KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Bertengkar


__ADS_3

Sudah lewat isya Dian belum juga pulang. Tidak seperti biasanya yang sudah sampai di rumah sebelum magrib.


Terakhir bisa di hubungi pukul empat sore, dia katakan mungkin pulang telat. Tapi saat aku tanyakan alasannya panggilan tiba-tiba saja terputus. Mungkin baterai dia lowbat. Karena sampai sekarang masih belum aktif kembali.


Lagi-lagi aku di buat badmood. Karena terlambat pulang dan tanpa alasan yang jelas, handphone tidak bisa dihubungi.


Sepertinya mustahil jika teman satu kantor tidak ada yang membawa charger satupun. Atau, hanya milik Dian tipe handphone satu-satunya di kantor itu.


"sabarlah sayang. Mau sampai kapan kamu uring-uringan terus setiap suami pulang terlambat? " tegur mama yang melihat aku berjalan ke sana kemari.


"memangnya papa dulu juga suka seperti itu ya" kata ku dengan keras. Sehingga papa pun bisa mendengar.


"masalah nya dulu mama mu yang suka pulang lebih telat dari papa" jawab papa.


"betul begitu ma" aku kembali bertanya.


"ehem" jawab mama singkat.


"maklumin aja kenapa ma, namanya juga pengantin baru" kata adek yang tiba-tiba muncul dari anak tangga.


"mending bantu mama aja yok siapkan makan malam, daripada mondar mandir gak jelas begitu" ajak mama.


"iya kakak tuh, buang tenaga sia-sia tau.


Gak taunya yang di tunggu lagi meeting di restoran mewah, sambil menikmati makan malam begitu, terus temen meeting nya cantik-cantik, sexy, bohay" bisik adek dengan jahilnya.


Bak bisikan setan yang membuat hati semakin memanas.


"adeeekkkk, apaan sih" kata ku geram. Sementara dia sudah berlari ke dapur menyusul mama. Pasti lagi cari perlindungan.


Namun saat baru saja aku melangkah menuju dapur, terdengar suara mobil memasuki halaman. Papa yang saat itu berada di teras menjadi penyambutan kepulangan Dian. Sementara aku, ingin tapi enggan. Sehingga ku lanjutkan langkah untuk memasuki dapur.


Membuka kulkas, mengeluarkan beberapa potongan cake.


"ieu kakak, kebiasaan. Sudah malam loh. Segitu banyak pula" kata adek spontan saat melihat aku yang mulai melahap cake.


"brisik" bantah ku singkat.


Dian yang saat itu hendak naik menghampiri aku mendengar kegaduhan di meja makan.


"assalamu'alaikum, sayang. Ada apa? " tanya nya tanda ada rasa bersalah sedikitpun.


Tanpa memberi jawaban, aku hanya menggerakkan bahu. Sementara mata Dian mulai menatap adek penuh selidik.


Aku berdiri meninggalkan cake di meja makan. Berlari menuju kamar. Yang otomatis di susul oleh Dian dengan langkah cepat.


"dasar kakak, sudah nikah masih aja ngambek ngambekan" terdengar celoteh adek.


"sudah biarkan. Itu namanya proses. Nanti kamu juga akan tau kalau sudah menikah" terdengar suara mama yang menanggapi.


"owh mama, apaan sih nikah nikah. Pokoknya aku harus jadi dokter muda yang sukses dulu, baru nikah" terlepas dari cengkrama mama dan adek, aku segera menutup pintu rapat begitu memasuki kamar.


"sayang, kenapa di kunci.


Kayra, buka donk.


Kay jangan bercanda, aku lelah. Sungguh


Kay, buka. Akan aku ceritakan nanti.


Kay.... Kayra


Kamu tega, suami pulang kerja, capek, malah di ngambekin, di kunciin pintu pula.


Yasudah aku tidur di rumah Melan saja


Aku lagi berseteru sama ummi"


Mendengar celotehan Dian mana mungkin aku tega sebenarnya. Ku buka pintu kamar dengan segera.

__ADS_1


Ku raih tangannya dan ku cium.


"maaf" kata ku singkat.


"marah-marah aja dari kemarin sayang" dia cium kening ku dengan lekatnya.


"mandi dulu sana biar seger" aku mengurangi tangan Dian yang tengah memeluk ku saat ini.


"mandiin" rengeknya.


"bisa sendiri, gak usah manja"


"halal kok manja sama istri, sunah malah.


Ibadah lho buat kamu, menyenangkan hati suami. Gak mau nih? "


Bisa saja Dian kalau urusan rayu merayu. Dan sialnya selalu saja aku klepek-klepek dengan perkataan dia.


Akhirnya aku melangkah lebih dulu ke kamar mandi. Menyalakan kran air hangat. Mengambil kan handuk, lalu aku kabur saat Dian sudah mulai melepaskan pakaian atasnya.


"aku tunggu makan malam di bawah" aku segera melesat pergi.


"lhoo... kabur" teriak Dian dari dalam kamar mandi.


Setelah beberapa saat Dian turun juga. Tersisa aku dan Dian saja yang belum makan. Aku siapkan nasi untuk nya. Lalu mengambilkan beberapa lauk yang dia mau. Kamipun makan berdua dengan suasana hening.


Tak mungkin juga Dian membahas tentang aku yang kabur dari kamar mandi. Atau kami berdebat secara nyata di depan mama.


Setelah makan Dian membantu ku mencuci piring. Padahal aku sudah melarang. Sementara aku membereskan sisa lauk yang masih ada.


"aku tunggu di kamar ya" bisik Dian saat aku masih memanaskan sayur.


Suasana di ruang tengah sepi. Mama dan papa berbincang di teras. Sementara adek, sudah pasti kembali ke kamar untuk belajar.


Aku membuka pintu kamar, tapi tidak ada Dian di sana. Pikir ku dia tengah di luar mencari udara segar. Begitu aku meraih handle akan menutup pintu, sepasang lengan kokoh meraih tubuhku ke dalam pelukan nya.


"ihw, bikin kaget aja kamu"


"sekarang mau kabur kemana lagi" sebelah tangan Dian meraih handle pintu lalu mengunci nya. Dan mencabut kunci dari tempat nya.


"habis deh aku" pikir ku dalam hati.


"Di... kenapa di cabut. Nanti ada adek atau mama mau masuk mungkin"


"gak akan" katanya singkat dengan yakin lalu memasukkan kunci tersebut ke dalam saku celananya.


Seketika tubuh kami sudah berbaring di atas kasur.


"aku kangen" katanya singkat sambil terus ******* bibir ku. Sementara tangan mulai mengontrol aset yang lain.


"masih utuh" katanya sambil tersenyum renyah.


Seketika pagutan terlepas dan mulai menyibak piyama yang ku kenakan. Berpindah pada area sensitif yang lain.


Perasaan yang memanas seketika meleleh bagai aliran larva. Menjalar ke seluruh tubuh. Namun bukan lagi sebagai amarah melainkan sebagai hasrat yang siap meledak. Semakin hari sentuhan nya semakin memabukkan. Sulit untuk di tolak.


"Dian stop..... kan lagi palang merah"


"kita cari jalan yang lain" mata ku terbelalak mendengar jawaban Dian. Jalan yang mana lagi, aku benar-benar tidak mengerti.


"Di... gak usah aneh-aneh de. Ini masih sore. Aku gak mau kejadian kemarin terulang lagi"


Sekilas Dian melihat ke arah ku. Lalu menghentikan aktivitasnya. Merebahkan tubuhnya dengan sempurna. Masih terdengar deru nafasnya yang tak beraturan.


Ku sandarkan kepala diatas dadanya dan ku peluk.


"kamu selalu bisa membuyarkan hasrat ku" ucap Dian lirih.


"Di..... maaaaaaffff"

__ADS_1


"Di... Di.... Di... selalu aja gitu. Gak ada panggilan sayang lainnya yang lebih baik apa" terdengar tak bersahabat nada bicara nya.


Aku bangkit, duduk. Ku tatap wajah lelah Dian. Meram, setengah bercampur emosi mungkin, karena berulang kali aksinya gagal.


"panggilan itu rasanya sudah mendarah daging. Sudah sangat terkesan di hati ku yang paling dalam"


"terkesan sebagai apa? seseorang yang selalu mengganggu kamu?


Mungkin memang perasaan mu gak sesayang perasaan ku terhadap kamu"


"kenapa bicara seperti itu sih?


kenapa kamu sendiri yang mengungkit hal itu.


Nyatanya memang seperti itu kan"


Akupun ikut tersulit emosi. Memang sebelumnya aku tidak pernah pacaran. Apalagi menggunakan sapaan-sapaan alay untuk para sepasang kekasih. Rasanya lidah ku masih terlalu kaku untuk mengeluarkan kata itu.


Hal seperti itu saja kenapa harus di bahas sih? Ribet amat. Apakah sapaan selalu mewakili perasaan?


Menurut ku tidak. Itu hanyalah sebuah kebiasaan.


Aku beranjak dari atas kasur. Menempati meja belajar. Membuka buku, sekali pun entah itu akan masuk ke dalam kepala ku atau tidak.


"mungkin hati mu benar-benar sudah terbagi, antara aku dan Johan"


Baru juga aku mengalihkan suasana hati. Ternyata genderang perang belum selesai di tabuh. Bahkan kali ini lebih buruk lagi tuduhannya.


"apa sih mau kamu Di?


Sudah sejauh ini kamu masih meragukan perasaan ku?


Haruskah ku ungkit semua?


Haruskah kita kembali pada masalalu dan mengulang semua pertengkaran itu?


Atau harus kita sudahi pernikahan ini? "


Rasanya aku habis kata jika harus menjabarkan semua perasaan yang pernah ku alami karena nya dulu.


"kamu bilang mau menghapus semua kenangan buruk yang dulu pernah kamu torehkan.


Nyatanya apa, kamu sendiri yang mengungkit itu. Bahkan masih bisa kamu pertanyaan perasaan ku. Kamu bandingkan diri mu dengan orang lain? yang Jelas-jelas memang kak Joe tidak pernah menyakiti aku sedikitpun"


Aku bangkit, rasanya benar-benar terlalu panas berada dalam satu ruangan bersama dia dalam kondisi seperti ini.


"mana kuncinya" aku berusaha mengambil kunci di saku celana, tapi dia tahan.


"iya-iya. Maaf aku keterlaluan. Aku terbawa emosi" bukannya mengambil kunci, namun justru memasukkan aku ke dalam pelukannya.


"jangan pergi. Jangan pernah pergi dalam keadaan marah. Aku tidak akan membiarkan itu. Maafkan aku yang terlalu banyak berbuat salah.


Maafkan aku, seharusnya aku tidak layak bersama mu. Terlalu banyak kesalahan ku. Maafkan aku"


Berkali-kali dia kecup kening ku. Sementara aku meluapkan airmata di dada bidangnya.


_____________________^_^___________________


Nyebelin gak sih gays Dian dikala itu?


Sudah jelas dia yang selalu bikin Kayra kesel. Saking cintanya, semua luka itu terhapus begitu saja. Ewh, kenapa mesti di pertanyaan kan lagi tentang perasaan Kayra, hanya karena sapaan.


Sabar ya Kayra ☺


Terimakasih lah buat semua yang sudah mampir. Buat sahabat setia Kayra, luph luph buat kalian 🥰😍😘😘😘😘


Jejaknya tetap di nanti gays ✌


LIKE, VOTE, COMENT, HADIAH 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2