KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Tentang Aku


__ADS_3

Tiga bulan berlalu, masa magang ku di perusahaan papa telah selesai.


Semua terasa ringan sebab tak ada lagi beban perasaan cemburu Dian terhadap mas Riza. Bahkan sekarang mereka bisa bersahabat. Sedikit banyak memang aku sih yang mendorong mereka supaya lebih sering berinteraksi. Tapi hasilnya tak sia-sia. Mas Riza bukanlah tipe orang yang buruk untuk dijadikan sebagai seorang sahabat, menggantikan kak Jo yang sudah pergi jauh meniti karirnya.


Dan, bagaimana dengan adek sejak kepergian kak Jo?


Yang ku lihat dia tetap baik-baik saja. Komunikasi mereka tetap baik sekalipun terbatas oleh waktu. Aku hanya berpesan padanya, jalani saja seperti air mengalir. Jika ada yang mendekat jangan di tolak. Dan jangan terlalu menunggu. Sebab kita tidak tau darimana datangnya jodoh itu. Bisa jadi orang yang paling dengan kita. Dan bisa jadi, orang yang kamu tunggu justru menyakiti mu.


Yah, begitulah hidup. Kita tidak akan pernah tau mengenai waktu. Tapi waktu tau, kapan saatnya dia menghampiri takdirnya.


Ini adalah bulan-bulan terahir aku menyelesaikan skripsi. Beruntung semua hutang-hutang tugas di kampus telah aku selesaikan. Sehingga aku bisa benar-benar fokus menyusun skripsi di waktu yang hanya sebentar ini.


Dan di saat seperti inilah aku menjadi dekat kembali dengan kak Nicholas juga kak Maryam. Bahkan sempat beberapa kali aku menginap di rumah kak Maryam. Oh ya, kak Maryam sekarang sudah memiliki bayi perempuan kecil, usia delapan bulan. Menggemaskan sekali.


Tentu masih ingat bagaimana dulu Dian dan kak Jo sama-sama salah paham terhadap kak Nicholas. Lalu dengan munculnya kak Maryam, aku menjadi semakin mantap dan dalam waktu singkat memutuskan untuk tinggal di pesantren.


"jadi kami takut, kalo aku bantuin istri kamu buat pergi lagi?" goda kak Maryam saat kami tengah bercerita tentang masa keberangkatan ke pesantren dahulu.


Yang menjadi sebab utama alasan Dian mengikuti ku menginap di rumah kak Maryam.


"iyalah. Gara-gara kakak, aku jadi kehilangan setengah nyawa"


"oeh, jadi kamu cowok rese yang diceritain Kayra, yang selalu gangguin itu. Sampe-sampe bikin Kayra gak betah di rumah?" lanjut kak Maryam yang membuat perdebatan semakin panjang.


"mana ada. Bukan seperti itu. Itu hanya pemanis saja" sanggah Dian yang mulai kehabisan alasan.


"pemanis di bilang Kay" kata kaka Maryam


"hah, sudahlah kak.


Iyain aja apa kata dia, emang gitu.


Sultan selalu menang" kata ku tak ingin semakin panjang perdebatan. Takut mengganggu si baby yang lagi tidur.


"yang penting sekarang udah SAH, iya kan Dian?" kak Nicho muncul dari dapur dan ikut bergabung.

__ADS_1


"biasanya ABG labil memang suka seperti itu" lanjut kak Nicho sembari duduk di sebelah kak Maryam.


Aku sempat khawatir jika ucapan kak Nicho kembali memicu pertengkaran. Namun detik berikutnya aku di buat menahan tertawa oleh perkataan Dian. Sebab kak Nicho kenaa skak mat.


"susah memang kalo nikah pakek mak coblang itu, jadi pak dosen tidak faham yang namanya jatuh cinta".


Seketika semua terdiam dan hanya saling memandang. Hingga akhirnya berdebatan selesai dengan skor 1-0.


Jika ada yang bertanya, bagaimana bisa aku menginap di rumah kak Maryam?


Itu karena Dian ikut menginap di sana bersama ku. Jika tidak, mana mungkin dia bisa tidur tanpa aku di sebelahnya.


Sejak menjadi suami istri, Dian menjadi sangat manja. Bahkan aku tidak menyangka dia bisa bersikap seperti itu. Tapi aku maklum, mungkin karena selama ini dia tidak bisa manja terhadap keluarganya sendiri. Sehingga jadilah manja pada pasangan.


Dan entah kenapa, aku justru suka dengan manjanya dia. Sekalipun terkadang harus lebih repot. Seperti pagi itu,


"sayang, aku mau di mandiin"


"sayang, aku pakai kemeja yang mana"


"sayang, dasinya lebih cocok yang mana"


dan masih banyak kalimat "sayang" yang lainnya.


Bukannya aku risih, tapi sampai aku tak enak sendiri sama mama, papa. Saking banyaknya kalimat "sayang" yang setiap hari Dian ucapkan.


Ledekan adek tak lagi mempan dan membuat Dian malu. Benar-benar mama seperti punya anak tiga, ramainya di meja makan.


Bahkan ketika sedang di rumah umi, umipun sampai menggelengkan kepala dan berkata "lama-lama kamu gak akan bisa melakukan apapun tanpa istri mu"


"sayang, kamu gak pengen bayi mungil seperti punya kak Maryam?" pertanyaan Dian kala kami menginap di rumah kak Maryam.


"gimana mau punya bayi mungil, kalo bayi besar ini aja selalu mengusai ku" jawab ku berusaha menyentilnya secara halus.


"kalo bayi yang ini ya akan tetap selalu menguasai mu, sampai kapan pun" katanya sambil kedua tangan sudah bergerilya kemana-mana.

__ADS_1


"sesuai kesepakatan awal ya sayang, gak apakan?" kata ku dengan hati-hati. Takut jika Dian tersinggung sebab sudah mulai menantikan kehadiran seorang bayi.


"yasudahlah. Biar aku juga puas bermain-main dulu dengan ini" balasnya dengan gerakan merobohkan tubuh ku ke atas kasur.


Sudah bisa ditebak apa yang dia mau. Sehingga perlahan aku menutup laptop ku.


Selama menyelesaikan skripsi aku lebih banyak di rumah. Karena berada di kampus justru membuat konsentrasi pecah sebab banyak nya pertanyaan dari kanan kiri.


Kecuali jika kondisi darurat, seperti saat harus menemui dosen untuk konsultasi, atau perlu ke perpustakaan untuk mencari buku-buku pendukung.


Oleh sebab itu, Dian mengajak untuk tinggal di apartemen saja. "biar lebih bebas kalo pengen makan kamu setiap saat" begitu katanya. Dan aku hanya bisa menggelengkan kepala.


Dunia ku benar-benar berwarna, saat awal mengenal Dian. Saat Dian menjadi sangat menyebalkan. Saat Dian mulai menghiasi sebagian hati ku. Hingga kini Dian memiliki seluruh hidup ku.


Rasanya hidup ku hanya di penuhi tentang Dian, Dian dan Dian.


Mungkin memang begitulah cara Allah menunjukkan pada ku, bahwa dia lah jodoh ku. Nama lain seakan hanya iklan lewat.


Aku tersenyum mengingat jalan hidup ku sendiri. Hingga kini rasanya hidup ku penuh dengan kebahagiaan. Saat umi sudah kembali menjadi sosok ibi yang dulu ku kenal. Saat kak Jo sudah merelakan dan mengejar mimpinya sendiri.


Aku berharap waktu ini tidak akan pernah berlalu. Berlalu dan kembali menjadi pilu, TIDAK. Cukupkanlah cerita kelam di masalalu, aku hanya ingin menyongsong kehidupan baru penuh kebahagiaan.


Sekalipun aku sadar, hidup tidak akan pernah lepas dari cobaan. Semoga aku dan Dian terus bersama hingga nanti kami menua.


Semoga cinta kami senantiasa terjaga diatas ikatan suci pernikahan. Dan semoga Allah hadirkan tentara-tentara kecil yang kelak akan menghiasi rumah kami. Serta menjadi menjaga kami saat kami telah lanjut usia.


Sebenarnya bukan aku tidak ingin memiliki seorang bayi, tapi aku masih ingin belajar lebih banyak lagi.


Belajar menjadi seorang anak yang berbakti, setelah di sekolahkan sekian lama.


Belajar menjadi istri yang lebih bertalenta, bisa melakukan banyak untuk suami.


Belajar menjadi calon ibu yang benar-benar keibuan.


Aku rasa, aku masih butuh waktu untuk menggali semua itu. Semoga dengan seiring berjalannya waktu, Allah mantapkan hati serta mental ku sebelum akhirnya menerima sebuah amanah baru, yaitu anak.

__ADS_1


__ADS_2