
Pagi-pagi sekali mata ku tertegun melihat pesan panjang yang dikirim oleh nomor baru.
Kapan semua akan berakhir, sejatinya cerita hidup ini tidak akan pernah berakhir selama nafas masih ada dalam dada.
Aku menarik nafas panjang usai membaca pesan panjang yang sudah seperti koran saja.
Mamanya kak Jo, sudah pasti pesan itu tentang putra sulung beliau.
Entah apa yang terjadi pada kak Jo, yang pasti aku bisa melihat sendiri sewaktu bertemu di pesta pernikahan kak Maryam bahwasanya kak Jo bertambah kurus dengan penampilan yang berantakan.
Cerita panjang mulai dari awal kak Jo meraih kebahagiaan nya saat pertama kali bertemu dengan ku di bangku SMA. Perjalanan selama 3 tahun perjuangan kak Jo untuk merebut hati ku. Hingga akhir nya terjadilah perdebatan antara dia dan sahabat nya di kampus, tak lain adalah Dian.
Tak ku sangka kak Jo sedekat itu dengan mamanya. Kemudian perjalanan kak Jo yang mulai menyedihkan saat harus menerima keputusan dari mama yang meminta dia untuk menjauh dari ku. Belum lagi perjanjian dengan Dian yang sudah terlanjur ia sepakati.
Alih-alih memberikan kenyamanan dan ketentraman untuk ku, ternyata justru menyakiti dia sendiri sebegitu dalam.
Dari sana kak Jo mulai kehilangan semangat untuk memperhatikan diri sendiri. Mengabaikan pola makan, tidur juga olahraga. Berusaha keras untuk mengejar akselerasi guna ingin segera mewujudkan keinginan nya, yaitu menghalalkan aku.
Tapi saat itu semua hampir tercapai, dia mengetahui bahwa aku telah mengakui perasaan ku terhadap Dian.
Kak Jo sudah merasa kalah. Dia patah hati, patah semangat. (Semoga belum patah harapan hidup 😆)
Dia meninggalkan tempat KKN begitu saja. Kembali ke rumah dan mengurung diri di kamar. Makan enggan, bicara tak mau. Mamanya yang bicara di abaikan.
Kenapa harus kembali lagi pada ku, aku bukanlah malaikat penolong. Tapi mengetahui itu semua, aku juga bukan manusia yang tak punya hati.
Aku bingung, harus menghubungi siapa lebih dulu. Mama,adek, atau langsung menghubungi kak Jo. Tapi aku juga belum membalas pesan dari mamanya kak Jo.
Apa Dian?
Darimana kak Jo bisa tau semua?
Memang sih pepatah mengatakan, Sepandai-pandainya menyimpan bangkai pasti tercium juga. Tapi kenapa harus secepat ini?
Ya Allah, sudah pasti jiwa kemanusiaan ku terpanggil untuk membantu kak Jo. Apakah Dian akan mengijinkan jika aku membantu kak Jo, itu artinya aku akan sangat dekat dengan kak Jo.
"kenapa lagi Kay, jam segini udah mundar-mandir aja" tanya Siska yang baru saja membuka mata. Dia memang masih saja suka telat bangun subuh.
__ADS_1
"perasaan gak kelar-kelar ya masalah hidup ku" jawab ku dengan nada gusar.
"apa lagi sih, katanya udah beres kemarin sama ustad Billal" jawab Siska sembari meninggal kamar tidur.
Aku lihat jam, baru jam 5 pagi. Kalau jam segini aku telpon mama, kaget gak ya?
Aku masih saja menggeser kontak di handphone, mencari siapa yang akan aku hubungi lebih dulu. Akhirnya hati ku mantap berhenti pada nama Dian. Pasti sudah bangun sejak subuh dia. Bagaimanapun juga mereka pernah bersahabat, bukankah Dian pernah berkata seperti itu.
Panggilan tersambung dan langsung mendapatkan jawaban. Kata salam selalu menjadi kata pembukaan. Namun tak ingin berlama-lama, aku segera menanyakan pada inti permasalahan.
"sudah dengar kabar tentang kak Jo?" tanya ku.
"kabar apa, dia kenapa? "
"dia sudah tau tentang kita. Dan dia patah hati. Bisa dibilang sampai depresi. Dia meninggalkan tempat KKN, kembali di rumah dan mengurung diri" aku mencoba berbicara dengan nada setenang mungkin.
"hah, ada-ada aja dia. Mahasiswa cerdas macam dia bisanya sampai seperti itu.
Kamu percaya, yakin ini bukan akal-akalan dia supaya bisa menangin hati kamu?" kata Dian dengan nada ringan, tanpa khawatir sedikitpun.
"entahlah. Tapi mama dia yang memberi tahukan itu semua"
Aku diam sejenak. Sedikit ragu untuk mengatakan bahwa aku akan menemui kak Jo dan menemani dia untuk mendapatkan kembali semangat hidupnya.
"Kayra, Kay... " dia sempat memanggil nama ku beberapa kali.
"hemp, iya" jawab ku.
"kamu masih di sana?
jangan bilang kalau mama dia minta kamu buat nemuin Johan?
Kita ketemu saja nanti ya, sebelum kamu berangkat ke kampus." setelah sepakat kamipun saling mengucapkan salam mengakhiri panggilan.
Siska selesai solat subuh dan menghampiri aku yang saat ini sedang berdiri di depan jendela kamar.
Memandangi langit gelap yang sebentar lagi akan menjadi terang.
__ADS_1
Mungkin akan seperti itu pula kehidupan ini, habis gelap terbitlah terang. Segala permasalahan ini memang terkadang membuat hari ku terasa gelap, tapi aku harus yakin semua pasti akan ada akhirnya.
"kak Jo... Sis" Siska menepuk pundak ku.
"dia kenapa? "
"dia patah hati. Udah tau kalo sebenarnya aku suka sama Dian. Dia jadi kehilangan semangat hidup" kemudian aku tunjukkan pesan yang dikirim kan oleh mamanya kak Jo.
"seorang Johan bisa kaya gini ya? hanya gara-gara Kayra" Siska geleng-geleng kepala.
"kok gara-gara aku sih? " kenapa juga harus aku, bukankah di sini yang seharusnya menjadi korban itu aku?
"dia terlalu terobsesi tuh sama kamu" Siska memang selalu menanggapi suatu masalah dengan enjoy. Tidak menjadikan nya sebuah beban yang besar. Ini yang perlu aku contoh dari sosok Siska.
"terus aku harus gimana?" tanya ku pasrah.
"nangis dulu. Udah nangis belum tadi? " malah Siska sengaja mengatai ku.
"udah gak bisa nangis, terlalu rumit.
Kalo aku bantu kak Jo, takutnya dia ketergantungan dan akan selalu menuntut untuk dekat sama aku. Tapi kalo tidak, aku juta gak setega itu lah"
"yauda sih. Berarti udah tau kan jawaban nya?
gak usah di bikin ribet dengan memikirkan hal nanti, belum tentu juga terjadi.
Yang terpenting itu saat ini, lakukan dulu. Masalah nanti, Allah lebih tau. Bukankah begitu? " Siska kembali menyenggol bahu ku dengan bahunya. Kemudian aku balas dengan pelukan.
"makasih ya, kamu udah selalu suport aku. Jadi penasehat aku, beruntung deh aku punya sahabat macam kamu" aku lanjut dengan cipika-cipiki dan itu membuat Siska risih.
"ih apa sih Kayra. Udah lepas. gak usah gini juga" aku peluk Siska berkali-kali dan ini benar-benar membuat dia risih.
Mengenai Dian, mungkin dia akan merasa cemburu. Itu wajar.
Tapi rasa kemanusiaan haruslah tetap di dahulukan daripada ego semata. Bukankah dia juga bergelut di organisasi, bahkan dia ketua BEM kampus. Harusnya dia sudah faham.
Soal cinta, yang terkadang membuat lupa bahkan buta. Ingat, kita bukan pacaran. Baru sebatas saling mengakui perasaan satu sama lain.
__ADS_1
Jodoh masih menjadi hal yang misterius. Kita tidak boleh mendahului takdir Allah.
____________________TBC_________________