KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Keputusan


__ADS_3

"itu artinya kamu menikung Kak Jo? berjalan sendiri diluar kesepakatan"


"bisa jadi begitu. Tapi entahlah, aku terlalu bodoh dalam hal ini. Mungkin benar yang kamu katakan, aku memang egois"


"boleh aku memberi saran? " aku mencoba menjawab apa yang dia bimbangkan.


"Aku tau tentang perasaan sangatlah sulit untuk melawan. Tapi yakinlah, tidak akan ada dua cinta dalam hati seseorang. Cinta tau kemana ia akan berlabuh. Dan bukankah jodoh tidak akan tertukar?


Tetaplah konsisten dengan perjanjian kalian, hingga saatnya tiba.


Kalian sama-sama penting bagi ku..... "


"jadi, kamu juga menyukai Johan? " Dian menyela kalimat ku dengan tatapan lebih tajam.


"bukan begitu. Maksud ku, sama-sama penting bagi ku untuk tetap menjaga hubungan baik bersama kalian.


KAMU PILIHAN HATI KU


dan kak Jo, orang tua kami bersahabat sudah dari lama. Bagaimana pun juga kak Jo pernah berjasa dalam hidup ku. Aku tidak mau menikung dia sekalipun nanti pada akhir nya aku menyakiti dia"


"benarkah itu, aku tidak salah dengar apa yang kamu katakan baru saja? "


"iya, aku akui ☺ aku pun memilih mu"


jujur ku akui, sekalipun aku tidak tau kemana pada akhirnya nanti hati ini akan berlabuh. Semoga saja memang dialah jodohku kelak.


"Alhamdulillah ya Allah" ucapan syukur yang kemudian di susul dengan sujud syukur.


"sebahagia itukah dia? " pikir ku dalam hati sembari menyunggingkan senyuman yang selama ini belum pernah aku dapatkan saat bertemu dia.


"kebahagiaan macam apa ini? ini barulah awal. Tapi rasanya, ah.......tak pernah terbayang kan sebelumnya" air mata ku kembali menetes menyaksikannya. Mungkin ini yang disebut air mata bahagia.


"Semoga dengan saling terbuka,saling percaya dan saling mendukung mampu membawa kebahagiaan ini pada hubungan yang lebih nyata" aku mengatakan itu dan dia bangkit dari sujud nya.


"terimakasih banyak. Aku tidak berjanji bisa membuat mu selalu bahagia,mungkin ibu ku akan menjadi penghalang untuk jalan kita nanti.


Tapi aku janji tidak akan pernah menyakiti mu lagi"


"semoga saja. Aku sudah sangat lelah dengan semua tingkah konyol kamu. Kamu terlalu ngotot"


"begitu saja masih berulang kali di abaikan, apalagi.... " ucapan dia terhenti karena aku menatap handphone yang dari tadi terus saja berbunyi.


Sudah hampir pukul empat sore. Ternyata sudah hampir satu jam aku berada di tempat ini bersama Dian, tak terasa.


"kenapa tidak di angkat, dari tadi telpon terus mungkin ada yang penting" dia memperhatikan layar handphone ku.

__ADS_1


"gak penting" tapi aku justru mematikan handphone ku.


Kebahagiaan ku baru saja di mulai, aku tidak ingin kembali merasa kesal dengan perilaku ustad Billal.


"sudah selesai?" perkataan Dian membuat aku sadar jika masih ada dia di depan ku. Dan aku segera memasukkan kembali handphone ke dalam tas.


"sebenarnya tadi aku dapat kunci itu dari ustad Billal" ucapnya datar.


"kamu kenal sama ustad Billal? " aku cukup heran dengan penuturannya. Kenapa dunia itu begitu sempit sih.


"iya, dulu pernah jadi ustad pembina waktu lomba bahasa Arab.


Kamu ada hubungan apa dengan ustad Billal? "


"aku tinggal di sana" jawab ku singkat.


"berarti kamu tinggal di pesantren X?"


aku mengangguk


"kenapa sampai di temani ke kampus? "


"baru juga baikan, udah mulai posesif" aku menggerutu. Sebenarnya senang juga sih, itu artinya dia memperhatikan, hihi


"bukan begitu. Aku cukup mengenal ustad Billal. Orang-orang terdekat beliau bukanlah orang sembarangan.


"beruntung apaan, buntung yang iya" aku bicara asal


"maksudnya? " Dian mempertegas.


"gak usah bahas ustad Billal ah, bikin sebel" ucap ku kesal.


"ada masalah dengan ustad Billal? "


"bukan aku, tapi beliau yang suka mencari masalah dengan ku. Tenang saja, aku bisa atasi" jawab ku dengan isi di kepala sudah mempunyai berbagai macam akal untuk mengerjai beliau.


"yasudah, kalo kamu rasa begitu.


Lantas, bagaimana dengan kita? " Dian kembali bertanya.


"oh iya, kamu sih tanya-tanya ustad Billal. Jadi ganti topik Khan.


Jadi ya gitu, jalani saja kesepakatan kamu sama kak Jo. Sampai kita benar-benar bisa menjalani hubungan yang serius, bukan sekedar pacaran.


Yang terpenting kita sudah baikan dan kita sama-sama tau dengan perasaan masing-masing.

__ADS_1


Biarkan aku menimba ilmu lagi dengan tenang. Siapa tau dengan ilmu agama yang aku dapat, bisa membuat ummi kamu ikhlas untuk menerima aku sebagai menantu " (uhuk.. uhuk, uhuk... sebenarnya nahan ketawa banget ngomong ini)


"kamu memang cerdas" ucapnya singkat sembari mengelus puncak ubun-ubun ku dengan senyuman yang berhasil meneduhkan hati ku.


"yasudah, sore. Kamu pulang sama siapa, kenapa gak sama Siska dari tadi? " ucapnya kembali.


"Siska sakit, gak masuk. Makanya ustad Billal kasih tumpangan karena beliau ada keperluan di kantor sebelah" aku memberi tau.


"tapi ustad Billal rese, jadi males dekat-dekat orang itu" ucap ku dengan nada kesal.


"aku naik kendaraan online saja" aku menyelesaikan ucapan ku.


"mau aku antar? " dia memberi tawaran.


"tidak. Nanti jadi kebiasaan kalo sekaki saja dikasih kesempatan" aku menolak dengan tegas.


"OK. Aku mau solat Asar dulu, mungkin kamu mau ikut? " kembali dia memberi tawaran. Dan aku masih diam.


"tenang saja, Johan sudah pulang" mendengar ucapan nya aku mengangguk.


Udara segar memenuhi rongga hidung ku, sekalipun ini bukanlah pagi hari.


Setelah mengambil wudhu kami solat berjamaah. Nyaman sekali rasanya. Sayang belum halal untuk menjabat tangan. Tapi untuk meng aamiin kan doa dia boleh kan?


Wajah segar yang dulu pernah aku rindukan dalam diam, kini aku mampu menatap nya kembali dengan senyuman.


Sesederhana inikah ketenangan yang selama ini aku inginkan.


"mau barengan sampai ke depan? " dia masih belum menyerah untuk menawari ku tumpangan. Mungkin dia lupa dengan perjanjian yang ia buat bersama kak Jo, saking bahagianya.


"tidak, Dian. Mungkin kak Jo memang sudah pulang, tapi masih banyak mata di kampus ini. Dan mulut orang itu sekarang keceplosan" aku kembali mengingat kan.


"yasudah kalo gitu. Aku temani kamu sampai di kendaraan online datang"


aku mengangguk untuk kali ini. Tadi sebelum solat aku sudah memesan, mungkin sebentar lagi akan datang.


Dan benar, kendaraan online yang aku pesan datang. Sudah hampir pukul lima sore aku menaikan mobil. Mungkin sudah lewat magrib aku sampai di pesantren, jika jalanan padat. Untung saja sudah solat Asar.


Mobil melaju meninggalkan halaman masjid. Dan lagi, sebelum aku menutup pintu Dian sempat berteriak "nomor ku jangan di blokir"


aku hanya tersenyum dalam hati. Mana mungkin aku lakukan itu, kalaupun iya nomor dia aku blokir, tapi aku tidak akan pernah mampu memblokir nama dia dalam hati ku.


_______________^_^____________


hallo gays,,,, ada yang rindu sama Kayra? semoga cukup untuk mengobati rindunya yah.

__ADS_1


sekian dulu, selamat membaca para penggemar Kayra 🥰😍😘


mau tinggalkan jejak, boleh.


__ADS_2