KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
"anak mama" why not


__ADS_3

"belum dapat tempat magang juga kak? " tanya mama di saat kami semua berkumpul di ruang TV.


"belum ma. Kemarin ada yang hammmmpirr saja deal. Sayangnya yang diterima hanya dua orang. Jadi ya kami mengundurkan diri saja" kata ku sedih.


"kakak sih, suruh gabung di perusahaan papa aja gak mau" adek ikut menyela.


"iya Kay, di pertimbangan lagi saja. Daripada kamu capek ke sana kemari tapi hasil belum pasti"


"Kay cuma gak mau aja ma tinggal pakai fasilitas. Dapat kemudahan dari keluarga. Kayra mau segala sesuatunya penuh dengan perjuangan keringat Kay sendiri"


"sayang, temani aku sebentar yuk" kata Dian tiba-tiba. Membuat aku meninggalkan mama juga adek begitu saja.


"kemana? " tanya ku.


"aku baru ingat, ada sesuatu yang mau aku tunjukkan.


Ma, kami permisi dulu" Dian menggenggam sebelah tangan ku dan aku pun mengikuti langkahnya menaiki anak tangga.


"kita bicara di luar" ucap Dian begitu sampai di ajak tangga terakhir.


"katanya mau tunjukkan sesuatu? "


"iya" Dian terus berjalan dengan menggenggam tangan ku.


"kamu lihat bintang itu? bukankah dia jauh, sangat kecil, namun menyenangkan juga menenangkan saat di pandang"


"sayang apaan sih. Dikira aku anak TK, dibujuk pake bintang"


"bintang akan tetap indah bagi siapapun yang menyukai nya. Tak pandang anak TK atau orang dewasa sekali pun.


Dan kamu, tak perlu terlalu keras pada diri sendiri hanya karena ingin menghilangkan image 'anak mama'. Bukankah image itu akan selamanya tetap melekat? atau tiba-tiba bisa berusaha menjadi 'anak nenek, anak oma' atau anak siapa lah itu"


"Sayang apaan sih, gak lucu" Dian terus menatap ku lekat dalam jarak wajah yang hanya satu jengkal.


"siapa juga yang sedang membuat lelucon. Aku tau kok, kamu sedang berusaha menunjukkan kalau 'kamu bisa' tanpa bantuan keluarga.

__ADS_1


Siapa sih yang sedang membully kamu?


Ayolah, kamu tak harus mendengar kata mereka. Kamu juga tidak dirugikan kan dengan omong kosong mereka? Justru kamu akan rugi dengan mengambil hati perkataan mereka.


Ayolah, terima tawaran papa. Masa bodo dengan mulut-mulut yang tidak memberikan keuntungan itu. Jangan mempersulit diri sendiri.


Atau kamu magang di tempat ku saja.


Aku bisa menerima semua teman kamu, tapi dengan penempatan di cabang berbeda pastinya"


"kamu ngeremehin aku juuuugggaa" kata ku serasa menggantung di udara, sebab Dian sudah lebih dulu membungkamnya menggunakan mulut.


Untuk beberapa detik suasana hening.


"coba diturunkan dulu egonya, buang emosi negatif. Pakai ini, dan ini " dia menunjuk pada kepala dan perasaan.


"papa, mama, pun aku..... kami semua sayang sama kamu.


Kamu berjuang bukan hanya saat ini saja. Bahkan kamu berada di titik ini semua juga karena perjuangan kamu sendiri bukan?


Menjadi mahasiswa akselerasi itu tidak mudah, aku juga pernah merasakan.


Aku gak tega lihat kamu yang sudah sangat sibuk mulai masuk kelas akselerasi, lanjut KKN, nikah, sekarang masih sibuk juga ke sana kemari ngurus tempat magang. Belum lagi nyusun skripsi. Itu semua perjuangan bukan? "


Aku diam sejenak, mencerna apa yang baru saja Dian katakan.


Yah, terkadang memang aku terpancing oleh perkataan "dasar anak mama" hanya karena sering kali aku mendapatkan kemudahan saat di kampus. Karena kebaikan dari beberapa dosen, misalnya.


"keputusan ini sudah aku ambil jauh sebelum kita bersama, sebelum kita menikah. Jadi aku tidak suka kalau sekarang, setelah nikah, aku jadi di atur-atur begini. Kalau kamu keberatan dengan kesibukan aku, kamu bisaaaaa"


Dia bisa melakukan apapun dan sialnya aku tak bisa menolak pesona serta kekuatan seorang Dian . Dengan ciuman serta sentuhan yang selalu saja membuat lupa dengan apa yang tengah aku pikirkan.


Dalam sekejap tubuh ku sudah berada dalam gendongan Dian, berjalan menuju kamar.


Malam pun berakhir di atas ranjang. Kapanpun ia mau dan kapanpun ia ingin. Sekalipun tak harus dengan ronde panjang. Entah dia atau aku yang semakin lihai, sebab tak harus menunggu pemanasan yang terlalu lama lagi, dua cairan bening itu sudah berhasil keluar dengan bersamaan.

__ADS_1


InsyaAllah aman, setelah sebelumnya kami telah berkonsultasi pada dokter kandungan tentang pemakaian kontrasepsi yang aman, dan tanpa ribet.


Dokter menyarankan untuk memakai IUD saja. Karena pemakaian nya yang patent, bisa di cek secara berkala, bisa di lepas kapan pun juga.


Akhirnya kami memutuskan untuk memakai itu saja. Yang sudah pasti tertanam dan tidak akan mungkin kelupaan, sampai dengan sengaja di lepaskan. Tahu sendiri Dian yang suka minta jatah dadakan dan aku yang terlalu ribet dengan tugas akhir kuliah.


Sudah kami sepakati berdua bahwa tidak akan memilki anak terlebih dahulu, minimal satu tahun ke depan. Menikmati masa-masa berdua sembari menyelesaikan studi ku yang tinggal di depan mata.


"sekarang kita bersama. Kamu tak harus memikul segala sesuatunya sendiri. Jangan pernah berkata lagi seperti tadi.


Aku tau tentang banyak hal seputar kehidupan kamu di kampus. Apalagi setelah kamu berhasil masuk di kelas akselerasi. Tidak ada lagi Siska yang mulutnya pedas itu.


Kamu perlu membela diri, tapi bukan berarti harus dengan cara mempersulit diri sendiri. Anggap saja syirik tanda tak mampu. Dan memang nyatanya seperti itu kan?


Mereka tidak bisa mendapatkan kemudahan seperti yang kamu dapatkan. Sehingga mereka mengeluarkan kata-kata yang tak baik sebagai bentuk iri mereka.


Aku mendukung pendidikan kamu. Aku mendukung setiap keputusan kamu, selama itu baik.


Karena harus ada sisa tenaga di setiap malam, untuk kita bersama" bisik Dian pada kalimat terakhir.


Wajah lapar yang setiap saat di tunjukkan oleh Dian membuat aku tidak tega. Lagi pula aku pun menikmati itu.


Adakalanya saat rasa itu menyerang, membuat aku enggan untuk beranjak dari sisi nya. Membuat aku ingin selalu bersama dia. Namanya juga bucin. Bucin nya pengantin baru halal kok.


Apakah iya, aku terlalu keras pada diri ku sendiri?


Aku hanya ingin pendidikan ku selesai dengan cepat dan tepat. Lulus kelas akselerasi dengan nilai cumlaude.


Yasudahlah, mungkin aku harus mengalah untuk menerima tawaran papa atau Dian. Toh itu juga tidak akan menjatuhkan pencapaian ku selama ini. Yang terpenting sudah berusaha, jika pada akhirnya harus menerima uluran tangan keluarga, kenapa tidak.


Benar kata Dian. Masa bodo dengan olokan mulut orang-orang syirik. Lagi pula kalau memang aku 'anak mama' mereka mau apa?


Bukankah akan selalu ada mulut-mulut pencibir? Mau seperti apapun kamu berusaha membuat kebaikan, akan tetap ada celah bagi mereka untuk mengolok.


Jadi, kenapa harus memikirkan orang lain yang hanya bisa menjatuhkan kamu?

__ADS_1


Jika masih ada orang tulus yang mau membantu mempermudah urusan kamu.


____________________^_^__________________


__ADS_2