KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Rahasia


__ADS_3

Ustadz Amin POV


Rupanya usia ku kian lama semakin menua saja. Tidak terasa si bungsu,Dian tiba-tiba saja meminta ijin untuk melamar seorang gadis.


Kami semua sangat mengenal gadis itu. Rumah nya hanya berjarak beberapa rumah dari rumah kami. Sudah cukup lama aku mendengar desas desus tentang kedekatan mereka.


Bahkan Ummi Dian sangat menunjukkan ketidak sukaan dengan kedekatan mereka. Mentah-mentah ummi Dian memarahi gadis itu, memojokkan dia,mengancam. Dengan jelas menuding bahwa gadis itulah yang selalu menggoda Dian.


Aku tidak melarang, tapi juga bukan berarti mengijinkan. Sekalipun istri kedua ku itu begitu membenci kedekatan Dian dengan gadis itu. Aku hanya berusaha menyikapinya sesuai dengan fakta yang ada.


Mungkin di sini justru istri ku sendiri yang bersalah, terlalu terobsesi pada suatu tujuan. Hingga melupakan nilai suatu kebenaran. Melimpahkan semua penyebab kegagalan Dian di pesantren pada gadis itu. Semata-mata untuk menutupi kekecewaan nya terhadap Dian. Sebab dengan keluarnya Dian dari pesantren menjadikan ambisinya sulit untuk terwujud.


Sudah berulang kali aku mencoba menasehati, tapi masih saja terjadi dan terjadi. Obsesinya masih sangat tinggi.


Tapi kali ini aku tidak akan membiarkan Dian tenggelam ke dalam obsesi ibu sambung nya.


Mungkin karena selama ini aku menutup rapat tentang kebenaran itu, sehingga selama itu pula Dian selalu hormat dan taat terhadap ummi nya.


Lain halnya dengan Vicky, kakaknya Dian. Dia sudah cukup besar untuk mengetahui apa yang terjadi. Namun di sana justru aku membuat kesalahan. Alih-alih untuk membuat dia tidak menceritakan kepada adiknya tentang ibu mereka yang sebenarnya, aku selalu memberikan fasilitas apapun yang dia mau. Namun pada akhirnya justru menjadikan dia pribadi yang semaunya sendiri.


Bukan tanpa alasan juga aku melakukan itu semua. Ini semata-mata sebagai rasa terimakasih ku pada istri ke dua ku. Yang tak lain adalah ibu susuan Dian, yang dia tau adalah ummi nya yang sesungguhnya.


Berterimakasih karena sudah mau memberikan ASInya pada Dian. Sebab Dian ditinggal mati oleh mendiang ibu nya saat belum genap usia 6bln. Sesaat setelah melahirkan ibunya tidak bisa lagi memberikan ASI. Karena penyakit yang dia derita. Sementara Dian selalu muntah saat diberi susu formula dan asupan bergizi lainnya. Perkembangan nya terhitung lambat, berat badan dia selalu berada pada garis hijau.


Pada saat itu ada kerabat yang menyarankan untuk mencarikan ibu susuan. Kebetulan ada kenalan kerabat yang baru saja melahirkan tapi sayang bayinya meninggal.


Tanpa berfikir panjang, hanya dengan tujuan supaya Dian bisa tumbuh dengan baik dan bisa mendapatkan ASI. Sudah cukup ibunya yang sakit, semoga si bayi tetap sehat, karena itulah yang menjadi semangat utama mendiang ibu Dian untuk tetap bertahan.


Selama perawatan ibu Dian, aku menyerahkan Dian bayi untuk di rawat bersama ibu ku. Karena rumah ibu susunya lebih dekat dengan rumah ibu. Dengan di temani oleh satu baby sitter.

__ADS_1


Lalu sepeninggal ibu Dian aku kembali ke tanah air. Dengan membawa Vicky yang sudah berusia hampir lima tahun. Sementara abah dan ummi masih memilih untuk tinggal di Turki. Karena ibu Dian di makamkan di sana. Sampai akhirnya nya lambat laun abah dan ummi memutuskan untuk menetap di sana.


Sementara itu, beberapa bulan sebelum aku kembali,suami dari ibu susuan Dian meninggal karena sakit.


Dian tumbuh dengan baik juga sehat selama diasuh oleh ibu susuan nya.


Melihat kondisi yang ada, keluarga mulai membujuk dan mendesak ku agar menikah saja dengan ibu susuan Dian. Awalnya aku menolak, karena belum siap untuk mengubur masalalu dan menggantikan nya dengan yang baru.


Tapi di lain sisi, dengan pertimbangan demi Dian juga Vicky, yang masih terlalu kecil, masih sangat membutuhkan perhatian seorang ibu, akhirnya aku menyetujui saran dari keluarga.


Aku melamar ibu susuan Dian. Dan akupun tidak mendapat penolakan. Tapi ada syarat yang harus aku terima "jangan pernah katakan pada Dian jika aku hanyalah ibu susuan nya".


Dan lagi-lagi hanya karena pertimbangan 'demi kebaikan Dian' maka aku menyetujui syarat itu. Lalu kami pun menikah, sekalipun sempat beberapa kali mendapat penolakan dari Vicky.


Hingga saat ini, Dianpun tidak mengetahui jika ibu yang telah mengandungnya telah tiada. Rasanya aku sungguh berdosa, bahkan aku memutus doa seorang anak untuk ibunya yang telah tiada.


Seiring berjalannya waktu, yang kulihat kasih sayang seorang ibu sambung tetaplah tidak bisa setulus ibu kandung. Banyak hal yang di tuntut dan di bebankan pada Dian. Bahkan untuk memenuhi tujuannya, dia begitu terobsesi menjodohkan Dian dengan cucu Kyai Munaf.


Saat dia tau bahwa sebenarnya pesantren X yang ditempati oleh Dian saat itu, yang di pimpin oleh Kyak Munaf adalah pesantren turun temurun yang diwarisi oleh keluarga mendiang ibu Dian. Dia merasa berhak atas hak itu dengan mengatas namakan Dian.


Bahkan dia pernah meminta pada ku untuk kembali mengambil alih dan memimpin pesantren itu. Tapi itu tidak mungkin. Dengan tegas aku menolak.


Dulu pada awalnya aku sempat diminta untuk memimpin pesantren. Tapi aku tidak akan sanggup berada di dalam sana dengan semua kenangan tentang mendiang ibu Dian. Terlalu menyakitkan.


Pada saat mendiang ibu Dian sakit keras dan abah memilih untuk membawanya berobat ke Turki. Pada saat itu beliau bermaksud menyerahkan kepemimpinan pesantren pada ku. Tapi mana mungkin aku membiarkan istri ku berjuang sendiri tanpa aku menemani. Setelah apa yang dia perjuangan. Mempertahankan kehamilan yang Allah titipkan pada rahimnya dengan proses yang tidak di sengaja.


Sebenarnya aku sudah melarang dan meminta di bersihkan saja selagi janin itu masih dalam bentuk darah. Namun dia masih sangat kekeh. "siapa tau nanti lahir anak perempuan bi. Kan abi sangat medambakan anak perempuan" begitu katanya. Aku tak mampuh menggoyahkan ke kakehan nya.


Sempat beberapa kali aku melihatnya kesakitan,tapi saat aku tanyakan dia tidak mau mengatakan apapun. Hingga janin berusia tujuh bulan kondisinya mulai memburuk.

__ADS_1


Dengan usia kandungan yang masih tujuh bulan itu, dengan terpaksa dokter mengeluarkan bayinya. Alhamdulillah operasi Caesar berjalan dengan lancar. Bayi di nyatakan sehat sekalipun masih berusia tujuh bulan. Dan si ibu kondisinya cukup baik.


Sebenarnya saat abah memutuskan untuk membawanya ke Turki,saat itu abah meminta ku untuk tetap tinggal bersama anak-anak dan memimpin pesantren.


Sempat dua bulan menyusui Dian bayi dengan tetap berada di atas ranjang. Karena kondisi yang masih lemah membuat nya harus bedrest. Hingga suatu hari saat menyusui si kecil, tiba-tiba tubuhnya mengejang dalam waktu yang cukup lama. Kemudian dokter datang untuk memeriksa lalu memberi beberapa resep obat. Namun dengan kemungkinan,kondisinya tidak sebaik sebelumnya.


Benar saja, kian hari kondisinya kian memburuk.


Aku memilih untuk menemaninya berobat dengan membawa ikut serta Vicky. Karena Dian masih bayi sehingga tidak memungkinkan untuk di bawa. Dengan sangat terpaksa aku menitipkannya pada ibu dengan membayar babysitter juga untuk merawatnya. Lalu kepemimpinan pesantren di serahkan kepada saudara tiri abah, yaitu Kyai Munaf. Sebab itulah satu-satunya saudara yang abah punya.


Hingga dua tahun pengobatan itu berjalan pada akhirnya Allah lebih sayang padanya. Dengan kondisi tubuh yang sudah tidak lagi memungkinkan untuk bertahan, aku ikhlas melepaskan kepergiannya. Namun masih terlalu sulit untuk mengubur kenangan kami. Terlagi untuk kembali ke pesantren itu, di sanalah semua kenangan kami tersimpan.


Rasanya terlalu menyakitkan jika aku kembali mengingat tragedi itu.


Mau tidak mau aku harus kembali membahas hal yang selama ini mencoba ku kubur. Aku tidak ingin Dian kehilangan kebahagiaan nya hanya karena obsesi dan ambisi ibu susuan nya.


"aku tidak akan melakukan hal yang bisa menyakiti perasaan mu, dengan mengatakan kebenaran yang selama ini telah kita kubur. Tapi aku minta, jangan jadikan Dian alat untuk mewujudkan obsesi dan ambisi mu"


"aku tidak terobsesi juga tidak berambisi. Tapi pesantren itu memang sudah seharusnya menjadi hak Dian"


"jika itu yang seharusnya, maka sudah seharusnya juga Dian tau jika kamu hanyalah ibu susunya"


"maka dari itu, supaya Dian tetap tidak tau, dia harus menikah dengan cucu Kyai Munaf. Dengan begitu dia akan mendapatkan hak nya kembali memimpin pesantren tanpa mengetahui apa yang sudah kita rahasiakan selama ini"


"TIDAK! aku tidak akan pernah mengijinkan. Itu sama saja kamu memaksa Dian untuk hidup bersama wanita yang tidak dia cintai.


Tidak ada penolakan. Tidak ada negosiasi lagi. Aku hanya ingin melihat Dian bahagia. Tanpa mewarisi pesantren itupun Dian akan tetap tercukupi kebutuhan. Karena peninggalan mendiang ibu Dian bukan hanya pesantren itu. Bahkan jika kamu lupa, semua harta dan fasilitas yang kita gunakan selama ini adalah peninggalan dari mendiang ibu Dian!


RESTUI DIAN ATAU KAMU AKAN KEHILANGAN"

__ADS_1


Setelah percakapan itu akupun pergi meninggalkan kamar. Tidak ingin mendengar ada sanggahan apapun lagi. Karena bagi ku, kebahgiaan Dian adalah mutlak.


_____________________^_^___________________


__ADS_2