
Mobil ku tiba di pesantren beriringan dengan mobil ustadz Billal.
Setelah memarkirkan mobil masing-masing, ustadz Billal menghampiri ku.
"istirahat ya, tenangkan diri kamu. Matanya di kompres supaya mengurangi bengkak. Jangan langsung tidur" tutur beliau. Tidak menyangka se perhatian ini.
"iya ustadz, assalamu'alaikum" jawab ku singkat kemudian pergi melewati beliau.
"Kayra"
Panggilan itu terpaksa menghentikan langkah ku.
"iya ustadz"
"kapanpun kamu butuh teman untuk bercerita, saya selalu ada. Dan.......
Kapanpun kamu siap untuk menerima pinangan saya, saya juga masih selalu ada"
Deg,
Ada rasa bahagia, ada rasa bangga ada juga rasa jengah. Kalimat terakhir beliau, membuat aku terdiam seketika.
Aku hanya tersenyum kemudian kembali berjalan menuju rumah paviliun. Tidak bisakah seseorang itu berbuat baik tanpa ada harapan, atau embel-embel apapun?
brruuggg,
aku meletakkan paper bag ku dengan keras di atas meja. Lalu aku memeluk Siska dan air mata kembali tumpah.
"hey, kenapa? ada apa? pulang-pulang kok nangis? "
"okey, abaikan aja pertanyaan ku dan silahkan menangis sepuas kamu, selama yang kamu mau"
"Siska....... hikzzzz hiikkkzzzz hiikkkzzzz" aku menatap Siska sesaat kemudian kembali memeluk dia dan menangis.
"ya Allah Kayra, kamu ini gak ada hoby lain apa selain nangis? Mata udah seperti di sengat lebah gitu, masih aja nangis"
"Siska... hiikkzzz"
"iya, aku di sini. Maaf ya tadi gak bisa angkat telpon kamu. Begitu mau balas chatt, HP aku malah mati"
"udah ya nangis nya, kasihan tuh mata. Pasti udah lama banget nangis, sampe bengkak kaya gitu.
Kamu duduk dulu, aku ambil handuk buat kompres"
Aku sudah seperti bayi saja yang menuruti semua kata-kata Siska.
"sambil rebahan aja biar gampang kompres nya. Kamu juga pasti capek kan" dia membantu ku berbaring dan melepaskan kaos kaki ku.
"kamu tadi gak ke kampus ya? aku cariin di tempat parkir mobil kamu gak ada. Aku samperin ke kelas, kata teman kelas kamu nya gak masuk. Lagi gak enak badan, cuma bohong kan itu"
Siska terus saja menginterogasi, menjejali ku dengan banyak pertanyaan.
__ADS_1
Ditengah proses interogasi yang dilakukan Siska, tiba-tiba pintu luar yang mengetuk.
"ish, ada aja pengganggu" gerutunya.
Kemudian Siska beranjak untuk membuka pintu.
Tak lama sudah kembali lagi ke kamar dengan baskom kecil di tangan.
"nih, pangeran loh bawain es batu buat kompres tuh mata.
Waiter.... wait, kok bisa ustadz Billal tau keadaan kamu Kay? aku aja yang teman sahabat sekaligus teman tidur, belum tau apa-apa.
Pokoknya kamu harus cerita sekarang juga"
Nah, kambuh juga jiwa pemaksa Siska.
"tadi ustadz Billal yang nolongin aku. Gak sengaja ketemu di masjid. Waktu aku solat dzuhur, nangis sangking kencengnya sampe di samperin sama tuh ustadz"
"cie... cie... ada yang jadi pahlawan kesiangan nih. Trus...trus...udah ada yang nemenin curhat masih aja nangis Bombay. Heran ya aku tuh sama kamu, hobby kok nangis"
"GAK! aku gak cerita apapun sama ustadz Billal. Hanya saja beliau nemenin aku makan siang. Udah terlanjur pesen sebelum solat.
Saking syoknya aku sampe lemes, gemeteran, gak kuat mau nyetir mobil sendiri. Yaudah aku parkir aja mobil di pinggir jalan terus aku pesen ojek"
"astagfirullah Kayraaaaaa, sampe kaya gitu. Ada apa sih sebenernya? " sambil terus mengompres sambil terus nyerocos.
"kak Jo Sis, kak Jo"
"gak bener semua. Kak Jo nyakitin aku"
"hah??? nyakitin yang gimana? bukannya dia cinta banget sama kamu, sampe di belain depresi patah hati macam itu"
"memalukan Sis. Jijik aku ingatnya"
"hah????? emang kamu udah di apain sama kak Jo?" Siska semakin penasaran.
Sementara aku, ada rasa malu untuk menceritakan. Ini kali pertama ada seseorang yang menyentuh ku.
"Siskaaaaaa, aku... aku.... hiiikkkzzz hiiiikkzzz hhiikkzz"
"yah, mala nangis lagi. Yaudah deh gak usah sekarang ceritanya. Tenangin diri kamu dulu aja kalo gitu"
Setelah cukup lama Di kompres mata ku terasa lebih ringan. Sekalipun masih jelas terlihat bengkak nya.
Aku beranjak dari tempat tidur untuk segera mandi, karena waktu solat Asar tersisa sedikit lagi.
Dalam sujud ku berdoa, dalam sujud ku meminta, untuk hati-hati yang terluka. Lebih tepatnya hati yang pernah terluka karena sikap ku. Mungkin aku terlalu banyak dosa, terlalu banyak menyakiti hati manusia. Sehingga aku harus mendapatkan teguran ini.
Berapa banyak hati laki-laki yang pernah aku patahkan, apakah itu salah ku?
Sekali saja aku tidak pernah meminta cinta yang tak semestinya.
__ADS_1
Lalu dimana letak salah ku?
Kini air mata ku benar-benar kering.
Berganti menjadi hati yang kosong.
Hati yang terluka karena perjuangan ku sendiri.
Hati yang terluka karena seseorang yang datang tanpa ku nanti.
Dian,
Bagaimana dengan dia?
Setelah kepergiannya tadi dia sama sekali tidak menghubungi aku.
Aku harap kesalahpahaman ini tidak berlangsung lama.
Jangan uji aku lagi lebih dari ini ya Allah.
Hati ku perih, melihat kepergian Dian dengan rasa kecewa. Sakit ini bukanlah aku sendiri yang merasakan.
Entah, rencana apa yang sedang Allah siapkan. Semoga hati ini tetap tegar untuk melewati setiap badai yang datang.
Hari ku akan berakhir di dalam kamar hingga besok pagi menjelang.
Aku tidak berani keluar, pasti akan ada pertanyaan yang sama jika ummi tau.
Dan, aku jadi merasa sedikit ilfil dengan harapan ustadz Billal.
Kepala ku mulai terasa berat, selepas solat magrib aku membaringkan diri di kasur.
Untuk sementara isi dalam perut aman. Jadi aku tidak perlu makan malam lebih dulu. Tadi siang juga aku membungkus cake, jadi bisa aku makan jika nanti malam sewaktu-waktu terbangun dan kelaparan.
Handphone aku matikan. Maafkan jika sementara waktu membuat khawatir orang-orang yang menghubungi ku. Itupun kalau ada.
Aku butuh waktu untuk sendiri, menuntaskan semua rasa sakit di hati ini.
______________^_^______________
🖐🖐🖐🖐🖐
biarkan Kayra untuk sendiri dulu, ok
Semoga nanti author kembali dengan semangat yang full lagi 😍
jejaknya jangan lupa gayssss, 😘
buat author bahagia 🥰🥰🥰🥰 biar cerita Kayra cepat sampai di tujuan.
LIKE, VOTE, KOMENT, HADIAH
__ADS_1