KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Sejam Serasa Setahun


__ADS_3

Seperti yang tadi Dian katakan, sore ini dia kembali ke rumah tapi tanpa mengajak aku ikut serta.


Ia pergi dengan berjalan kaki. Menuju ke rumah nya yang jaraknya hanya beberapa meter dari rumah ku. Bahkan halaman rumahnya bisa ku lihat dari tempat ku berdiri saat ini.


Kedamaian itu baru saja ku rasakan. Disaat seharusnya inilah puncak dari itu semua, namun keadaan justru berbanding terbalik. Kejutan demi kejutan yang berlangsung dengan sangat manis, kini menemui puncaknya. Yah, inilah puncak dari semua kejutan yang aku dapatkan. Semoga tak ada kejutan lain yang lebih dari ini setelah Dian kembali.


Aku masuk ke dalam rumah dengan langkah berat. Berharap tak terjadi apa-apa setelah Dian kembali.


Beberapa jam berlalu, Dian belum juga kembali. Kenapa jadi aku yang resah begini?


Berjalan ke sana kemari tak jelas mau melakukan apa. Aku hanya khawatir dengan perasaan dia yang bisa saja hancur berkeping-keping.


Kenapa ya Allah, kenapa harus terjadi disaat hari bahagia kami?


Hingga adzan magrib berkumandang. Belum juga Dian kembali. Tak ada pesan yang di kirim, juga tak ada panggilan yang bisa membuat ku tenang. Padahal tadi dia bilang 'hanya sebentar'.


Aku benar-benar resah saat ini. Mencoba menghubungi tapi malah suara operator yang terdengar.


"maaa, mamaaa" dengan cepat aku menuruni tangga dan mengetuk pintu kamar mama dengan tidak sabaran.


"kenapa Kak, ada apa? " bisa jadi mama telah menangkap wajah gusar pada raut muka ku.


"Dian ma. Padahal tadi dia bilang cuma sebentar, tapi sampai sekarang belum kembali juga" kata ku dengan resah.


"memangnya Dian kemana? " tanya mama santai.


"puuulaang"


"itu kan rumah dia, apa yang aneh " mama mengajak ku untuk duduk.


"tapi ma, masalahnya... dia mau membahas soal pengumuman yang di buat ummi, sewaktu ijab kemarin. Aku khawatir terjadi pertengkaran" kata ku mencoba mengingatkan momen waktu itu.


"owh, jadi begitu.


Kalaupun mereka harus bertengkar, itu wajar. Kita tidak bisa mencegah seseorang untuk tidak marah. Biarkan saja. Akan ada saatnya amarah itu hilang.


Lagi pula kan itu belum tentu terjadi. Sabarlah. Do'akan saja sesuatu yang baik. Sambil menunggu dia kembali" kata mama lembut.


"tapi handphone dia juga gak aktif ma"


"mungkin habis baterai.


Atau minta tolong sama Melan saja untuk pura-pura berkunjung, kalau dia masih di rumah"


Sejenak aku berfikir, mungkin ada benarnya pendapat mama. Tapi di lain sisi, bukankah aku menantu di rumah itu? Itu artinya aku pun kini berhak setiap saat datang.


Namun perkataan Dian yang tidak mengijinkan aku untuk ikut serta bersama nya membuat aku berkecil hati untuk menyusul ke rumah dia.


"nah, itu papa sudah datang dari masjid. Coba kamu tanyakan tadi melihat Dian atau tidak" ide lain yang ku rasa lebih baik saat melihat papa muncul dari balik pintu.


Belum juga aku bertanya, ternyata ada langkah lain di belakang papa. Dan itu Dian.


Rasanya bahagia sekali hati ini, serasa seperti sedang mendapatkan undian berhadiah.

__ADS_1


Rasanya ingin berteriak dengan riangnya. bersorak-sorak juga mungkin, atau langsung memeluk dia dengan eratnya.


Sayang, ada mama dan papa yang membuat aku menahan segala gejolak kebahagiaan.


"tuh kan, kembali dengan utuh.


Mama sampai belum solat. Kamu juga pasti belum solat kan? "


"iya maaa, maaf" kata ku sembari menahan senyuman.


"mama tau. Namanya juga pasangan baru, pengantin baru pula. Satu jam gak ketemu aja rasanya sudah seperti setahun menahan rindu" ucap mama sambil berlalu. Dan bisa jadi di dengar oleh papa serta Dian.


Mama masuk ke dalam kamar di susul oleh papa. Dan Dian pun menyusul ku dengan langkah lebar, berjalan mengikuti ku menaikan anak tangga demi anak tangga.


Aku masih diam. Berada dalam mode unmood karena dia yang pergi melebihi waktu yang di perkiraan serta tanpa kabar. Berusaha menyembunyikan kegundahan serta kerinduan. Padahal hati ini sudah sangat ingin memeluk nya.


Begitu memasuki kamar aku langsung menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.


"kamu belum solat? " tanya nya begitu aku menggelar sajadah.


"iya" lalu aku memulai solat.


Entah kenapa ego ini mengajak ku untuk diam, acuh. Padahal sedari tadi resah menunggu kepulangan nya.


"kok aku di cuekin sih" Dian mulai mendekat, membelai rambut-rambut halus yang berserakan.


Sementara aku duduk diam dengan sebuah buku di tangan.


"kirain gak pulang lagi tadi" kata ku singkat.


"kok gitu. Kan aku sudah bilang cuma sebentar" jawab Dian santai.


"owh, setengah hari itu sebentar ya" jawab ku masih dalam mode jutek.


"hemp, rupa-rupanya ada yang lagi ngambek nih" Dian mulai jahil dengan membuang nafas tepat di telinga ku.


"gak, ngapain"


"aisht.... makin singkat aja kalimat nya.


Sini donk, coba tatap wajahnya kalo lagi ngomong sama suami" tanpa menunggu persetujuan sebelah tangan nya menegakkan dagu ku.


Mau tak mau wajah kami bertemu.


"senyum dulu donk. Dari tadi suami datang kok belum di kasih senyuman" dia masih berjuang untuk merayu.


"lagi sariawan" aku pun tak mau luluh begitu saja.


"beneran nih sariawan. Aku kasih obat sini" wajah Dian maju beberapa senti.


"mau ngapain dekat-dekat. Engap tau" aku jadi tak kuasa dengan tatapan Dian yang begitu dekat.


"mau ngobatin sariawan" bisik Dian di telinga ku dan seketika tubuh ku menjadi meremang.

__ADS_1


Sebelah tangan dia meraih buku yang tengah ku pegang. Mengambil dan meletakkan nya.


Dan sebelah lagi memaksa ku untuk merebahkan tubuh.


"maaf aku pulang terlalu lama. HP juga lowbat. Kan charger nya ada di sini" kata Dian dengan terus mengecup area wajah hingga leher.


Sekuat tenaga aku masih menahan gejolak dari sentuhan yang Dian berikan. Ego ini belum mengijinkan hati ku untuk luluh.


"aku ketiduran tadi. Setelah berdebat panjang sama ummi dan abi, kepala ku terasa berdenyut. Aku putuskan untuk rebahan sebentar, gak taunya malah ketiduran sampe magrib"


Mendengar penjelasan Dian aku tak meragukan kebenaran nya.


Hanya saja perasaan ku masih tak berkenan, kehilangan dia dalam jangka waktu yang cukup lama tanpa kabar.


Apakah aku terlalu posesif sekarang, karena sudah merasa memiliki dia?


"Kayra Putri Al Mahira, kamu marah sayang? " kalimat serta tatapan yang membuat aku tak mampu berkutik sedikit pun.


Entah kenapa, sebutan dengan nama lengkap yang di ucapkan Dian, ku rasakan dengan makna yang berbeda. Hati ku luluh seketika.


Aku memeluk nya, menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam. Udara sejuk seketika memenuhi ruang dalam kepala ku.


"aku resah nungguin kamu. Takut sesuatu terjadi"


Belaian lembut kurasakan menyentuh rambut ku.


"iya, maaf. Sudah membuat kamu menunggu dan khawatir" kecupan Dian pun mendarat berulang kali di kening ku.


"jadi bukan karena sariawan nih" seketika pertanyaan Dian membuyarkan suasana syahdu yang baru saja menghangatkan perasaan ku.


Aku langsung melepaskan diri dari pelukan Dian dan bangkit untuk duduk.


Namun bukan Dian namanya jika membiarkan aku begitu saja.


Dengan cepat Dian kembali menarik ku ke dalam pelukannya. Bahkan kali ini dia mengungkung ku di bawah tubuhnya.


Menyatukan bibir kami dan menyesap dengan rakusnya. Serta tangan lain bergerilya menyentuh aset lain yang telah di klaim menjadi miliknya.


Setengah dari kewarasan rasanya telah hilang. Tak mungkin ada penolakan ataupun negosiasi. Sudah terlanjur terjadi. Pergerakan yang begitu cepat tanpa bisa di prediksi. Yang ada hanya berusaha menikmati. Merengkuh mimpi dengan sadar diri. Karena semua ini sudah bagian dari takdir Illahi.


____________________^_^__________________


selamat menikmati untuk pengikut setia cerita ini.


mungkin ada yang bertanya "apakah yang sedang terjadi"


kita sambung di episode berikut nya lagi


sebab author sudah tak tahan lagi 🥱🥱🥱


terimakasih untuk yang masih setia disini 😘


jejak kalian sangat di nanti 🙏

__ADS_1


__ADS_2