KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Zonk Lagi


__ADS_3

Sore itu perut ku terasa melilit. Padahal aku tidak pernah telat makan.


Dengan perasaan kesal yang masih menyelimuti aku memasuki kamar mandi. Berharap dengan guyuran air shower mampu mendingan perasaan.


Disaat terakhir aku menanggalkan seluruh pakaian, ada sedikit noda merah yang tertera di sana.


Padahal seharusnya masih minggu depan jadwal menstruasi ku. Mungkin karena minggu minggu kemarin aku terlalu lelah badan juga pikiran, sehingga jadwal menstruasi menjadi maju.


Namanya juga 'tamu tak di undang', sukanya datang tiba-tiba tanpa bisa di cegah.


Pantas saja seharian ini emosi ku serasa meledak-ledak. Bawaannya badmood. Ditambah lagi dengan Dian yang pulang dan tak kunjung kembali.


"saat jauh dicari, saat dekat di musuhi"


kalimat itu sangat tepat dengan apa yang tengah aku rasakan.


Begitu melihat Dian pulang justru aku ingin marah-marah saja.


Tapi bukan Dian namanya kalau tidak bisa menaklukkan hati ku. Dia memang selalu bisa memporak porandakan perasaan ku.


Kata-kata yang menyejukkan juga sentuhan yang serasa membuat ku melayang.


Hampir saja penyatuan badan itu terlaksana, sentuhan demi sentuhan yang membuat ku meremang membuat aku lupa bahwa tamu bulanan tengah datang.


Hingga pada akhirnya raut kekecewaan nampak pada wajah lusuh yang terlihat begitu lelah.


"maaf" ucap ku lirih dengan penuh penyesalan.


"kenapa harus datang disaat kita sama-sama ingin" katanya lemah.


"datang tak di undang, pulang tak diantar" aku mencoba mengalihkan kesedihan.


"gak lucu. Dan aku tetap ingin" katanya datar kali ini.


"ingin apa, bagaimana maksudnya? " aku masih saja berada dalam mode o'on (bodoh) jika Dian sudah membahas tentang hal mengerikan satu itu.


Di lain sisi memang aku benar-benar tidak tau bagaimana cara melakukannya.


"ingin memakan kamu, pokoknya" tak sempat selesai apa yang dia katakan, sudah kembali beraksi dengan sentuhan-sentuhan memabukkan.


Dan kali ini aku menerima setiap sentuhan itu. Bahkan sesekali aku membalas seperti apa yang dia lakukan. Hingga beberapa saat suara pintu di ketuk dari luar.


Bagaimana kami sama-sama lupa kalau ini baru saja bakda magrib?!


Dengan segera kami berlari menuju kamar mandi. Memunguti baju-baju yang berserakan di lantai dengan cepat.


Rasanya aku mengutuk kebodohan diri ini. Memalukan sekali. Belum juga hal itu terjadi,tapi kejadian demi kejadian membuat aku ingin tertawa malu pada diri sendiri.


"pintu kamar di kunci kan tadi? " tanya Dian begitu kami telah sampai di kamar mandi.


"lupaa" rasanya aku sudah benar-benar bodoh dibuat oleh tingkah konyol ini.


"Kayraaaaaa" dengan cepat Dian menyalakan kran bak mandi.


"maaaf" aku sadar jika aku telah mematikan dengan paksa hasrat yang sudah berhasil ia tahan beberapa hari ini.


Bisa jadi Dian sangat kesal, kecewa atau bahkan marah pada ku saat ini.


"bukan salah kamu juga. Sudahlah" dia memeluk dan menyembunyikan wajah nya pada rambut ku yang tergerai.


"maaf aku sudah membuat kamu kecewa" kata ku kembali.


"sudahlah, masih banyak waktu lain kali.

__ADS_1


Aku ingin mandi, sebagai gantinya maukah kamu memandikan aku? atau kita mandi bersama? "


"apa kamu tidak jijik melihat noda merah ku? "


"kenapa harus jijik? Pada akhirnya benih ku akan tumbuh dari darah itu"


"tapi aku masih malu"


"yasudahlah. Bantu aku untuk mandi saja kalau begitu"


Tanpa menunggu lama lagi aku mulai memakai kan sabun pada tubuh Dian. Rasanya ini aneh sekali. Untuk pertama kali. Ada rasa malu, ada rasa geli, tapi juga bahagia. Bisa menjadi sedekat dan seintim ini bersama nya.


Candaan dari Dian akhirnya membuat aku merasa lebih nyaman dan rileks. Tidak kaku lagi.


Hingga saatnya aku memakaikan sabun pada area terlarang itu. Serasa ada magnet yang saling tarik menarik. Antara maju dan mundur.


"kamu harus mulai terbiasa memainkan ini. Ini aset mu juga sekarang sayang" lagi-lagi kata 'aset' membuat ku bergidik ngeri.


Senyuman yang aku sendiri sulit mengartikan. Aku tidak tau harus bagaimana ketika benar-benar dihadapkan dengan benda satu itu. Untuk melihat nya dengan jelas saja rasanya masih tabu di mata ku.


"lakukan lah. Aku akan sangat bahagia" Dian meraih tangan ku dan membersihkan bagian inti itu berdua. Dengan sedikit memainkan nya. Rasa geli yang menggelitik hati namun pada akhirnya menjadi 'suka' dengan aktifitas satu ini.


Beberapa saat dan aku pun mulai berani memainkannya seorang diri.


"jangan terlalu bersemangat, nanti dia bisa bangun lagi" peringatan yang membuat aku berhenti seketika.


Hawh, ribet juga. Baru saja menikmati tapi sudah harus mawas diri.


"awh, sudah lah.


Aku sudah lapar. Selesaikan sendiri aku ke bawah dulu"


"lho, kok jadi lari dari tugas. Selesaikan donk"


Lalu aku membersihkan tangan ku sendiri. Dan bergegas keluar dari kamar mandi.


Sesampainya di bawah ada beberapa orang di sana yang tidak aku kenali.


"ada temannya kak Dian kak. Tadi aku ketukin pintu tapi gak ada yang jawab" kata adek memberi tahu.


"owh iya, Dian lagi mandi dan aku masih solat sunah" jawab ku berbohong.


Lalu aku beranjak menemui tamu yang sebelumnya belum pernah di kenalkan pada ku oleh Dian.


"sebentar saya panggilkan Dian. Silahkan di cicipi kue nya"


Saat aku membuka pintu aroma wangi maskulin memenuhi ruang kamar ku untuk pertama kalinya. Aroma khas shampoo cowok hingga aroma parfum yang sudah sangat aku kenal.


"heeemppp, wanginya suami ku" ku hirup udara di ruangan dalam-dalam.


"iya donk, biar istri ku ini makin nempel" Dian langsung menarik ku dalam pelukan nya.


"ada tamu kamu di bawah"


"benarkah, siapa? "


"gak tau. Gak pernah di kenalin juga sama temen-temen kamu"


"oke, mari nyonya Dian. Sekarang aku perkenalkan pada teman ku" dengan gaya sweet nya dy menggapit lengan ku. Tapi salah posisi.


"kebalik dewh. Harusnya aku yang berpegangan pada lengan kamu" kata ku saat sudah menuruni tangga.


"owh, salah ya" sementara dia yang bersalah pura-pura tak menyadari.

__ADS_1


Kamipun menuruni tangga berdua dengan bergandengan tangan. Namun saat sudah di bawah, rasanya berlebihan.


Ini bukanlah berjalan di atas red karpet pada jamuan orang-orang penting.


Lalu aku pun melepaskan tangan dan berganti menggenggam tangganya.


Seandainya tidak sama sekali, bisa jadi akan ada singa lapar mengamuk malam ini. Pasalnya Dian pernah bilang "bergandengan tangan itu adalah indentitas, bahwa kamu milik ku"


"hay.. kalian. Kenapa gak kasih kabar kalau mau ke sini" tegur Dian pada tiga orang di depannya.


"kamu juga nikah gak undang-undang"


"kan sudah, lewat perwakilan instansi" jawab Dian sembari tersenyum kecil.


"oh ya, kenalkan ini istri ku. Nyonya Dian" tak ku sangka Dian benar-benar mengenalkan dengan sebutan itu.


"nama asli? " tanya salah seorang.


"rahasia. Nanti kamu samperin dia lagi pas aku gak ada"


"yaelah Di. Gak segitunya juga kali kegilaan gue" lalu mereka pun tertawa bersama saling bersahutan.


Sementara aku yang tak ingin terlibat lebih jauh dalam percakapan mereka undur diri, permisi untuk menyiapkan makan malam. Lagi pula sama sekali aku tidak mengerti dengan bercandaan ala lelaki.


Sebenarnya perut ku memang sudah benar-benar lapar, berteriak untuk meminta makan. Sayang kini sudah dengan status yang berbeda, tidak bisa lagi begitu lapar langsung menyantap makanan sendirian.


"Di.... ajak makan malam dulu yuk" aku memberi tau Dian yg dijawab dengan anggukan.


"Mari bergabung makan malam bersama" untuk menunjukkan keramahan sebagai tuan rumah, aku pun menawar kan secara langsung juga.


Kemudian aku pergi untuk kembali ke meja makan.


Di sela langkahku, aku sempat mendengar ejekan yang di lontarkan untuk Dian,


"idih, udah nikah masih aja panggil 'Di'. Gak romantis banget"


"diem gak tuh mulut. Aku lempar pakek bantal nih" kata Dian membalas.


Sekilas mendengar obrolan mereka rasanya seperti anjing dan kucing saja. Padahal sama-dama cowok, ada yah yang semacam itu?


Aku jadi kangen sama Siska. Si biang rusuh, tukang gaduh.


Tak lama kemudian Dian bersama ketiga temannya datang di meja makan.


"cantik. Siapa tuh, adik ipar? " terdengar bisikan salah satu teman Dian adu mulut tadi, saat melihat adek yang tengah melintas di dapur dan terlihat dari ruang makan.


"gak usah macam-macam. Dijaga punya mata"


tegur salah satu teman yang lain.


"maaf mbak, teman kita satu ini memang mulut cewek" imbuhnya, memberi penjelasan pada ku.


"gak usah di dengar sayang. Nanti kamu bisa terkontaminasi" kata Dian pada ku.


Akhirnya debat pun di sudahi dan kami menikmati makan malam dalam diam.


____________________^_^_________________


terimakasih buat yang gak bosannya mengikuti kisah ini 🙏


terimakasih juga buat yang sudah ninggalin jejak 😘


lhop lhop buat kalian semua penikmat kisah Kayra dan Dian 🥰🥰😘😘😘😘

__ADS_1


jangan lupa... jejaknya Like, vote, coment 🙏


__ADS_2