KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Rencana Sesungguhnya Papa


__ADS_3

Magang di perusahaan orang tua sendiri nyatanya tidak senyaman yang ada dalam kepala ku. Pasalnya devisi yang kami tempati di pegang oleh pegawai yang lain. Sementara papa sendiri lebih sering berada di luar kantor.


Mungkin juga karena dari dulu aku jarang ikut bersama papa ke kantor maupun acara-acara kantor lainnya, sehingga para pegawai kurang familiar dengan ku. Hanya beberapa saja yang mengenali aku sebagai anak papa, sisanya lebih banyak mengenali adek.


Aku bekerja benar-benar menerapkan ilmu yang selama ini telah di dapat. Secara pembukuan juga penghitungan secara real. Jadi sudah serasa pegawai saja. Dan bagusnya, aku menikmati semua kesibukan baru ini. Jadi tidak sabar untuk lulus dan bekerja.


Aku jadi ingat mandat papa waktu itu. "mau tidak mau kamu harus belajar untuk memegang perusahaan. Sebab adek mu sudah sangat kekeh untuk masuk di dunia kesehatan".


"hey, nglamun aja sih" tegur salah seorang tekan yang rupanya sudah menanyai ku sejak tadi, tapi tidak ada respon.


"astaghfirullah, maaf-maaf. Aku lagi kepikiran sesuatu.


Iya, ada apa? " tanya ku kembali.


"ke kantin gak, udah jam istirahat nih" Dila mengulang pertanyaan nya.


"enggak. Tadi papa ku ngajak makan di luar"


"yaudah, kalo gitu aku keluar ya. Sudah ditunggu sama anak-anak"


"okey"


Sepeninggal Dila akupun berjalan ke ruangan papa.


"eh mbak Kayra. Mau ke ruangan bapak? " tanya mas Riza, asisten yang selama ini setia menemani kemana pun papa pergi.


"iya mas. Tadi katanya mau di ajak makan siang bareng"


"Ouwh, iya. Ini berkasnya baru selesai saya siapkan. Saya juga mau ke ruangan bapak"


"makan siang kenapa mesti ada berkasnya juga mas? " tanya ku heran.


"lho, bapak gak bilang to.


Kan makan siangnya bareng sama ketemu klien"


"awas mbaaakkk" teriak mas Riza.


Untung saja aku tidak ke jedot pintu, karena terdapat sekat pintu kaca antara ruangan sekretaris dengan ruangan pimpinan.


"semua berkas sudah siap pak" lapor mas Riza begitu sampai di ruangan papa. Yang di jawab dengan anggukan.


"kamu gak apa-apa Kay? " tanya papa yang ikut terkejut saat mas Riza berteriak tadi.


"gak apa-apa pa" jawab ku memberi tahu.


Lalu kami bertiga pun kembali berjalan keluar kantor. Dengan mas Riza mengekor di belakang. Jujur saja aku masih kepikiran dengan apa yang di katakan mas Riza tadi. Kenapa papa tidak memberi tahu ku kalau keluar makan siang untuk bertemu klien?


Rasanya mengganjal sekali di kepala. Tapi entah kenapa mulut ini serasa terkunci untuk bicara.


Adakah ada niat tersendiri dibalik papa meminta ku untuk magang di kantor?


Setelah sebelumnya aku pernah mengatakan jika suatu saat nanti aku ingin belajar mandiri dulu dengan bekerja di perusahaan luar. Sebelum pada akhirnya aku memutuskan untuk membantu papa di kantor sendiri.


Selama perjalanan yang aku tanyakan justru hal lain. Rasanya aku tak bisa untuk membantah keinginan papa secara langsung. Jadi aku diam saja, pasrah kemana akan di bawa.

__ADS_1


Sampai akhirnya mobil yang kami tumpangi berhenti di salah satu rumah makan padang. Tapi jangan salah, sekalipun hanya rumah makan padang, dari nama nya saja "padang Sultan". Jadi bisa di bayangkan kan, seperti apa mewahnya.


Saat kami datang, sudah ada dua orang pria yang menunggu. Seorang pria yang lebih tua menyapa papa, lalu mas Riza dan aku secara bergantian. Yang di ikuti anggukan kepala sebagai bentuk menyapa oleh pria di sebelah bapak tua itu. Kamipun bersalaman secara bergantian. Dan tepat giliran ku berjabat tangan dengan pria muda itu, tangan ku di jabat dengan eratnya dan dalam waktu yang lebih lama.


"kenalkan ini putri saya, Kayra" suara papa membuat lelaki itu melepaskan jabatan tangannya.


"Sekarang masih kuliah, semester akhir. Mungkin kedepannya dia yang akan membantu saya di kantor" lanjut papa menjelaskan.


Penjelasan papa benar-benar gamblang. Secara to the poin mengatakan tepat seperti apa yang aku pikirkan. Rasanya badan ini jadi keringat dingin tiba-tiba. Gak makan pedes tapi kepanasan.


"kebetulan sekali, ini saya juga mengajak putra sulung saya yang kuliah di Australia. Dia juga baru saja menyelesaikan pendidikan s2.


Mungkin kalian bisa berkenalan lebih dekat, di luar urusan pekerjaan.


Bukankah begitu pak Wijaya? "


Aku menatap tajam pada papa yang tengah asik bercengkrama.


Pasalnya, pria di depan ku yang di kenalkan sebagai putra sulung dari rekan bisnis papa, sedari tadi menatap ku dengan tatapan yang tak biasa. Tatapan mata genit, mata-mata seorang playboy.


"maaf saya permisi ke kamar mandi" dengan menahan kekesalan, lebih baik jika aku pindah ke meja lain menghindari mereka saja.


Lalu aku berjalan, mencari meja yang sedikit tersembunyi sehingga tidak terlihat dari tempat duduk papa. Tapi masih bisa mendengar apa yang mereka obrolkan.


Aku menghubungi Dian untuk menghilangkan kekesalan. Tapi sayang, panggilan ku tidak mendapat jawaban. Justru menerima pesan masuk yang mengatakan bahwa dia sedang meeting bersama jajaran direksi.


Hingga makanan di meja papa datang, papa menyuruh mas Riza untuk mencari ku ke kamar mandi.


Aku bisa melihat langkah mas Riza menuju toilet, tapi aku diam saja.


"mas.... mas Riza" panggil ku pelan.


"sssssssttttttt" aku memberi isyarat agar berbicara dengan pelan.


"ya Allah, mbk Kayra di sini. Padahal saya sudah panik tadi, mau berkata apa sama bapak"


"males di sana mas. Habisnya ada yang punya mata genit" gerutu ku. Tapi justru di tertawakan oleh mas Riza.


"mbk Kayra cantik sih. Jadi pantas saja orang suka lihatnya"


"mas Riza gak usah bercanda ya" untung saja sudah sangat lama mas Riza bekerja bersama papa. Sudah sejak aku masih di bangku SMA. Sering bermain ke rumah juga. Orangnya suple, gak banyak gombal, bicara seperlunya. Jadi aku cukup menyukai kepribadiannya.


"tenang mbak. Nanti saya bantu supaya tidak ada pandangan yang mengganggu mbak Kayra lagi"


Akhirnya aku mengikuti mas Riza untuk kembali bergabung di meja papa.


"lama sekali Za" tegur papa pada sang asisten.


"iya Pak. Mbak Kayra sedang Vcall dengan suaminya, jadi saya menunggu dulu tadi" jawaban mas Riza sangat top cer. Mungkin ini maksud dari ucapannya tadi.


uuhhhuuukkkk, uuuhhhuuukkkk,


Terdengar suara tersedak dari meja sebrang.


"jadi putrinya sudah menikah pak? "

__ADS_1


"iya, sudah. Beberapa bulan yang lalu pak"


"waah, sayang. Masih muda sudah menikah. Padahal s1 saja belum lulus ya"


"kenapa harus sayang om, tidak ada peraturan menikah harus lulus s1 dulu" jawab ku dengan tegas.


Sebab aku rasa perkataan nya sudah keluar dari jalur pekerjaan.


"namanya jodoh bukan kita yang ngatur pak. Anak-anak sudah memutuskan seperti itu, ya kita suport saja. Dari pada lama pacaran malah terjadi hal yang tidak di inginkan.


Yang penting harus tetap fokus menyelesaikan pendidikan. Bukankah begitu? "


Dijawab anggukan oleh rekan bisnis papa. Sedangkan anaknya yang di sebelah, sepertinya sudah lebih bisa menjaga arah pandangan mata.


Tanpa melihat mereka lagi aku menyantap makanan yang sudah di pindahkan meja oleh pelayan.


Setelah makan siang selesai, pembicaraan tentang pekerjaan di mulai. Sebagai orang baru, aku hanya diam sebagai pendengar. Apalagi yang bisa ku lakukan?


Berbalasan chat


Yah, daripada suntuk aku mengirimkan pesan pada Dila. Teman magang satu devisi. Karena jumlah kami cukup banyak, sehingga dibagi ke dalam beberapa devisi.


"*Dil, aku bosen" ~send


"makan siang gak balik-balik sih. Makan siang ke Jakarta neng? "


"boro-boro ke Jakarta, Jalan-jalan. Jadi asisten ini mah, pendengar" ~send


"lagi dimana sih emang? "


"lagi jadi asisten pak CEO dulu. Ketemu klien" ~send


"aisht.... gaya kamu. Yang jadi calon penerus CEO"


"apaan sih, rese.


Ini nih yang aku takutin kalo magang di kantor bokap. Ujungnya di sabotase kan? " ~send


"sabarrrr, cepat atau lambat juga pasti terjadi kan"


"tapi bukan sekarang. Aku gak siap. Belum punya bekal sama sekali. Yang ada malah BT jadi pendengar setia yang gak tau asal usul, seluk beluknya" ~send*


"lancar mbak chatting nya? " tanya mas Riza sambil berbisik.


Ini sindiran atau pertanyaan?


Pikir ku dalam hati.


"coba ikut di perhatikan apa yang bapak bicarakan mbk. Itung-itung sekalian belajar" lanjut mas Riza berbisik.


Sementara papa masih nampak fokus dengan apa yang tengah di bicarakan. aean lelaki muda yang di sebrang meja, juga nampak serius menyimak. Akhirnya aku memasukkan handphone ke dalam tas.


Ikut menyimak seperti apa yang mas Riza katakan.


____________________^_^___________________

__ADS_1


__ADS_2