KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Terjebak


__ADS_3

Hujan sangat lebat, ditambah dengan angin kencang, petir juga guntur. Cuaca sore ini sangat buruk. Belum lagi banjir di beberapa titik. Dan ini adalah jam dimana para pekerja kembali ke rumah. Membuat mobil melaju dengan sangat lambat.


Hati ku mulai resah. Adzan magrib pun mulai terdengar. "jam berapa akan sampai di rumah jika jalanan terus seperti ini? " pikir ku dalam hati.


Hingga macet panjang pun terjadi. Benar-benar berhenti di tempat. Sedikit pun tak bisa bergerak maju. Apakah ada kecelakaan?


"sabar ya Kay" kata mas Riza, yang mungkin mulai menangkap wajah resah ku.


"Itu ada petugas, coba aku tanya dulu, ada kejadian apa di depan? " kata mas Riza lagi.


Dan ternyata ada beberapa pohon tumbang, hingga menutupi seluruh jalan. Sehingga macet total.


Aku mengambil nafas panjang dan membuangnya dengan kasar. Lalu aku mengirim pesan pada Dian sekaligus memotret kondisi dimana mobil berjajar-jajar.


"gak perlu takut seperti itu mbk Kayra, saya jinak kok" kata mas Riza menyeringai.


"assalamu'alaikum, pak. Maaf mbk Kayra sampai rumah terlambat. Ini ada pohon tumbang, macet total pak.


Iya Pak, iya. Baik Pak"


Terdengar suara mas Riza menelpon, memberi laporan pada si bos, alias Papa.


"Mas Riza bisa betah gitu kerja sama Papa. Emang nya sebaik itu ya papa ku? Gak bosen kah? Mulai magang kan dulu, terus kuliah sambil kerja, sampai akhirnya kerja sungguhan? "


Mas Riza melihat ke arah ku dan tersenyum.


"Memangnya bapak di rumah gak baik mbak? "


"mas Riza ini, ditanya malah balik nanya.


Ya baiklah, cuman kalo sama karyawan kan berbeda"


"bekerja dengan pak Wijaya itu membuat saya merasa menemukan sosok ayah, yang selama ini tidak saya miliki mbak.


Bapak itu orangnya kebapak-an sekali, sehingga membuat saya merasa begitu nyaman. Saya sudah seperti anaknya kalau jalan dengan bapak di luar jam kantor mbak.


Bahkan pernah mbak, saya bermimpi mempunyai sosok ayah seperti beliau.


Lalu saya bertemu sama mbk Kayra, di acara ulang tahun kantor waktu itu. Dan ternyata saya bukan hanya menyukai kepribadian pak Wijaya, tapi juga putrinya.


Selain saya tau diri mbk, saya juga sering mendengar pak Wijaya berkata seperti ini, (eekkhhmm.. ekkhhemm)


"kalau aja ya Za, saya lihat Kayra nongkrong di kafe, sama cowok, kaya anak-anak itu. Langsung aja saya nikahkan. Gak usah sekolah-sekolah lagi"


Seketika aku tertawa mendengar mas Riza yang berusaha menyama-nyamakan suara dengan Papa.


"memang kapan papa bicara seperti itu? " tanya ku, jadi penasaran.


"sering mbak, kalau saya sama bapak meeting atau janjian sama klien di cafe begitu. Bapak selalu bilang seperti itu kalau melihat muda mudi yang asik pacaran"


"hhhhhhhh, jadi gara-gara itu, mas Riza jadi gak berani deketin aku. Minta nomer handphone juga gak berani? "


"iyalah mbak. Kan kasihan mbak Kayra kalo bisa lanjutkan sekolah. Saya sih seneng aja kalo langsung di nikahkan. Tapi tanggungjawab nya ituloh"


"hhhhhhhh hhhh" aku kembali tertawa mendengar cerita mas Riza. Ternyata yah, ada-ada saja orang punya kisah.


"jadi ya saya tenang saja. Sembari saya sendiri memantaskan diri, menunggu mbk Kayra sampai selesai kuliah.

__ADS_1


Saya ambil s2 lagi, sambil kerja.


Ewh, tidak taunya malah ketikung orang duluan. Rasanya aku tuh gak percaya mbak, waktu dikasih tau bapak kalau mbak Kayra mau menikah"


Kali ini aku diam. Tidak tau harus memberi respon seperti apa. Ikut sedih, kasihan, atau justru bahagia karena mendapatkan tambahan fans.


Tapi satu yang pasti, aku terharu dengan sikap tenang mas Riza.


Rasanya tak enak terjebak dalam situasi seperti ini. Sungguh.


"mbak Kayra" panggilan mas Riza memecahkan keheningan.


"hemmp, iya mas"


"boleh tanya sesuatu gak? "


"apa itu?"


"kenapa bisa memutuskan untuk menikah cepat. Usia masih muda, kuliah juga belum selesai.


"kalau di tanya seperti itu, aku sendiri juga bingung mas. Tapi yang pasti, saat itu hati ku sudah mantap, orang tua juga mengijinkan. Aku sih iya, iya aja"


"istimewa banget ya mbak yang jadi suaminya?"


"hhhhhhh, istimewa?


Spesial, pakek telur ceplok"


"kok malah telur ceplok? "


"panjang kali lebar kali tinggi, kalo mas Riza tanya soal suami aku. Tapi satu hal yang bisa aku simpulkan, mungkin itulah yang disebut JODOH. Kita gak bisa menghindari, juga gak bisa nolak"


"iwh, kok gitu sih mas.


Kan setiap orang sudah dilahirkan dengan jodoh masing-masing. Mungkin belum waktunya aja mas Riza ketemu sama Jodoh. Atau mungkin, usahanya yang kurang.


Mas Riza itu orangnya baik, InsyaAllah nanti jodohnya juga orang baik"


Keberuntungan apa yang membuat aku bisa setenang ini?


Atau mungkin, tertular dari sifat tenang mas Riza?


Bisa ya, orang patah hati bicaranya tetap sopan. Sikapnya juga tetap tenang. Jadi sedikitpun aku tidak merasa risih, atau terganggu.


Andai saja ya, andai semua laki-laki yang patah bisa bersikap seperti itu. Mungkin tidak akan ada drama seperti di film-film Korea.


"mbak Kayra gak benci sama saya, setelah saya cerita begini? Atau mungkin risih gitu dekat-dekat sama saya? "


"kan tadi mas ariza sendiri yang bilang 'aman'. Jadi kenapa saya harus risih, ataupun takut? "


"maaf ya mbak, saya jadi cerita panjang lebar. Padahal mbak Kayra sudah jadi istri orang"


"gak perlu sungkan begitu mas. Setiap hubungan baik tidak harus sebagai pasangan kan?


Atau... anggap saja Kayra seperti adeknya mas Riza sendiri.


Owh ya,bytheway.... mas Riza punya adek gak? "

__ADS_1


"ada, baru lulus SMA mbak"


"hemp, mulai sekarang gak usah deh panggil 'mbak'. Jadi berasa aku lebih tua aja dari mas Riza"


"gak apa mbak. Kan biar lebih sopan. Bagaimana pun juga mbak Kayra kan anaknya pak Wijaya, siapa tau sampai nanti kepemimpinan pindah ke mbak Kayra, saya masih tetap bekerja"


"hhhhhhhh, mas Riza bisa aja. Masih lama banget kali mas.


Memangnya mas Riza mau dengan posisi itu-itu aja? Katanya mas Riza lagi ambil s2? "


"bapak berharap sekali loh, mbak Kayra bisa jadi penerus di sana.


Soalnya kalo mbk Nahla kan sudah gak bisa di harapkan kata bapak. Kekeh banget mau masuk di kesehatan"


"sedeket itu ya mas Riza sama Papa, sampai hal seperti itu di ceritakan juga? "


"ya begitu mbak. Makanya saya bilang, sudah seperti ayah saya sendiri.


Bapak sering tanya,juga sharing seputar anak muda sama saya. Gaya anak muda jaman sekarang, tempat nongkrong anak-anak muda yang lagi Hits. Banyak lah mbak pokoknya"


"mas Riza, kok masih pakek 'mbk' lagi sih.


Oh iya, sama satu lagi. Kan sekarang udah punya nomor telpon aku nih. Kalo ada perlu lagi, atau papa nyuruh sesuatu yang berhubungan sama aku, cukup by phone aja ya. Gak perlu di panggil langsung. Nanti biar aku sendiri yang dateng"


"oke, siap.


Tapi kalo di kantor tetep panggil 'mbak' aja ya. Gak juga sama karyawan yang lain. Gak sopan di kiranya"


"siip. Setuju"


Hingga hampir pukul sembilan malam kendaraan baru bisa melintas. Itupun masih dengan satu jalur, sehingga harus bergantian.


"maaf ya, jadi selarut ini sampai rumah" pukul sepuluh kurang kami tiba di rumah.


"bukan salah mas Riza. Ini bencana" lalu aku turun dari mobil.


Dan di depan gerbang sudah di sambut oleh Papa juga Dian. Sepertinya dua lelaki penjaga itu belum bisa bernafas dengan tenang, sampai aku datang. Terbukti dari panggilan yang berulang kali masuk, menanyakan posisi.


Aku turun dari mobil dan langsung di sambut dengan pelukan oleh Dian. Lalu kecupan di kening.


Sementara mas Riza di sambut oleh Papa. Setelah berbincang sebentar, mas Riza menyapa Dian dan berjabat tangan.


"ayo masukan dulu mobil kamu Za. Sudah disiapkan makan malam sama Mamanya Kayra"


"maaf Pak, mungkin lain kali. Saya juga sudah di tunggu oleh ibu, sudah di masakan. Dari tadi sudah kirim pesan terus"


"yasudah kalo gitu. Kamu hati-hati pulangnya"


Terlihat dari interaksi Papa dan Mas Riza, sepertinya memang benar apa yang mas Riza ceritakan tadi. Mereka sangatlah dekat.


Aku mengambil nafas panjang. Untung saja aku sudah nikah. Seandainya belum, dan Papa punya niat menjodohkan aku dengan seseorang, bisa jadi mas Riza menjadi salah satu kandidatnya.


Kamipun masuk ke dalam rumah. Aku terus berjalan menuju kamar. Dengan Dian masih terus mengikuti ku.


Begitu langkah kaki kami menginjak kamar, dengan posesif nya Dian merengkuh pinggang ku. Lalu berbalik badan meraih bibir ku. Sedangkan sebelah tangan lagi menutup lalu mengunci pintu.


Serindu inikah dia????

__ADS_1


________________________^_^_____________________


__ADS_2