
Setelah mama keluar dari kamar aku segera ke kamar mandi untuk mencuci muka, supaya tidak lebih bengkak lagi.
Aku berencana menemui Melanjutkan selepas magrib nanti.
Kali ini aku sedikit curiga, apakah dia memang sengaja meninggal aku dan Dian? Apakah Melan sudah tau lebih dulu, tapi diam-diam saja?
Bukannya dapat kejelasan tentang pencurian di HP dia, justru aku mendapati fakta yang sebenarnya memang selama ini aku pertanyakan sih. Bukankah itu juga yang menjadi tujuan ku bertemu dengannya??
"sudah sembuh kakak cantik" tegur adek begitu aku menginjakkan kaki di tangga paling bawah. Sementara aku hanya senyum sekilas.
"ayo makan dulu Kay" mama yang sedang sibuk di meja makan memanggil ku.
"belum lapar ma. Aku kerumah Melan dulu saja ya" entah kenapa kali ini selera makan ku hilang.
"kamu jam berapa terahir makan, gak boleh gitu. Harus tetap makan biar sedikit" mama masih membujuk ku supaya tetap makan
"iya kak, butuh imun yang kuat supaya iman juga kuat" sembari aku berjalan mendekati meja makan ku acak-acak kepala adek yang omongan bikin malu saja.
Upz.... malu, malu sama siapa? malu habis nangis, atau malu sama papa.
Sementara papa yang dari tadi mendengar percakapan kami hanya diam saja.
Makanan terhidang banyak di meja, tapi tak ada menggugah selera ku. Andai saja mama tidak memaksa, mungkin aku tidak akan makan. Aku tuang sayur sop dalam mangkong, siapa tau kepala lebih segar setelah memakan sayuran segar.
"ma... Kay gak bantu beres-beres ya" aku mencoba kembali mengingat kan mama kalau tadinya aku mau ke rumah Melan sebelum ahirnya mama memaksa ku untuk makan lebih dulu.
__ADS_1
"ya sudah" ahirnya mama mengijinkan. Aku segera keluar menuju rumah Melan.
Masih sedikit sembab sih mata ku, tapi aku tidak mempedulikan.
Hanya ada Dio di depan, tanpa berbicara lama aku langsung masuk. Begitu sampai diatas, pintu kamar Melan terbuka, tapi begitu aku lihat di dalam tidak ada orang. Sementara ada suara orang berbicara di teras
"kakak ini gimana sih, aku suruh rahasiakan tapi kakak sendiri yang gak tahan" nah, benar kan Melan sudah tau. Tapi aku masih menahan diri untuk tidak menghampiri mereka.
"kakak gak tahan dengan kebencian yang sangat nampak di matanya. Kakak tidak tahan jika harus berkali kali menahan cemburu. Setidaknya dia tau, dan bisa mempertimbangkan itu" untuk kedua kalinya mendengar pengakuan Dian, hati ku masih saja druggg druggg druggg
"kakak yakin,kalau ternyata sudah ada orang lain gimana " entah apa yang di ucapkan Melan, atau hanya sekedar untuk memancing kakaknya. Karna dia tau betul selama ini aku belum pernah menaruh hati pada siapapun.
"setidaknya dia sudah tau yang sebenarnya"
aku masih berfikir, pergi, tetap memasang telinga disini, atau menghampiri mereka berdua.
"aku gak Marah Mel. Kamu tetap sahabat ku. Dan dia tetap kakak kamu" aku tunjuk ke arahnya tapi aku masih enggan untuk menatap dia.
"sekarang semua sudah jelas. Sekalipun aku sangat marah, merasa selalu saja kamu permainkan, tapi kejujuran kamu itu lebih baik. Jadi aku tidak perlu lagi membenci kepura-puraan mu.
Aku maafkan, tapi bukan berati aku sudah lupa dengan semua. Aku Terima semua alasan kamu, mulai sekarang anggap saja tidak pernah terjadi apapun terhadap kita. Anggap saja kita tidak saling kenal, tak perlu saling melihat.
Mungkin itu akan lebih baik, untuk aku kamu juga ummi mu"
Mereka berdua hanya terdiam, kemudian aku kembali bicara
__ADS_1
"Aku pulang Mel, nanti kita ngobrol lagi"
saat aku akan beranjak, ada tangan yang menahan ku
"Kay..... " suara Dian sudah pasti
"lepaskan. Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Kita tidak saling kenal" sebenarnya berat untuk mengucapkan ini. Masih teramat jelas kenangan kecil masa itu. Tapi untuk kembali menjalin hubungan baik dengannya, hanya akan menjadikan aku bulan-bulanan ustazah Zia. Mana aku sanggup.
Sekalipun aku juga tak yakin sanggup menganggap dia tak ada. 'tidak saling kenal' di dunia nyata. Yang indah pada masa nya dulu biarlah tetap indah.
Yang pahit tak harus selalu di kenang bukan?!
Kaki ini harus segera pergi meninggalkan rumah Melan, sebelum airmata kembali jatuh.
Dan benar saja, ada mobil Pajero Sport warna hitam terparkir. Dari dalam terdengar suara orang bercengkrama.
Aku diam sejenak di teras, menahan supaya airmata tidak mengucur deras.
Karna sebenarnya mata ku sudah basah. Aku usap mata ku beberapa kali memakai tangan, sampai ahirnya suara seseorang mengagetkan ku.
"butuh saputangan" ucap seseorang dari arah pintu.
sontak aku menoleh,kak Johan. Sejak kapan dia berdiri disitu.
Ketahuan nangis deh, mana mata sembab. Datang di saat yang tidak tepat.
__ADS_1
mau apasih dia datang malam-malam begini, pikir ku.
Dan aku kembali menundukkan kepala,tidak mengambil saputangan yang di sodorkan oleh kak Jo.