KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Heboh Lagi


__ADS_3

"tumben loe ngampus, udah bosen lihatin Dian mulu 24jam?" chatt pertama yang muncul di grup sahabat pagi ini langsung membuat heboh seluruh penghuninya. Siapa lagi kalau bukan gara-gara Siska.


"aisht....tuh mulut gak pernah di amplas apa ya sama pak ustad, biar halus dikit ngomong nya" masih tetap sama, Maysa yang selalu berada di garis terdepan untuk membela ku.


"tau tuh Siska, belum berubah aja dari jaman bahela" timpal Melan.


"ecie...yang mau ipar-an, bela aja terus" balas Siska yang masih belum juga mengaku salah.


"gak ada hubungan nya deh" jawab Melan.


"kayaknya nih anak perlu di ruqyah deh, biar waras omongan nya.


Kamu masih punya kontak ustad Billal kan Kay, bilangin gih. Biar gak rusuh terus omongan plus pikiran nya" lanjut Maysa kembali.


"sudah-sudah. Masih pagi ini, pada sarapan pisang apa ya,ngoceh terus.


Siapa juga sih yang bilang kalo aku ke kampus, aku tuh baru di per-ce-ta-kan sebrang kampus.


Jangan-jangan.....kamu punya mata-mata ya di kampus?" pertanyaan ku tujukan pada Siska. Yang seketika mendapat jawaban langsung darinya.


"hehe, para fans patah hati loe masih intens ngikutin pergerakan loe Kay" jawab Siska.


"hawh, maksudnya? Darimana tau?" seketika aku keluar dari grup menuju jalur chatt pribadi.


"aihst...langsung ngeGas.


Ya taulah. Siapa sih yang gak tau kalo kita bestprend, setelah mereka kehilangan jejak loe ya sudah pasti tanyak nya sama gua" ~Siska


"bentar dewh. Kamu ini lagi dimana sih, kok bisa balik pake bahasa loe gue? Sama calon suami calon mertua, bicara kamu macam gitu?" ~aku

__ADS_1


"hahhaha,ya mana mungkin. Gak bakalan lah.


Barusan chatting sama brondong-brongdong kampus, jadi terkontaminasi" ~Siska


"ampun Siska, masih aja ya macem gitu. Tau kalo mau jadi calon istri ustadz, kurang-kurangin dewh" ~aku


"padahal juga itu fans kamu" ~Siska


"oooo-em-gi Siskaaaaa. STOP sekarang juga. Sampai denger ke telinga Dian soal in, bisa habis. Kamu yang kena amuk, atau aku yang kena kurung. Gak usah aneh-aneh de ya. Pakek ngladenin cowok-cowok gak jelas.


Pernikahan itu bukan mainan Siska" ~aku


"hehe, iya iya. Iseng doang, daprt sogokan pulsa sih, hhhhhh" ~Siska


"gila ya kamu. Menggandaikan sahabat sama pulsa.


Untung bukan di grup chatt, bisa langsung di demo kamu sama anak2"


"huh, bisa ya kita sahabatan. Ngeselin dewh kamu" ujar ku.


"biar gak serius mulu mikirin skripsi, cepet ubanan nanti" ucap Siska, masih saja bercanda. Sahabat nano nano memang nih anak.


"ya sudah, iya. Dimaafin. Dan ini pertama sekaligus terahir kali" aku memberi peringatan keras pada Siska.


"siap ndannnnn" jawab Siska singkat.


"calon ustadzah itu, jaga sikap baik-baik" aku mencoba mengingatkan kembali, bahwa dia telah menerima pinangan dari ustadz Billah.


"haishtt, yang ustadz kan dia. Kalo aku mah, masih jaaaaaaaaauuuuuuhhhh"

__ADS_1


"gak perlu terlalu jauh juga,capek nulisnya" aku memotong ucapan Siska.


"yasudah, aku tutup dulu telponnya. Gara2 kalian ajakin ngrumpi, giliran ku jadi di srobot orang lain dari tadi" ucap ku sedikit kesal. Karena sudah tiga orang dibelakang ku yang mendapat giliran.


"lagian, punya suami bisnis percetakan kenapa gak dimanfaatin sih?" protes Siska.


"gak apa. Kebanyakan di bantu jadi gak bisa mandiri nanti" jawab ku santai.


Sebenarnya bukan itu juga yang terjadi, tapi karena Dian tidak memberikan aku tawaran. Mungkin dia lupa karena sibuk berpindah tempat dari satu cabang ke cabang yang lain. Atau mungkin sedang sibuk memikirkan saham nya sedang bertaburan dimana-mana. Ah sudahlah, bukan itu juga fokus ku pada saat ini.


Panggilan ku akhiri dan aku segera menyelip ke antrian. Karena aku sudah kenal baik dengan para pegawai disana, jadi aku tidak perlu antri lagi dari belakang.


Beberapa saat aku tunjukkan halaman mana saja yang perlu di cetak. Dan sekalipun pengerjaan nya sudah melalui beberapa tahap bahkan sudah sempat di cek oleh Dian, tapi aku tetap meminta untuk proses editing ulang.


Selesai dari tempat percetakan aku melangkah ke area kampus. Teringat sejenak tentang pembicaraan Siska baru saja, namun berusaha ku abaikan. Siapa juga aku? Primadona kampus juga bukan.


Melewati segerombolan mahasiswa bukanlah hal baru. Namun jika berjalan seorang diri seperti ini, rasanya seperti menjadi pusat perhatian saja.


"Kay, tumben jalan kaki. Sendiri aja?" sapa salah satu mahasiswa yang sudah mengenal ku.


"iya, tadi naik gojek ke kampus. Duluan ya" sapa ku kembali.


"eciee...mau donk jadi ojek ny" teriakan mulut lain yang di sambung dengan suara berisik siulan. Itu sudah biasa, abaikan. Ucap ku dalam hati.


Aku menuju ruang perpustakaan untuk mengembalikan buku yang terahir kali ku pinjam. Suasana dalam perpustakaan sedang sepi. Jadi aku sempat mengobrol dengan penjaga disana. Sampai akhirnya handphone ku berbunyi, panggilan masuk dari Dian.


"assalamu'alaikum" sapa ku lebih dulu.


"tunggu di kampus, habis ini aku jemput" ucap Dian tanpa basa-basi.

__ADS_1


Firasat ku sudah tak enak. Setelah sebelumnya Siska yang punya cctv di kampus, jangan-jangan Dian pun sama?Ya Tuhan, aku mesti berlindung dimana yang gak bisa terlihat oleh orang lain?????


______________________^_^_____________________


__ADS_2