KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Tinggal Sebuah Cerita


__ADS_3

Setelah aku berbicara pada Dian, akhir minggu ini kami sudah sepakat untuk bertemu, makan siang bersama. Aku, Dian, adek dan mas Riza.


Sebab aku merasa kecemburuan ini harus segera di akhiri. Atau proses magang ku tidak akan. berjalan dengan baik apabila terlalu banyak gangguan perasaan. Tiga bulan bisa jadi serasa tiga tahun lamanya.


"sayang, aku pakek baju mana yah?" aku masih terus membalik-balik baju di dalam lemari. Sebab aku merasa badan ku lebih gemukan, beberapa baju terasa sempit.


"sayang....kamu itu bukan mau kencan. Jadi gak perlu bingung memilih baju terbaik" kata Dian.


"iwh, bukan gitu. Aku tuh bingung, soalnya baju ku banyak yang sempit. Aku gemukan loh, ngrasa gak sih kamu?"


"kemukan? bukannya kurusan?" seru Dian memutar balikkan fakta.


"mana ada, orang baju aku pada sempit"


"kemarin bra yang pada kekecilan. Sekarang baju, bilang aja kalo mau shoping lagi"


"hahhahah, tau aja kamu sayang.


Tapi beneran dewh, nanti ya aku timbang di bawah"


"berarti aku berhasil dong membuat kamu semakin mengembang" seru Dian tepat di sebelah telinga ku sembari melingkarkan tangannya pada perut.


"belum juga hamil ini. Tapi aku gak mau gendutt" rengek ku. Kini aku berbalik badan gantian menatap Dian.


"cepat ganti baju, atau kita tidak akan jadi pergi" ucap Dian dengan mulai menggesekkan kepalanya pada belahan dada ku.


Aku baru menyadari kalau dari tadi masih memakai handuk kimono, dengan bagian dada sedikit terbuka karena ikatan tali yang kendor.


"isht...mulai deh" aku mendorong tubuh Dian.


"pake baju tidur aja, kan longgar" kata Dian sambil melangkah menjauh.


"iwh...yang bener sih kalo kasih saran" protes ku.


"ato pinjem baju punya mama aja yang" kata Dian santai.


"lebih ngaco lagi. Awh, gak asik kamu yang"


"kkkaaaakkkk, sudah siap belum? aku tunggu di bawah ya" sementara itu suara teriakan adek sudah melengking, memenuhi seisi rumah.


"iya...iya" lalu aku memilih baju dengan asal. Kalaupun bajunya kelihatan ketat, berarti harus memakai kerudung yang longgar.


Sebelum berangkat aku benar-benar menyempatkan untuk menimbang badan terlebih dahulu. Dan hasilnya, berat badan ku memang bertambah dua kilo. W**aw banget, jarang sekali terjadi sepanjang sejarah hidup ku. Sekalipun aku suka makan dan ngemil malam.


Apa mungkin ini efek KB ya?


Sepanjang perjalanan aku masih saja merenungi kenaikan berat badan ku yang drastis.


"udah kak, gak usah segitunya sedih gara-gara BB naik. Itu tandanya, kakak harus stop makan dan ngemil berat malam-malam"

__ADS_1


"tau nih kakak kamu, padahal juga udah punya suami. Takut amat kalo gendut, trus gak laku"


Mendapat serangan dari dua orang membuat aku hanya speakless.


"oh ya kak, pada tau gak kalo kak Johan nanti malam mau berangkat ke Jerman?"


Aku dan Dian saling memandang, dan menggelengkan kepala.


"gak tau" jawab kami bersamaan.


"berarti cuma aku ya yang di kasih tau" seru adek.


"cie....yang spesial" goda ku.


"bukannya gitu. Berarti memang kak Jo benar-benar gak mau ganggu hubungan kak Kayra sama kak Dian lagi.


Dia memutuskan untuk pergi jauh, melanjutkan S2 kedokteran di Jerman"


Aku dan Dian kembali saling memandang


"udah, gak usah sedih gitu yang mau ditinggal mantan" goda dian pada ku.


"apaan sih. Mulai deh.


Yang ada, adek tuh yang sedih, mau di tinggal soulmate nya"


"iya lah, sedih. Pasti itu. Gak ada temen, sahabat, musuh, sodara yang seperti kak Jo"


"kenapa gak kamu aja gitu dek yang di jadiin pacar sama kak Jo, dari dulu gitu loh...kalian cs, apa-apa bareng, kemana-mana bareng"


"dekat gak harus pacaran kali kak. Udahlah, gak usah bahas soal itu. Udah selesai kan semua?" kata adek dengan nada lebih tinggi.


"iya iya, sudah selesai.


Sudah gak usah bahas itu lagi, nanti malah kalian yang ribut" Dian melerai bahkan menghentikan pembicaraan kami.


Kami saling Diam. Adakah yang salah dengan perkataan ku? Apa yang tidak aku ketahui tentang adek dan kak Jo?


Awh, entahlah. Benar kata adek, semua sudah selesai. Andaikan dibahas kembali, akan ada siapa yang salah dan siapa yang benar, juga siapa yang terluka.


Mungkin dengan kepergian jauh kak Jo, akan menutup semua lembaran tentang aku, Dian dan dirinya.


Sekalipun ada adek yang kini harus menjadi korban, karena kehilangan. Semoga takdir Allah yang kelak akan kembali berbicara.


Hingga mobil memasuki halaman parkir tempat dimana kami membuat janji dengan mas Riza, kami masih saja saling diam.


"senyum donkkkk, kakak sama adek yang akur" Diaj menggoda aku dan adek


"gaya....nanti pas udah ketemu sama mas Riza, giliran situ yang cemberut. Panas, cemburu" balas adek yang tak terima.

__ADS_1


Lama-lama adek sama suami jadi seperti anjing sama kucing aja.


Aku berjalan lebih dulu meninggalkan mereka yang gantian saling ribut.


"ewhh itu tuh, kak Kayra udah berduaan sama mas Riza"


Spontan ucapan adek membuat Dian berjalan dengan langkah lebar.


Karena mas Riza sudah datang lebih dulu, jadi ya aku langsung saja menarik salah satu kursi. Sementara mas Riza serius melihat ke arah adek dan Dian yang sedang berdebat.


"awas, jaga jarak!" ucap Dian dengan sinis memberi peringatan begitu dia sampai di meja yang kami tempati.


"lagian sih, ribut terus. Tuh mas Riza, ajakin ribut sekalian" kata ku kesal.


"hahhaha, cuma bocah yang suka ribut-ribut itu mbak" kata mas Riza santai, bahkan ia menertawai.


"kamu pikir saya bocah" spontan Dian menanggapi dengan berdiri.


Seketika aku menarik tangannya agar kembali duduk.


"apaan sih yang" benar-benar wajah baru dari seorang Dian apabila api cemburu tengah melanda.


"bukan mas.


Nahla itu yang bocah. Lama gak ketemu ternyata masih sama saja" mas Riza menanggapi. Lagi-lagi dengan sangat santai.


"kamu itu kalo bercanda kira-kira dong La, masa sampe bikin suami orang cemburu sih" lanjutnya.


"itu namanya jadi diri sendiri mas. Mau sampai kapanpun, ya seperti inilah Nahla kata adek dengan yakinnya.


"kamu itu udah remaja menuje dewasa, dek. Bentar lagi kuliah. Jaim dikit napa. Jaga sikap, jaga omongan, kurang-kurangi hobi iseng nya" tegur ku.


"udah udah.


Sebenernya yang punya masalah itu siapa sama siapa, yang bertengkar dari tadi malah siapa sama siapa"


"kita itu gak bertengkar yang"


"kita itu gak bertengkar mas Dian"


ucap ku dan adek bersamaan.


Dan pada akhirnya, tanpa kami sadari kami menjadi pusat perhatian para pengunjung cafe sejak dari tadi.


Hingga obrolan kami menjadi lebih jauh membahas masa lalu.


Tak ada salahnya membahas masa lalu, karena kita tidak akan ada pada masa sekarang tanpa meninggalkan sebuah kenangan.


Tapi juga harus tetap di ingat bahwasanya kita hidup di masa sekarang dan untuk masa depan. Masa lalu boleh di jadikan sebagai pelajaran tapi jangan sampai merusak kehidupan saat ini.

__ADS_1


_______________________^_^_____________________


__ADS_2