KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Sakit


__ADS_3

Mobil terus melaju. Sementara aku mulai merebahkan kepala pada sandaran.


"masih pusing? " tanya kak Jo


"iya kak"


"apa kita langsung ke rumah sakit saja? "


"bagaimana dengan Mama, apa yang harus aku katakan? "


Sempat terlupakan bahwa kak Jo bukanlah siapa-siapa. Jika kami langsung ke rumah sakit, pasti akan di tanyakan pihak keluarga.


"apa aku bilang aja kalo jatuh di kamar mandi, gitu ya kak" usul ku pada kak Jo.


"jangan. Katakan yang sebenarnya saja. Kalau terjadi kondisi yang serius, Siska dan teman-temannya harus bertanggung jawab" ucap kak Jo dengan nada geram.


"kakak ih, do'a nya jelek gitu" sekalipun aku merasakan sakit yang masih terus menerus, tentunya aku berharap akan baik-baik saja.


"ya bukan begitu juga. Tapi yang salah harus tetap salah. Kamu ini suka sekali mengalah" protes kak Jo.


"kak, kita pulang saja dulu ya. Nanti kalo memang perlu periksa, biar aku pergi sama mama saja"


Akhirnya aku menolak ajakan kak Jo. Bukan apa-apa, aku hanya terlalu takut untuk melangkah dimana orangtua ku saja belum tau akan hal ini.


Beruntung setelah aku sampaikan alasannya kak Jo jadi mengerti. Akhirnya kami langsung pulang.


Semakin lama kepala ku terasa semakin pusing. Hingga saat mobil memasuki halaman rumah, pandangan ku justru menjadi berkunang-kunang. Dan darah berceceran saat aku menunduk membuka pintu. Hidung ku mimisan.


Kak Jo yang melihat hal itu dengan cepat memapah ku dan berteriak memanggil mama. Entah saat itu mama sedang di dalam rumah atau di butik.


Beberapa langkah dan akhirnya aku tidak tau lagi apa yang terjadi.


Pandangan ku menjadi gelap, dan saat aku mulai sadar aku hanya mendengarkan suara tuuut tuuutt tuuuut, seperti suara alat pacu jantung.


"kenapa, bukannya tadi aku sakit kepala? kenapa yang terdengar malah alat pacu jantung? " tanya ku dalam hati.


Telinga ku dapat mendengar, tapi mata ku masih terasa berat untuk di buka.


Disamping itu aku merasa ada tangan yang masih saja memegangi tangan ku.


Suara orang dari kejauhan berlalu lalang, tapi aku tidak dapat mendengar suara orang yang berada di samping ku.


"nakkk, kamu sudah sadar"


ciuman dari mama langsung menghujani ku. Ternyata mama yang sedari tadi berada di samping ku. (Hayo, siapa yang mikir kak Jo???)


Aku tengah berbaring di ruang IGD. Dan suara alat pacu jantung yang aku dengar tadi, mungkin saja dari pasien lain di bilik sebelah.


"ma, Kayra kenapa?" tanya ku dengan suara lemah


"kamu tadi mimisan sayang, terus pingsan" mama memberi tahu ku.


"tapi Kayra gak apa-apa kan? kita bisa pulang sekarang? "


tanya ku dengan penuh harap. Karena sejak dewasa, baru kali ini aku merasakan berbaring di rumah sakit.


"belum sayang. Kamu istirahat dulu disini untuk malam ini. Takut ada yang serius dengan benturan di kepala kamu. Sedang di jadwal kan untuk ctscan"


Mama berbicara dengan nada tenang. Sekalipun aku dapat melihat dari matanya ada bekas airmata.


"kamu istirahat saja. Apa masih pusing? "

__ADS_1


tanya mama.


"sedikit ma"


aku merasa sudah lebih baik. Tidak sepusing sebelumnya. Mungkin karena suntikan obat tadi.


Disisi lain aku tidak melihat kehadiran Papa. Mungkin saja tadi diantar sopir kemudian di tinggalkan. Saat aku melihat jam menunjukkan pukul 16.10,pantas saja. Mungkin adek juga papa baru pulang.


Tak sempat bertanya, kepala ku kembali terasa pusing. Akhirnya mama beranjak untuk memanggil perawat.


Sebelum mama kembali, Papa datang bersama adek.


Tak kalah heboh dengan mama, adek pun menghujani ku dengan ciuman.


"kakak ku..... maafkan. Kita satu sekolah tapi malah aku ketinggalan berita" ucapnya sembari memeluk ku.


"iya, iya. Lepas tapi. Engap tau"


kemudian adek melepas kan tangannya.


"masih terus pusing kak? " tanya papa.


"iya pa, baru saja terasa begitu sakit. Mama sedang mencari perawatan" ucap ku.


Kemudian mama datang dengan diikuti perawat di belakang nya.


"kita pasang injeksi dulu ya, untuk mengurangi pusing yang terus menerus" ucap suster itu.


Rasanya ingin ku berteriak "tiiidddaaakkk". Langka sekali dalam hidup ku merasakan tusukan jarum suntik.


"maaammaaa" rengek ku.


"gak apa. Mama pegangi. Kamu tutup mata saja" perintah mama


Terlalu malu untuk menangis atau merengek. Sebelah tangan ku yang lain memegang erat tangan mama.


Sampai ahirnya selesai, rasa dingin mulai mengalir setelah cairan itu menetes.


"barangnya bisa disiapkan bu, karena setelah ini akan pindah kamar" ucap suster sebelum meninggal kan kami.


"ecie, yang mau tidur di rumah sakit. Enak nih, apa-apa dilayani" ledek adek.


"hust, kamu ini" mama yang menegurnya. Karena mulut adek kadang memang suka iseng. Cocok dah kalo CS nya kak Jo.


"eh, kak Jo sudah tau belum kalo kakak dirawat inap? " tanya adek


"nanti juga pasti yang kasih tau dek" ucap ku.


Sementara aku berbincat dengan adek, mama juga papa pergi entah kemana. Menemui dokter, mencari makanan atau entalah. Mereka hanya berpamitan untuk keluar sebentar.


"eh kak, tadi kak Jo ikutan tampil. Keren loh. Duet sama kak Indra lagi" celetuk adek tiba-tiba.


"kakaknya biar istirahat ya dek, untuk mengurangi pusing nya" suster memperingatkan.


"tuh... makanya diem"


sebenarnya bukan aku tidak ingin mendengar kelanjutan cerita adek, tapi memang kepala ku masih terasa pusing untuk memikirkan itu.


Dan sekarang, mau tak mau aku jadi kepikiran. Mata terpejam tapi pikiran melayang.


Gimana jadinya ya mereka berdua tadi, ribut (adu mulut) atau berantem (adu otot).

__ADS_1


Eh gak taunya malah adu suara (duwet lagu).


Mama dan papa kembali ber iringan dengan petugas yang akan memindahkan aku ke ruang rawat inap.


Setelah menaiki lift, tak lama kami sudah kembali keluar dan memasuki sebuah ruangan. VIP aku rasa. Satu kamar sendiri, bersih, tapi, harum, ada TV juga kulkas disana.


heml, anggap saja lagi di hotel. Batin ku menghibur diri.


"mama sama papa pulang aja dulu. Biar adek yang jaga disini." ucapnya memberikan penawaran pada mama.


"iya, nanti malam biar yang jaga malam. Papa sama adek kan harus aktifitas diluar rumah besok"


Rupanya mama setuju dengan usul adek.


"mama kembali selepas magrib ya"


"siyap ma. Tadi juga sudah bawa baju gantu, jadi bisa mandi disini"


Sementara adek dan mama berdialog, aku sudah kembali memejamkan mata.


Bukan untuk tidur lelap, melainkan menahan rasa sakit sembari menikmati dinginnya air infus masuk ke aliran darah.


Tanpa sadar ahirnya aku tertidur juga.


Dan kembali bangun saat adek membangun kan ku di kala Adzan magrib berkumandang.


"magrib kak, bangun dulu. Mau di bantu cuci muka? nanti selepas magrib kak Jo mau datang, sama Papa nya"


adek memberi tau.


Sudah aku duga dan sudah pasti itu. Sementara 3M sudah tau atau belum aku juga tidak tau. HP ku dimana juga aku tidak tau.


"Melan tau dek, kalo kaka di rawat? "


Aku mencoba mencari tau dari adik. Bisa dibilang kondisi lebih baik saat ini untuk sekedar bercerita. Pusing yang ku rasakan sudah berkurang.


"tau kak. Tadi itu pas Kak Siska, atau siapalah itu. keluar dari ruang OSIS. Suasana jadi heboh. Banyak yang mengatai mereka, merutuki mereka. Kak Melan berusaha menelpon kakak, tapi sudah tidak ada jawaban. Ahirnya semua tau waktu kak Jo kembali ke sekolah." ucap adek panjang lebar.


"gara-gara itu jadi semua tau kalo kakak itu kakak nya aku. Jadi aku yang direcokin sama anak-anak. Riweh emang punya kakak cantik, bintang sekolah pula" tuturnya kembali.


**Kayra POV


Benar memang, jelek itu ujian. Cantik pun ujian. Allah akan selalu menguji hamba Nya, tinggal bagaimana kita saja yang menempatkan diri. Jika nyatanya cantik itu tidak membuat ku aman dan nyaman, maka untuk apa? buka seperti ini yang aku mau.


Aku sengaja diam, menghindar, semata hanya untuk menghindari pertikaian. Siapa sangka, justru itulah yang membuat orang lain membenci ku dan menyebabkan pertikaian. Lantas aku harus bagaimana?


Diam saja masih salah. Apalagi aku berulah, barbar, menanggapi setiap iklan yang lewat. Bisa jadi apa aku?


Piala bergilir?! owh, big no!


Cukuplah sakit ku di dunia ini, aku masih ingat dosa. Akhirat menanti, berusaha baik saja belum tentu masuk surga. Apalagi yang nyata-nyata mendekati neraka? naudzubillah**


_______________^_^______________


sakit, oh sakit. Ahirnya Kayra tumbang juga. Sakitnya luar dalam pula 😭😭😭


netizen ikutan baper? boleh, tapi jangan larut.


Kayra masih kuat, untuk menerima segala takdirnya.


di bab ini banyak yang rekayasa,karna author gak faham dunia medis sebenarnya 😃🤣 kurang lebihnya maafkan ya

__ADS_1


🙏🙏🙏😘


__ADS_2