkan kamar.
Dan mulailah kehebohan 3M. Jadi narasumber untuk beberapa saat. Semua pertanyaan diajukan dan sudah aku jawab. Pada ahirnya jadilah mereka yang super geregetan.
Tapi aku melarang mereka untuk melakukan apapun kali ini. Biarkan pihak berwenang yang menangani, BK.
Karena bukti jelas terlihat.
Selepas bercerita kami segera membuka bungkusan nasi. Tadi aku minta dibawakan nasi padang.
Ditengah-tengah makan, ada pesan dari kak Anggun
"dek, ada cowok juga tadi diluar. Pacar kamu ya"
hanya aku read, dan segera konfirmasi pada 3M.
"siapa, gak ada. Kita kesini naik kendaraan online kok" Melda memberi tahu.
"mereka kesini naik kendaraan online kok kak"
~send
karena tadinya aku fikir salah satu supir mereka.
"bukan supir dek, seumuran kalian kok. Bening pula, kasihan dianggurin"
ahirnya aku berdiri untuk memastikan. Sementara 3M terlihat saling main mata.
"habisin dulu makannya Kay" Melan menahan ku saat aku hendak berdiri.
Tapi benar juga, keburu gak enak. Sudah ada kuah-kuah.
"palingan juga orang besuk kamar lain. Atau penunggu pasien lain yang lagi bosen di ruangan gitu"
__ADS_1
Meysa angkat bicara.
"bening kata kak Anggun, kasihan dianggurin"
"iyalah, ini gedung VIP. Setengah juta bisa lebih buat semalam aja. Yang lusuh di rawat inap kelas 3 noh! sampai pada lesehan tidurnya"
ucap Meysa, yang seringkali ceplas ceplos kalau ngomong.
"hust.. Meysa" tegur Melda, yang dengan pembawaan sikap lebih kalem. Sebelas duabelas lah sama aku.
Sedangkan Melan, tegas pembawaannya.
Makan siang selesai, tapi aku masih tidak diijinkan oleh mereka untuk membuang sampah di depan. Padahal niatnya sambil mengintip orang yang diluar.
"terus kapan kamu pulang Kay" tanya Melan.
"harusnya tuh hari ini, tapi nanti malam harus balik lagi buat cek hasil Ctscan. Daripada bolak-balik, sama Papa suruh sekalian disini" tutur ku dengan expresi sedikit manyun.
"tadi mereka ke sekolah kan, aku lihat sekilas waktu mau ke ruang guru" ~ Meysa
"iya, ketemu guru BP. Gak tau juga sampai sekarang belum balik" ~aku
"sekalian nunggu Nahla mungkin" ~Melan
"bisa jadi" ~aku
drreet (pesan masuk)
"lha, gak di suruh masuk. Itu loh dek, Saudara nya Melan yang di depan itu. Nih kakak temenin dia diluar"
Pantesan, daritadi aku mau keluar ditahan-tahan. Ada yang di sembunyikan rupanya.
"ekhm... ekhm.. " aku sengaja berdehem untuk membuyarkan mereka yang tengah ngobrol tanpa arah.
"ada yang bawa penyusup ya" ucap ku.
"maksudnya? " mereka bertiga bertanya bersama dengan nada heran
"siapa yang diluar? kak Anggun sudah didepan loh, sama dia"
kali ini langsung diam semua. Suasana berubah menjadi hening.
Giliran aku yang dibuat bungkam, gak tau mau ngomong apa.
"kakak itu dari kemarin kuatir Kay, sampai mohon-mohon sama aku biar diijinkan ikut buat besuk kamu" Melan menjelaskan
"darimana dia tau" tanya ku
"dia ada dirumah ku, waktu kak Jo teriak-teriak manggil mama kamu. Makanya dia jadi tau. Aku aja taunya dari dia" Melan kembali menjelaskan dengan nada memohon.
Oklah, kali ini tidak akan ada pertikaian. Sudah berahir bukan?! Ini juga rumah sakit, semua butuh tenang. Aku cukup sadar diri.
Jadi aku hanya diam. Tidak menerima, juga tidak menolak. Apa mau dikata, sudah terlanjur disini orangnya.
"iya Kay. Kenapa juga sih kamu mesti musuhan sama dia? " tanya Melda, dan aku mulai merasa ada sesuatu.
"Melan udah cerita banyak sama kita. Apa kamu tidak terlalu keras memperlakukan diri kamu sendiri. Jika pada ahirnya kamu sendiri merasa tersakiti, gak fokus" ~Melda
"kita selalu perhatikan kamu kok Kay, sekalipun waktu kita tak banyak dari kemaren. Karena kesibukan masing-masing. Kamu terlihat lebih murung dan gak fokus. Berbeda dengan sebelum liburan" ~Meysa
"selama liburan, kami bertiga selalu kontak Kay. Jadi Melan dan Meysa selalu tau kondisi terupdate" ~Melan
"hah,kenapa aku gak tau? di grup sepi-sepi aja" kali ini aku yang mendadak heboh
"iya,kamu aja yang telalu sibuk dengan kenalan baru" ~Meysa
"hust" Lagi-lagi tegur Melda
"hehe, kita bikin grup baru. Buat nimbrung in kamu" ~Melan
"huwaaaa.... kalian jnj bener-bener ya"
aku jadi ingin nangis juga ingin tertawa, punya sahabat macam mereka.
"Kay, baikan gih sama kakaknya Melan" Melda mendukung
__ADS_1
"iya Kay. Kalian gak harus saling menyakiti diri masing-masing. Sejak kejadian itu, kakak sendiri juga lebih sering terlihat murung. Memang sih ada di kamar Ega, pegang stick PS. Tapi mata dan otaknya gak sinkron. Jadi kelihatan kucel, gak fresh kaya biasanya" ~Melan
"yang cari masalah uminya, kenapa anaknya ikutan nanggung masalah" ~Meysa
"gais.... kalian terlalu jauh nimbrung bertiga tanpa menghadirkan aku. Sakitnya aku yang rasain, sudah bertahun-tahun gais" ~aku
"gara-gara dia aku jadi kena masalah sama. Padahal sebelumnya sudah seperti ibu kedua" ucap ku dengan nada sedih.
Kali ini Melda memeluk ku dan menyandarkan kepala ku pada bahunya.
"terus dengan kalian berseteru seperti itu, apa semua masalah selesai? apa kamu juga sudah merasa nyaman, bahagia" ~Melda
"butuh proses untuk melupakan semua" ~aku
"seperti buku tulis bekas di coret-coret. Kita hapus sekuat tenaga pun tidak akan kembali bersih. Kamu tidak akan pernah mampu untuk menghilangkan dari ingatan.
Bagaimana kalau coretan itu kita hias saja, supaya lebih rapi dan menjadi indah? " ~Melda.
apa maksud kalimat kali ini?
aku berusaha mencerna.
Kejutan demi kejutan, tak terduga pula mereka akan menyampaikan hal ini.
"gak taulah. Pusing lagi kepala, kenapa terlalu banyak drama siihhhhhhhhh" ku tutup muka ku dengan bantal kali ini.
"hati yang lapang akan selalu memaafkan Kay. Memaafkan dengan cara yang baik. Saling menyakiti itu buka solusi yang baik menurut ku" ~Melda
"iya Kayra. Baikan aja ya sama Kakak. Gak harus banyak interaksi jika memang itu akan menimbulkan masalah. Cukup kamu ralat saja pernyataan kamu dulu, yang sudah tidak mau saling mengenal.
Aku yakin, kali ini kakak pasti bersungguh-sungguh. Karena dia juga punya target sendiri, sudah ada perjanjian dengan ustadzah" ~Melan
"ya Kay, tolonglah pertimbangkan. Aku yang berada diantara kalian juga ikut sedih lihatnya. Kalian gak harus saling menyakiti.
Kakak memang pernah salah, dan dulu aku tidak dekat sama dia. Kamu tau itu.
Jadi aku gak bisa sedikit banyak kasih saran.
Sekarang sudah berbeda, dia sudah mengakui sendiri kesalahannya. Kita sudah baikan.
Jadi, kamu baikan juga ya" ~Melan
Harus gimana? harus gimana? maaaamaaaaaa
Haruskah aku solat Ishihara??
"mumpung dia disini. Kesempatan kalian untuk bisa bicara dengan lebih baik. Dijamin gak ada yang mata-matain" ~Meysa
"ada kak Anggun, kalian lupa? nanti kalau sewaktu-waktu adek sama mama yang datang gimana? " ~aku
"bisa dikondisikan" ~Melan
"ngobrol aja berdua, nanti biar kita semua yang atur" ~Melan
Mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur dan bubur telah matang. Mau tak mau ya dimakan. Semoga tidak menimbulkan drama baru.
Kemudian aku mengangguk kan kepala, memberi syarat bahwa aku nurut dengan petuah mereka bertiga.
Melan keluar untuk memanggilnya Kakaknya. Sementara Melda dan Meysa merapikan wajah serta rambut ku yang tampak kusut, karena bersembunyi di bawah bantal tadi.
"nih, orangnya sudah disini. Baik-baik ya, gak boleh berantem! "
kemudian mereka semua meninggal kan ruangan tapi pintu tetap terbuka.
Aku belum berani untuk menatapnya. Jantung ku masih berolahraga siang-siang begini.
Sejak Melan keluar untuk memanggil kakaknya, jantung ku sudah mulai berpacu dengan lebih cepat.
Setelah dia berdiri di sebelah ku, dan lagi saat ini kami hanya berdua di ruangan.
oohhh mamaaaaa, tolong!!!!!!
_______________^_^________________
kabur dulu ah 🤣🤣
__ADS_1
siapin mental dulu bagi yang penasaran sama pertemuan Kayra dan Rahardian. Biar gak baper
terimakasih buat yang sudah mampir 😍😘