
Johan POV
Sudah hampir satu minggu aku hanya duduk diam memandang lukisan Kayra yang dulu ku buat sewaktu masih di bangku SMA.
Aku seperti tak punya kekuatan lagi mengetahui kenyataan bahwa hati Kayra sudah terisi nama seseorang, sejak dari lama. Pantas saja aku sangat sulit untuk meraih cintanya.
Sesakit inikah patah hati?
Rasanya untuk menangis tidaklah pantas. Tapi hati ini terasa begitu sesak. Perih, tapi tak terlihat lukanya. Ternyata luka yang tak berdarah itu lebih sakit dibandingkan aku yang dulu pernah mengalami kecelakaan motor.
Mama selalu saja menggedor pintu kamar ku sekedar untuk membujuk ku agar keluar untuk makan.
Bahkan aku tidak merasakan lapar.
Berteman dengan batang-batang rokok aku menikmati perihnya luka ini.
Kenapa aku bisa sebodoh ini?
Benarkah ini cinta, atau hanya obsesi ku untuk memiliki Kayra?
Bahkan aku meninggalkan KKN yang baru saja dimulai.
Aku dan Dian berlomba untuk lulus lebih cepat. Karena yang lulus lebih cepat mendapat peluang lebih dulu untuk sesegera mungkin menghalalkan Kayra.
Dari awal aku tidak bermaksud untuk memata-matai Kayra. Aku hanya sebatas ingin selalu tau tentang gadis itu. Dengan begitu saja aku sudah bahagia. Sekalipun secara langsung aku tidak bisa berinteraksi dengannya.
Karena jarak gedung kedokteran dengan ekonomi yang jauh, aku tidak mungkin setiap hari berkunjung ke sana tanpa keperluan yang jelas.
Sehingga aku meminta bantuan pada salah satu teman wanita ku, untuk sesering mungkin mengirimi ku foto/vidio Kayra.
Terkadang aku tersenyum sendiri saat memutar vidio kiriman, seperti kurang pekerjaan saja aku ini. Kadang vidio Kayra bersama Siska, vidio saat Kayra makan di kantin, vidio saat Kayra di masjid. Aku cukup terhibur, hati ku merasa selalu dekat dengan begini saja.
Lama-lama wajah Kayra menjadi candu bagi ku. Bahkan hanya ada nama Kayra yang memenuhi hidup ku.
Bukan karena tidak ada yang melirik ku. Hanya saja aku merasa nama Kayra sudah mendarah daging dalam hidup ku.
__ADS_1
Hingga suatu ketika, aku mendapatkan kiriman vidio yang kemudian membuat ku menghentikan semua kebodohan ini.
Vidio saat pertemuan Kayra dan Dian secara diam-diam. Bahkan Dian mengira itu sudah tempat paling aman untuk menyembunyikan pertemuan mereka.
Kalimat demi kalimat aku dengar dengan baik. Hingga pada akhir percakapan mereka, aku bisa mengetahui bahwa hubungan diantara mereka jauh lebih lama sebelum aku ada.
Hati ku memanas, tapi kemarahan tidak sedikitpun tersulut.
Aku cukup sadar bahwa Dian menghianati ku dengan bertemu Kayra secara diam-diam. Dia mengingkari perjanjian yang kami buat. Harusnya aku marah dan bisa menghajar dia.
Tapi apa yang terjadi, hati ku justru tak lagi berdaya menerima kenyataan pahit. Ternyata sudah dari lama hati Kayra dipenuhi oleh nama Dian.
KALAH, AKU SUDAH KALAH.
Aku tak berdaya. Apapun yang akan ku lakukan percuma. Perjuangan ku telah berakhir sia-sia.
Bahkan jika aku menghabisi Dian saat ini juga,belum tentu hati Kayra berpaling pada ku. Yang ada justru dia akan semakin membenci ku.
Mungkinkah aku melawan dua hati yang sudah lama saling mengisi?
Kenapa aku sebodoh ini? aku merutuki diri ku sendiri. Aku kuat karena cinta dan aku menjadi tak berdaya karena cinta. Dan ternyata, cinta itu justru bertepuk sebelah tangan.
"aaaaarrrkkkhhhhhh" aku berteriak sekeras mungkin tapi tetap saja tidak ku temukan perasaan lega setelahnya. Rasa sakit seperti tercabik-cabik masih memenuhi hati ku.
Kemudian aku bertemu teman sewaktu SMA dulu. Wajah ku memang terlihat kusut saat itu. Dia mengajak ku untuk duduk bersama. Kemudian dia mengeluarkan kotak rokok dari dalam saku. Dan lagi, ada sebotol bir yang ia keluarkan dari kantong plastik.
Awalnya aku hanya mencoba menghisap rokok. Tapi karena aku tidak pernah melakukan itu, aku tersedak di hisapan ketiga. Tanpa berfikir panjang, aku meneguk botol yang ada di depan ku. Seperti yang biasanya dilakukan, saat tersedak maka airlah yang pertama kali dicari.
Setelah air itu berada di dalam mulut, rasanya ada yang berbeda. Tapi aku tetap menelannya.
Tanpa melanjutkan menghisap rokok, aku berpamitan untuk pulang.
Sesampainya di rumah, kepala ku terasa pusing. Apa mungkin karena efek minuman tadi, tapi aku hanya meminum satu teguk. Mungkin karena tidak pernah. Tanpa berfikir apapun lagi aku membaringkan badan di ranjang berharap segala rasa sakit ini akan hilang setelahnya.
Entah berapa lama aku tidur, begitu membuka mata hari sudah gelap. Rasa pusing di kepala ku juga sudah hilang. Tapi tidak dengan rasa sakit hati ini. Hanya sesaat dia pergi, kemudian kembali mencabik-cabik.
__ADS_1
Sejak saat itu, aku mulai mengenal rokok dan juga minuman keras. Minimal untuk mengusir rasa sakit yang tidak akan pernah ada obatnya ini.
Aku kembali berusaha menjalani hari ku dengan rasa sakit hati yang masih menyelimuti. Jika dulu yang menjadi hiburan ku adalah vidio kegiatan Kayra, maka saat ini yang menjadi hiburan ku adalah rokok dan minuman.
Masa KKN dimulai, aku mengira dengan berada di pelosok desa jauh dari keberadaan Kayra, itu akan membantu ku untuk melupakan dia. Ternyata tidak.
Entah dengan kebodohan apalagi, aku justru datang di undangan pernikahan pak Nicholas. Yang sudah pasti Kayra ada di sana. Harusnya aku bisa mewakilkan pada yang lain.
Sudah sakit tertimpa tangga.
Di sana aku justru melihat hal yang bisa membuat ku gila.
Kayra dan Dian. Kedekatan mereka, keceriaan mereka, seolah membunuh ku.
Mereka benar-benar sudah menampakkan perasaan yang dulu mereka pendam.
Lalu aku bisa apa?
Aku pergi dan tak ada semangat lagi untuk menjalani hidup ini. Rasa cinta ini seolah membunuh ku.
Aku meninggalkan tempat KKN, kembali ke rumah dan memilih menjalani hidup ku yang saat ini. HIDUP tapi MATI.
Mengenai harga diri, sama sekali aku tidak memikirkan itu lagi. Andai pihak kampus tau dengan keadaan ku dan aku di berhentikan dari wakil BEM, aku pun tidak peduli.
Bahkan aku tidak lagi mempedulikan perasaan mama. Yang pasti akan bersedih dengan melihat keadaan ku saat ini.
Dulu sebelum berangkat KKN aku sudah sempat bercerita pada mama tentang semua yang terjadi. Aku mendapat semangat dari mama, sudah pasti itu akan di lakukan oleh seorang ibu. Namun natanya semangat dari mama tidak cukup kuat untuk melawan rasa sakit ini.
Dan kini, pada diri ku sendiri saja aku sudah tidak peduli.
________________^_^______________
TBC
____________
__ADS_1