KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Perasaan itu rumit


__ADS_3

Kayra POV


Keesokan harinya mama meminta aku untuk mengantar adek ke sekolah. Karena supir ijin sakit dan papa ada pertemuan pagi-pagi.


Aku tidak banyak tau jadwal kampus Dian, tapi kemarin aku sempat dengar sekilas besok dia ada acara di kampus pukul 06.30 WIB. Sengaja tidak ingin bertemu dia aku ajak adek untuk berangkat lebih pagi.


Rasanya seperti 'sudah jatuh tertimpa tangga'. Berapa kali sudah dihindari yang ada malah dia mendekat dan sepertinya akupun mulai terpikat.


Kembali aku lihat penampakan yang bembuat hati ku semakin terbakar.


Ada yang lewat dengan berboncengan bersama cewek. Tak lain adalah cewek yang kemarin bersama ustadzah Zia. Itu artinya, cewek itu bermalam disana.


Soalnya dia malah menyapa ku dengan membunyikan klakson. Bahkan lebih dari itu, dia melambatkan laju motornya sembari tersenyum. Dan yang di belakang ikutan tersenyum.


Mau pamer ato gimana sih!


gerutu ku dalam hati.


Harusnya aku tidak perlu merasa berlebihan seperti ini jika memang tidak menyimpan perasaan apapun pada Dian.


Haruskah aku akui jika hati ku mulai tertambat pada sosoknya?


Sosok yang seringkali membuat hati ku damai. Senyum yang meneduhkan dan sapaan yang menggetarkan.


Sesederhana itu kah aku menyukai sosoknya?


Padahal kami tidak pernah berdekatan, berbincang berdua saja, apalagi sampai keluar rayuan.


Dia benar menepati janjinya untuk tidak lagi mengganggu seperti dulu.


Kedamaian datang begitu saja setelah Aku dan Dian berdamai.


Walau hanya senyuman saat bertemu tapi aku bisa melihat ketulusan. Akankah perasaan yang dulu pernah ia ucapkan masih sama hingga sekarang. Luluh juga kah hati ini kekerasannya untuk bertahan.


Tapi kenapa gadis itu kembali hadir?

__ADS_1


Sepanjang perjalanan mengantar adek pikiran ku terus bergelayut. Sempat sadar bahwa ini tidak baik untuk aku yang sedang berkendara. Sesaat aku berhenti di kedai bubur ayam. Mungkin akan sedikit menghangatkan tubuh ku. Karena cuaca pagi ini tidak begitu bagus, awannya gelap. Mendung menyelimuti, semendung hati ku. Rupanya panas hati tak mampuh menghangatkan tubuh.


Begitu sampai dirumah aku masuk ke kamar karena rumah sudah sepi pastinya. Mama sudah mulai sibuk di butik.


Ada banyak pesan masuk juga panggilan tak terjawab. Tadi aku lupa membawa handphone sewaktu mengantar adek.


Dari sekian banyak pesan dan panggilan masuk, hanya satu nama yang muncul.


"ya sudahlah kalo gak mau angkat telepon ku đŸ˜ĸ"


"Kayra tolong angkat"


"angkat gadis solehah"


"Kayra kamu masih percaya sama aku kan! "


"Kay, aku minta maaf. Belum bisa menjaga kamu dari umi"


"Kay, sudah donk ngambeknya â˜šī¸"


Kembali aku teringat perkataan Melan "ang nyebelin uminya kenapa anaknya yang di ngambekin " dengan berat hati aku tulis pesan untuk Dian


"baru sampe rumah, tadi gak bawa HP pas antar adek" ~send


belum juga satu menit pesan terkirim sudah ada panggilan masuk dari Dian


"assalamu'alaikum. Kay, aku kira kamu masih ngambek. Gak jawab pesan gak angkat telepon.


Aku minta maaf atas perkataan umi, maaf juga aku hanya bisa berkata 'maaf' untuk saat ini. Untuk semua keadaan yang membuat kamu tidak nyaman, aku benar-benar minta maaf"


"Kay... kayra, kamu masih disana? kamu dengar aku ngomong? "


"waalaikumsalam. Iya masih disini, aku dengar semua perkataan kamu"


"alhamdulillah"

__ADS_1


"sudah gitu aja?"


"iya, memang harus gimana lagi supaya kamu gak ngambek? "


"tadi aja ngomong sudah seperti kereta lewat"


"iya-iya maaf"


"aku akan selalu memaafkan sekalipun tidak berarti aku melupakan" ucap ku lirih


sementara yang di sebrang telepon kembali berbicara seperti kereta lewat. Menjelaskan tentang wanita itu, kedekatan uminya dengan wanita itu juga keluarganya.


"aku bukan siapa-siapa. Juga gak ada hubungan istimewah dengan mu. Seharusnya tidak perlu kamu katakan itu semua" ucap ku pada ahir percakapan sebelum telepon berahir.


Ada rasa bahagia mendengar seluruh penjelasan dari Dian. Karena aku menjadi tahu, perasaan nya belum berubah terhadap ku.


Tapi juga terbesit kesedihan di dalamnya, aku menjadi semakin tahu bahwa ustazah tidak akan pernah kembali baik terhadap ku seperti waktu dulu.


Perasaan ku kembali berkecamuk, cinta nya membuat ku bahagia sekaligus terluka.


Lantas haruskah aku perjuangkan rasa yang mulai bersemi untuknya ini?


Sementara di sisi lain ada seseorang yang masih belum juga menyerah untuk memperjuangkan cinta ku.


Haruskah kembali aku sakiti diri ku sendiri dengan menginginkan jauh dari Dian, sementara Dian masih terus berjuang untuk mendekat?


Kenapa semua terasa rumit begini. Memikirkan nya membuat aku semakin lapar saja. Apalagi dingin-dingin begini.


Setelah aku melupakan bubur ayam yang tadi aku beli, kali ini aku segera turun dan memanaskan kembali bubur di dalam microwave.


_____________^_^____________


hallo... pembaca setia, maafkan yang telat update. untuk kesekian kalinya sedikit buntu di episode ini 😁


ayoo donk terus semangatin author 😇 jangan lupa tinggalkan jejak, like and coment

__ADS_1


trimakasih yang sudah mau mampir, semoga suka dengan ceritanya đŸĨ°đŸ˜˜


__ADS_2