KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Menghabiskan Malam


__ADS_3

Rasanya kali ini bukan hanya Dian yang sedang bucin. Tapi aku juga.


Aku mulai merasakan perasaan menggebu yang selama ini dengan susah payah berusaha ku halau.


Ditambah lagi dengan sentuhan-sentuhan kecil yang Dian berikan. Rasanya hasrat ini mulai meronta.


Kami tengah duduk di balkon kamar hotel. Kamar yang kami tempati tepat menghadap destinasi di jl. Malioboro. Dan kami berada di lantai 6. Jadi bisa melihat pemandangan malam di bawah dengan jelas.


Kali ini langit cerah, sehingga kami bisa memadu kasih dibawah langit yang tamaram. Dengan cahaya lampu jalanan malioboro yang memancar. Hilir mudik para wisatawan. Sekalipun ini bukan ahir pekan, tapi kawasan Malioboro tetap saja ramai.


Di pundak Dian aku bersandar. Dengan belain lembut dari tangannya yang membuat mata ku sayup-sayup.


"boleh aku berkata sesuatu? " katanya.


"tentang? " tanya ku.


"tentang orang lain, Johan"


Sesaat hening. Aku tidak menyangka, di hari bahagia kami ini dia masih mengingat rivalnya.


"jika kamu masih tidak ingin mendengar nama dia. Aku tidak akan melanjutkan" sambung nya.


"katakan saja"


"sungguh aku tidak pernah menganggap dia sebagai pesaing.


Memang benar aku sempat marah padanya. Tapi dia juga pernah menjadi teman dekat ku.


Kini kita telah menemukan jalan kita. Dan dia sudah berusaha menerima ini semua.


Apakah adil, jika kita masih mengucilkan dia dalam keterpurukan nya. Ditengah kebahagiaan kita berdua?


Apa kamu masih sangat marah dan kecewa padanya.


Bagaimana jika aku mengundang dia besok. Apakah kamu keberatan? "


Lalu aku berfikir untuk memberikan pertanyaan yang sama pada Dian.


"sebelum aku jawab tentang kak Jo. Aku juga ingin bertanya sesuatu. Apa boleh? " kini aku mulai berani memainkan jemarinya.


"ehemp. Tanyakan saja? " jawab Dian singkat.


"setelah apa yang terjadi di Pesantren tadi, bagaimana perasaan kamu ke ummi? " aku masih terus menggenggam erat tangannya. Aku takut, takut jika salah berkata lalu emosi itu meledak seketika.


"ok. Siapa dulu yang akan jawab? " kata Dian datar.


"biar aku dulu" karena dia sudah bersedia mendapatkan pertanyaan yang sama. Maka aku harus siap menjawab.


Dan lagi, aku masih ingat apa yang mama katakan. Apa yang Dian katakan. Juga memory kecil ku yang tak jarang mengingat kan semua tentang kebaikan kak Jo. Memory yang mengingat kan bagaimana dia dulu menjadi pahlawan ku. Sekaligus menjadi fans terberat ku.


"sulit untuk membahas sebuah rasa, sesulit untuk menghilangkan ingatan di kepala.


Tapi apa yang kamu katakan benar. Apa yang mama katakan juga benar waktu itu.


Mungkin memaafkan itu lebih baik. Tapi untuk menjalin sebuah hubungan baru, aku belum bisa memastikan.


Aku tidak bisa terus memaksa orang lain untuk berlaku sama seperti ku. Karena kamu mengenal dia. Keluarga ku juga mengenal dia. Mau tak mau aku harus siap menatap kehadiran dia lagi.


Tapi yang pasti akan ada jarak. Beri aku waktu, jangan meminta ku lagi melakukan hal yang lebih dari ini" kami kembali beradu pandang.


Kini kami merebahkan tubuh di teras balkon. Saling berhadapan. Dengan dia yang masih saja merekatkan, mengikis jarak di antara tubuh kami. Tangannya masih terus saja memegang erat pinggang ku.


Sementara aku, bertambah lagi keberanian ku untuk menyentuh wajah nya. Wajah yang dari dulu selalu membayangi ku. Dalam nyata juga mimpi ku.

__ADS_1


Kini wajah itu benar-benar di hadapan ku. Bahkan aku bisa menyentuh nya. Memainkan matanya, hidungnya, bibirnya. Rasanya ituuuuuuuuuu, sesuatu banget.


Mencintai seseorang yang halal itu, begini ya rasanya?


"oke. Berarti gak masalah ya besok dia datang?" Dian kembali mengulang pertanyaan inti.


"ehemp, gak masalah. Tapi jangan pernah beri celah untuk dia berdua saja dengan ku" pinta ku kembali.


"mana mungkin aku biarkan itu terjadi. Kami ini milik ku" Dian semakin mendekatkan wajahnya.


Kini kami saling berbicara dengan wajah yang berhimpitan. Tubuh yang berhimpitan. Bahkan kami bisa saling merasakan desiran darah yang mengaliri tubuh kami masing-masing. Bisa merasakan detak jantung kami. Juga setiap aliran udara yang keluar dari hidung.


Lalu tangan nya beralih menangkap wajah ku. Menahan kepala ku agar tetap seperti itu.


Rasanya jantung kuuuuu


dug dug dug dug dug dug dug dug dug dug dug dug dug dug


"jangan di hindari. Jangan pergi. Kita nikmati setiap desiran ini bersama.


Mari kita ingat, kembali kita selami masa kecil kita dulu. Masa sebelum semua kekisruhan diantara kita terjadi. Masa sebelum kamu mengenai lelaki lain selain aku. Kamu mau? " rupanya dia mengajak ku untuk bernostalgia.


Aku menganggukkan kepala.


"kita tutup mata ya hitungan ke-3.


satu


dua


tiga"


Hening. Kami sama-sama tengah menyelami masa lalu. Masalalu yang tanpa sengaja menuntun kami hingga masa kini.


kami saling membuka mata. Sama-sama tersenyum. Sebelum bibir ku kembali tertutup, dia sudah lebih dulu ******* bibir ku. Dengan ritme yang sangat cepat. Nafas yang memburu. Dan gerakan tangan yang mulai menyentuh anggota tubuh ku yang lain.


Refleks aku mampu mengimbangi gerakan Dian. Tanpa ada penolakan dengan sentuhan-sentuhan yang dia berikan.


Nafas kami sama-sama menderu.


Dan lagi, kami kembali berguling-guling diatas lantai.


Hingga kemudian aku teringat kejadian tadi sore, terjatuh dari kasur. Sangat tidak lucu jika kami harus terjatuh dari balkon lantai 6.


Tapi Dian masih sangat bersemangat dengan apa yang dia lakukan. Dengan terpaksa aku menggigit ujung lidahnya. Seketika dia mendesah pendek.


"awh"


"sorry sorry" aku memasang wajah seimut mungkin. Takut marah karena dia harus terhenti disaat gejolak yang sedang tinggi-tinggi nya.


"lagi nikmat-nikmat nya juga" dia nampak kesal lalu duduk.


"tapi Di... kita ini di teras balkon. Gak lucu kalo jatuh berdua dari lantai 6" dengan cepat aku katakan supaya dia pun sadar.


"astaghfirullah" dia mengusap sekilas wajahnya.


Dia berdiri dan menarik tangan ku supaya mengikutinya.


"kita masuk. Sudah terlalu malam. Angin malam bisa bikin masuk angin, gak baik"


Kami menaiki kasur, Dian mulai menyalakan televisi. Aku masih dalam posisi duduk. Sementara dia tiduran dengan menjadikan paha ku sebagai bantal.


"mau nonton apa? " tanya nya.

__ADS_1


"terserah la. Aku gak pernah nonton siaran televisi"


"ok. Nonton film 21+ mau? "


Hah, tawaran macam itu? Jangan bilang dia mancing-mancing, supaya kejadian juga malam ini.


"awh, zina mata itu"


Dian tertawa terkekeh mendengar jawaban ku.


"ya sudah. Kita buat film sendiri aja. Kan sudah halal" dia hadapkan wajahnya ke arah ku.


Aku hanya mengerucut kan bibir. Harus berapa kali di ulang jika aku belum siap untuk saat ini.


"cup" kecupan sekilas Dian berikan di bibir ku yang tengah mengerucut.


"iya-iya. Udah gak usah manyun gitu. Tidur aja yok, siapin tenaga buat besok pagi" dia mulai menarik selimut dan menutupkan pada tubuh kami.


"bisa tidur gak... seranjang sama aku gini? " tanya Dian.


Rasanya ada sesuatu yang menusuk. Tapi memang gak bisa di pungkiri, ini baru bertama. Dan aku sendiri pun tidak tau apakah nanti bisa tidur atau tidak.


"kita pacaran aja dulu, ok.


Aku gak akan maksa kamu untuk bikin anak cepet-cepet.


Kita nikmati proses kedekatan ini. Sampai kita sama-sama nyaman untuk melakukan semua hal"


dia menarik ku untuk mensejajarkan, merebahkan diri di kasur.


"kalo nanti gak bisa tidur, bangunin aku ya. Aku yang akan pindah ke sofa" dia mengulum senyum dan mencium kening ku sekilas.


"tidur ya, mimpi indah.


Gak usah mimpi ketemu pangeran. Kan sudah ketemu sama aku" canda nya lalu membalikkan badan, membelakangi ku.


Sementara aku masih saja diam. Terus mencerna setiap kata yang dia ucapkan.


Menatap punggungnya dari belakang, rasanya ada sesuatu yang aneh dalam hati ku. Hingga aku beranikan diri untuk memeluk nya dari belakang.


Setidaknya aku sedikit mengimbangi semua pengertian dan pengorbanan nya.


Dia benar-benar lelah? atau hanya pura-pura saja?


Tak ada respon apapun. Dia tetap membiarkan aku memeluknya dari belakang. Merasa nyaman, hangat, lalu akupun ikut terlelap.


____________________^_^__________________


Pacaran dulu ya gays ✌


Gak perlu buru-buru, bisa jadi itu nafsu 🤭🤣🤣


yang udah gak sabar bisa gas sendiri dewh,


ewh.... sama yang HALAL lah ya pastinya.


Oke, trimakasih untuk dukungan nya sampai sejauh ini. 😘😘😘😘😘


LIKE, VOTE, COMENT, HADIAH, atau apalah itu.


mampir baca aja juga boleh, semoga hatinya tertinggal dan balik lagi 😍😍😍


selamat berakhir pekan

__ADS_1


__ADS_2