KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Fase Baru


__ADS_3

Kembali ke kampus, kembali ke Pesantren, kembali berjibaku dengan buku-buku.


Mungkin benar apa yang Dian katakan, bahwa Ummi tidak akan menyimpan berita penting itu seorang diri. Terbukti dengan interaksi ustadz Billal terhadap ku, yang tidak lagi terlihat memperhatikan aku seperti biasanya. Bahkan terasa seperti menjaga jarak.


Syukur lah jika memang seperti itu, jadi aku tidak perlu menghindari ustadz Billal terus menerus. Bahkan aku berharap setelah ini terbebas dari pandangan menguliti ustadz Billal.


Sementara di kampus, aku mulai di recokin oleh sahabat-sahabat Dian, sepertinya Dian sudah terang-terangan ingin menunjukkan hubungan kami.


Sebenarnya bukan aku tidak suka, hanya saja terkadang risih menjadi pusat perhatian, pusat pembicaraan, sebagai tunangan mantan ketua BEM. Sudah sangat lelah menjadi pemeran utama sejak Sekolah Dasar.


Dian memang sudah tidak di kampus ini lagi, tapi teman-teman dia yang masih tinggal masih sangat banyak. Sehingga jejak Dian tidak menghilang begitu saja di kampus.


Terlagi dengan teman-teman wanitanya. Dikenali sebagai tunangan Dian bukan hal mudah rupanya. Aku sempat merasa bangga, dikenal sebagai tunangan Dian. Lelaki yang pernah menjadi nomor satu pada masanya.


Dilain sisi, aku harus kembali menghadapi perseteruan yang sama sekali tidak pernah aku harapkan. Kembali menjadi hidup dengan penuh usikan.


Dan memang, yah......


Dunia ini tidak akan pernah membiarkan mu hidup dengan tenang, tanpa ujian. Karena sejati nya hidup itu untuk di uji.


Hanya saja, kali ini jauh berbeda. Karena aku akan memperjuangkan seseorang yang kelak akan menjadi teman hidup ku. Kini sudah waktunya untuk aku berjuang. Memperjuangkan cinta dan kebahagiaan ku sendiri.


Menjadi mahasiswa akselerasi terkadang tak semudah dan semenyenangkan yang dibayangkan. Ketika harus mengikuti kegiatan bersama mahasiswa satu tingkat lebih atas, namun memiliki kesetaraan di dalamnya.


Harus siap mental untuk menghadapi sindiran juga cibiran.


Bahkan menjadi semakin berat rasanya saat tidak sengaja harus berinteraksi dengan cewek-cewek yang dulu pernah menjadi fans nya Dian. Bisa jadi masih mengejar Dian hingga saat ini, hanya saja aku yang tidak tau. Dan aku tidak pernah berusaha mencari tahu akan hal itu.


Bukan aku tidak peduli, hanya saja aku cukup yakin dan percaya pada Dian. Pada cintanya, kejujurannya, kesetiaannya. Bagi ku semua itu cukup terlihat dari perjuangan dia selama ini.


Kecuali, jika gangguan-gangguan itu nampak jelas terjadi di depan mata ku. Sudah pasti aku tidak akan tinggal diam.

__ADS_1


Tentang aku sendiri?


Jangan tanya, aku sudah sangat sibuk dengan jam terbang ku sendiri.


Bahkan kini aku sudah mulai menyiapkan diri untuk magang. Mencari referensi tempat-tempat terbaik


Kegiatan sampingan sebagai asdos sudah aku tinggal kan. Juga memberi les tambahan sudah aku hentikan.


Hanya saja soal pak Nicholas, seperti nya aku tidak akan bisa lepas dari bayang-bayang beliau. Mungkin sampai nanti aku di nyatakan 'lulus'. Jadi harus sabar, menjadi kaki tangan orang kedua di kampus.


Yah, pak Nicholas kini menjabat sebagai wakil rektor.


Sempat terlintas dalam benak ku, sudahkah waktunya untuk aku meninggalkan pesantren?


Cepat atau lambat, masa magang dan juga KKN akan membuat aku meninggalkan Pesantren dalam waktu yang cukup lama.


Sepertinya aku harus segera membicarakan hal ini dengan Siska.


Seandainya saja kami bisa tetap bersama, pasti itu akan lebih menyenangkan.


Ingin hati mengajak Siska untuk berlari bersama. Namun apa daya, jika dia tak mampu untuk itu.


Terkadang timbul rasa bersalah karena sering kali meninggalkan dia sendiri. Dan juga merasa sepi, saat aku harus menjalani aktivitas ku seorang diri. Berbeda dengan kebiasaan sebelum nya, yang selalu riuh dengan celotehan Siska.


Sungguh aku merindukan suasana gaduh bersama Siska.


Sayangnya, yang terlihat dalam diri Siska tak seperti yang aku resahkan. Dia terlihat nyaman saja, bahkan semakin akrab dengan Santri-santri di Pesantren.


Yang tak kalah membuat ku tertegun lagi, saat melihat Siska bercanda begitu akrab dengan ustadz Billal. Waktu itu saat ada kelas bahasa Arab. Niat hati aku ingin mengikuti kelas yang sudah jelas tertinggal. Ku pikir apa salahnya mencoba, mugkin masih bisa mengikuti lima menit pelajaran tersisa, daripada absen terus menerus.


Sayangnya yang aku dapati bukan lagi sisa lima menit jam pelajaran, melainkan interaksi hangat antara ustadz Billal dengan Siska di meja guru. Sedangkan bangku santri sudah kosong tanpa penghuni.

__ADS_1


Bukan aku cemburu, sama sekali tidak. Hanya saja, baru kali ini melihat Siska bisa bercanda begitu asyik. Karena sebelumnya pasti selalu saja perang mulut jika bersama dengan teman cowok.


Sebelum diketahui aku segera melangkahkan kaki untuk pergi meninggalkan kelas yang berada di gedung paling belakang.


Tak ingin berspekulasi terlalu jauh. Mana mungkin gadis bar-bar seperti Siska tahan berdampingan dengan seorang ustadz yang hidupnya lempeng, ibadah ibadah dan ibadah. Bawaannya serba serius. Memikirkan saja membuat aku ingin tertawa.


Dan saat aku tertawa sendiri, asik dengan pemikiran ku sendiri, tanpa sengaja aku bertabrakan dengan seseorang, ustadz Fikri.


"eh, maaf ustadz" aku segera menyadari jika map yang aku pegang terjatuh.


"kamu seperti sedang di kejar seseorang saja" kata ustadz Fikri.


"maaf ustadz, kebelet" alasan apalagi yang lebih tepat dari panggilan alam satu itu.


"yasudah, cepetan.


Saya sedang mencari ustadz Billal ini" ustadz Fikri memberi tahu alasan, yang sebenarnya aku juga tidak ingin tau.


"oh, ada ustadz. Masih di kelas merapikan buku-buku tugas.


" saya permisi, assalamu'alaikum " dan akupun bergegas meninggalkan ustadz Fikri tanpa ingin mendengar lagi apa yang akan beliau katakan.


"Bener-bene kebelet dia" gumam ustadz Fikri dan aku masih bisa mendengar nya.


"Iya, ustadz. Kebelet lari dari Siska dan ustadz Billal" Kata ku dalam hati, menanggapi perkataan ustadz Fikri yang tak tersampaikan.


Ustadz Fikri adalah saudara ipar ustadz Billal.


Andai saja beliau nanti mengatakan jika bertabrakan dengan ku, sudah pasti Siska akan bertanya sedetail-detailnya.


Jadi merinding sendiri, mengingat kebiasaan ustadz Billal dulu yang suka menguliti aku dengan tatapan nya.

__ADS_1


Akankah Siska juga akan menguliti ku dengan pertanyaan-pertanyaanny?????


__ADS_2