
Hari sudah hampir sore ketika acara di Pesantren selesai.
Setelah sesi berfoto selesai acara di lanjutkan dengan ramah tamah bersama kedua keluarga juga keluarga Pesantren.
Acara demi acara, sambutan demi sambutan. Hingga aku kembali di kejutkan dengan sebuah kebenaran baru. Bukan hanya aku, mungkin semua orang yang ada di sana, termasuk Dian sendiri yang bersangkutan.
Sebuah fakta mengungkapkan bahwa ustadzah Zia bukanlah ibu kandung Dian juga kakak nya.
Pantas saja, sejauh yang aku ketahui sama sekali tidak ada kedekatan antara kakaknya Dian dengan sang ibu, yaitu ustadzah Zia. Sementara dengan Dian sendiri,sangat terlihat wajah syok di rautnya. Aku hanya bisa menggenggam erat tangannya.
Tak bertahan lama dia menarik ku untuk meninggalkan kerumunan. Menuju halaman samping.
Pantas saja ustadzah Zia meminta untuk melangsungkan acara ijab di sini. Dengan acara extra privat. Ternyata ada hal besar yang di sampaikan.
Rupanya selama ini beliau masih memperjuangkan hak yang seharusnya di dapatkan oleh Dian. Yaitu kepemimpinan atas Pesantren.
Pantas saja Beliau begitu kecewa saat Dian memutuskan untuk meninggalkan Pesantren. Pantas saja ustadzah begitu membenci ku waktu itu.
Pantas saja ada wanita yang di hadirkan untuk membuat aku pergi.
Aku sangat mengerti apa yang di rasakan Dian saat ini.
Kami hanya saling diam. Tapi sejujurnya ada banyak kata yang saling ingin kami lontarkan.
"sini peluk aku" kata Dian memecahkan keheningan.
Dalam beberapa detik kami saling menikmati pelukan pertama kami yang penuh arti. Melepaskan segala rasa yang menyerang ku beberapa hari ini. Dan aku rasa, Dian pun merasakan hal yang sama.
"aku kangen sama kamu" kata itu keluar begitu saja dari mulut ku.
"apalagi aku" katanya datar.
"tetap tenang ya. Apapun yang terjadi aku akan selalu di sampingmu" kata ku, mencoba untuk menghibur.
"Entahlah. Rasanya terlalu penuh rasa, yang bercampur aduk menjadi satu. Sampai aku sendiri tidak tau mau mengatakan seperti apa perasaan ku saat ini.
Enyahlah. Dipikirkan nanti saja. Yang penting sudah SAH, kamu sudah menjadi milik ku"
Seiring dengan habisnya kalimat itu, bisa kurasakan sebuah sentuhan perlahan menyapu bibir ku. Awalnya hanya sekilas. Lalu lagi, lagi dan lagi. Semakin lekat. Masuk semakin dalam, mulai menjelajah langit-langit dan sekitarnya.
Aku merasa semakin kelu saat lidah itu mulai menuntut. Aku benar-benar tidak tau. Jangan kan untuk menonton, mendengar teman bercerita tentang aktifitas itu saja seketika aku ingin muntah. Bahkan pernah sekali, aku benar-benar muntah dan perut ku merasa sangat mual.
Terasa seperti mendapatkan serangan badai petir tiba-tiba.
Tubuh ku menegang. Keringat dingin rasanya membasahi peluh ku. Tapi aku cukup tau, jika aku tiba-tiba menghentikan aktifitas nya, bisa jadi itu membuat moodnya semakin buruk. Jadi, Satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah 'menutup mata'.
Mencoba menerima, entah itu aku suka atau tidak.
Beruntung, sepersekian detik kemudian Dian melepaskan bibir ku. Rasanya lega sekali. Aku langsung menghirup nafas dalam-dalam.
"kamu...... " dia menatap ku, melihat expresi yang terpancar di sana. Lalu dia tersenyum sumbang.
"kenapa, pasti aku jelek ya" tanya ku.
"kamu kenapa bisa keringetan kaya gini? " tanya nya.
"gerah tau. Gaun sebesar ini" aku mencoba berkilah. Entah dia percaya atau tidak.
"acara tidak akan segera selesai jika kita tidak di dalam.
Kita selesaikan acara disini. Lalu kita lanjutkan yang baru saja kita lakukan" kalimat itu keluar diiringi dengan senyuman.
Aku tak berkata, juga tak bertanya. Tapi aku cukup tau apa yang Dian maksud. Dan itu, membuat tubuhku serasa mendidih. Hati ku bimbang. Haruskah aku benar-benar melakukan itu?
..."aaaahhhh, mama. Aku harus bersembunyi dimana? Haruskah di kolong tempat tidur? Pasti itu sangat mudah untuk dia menemukan ku"...
Dian menggenggam tangan ku untuk kembali memasuki aula Pesantren.
__ADS_1
"Di....... " panggil ku. Dan itu menghentikan langkah kami.
"hemppp"
"kamu baik-baik aja? " tanya ku ragu.
"selama ada kamu, aku akan baik-baik saja"
"gombal" aku memukul pelan lengannya.
"sudahlah. Aku belum ingin mengatakan apapun tentang kejadian tadi"
Langkah kaki kami telah sampai di pintu aula. Kemudian mendapat sambutan dari mama.
"kalian sudah kembali. Makan dulu ya. Ayo mama ambilkan"
Pengantin juga butuh makan kan?? Padahal tawaran itu sudah aku tunggu dari tadi. Tapi terlanjur ada iklan yang lewat.
"iya ma, Kayra uda laper banget. Gak sabar juga pengen cepet pulang. Ganti baju, pakai kaos oblong mandi juga biar lebih seger" spontan aku langsung nyerocos begitu ada kesempatan bicara sama mama.
Tanpa aku sadari banyak telinga lain di kanan kiri yang ikut mendengarkan ucapan ku.
"ecie... mentang-mentang pengantin baru. Udah gak sabaran aja" goda salah satu sepupu di sana dan berujung menjadi riuh.
Sepertinya aku salah tempat bicara. Malunyaaa aku tuh. Membuat aku ingin segera berlari dari tempat ini saja.
"reeesee deh kalian. Bukan gitu maksudnya" meskipun aku tau itu percuma, setidaknya aku mencoba menyanggah.
"Sudah-sudah, makan saja dulu. Setelah ini acara selesai kok" kata mama melerai kegaduhan.
Hati ku lega sekali. Akan segera terbebas dari balutan kebaya ini. Tentang besok, entahlah. Di pikirkan nanti malam saja sambil rebahan.
MC telah menyatakan bahwa acara selesai. Kemudian di tutup oleh do'a.
Setelah ini kami akan berpisah dari rombongan keluarga. Menuju hotel yang sudah di siapkan oleh tim WO. Kali ini tidak ada hubungannya dengan saham.
Kenapa harus di hotel?
Setelah berpamitan dengan kedua orang tua juga keluarga Pesantren, kami diantarkan oleh supir menuju hotel.
Huh, rasanya sedikit lega. Bisa duduk santai dan kaki ku terbebas dari balutan sepatu runcing, ramping nan tinggi itu.
"kenapa kakinya, pegel? " tanya Dian melihat aku melepaskan sepatu lalu sedikit men selonjoran kaki ke arah depan.
"capek aja. Gak biasa pakai sepatu kaya gini.
Kalo besok aku pakai sepatu flat aja, boleh gak ya?"
Tiba-tiba ide ku muncul untuk mendapatkan sebuah kenyamanan.
"coba aja tanya sama yang lebih tau"
"lagian juga gaunnya besar, gak akan kelihatan kalau aku pakai sepatu flat" aku masih saja merasa benar versi diri ku sendiri.
"masalah, tinggi kamu semampai. Itu membuat kesan kurang elegan bagi pengantin" well, jawaban yang realisasi. Dan aku tidak marah.
Hanya saja, aku masih ingin memperjuangkan keinginan ku.
Yang benar saja, mulai pagi hingga malam aku harus memakai sepatu menyiksa macam ini. Kasihan sekali kaki ku kan???
"Di, ingatkan aku ya. Nanti pas sampai hotel, hal pertama yang ingin aku lakukan adalahhh"
"gak perlu minta di ingatkan. Karena aku juga menginginkan" balas Dian dengan berbisik mendekatkan wajahnya ke arah ku.
"oke. Kita lakukan bersama-sama.
Merendam kaki dengan air hangat" kata ku melanjutkan kalimat yang tadi belum selesai.
__ADS_1
"yah, kok merendam kaki sih" gerutu nya.
"iya, memang itu yang ingin aku lakukan tadi. Biar rileks kakinya"
Perbincangan kami seputar kaki terhenti karena mobil telah memasuki area parkir hotel.
Kami turun dengan di sambut oleh pegawai hotel yang sudah siap membawakan barang bawaan.
Lalu kami di antar menuju kamar hotel yang memang sudah di siapkan sebelum nya.
Pintu di buka dan surprise
Bau-bau kamar pengantin. Hati ku kembali bermaraton. Dag dig dug. Benarkah akan terjadi malam ini???
Aroma yang sangat harum khas bunga mawar. Kami semakin berjalan ke dalam. Setelah di bantu untuk menyalakan semua lampu dan menunjukkan beberapa perlengkapan, pegawai hotel meninggalkan kami.
"iya mas, trimakasih" jawab Dian menanggapi pegawai hotel yang berpamitan.
"sayang banget tau bunga-bunganya. Dihancurkan macam gini, ujungnya di buang jadi sampah"
Deg
Deg deg deg deg deg
Ada sebuah pelukan dari arah belakang. Aku tau itu dia. Tapi hanya kami berdua disini, kalau terjadi sesuatu???
"Di.... geli" sebuah pelukan erat yang bahkan tidak ada jarak sama sekali antara tubuh kami, atas hingga bawah. Dengan nafas menderu yang sengaja di arahkan di dekat telinga ku. Untung saja masih memakai hijab.
"suka gak?
Itu hanya bunga. Yang sengaja ditanam untuk di manfaat.
Yang pasti, aku tidak akan pernah menghancurkan kamu. Apalagi membuang kamu seperti sampah"
Lalu Dian membalikkan badan ku dengan cepat.
"kamu akan menjadi ratu di hidup ku. Welcome to my life, my little princess" dekapannya mulai membawa ku ke arah ranjang.
Dan akhirnya kami berdua pun merebahkan badan di atas kasur empuk ukuran big size.
"aku tidak akan pernah melepaskan tubuh ini. Biarpun itu hanya sekali, atau sebentar saja. Bahkan sedetikpun. Tidak akan pernah" masih saja dia meracau dengan kalimat-kalimat bucin nya.
"iya-iya. Aku tau itu. Dan sudah dari dulu kan kamu lakukan itu.
Gak perlu khawatir. Aku hanya milik mu" kata ku berhenti sejenak.
"tapi.... ngomong-ngomong... apa sih yang sebenarnya membuat kamu begitu menginginkan aku? " pertanyaan ini yang sebenarnya telah aku simpan dengan rapi selama bertahun-tahun. Mulai dalam keadaan kami tidak baik, mulai membaik, baik, hingga pernikahan terjadi.
"semua. Aku inginkan semua dari kamu. Terutama ini (bibir), ini (payudara) dan yang di bawah sana" dan dia mulai menyentuh bibir ku.
Sedangkan aku mulai menginginkan sesuatu
"Diannnnnnn
tuh kan, lupa. Minta ember buat rendam kaki" spontan kata ku menggagalkan aksi nya.
"aaahh, iya. Maaf.
Telpon aja deh kalo gitu". kata Dian
" ide bagus. Kita rendam kaki sambil nunggu tukang riasnya datang buat lepas accessories ini" kata ku dengan penuh harap. Ada orang lain yang datang sehingga mengganggu fokus Dian untuk melakukan hal-hal yang menakutkan itu.
"gak akan ada yang datang. Toh baju kebaya itu juga punya sendiri. Nanti aku yang bantu lepasin baju" kata Dian. Entah itu hanya menggoda atau akan benar-benar dia lakukan. Yang pasti, itu membuat aku 'worry'.
"lepas accessories nanti minta tolong petugas hotel yang cewek aja. Toh tinggal di lepas-lepasin aja kan"
Awkhh.... Kata-kata Dian membuat aku tidak tenang. Sungguh.
__ADS_1
Jadi menyesal setuju untuk bermalam di sini. Harusnya di rumah saja, semakin banyak gangguan semakin bagus kan?!
____________________^_^__________________