
Malam berlalu dan aku tidur dengan lelap. Berharap mimpi bertemu pangeran tampan kaya raya, yang ada justru bermimpi bertemu dua ular di hutan.
Aku lari terengah-engah sampai ahirnya suara alarm dari adek membangunkan aku.
"kkakaaakkkkk" suara cempreng adek menggangu telinga ku. Cempreng nya melebihi suara jam beker.
Dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka, sayu sayu aku bicara "jam berapa sih dek"
"jam 6. Ada kak Johan di bawah" apa????
mendengar itu aku langsung menyingkirkan selimut dan duduk.
Aku ambil HP, mungkin saja ada pesan dari kak Jo. Kenapa juga dia tiba-tiba datang sepagi ini.
Dan benar saja, ada satu pesan. Bernada menodong, bukan lagi bertanya ketersediaan ku.
~besok pagi aku jemput, kita joging di taman kota. Kamu bisa cerita apapun disana~
Nah, ni orang PD sekali. Belum tentu juga aku mau .
Tapi sudah tertodong, orangnya sudah dibawah. Kasihan juga kalau aku suruh dia pulang begitu saja.
"dek, ikut jogging yok ke taman kota" segera aku katakan sebelum adek keluar dari kamar.
Dia paling suka olahraga jadi tak mungkin dia menolak.
Aku segera ke kamar mandi setelah adek keluar dari kamar.
Sesegera mungkin aku mandi, dari yang biasanya 15-20 menit bisa jadi kali ini hanya 3menit. 5menit sudah plus ganti baju dan lain-lain.
Saat aku keluar kamar, suara adek sudah terdengar di bawah.
Lega hati begitu melihat adek sudah siap dengan celana olahraga andalannya.
Sehingga tak perlu berlama-lama lagi kami langsung pamit sama Mana.
"di minum dulu susunya"
rupanya sudah tersedia 3 gelas susu di meja beserta roti bakar. Sementara 2 sudah koong. Itu artinya... perhatian amat sih sama kak Jo, ucap ku dalam hati sembari menatap piring dan gelas yang ada di meja.
Segera aku habiskan, tentunya setelah aku duduk lah ya.
Roti bakar aku comot pakai tisu untuk dimakan di mobil. Keburu siang, kasihan yang sudah lama nunggu.
Karna udara pagi masih segar jadi tidak menyalakan AC.
"Angin Jendela masih segar" ucapnya.
Tidak taunya setelah beberapa meter berjalan, terlihat sosok yang masih belum bisa menyingkir dari ingatan ku. Tapi kali ini sudah tidak menangis lagi, sudah habis mungkin airmata.
"eekkhheemmm" suara adek dari belakang. Sepertinya dia sengaja mengejek aku. Beruntung ka Jo tidak tau apa yang dia maksud.
Setelah beberapa menit kami sampai di taman kota.
Matahari sudah mulai tinggi, yang olahraga sudah mulai susut. Tapi masih ada beberapa, mungkin yang kesiangan sama seperti kami.
Baru 2 putaran, perut ku tiba-tiba terasa kram.
__ADS_1
"kakak tanpa pemanasan dulu tadi" adek langsung memprotes aq.
"emang kamu sudah" ucap ku yang tak Terima
"sudahlah, dari subuh sudah olahraga sama Papa"
tak diragukan lagi memang, jiwa sehatnya kuat.
"kak Jo lanjut deh olahraga nya, biar aku yang temani kakak" adek mempersilahkan kak Jo untuk meninggalkan kami. Sementara dia sendiri, sudah cukup mungkin olahraga nya.
"ewh,.. kak kak, kak Remond bukan sih itu? " adek mentoel toel pundak ku, karna tangan ku masih saja memegangi perut.
"mana? " aku coba memutar pandangan, mencari sosok yang adek katakan.
"sebelah pintu masuk itu, sama anak kecil"
dan benar saja, setelah aku temukan ternyata memang Remond.
Tapi kenapa gak kasih kabar kalau dia di Jogja. Perasaan baru kemaren gak ketemu, sudah muncul lagi tuh orang. Sempit nya dunia.
Masih ku tatap Remond dari kejauhan, dia sedang asik memberi makan burung Merpati bersama keponakan kecilnya.
Tak lama kak Jo kembali.
"sudah enakan" tanya nya. Kemudian dia duduk di sebelah ku, dan aku ulurkan handuk serta botol air minum yang tadi dibawanya.
Suasana hening, semua diam. Asik dengan pandangan masing-masing. Dan pastinyaa aku tidak melepaskan pandangan dari arah Remond.
Adek sih asik lihat anak main basket, dari tadi komentar terus, mereka yang main adek yang greget.
Sementara kak Jk, entah apa yang ada di benaknya. Sekedar diam untuk melepas lelah atau ada yang lain.
"kak, aku kesana sebentar ya" aku tunjuk arah dimana Remond berada.
"mau ngapain" tanya kak Jo.
"ada temen, sebentar ya" ahirnya kutinggalkan kak Jo sama adek.
Kurang lebih tiga meter berjalan, aku hampiri dua orang manusia yang masih saja asik bermain burung Merpati sedari tadi.
"assalamu'alaikum" ucap ku yang membuat Remond langsung mendongak dan burung merpati terlepas dari tangannya.
"waalaikumsalam, Kayra" Remond tampak terkejut. Kemudian dia berdiri dan segera mendekat ke arah ku berdiri saat ini. Tak ketinggalan bocah kecil itu ikut serta berlarian ke arah ku sembari terus berteriak
"kakak.... kakak.... kakak.... " dengan suara cedal khas bayinya. Rupanya bocah kecil itu masih mengenali aku.
"kamu disini, sama siapa?" Remond nampak melihat kanan kiri
"pertanyaan yang aneh. Ini Jogja, kota ku. Harusnya aku yang gitu sama kamu" Remond hanya cengar-cengir. Sedangkan bocah kecil sudah nemplok mainan tangan ku. Sepertinya dia rindu.
Dia apa om nya yang rindu???
"biasalah, antarin balik ni bocah. Setelah acara di Sanggar waktu itu, kakak ipar langsung terbang ke Palembang"
Belum juga lima menit ngobrol sama Remond, kak Jo sama adek sudah nyusulin.
"eh, sama Nahla juga" Remond masih mengenali adek juga rupanya.
__ADS_1
"iya kak, apa kabar? " adek mengulurkan tangan, tapi Remond menolak. Mungkin karna dia belum mencuci tangan setelah bermain burung tadi.
"eh ya, kenalin ini kak Jo. Kak Jo,ini Remond. Orang Banyuwangi" aku kenalkan kak Jo pada Remond, supaya tidak merasa tak di anggap.
"tunggu sebentar ya, aku cuci tangan dulu" Remond menarik tangan bocah kecil itu untuk cuci tangan. Tapi yang ada dia menolak. Malah minta diantar sama aku. Akhirnya kami jalan bertiga menuju tempat cuci tangan.
"pacar kamu Kay" Remond mulai menanyai aku.
"bukan. Dulu sih kakak tingkat, teman di OSIS juga. Tapi papa nya kak Jo teman kerja papa ku. Dan mama nya kak Jo teman sekolah mama ku"
aku coba menjelaskan, entah dia faham atau tidak. Aku sendiri yang ngomong juga berasa ribet.
"dunia itu sempit yah" sembari mencuci tangannya sendiri, dia masih saja ngomong.
"Sesempit Banyuwangi-Jogja kah? perasaan baru berapa hari gak ketemu, sudah muncul aja kamu"
dia hanya tertawa. Dan sekarang giliran bocah kecil ini yang mencuci tangan. Remond yang menggendong bocah itu, sementara aku yang membersihkan tangannya.
wadaw, sudah seperti mak, bapak dan anak aja!
"kamu habis nangis" reflek aku langsung mengangkat kepala. Dengan jarak yang sedekat ini, wajah kami hanya terpisah oleh kepala bocah kecil itu.
Aku hanya balas dengan senyum. Mau bilang tidak juga gak mungkin. Gak mungkin percaya dia. Setelah mencuci tangan kami segera kembali menghampiri kak Jo dan adek.
"rumah kakak kamu dekat dari sini? " aku kembali bicara setelah beberapa langkah berjalan.
"dekat, kita aja jalan kaki kesini"
"kak, ke CFD yooook" teriak adek begitu kami sudah dekat
"kak Jo kan mau makan bubur tadi" aku coba mengingatkan keinginan kak Jo, biar merasa diperhatikan lah. Tak di buang setelah ketemu teman baru.
"makan buburnya lain kali aja, gak lagi ngidam kan?!
ya kak ya.... pliiisssss" dengan melihat ke arah kak Jo, adek memohon.
"yang kakak dirayu segala macem gak mempan. Adeknya malah tukang ngrayu" ah, apa maksud kak Jo bilang begitu.
Sekalipun wajahnya tak secerah tadi, pada ahirnya juga mau diajakin ke CFD.
Eh Remond, nginthil saja dia. Begitu mendengar kami akan ke CFD, dia langsung mau ikut.
Mengingat dia yang selalu temenin jalan-jalan selama di Banyuwangi, tak enak juga kalau aku melarang. Dan kak Jo juga diam saja. Akhirnya aku setujui permintaan dia.
Tapi sebelum itu, kami antarkan pulang dulu si bocah kecil itu.
Beberapa saat perjalanan hening, sampai ahirnya kak Jo buka suara
"tau gitu tadi ke CFD, ngapain kesini"
Kak Jo masih saja protes. Kesal karna sudah capek masih harus jalan lagi, atau kesel karna ketemu Remond. Dari ajakan awal yang hanya berdua, menjadi bertiga, sekarang malah berempat.
************^_^*************
cie yang kencan nya gagal, uring-uringan.
Mending cepet di isi deh itu perut biar stabil lagi.
__ADS_1
jangan lupa tinggalin jejak ya buat yang sudah mampir. Author nya biar ikutan stabil juga update nya.
ditunggu yaaaa, bye bye 😘😘