KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Batal berangkat


__ADS_3

Johan


Seharusnya saat ini aku sudah berada di negara tetangga, sibuk dengan berbagai persiapan MABA.


Nyatanya aku masih tetap disini, di kota Gudek, Jogja.


Dengan berat hati aku harus merubah haluan, yang sebelumnya telah aku persiapkan matang-matang, mengurus berbagai macam dokumen kelengkapan, bahkan aku sudah mengikuti tes masuk perguruan tinggi dan aku sudah diterima di salah satu kampus unggulan di Singapura.


Entah harus sedih atau bahagia, sehari sebelum keberangkatan kami ke Singapura, Tiba-tiba mama jatuh pingsan. Cukup lama, sehingga Papa putuskan untuk dibawa ke rumah sakit saja. Sudah lama sekali mama tidak pernah pingsan-pingsan, menurut Omah terahir mama pingsan waktu dulu saat mengandung aku. Menurut penuturan Omah, mama memiliki kandungan lemah saat hamil aku dulu, sehingga harus bedrest selama beberapa bulan. Benar-benar di karantina dalam kamar, bahkan makan saja diantar ke kamar. Mama mudah pusing, kemudian pingsan berulang kali, sehingga dokter mewajibkan untuk bedrest.


Mungkin karna hal itu juga sampai saat ini aku belum juga memiliki adik.


Tujuan utama langsung IGD, karna hari ini hari sabtu, mana ada dokter spesialis praktek disaat weekend begini.


Papa turun lebih dulu bersama Omah, aku yang harus menyetir dan memarkir mobil.


Parkir di depan penuh, mungkin sedang jam besuk saat ini. Sehingga aku harus parkir jauh ke belakang.


Begitu aku sampai ke ruang IGD, ternyata mama baru saja ditangani oleh dokter dan saat ini dokter itu tengah berbincang dengan Papa.


Ada Omah yang disamping Mama


"belum siuman juga Omah? Mama kenapa?"


Omah tidak menjawab, hanya menunjuk kearah Papa yang masih berbincang dengan dokter itu.


Khawatir, tentu saja. Aku begitu mengkhawatirkan Mama, karna selama ini mama tidak pernah sakit yang aneh-aneh, palingan cuma flu batuk pilek. Kenapa ini sampai pingsan begini, apa selama ini Mama sudah sakit, tapi tidak pernah dihiraukan?


Sampai ahirnya Papa kembali dan menghampiri Mama, mencium kening Mama. Kemudian meraih tangan Omah dan menciumnya. Dan saat ini tengah memeluk aku


"mama hamil Jo" terdengar datar suara Papa.

__ADS_1


Entah sedang sedih atau bahagia Papa saat ini.


Dan aku sendiripun bingung harus ber expresi seperti apa, setelah mendengar penuturan Omah gimana kondisi Mama sasat hamil dulu, sesaat sebelum kesini.


Juga banyak biaya yang sudah dipersiapkan untuk keberangkatan kami besok.


Dilain sisi, rumah kami memang terlalu sepi, kasihan Mama yang sering kali sendiri setiap aku dan Papa pergi.


"Alhamdulillah, ahirnya anak Mama hamil juga"


spontan Omah menghamburkan ciuman di kening dan kedua pipi omah.


Tak lama setelah itu, Mama membuka mata.


Segera ku hampiri meja perawat untuk memberi tau kan, dan tak lama dokter yang tadi memeriksa Mama juga datang.


Nampak bingung raut muka Mama, apa memang Mama sendiri belum tau sejauh ini bahwa dirinya tengah hamil?


"mas.... aku hamil? " tanya Mama dengan suara lemah.


Pastinya juga memikirkan hal yang sama, seperti apa yang bergelayutan dalam kepala ku.


ku hampiri Mama dan ku peluk, mengisyaratkan bahwa aku mendukung apapun yang akan menjadi keputusan nanti.


"iya, mesti disyukuri. Apapun yang akan menjadi keputusan kalian nanti, kita bicarakan dirumah. Kamu yang tenang ya nak, kita semua bersama"


Omah buka suara, sebagai seorang ibu pastinya juga beliau memiliki naluri yang sama.


Kemudian perawat datang memberikan resep yang harus ditebus untuk sementara, sebelum lusa datang kembali untuk menemui dokter spesialis kandungan.


"biar aku aja yang ke apotek pa, sekalian ambil mobil nanti" kemudian aku ambil resep itu dari tangan Papa.

__ADS_1


Aku berjalan menuju apotek, setelah resep ku serahkan, aku masih harus menunggu obat disiapkan.


Ku buka layar HP, ku utak atik kontak yang ada, harus pada siapa aku berbagi perasaan ini? saudara tak punya. Sahabat juga cowok semua, untuk hal se sensitif ini, apa mereka bisa mengerti?


Kayra, pikiran ku tertuju pada gadis itu. Tapi sayangnya, setelah pertemuan kami siang itu, aku tak dapat lagi menghubunginya.


"nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau sedang berada di luar jangkauan"


berulang kali operator menyapa ku dengan kalimat yang sama. Bahkan pesan ku ke whatsapp juga tidak terkirim.


Apa dia sengaja menghindari aku?


Belum juga aku menemukan kontak siapa yang akan aku kirimi pesan, petugas sudah memanggil. Setelah dijelaskan aturan minum, ku terima kantong obat itu dan segera pergi menuju parkiran.


Hari ini berlalu dengan cukup berat, setelah tiba dirumah Mama langsung berbaring di kamar.


Mau tak mau harus kami bicarakan saat itu juga tentang keberangkatan kami esok hari.


Sampai ahirnya Papa memutuskan, kami semua tidak jadi berangkat. Aku dan Papa akan melanjutkan kuliah disini saja. Karna bagaimanapun juga tidak mungkin Mama berada di sana dengan kondisi hamil yang begitu lemah. Dan untuk meninggalkan Mama sendiri dirumah, itu juga tidak mungkin, mana tega Papa.


Mungkin memang harus begini jalannya, berat tapi mau gimana lagi.


Ada sedikit kekecewaan ketika harus aku lepaskan apa yang sudah aku idam-idamkan selama ini. Menyabet gelar DM, lulusan luar negri.


Dalam kegamangan aku search tentang pendaftaran MABA, beruntung masih bisa ikut pendaftaran gelombang 2 sekalipun itu sudah mepet waktunya, tinggal 3 hari lagi.


Tapi aku juga bahagia, akan bertambah satu lagi anggota baru, dan itu pasti akan menambah kebahagiaan buat kami.


Dan jika sampai pengurusan kuliah ku disini sudah selesai tapi nomor Kayra belum bisa juga ku hubungi, aku putuskan untuk datang ke rumahnya saja.


Sabar sabarlah untuk gadis satu itu.

__ADS_1


__ADS_2