
Sampai tiba di area kampus ku lihat Dian masih saja mengikuti mobil ku. Baru saat memasuki gerbang kampus, dia berjalan di depan ku. Aku hanya bisa tersenyum, bahagia atau apalah itu namanya. Terus melarang dia aku pun tak yakin mampu, yang ada justru terjadi perdebatan seperti tadi.
Lagipula itu jalan umum. yang terpenting tidak nyata-nyata jalan berdua berdampingan.
Ku ambil telpon ku untuk menghubungi Siska. Ternyata dia sudah ada di ruangan. Sehingga kembali ku injak gas agar segera sampai di ruangan yang sama.
Pukul delapan kurang lima menit aku memasuki kelas, yang langsung di sambut hardikan sama Siska
"mentang-mentang tidur di rumah, nyampe kampus di mepet-mepetin"
aku hanya membalas dengan senyuman nyengir. Mau bilang tidak, nanti malah keceplosan dan rahasia ku terbongkar.
Bukan aku tidak mempercayai Siska, aku hanya ingin memastikan saja bahwa semua akan berjalan dengan baik. Dian dan kak Jo akan menyusun skripsi semester ini. Aku tidak mau pertikaian diantara mereka kembali memanas dan menghancurkan program akselerasi mereka.
Sementara aku sendiri ingin benar-benar fokus dengan diri ku sendiri. Sudah dua dosen yang meminta untuk menjadi asisten beliau. Pak Nicholas tidak main-main, beliau gencar mempromosikan kemampuan ku. Dan sebagai balasannya akupun harus kerja extra. Belum lagi jika aku lolos masuk akselerasi di semester depan.
Jadwal akan benar-benar padat, hingga tak ada waktu lagi untuk memikirkan hal-hal receh.
Bukankah setiap orang harus memiliki target?
Melihat jam terbang ku yang beberapa hari ini menjadi extra padat, Siska hanya geleng-geleng kepala. "aku dukung dengan doa", begitu ucapnya.
Hingga di pesantren aku sering tertinggal materi. Menyikapi itu semua, aku berkonsultasi pada salah satu ustadzah di sana. Menurut beliau tak apa jika aku mengurangi kelas yang aku ikuti di pesantren.
" yang jadi orang penting yah" sindir Siska.
Jika biasanya aku kemana-mana tak luput dari Siska, kali ini berbeda. Aku meninggalkan dia dalam beberapa sesi mata kuliah. Aku harus mulai mengurangi ketergantungan ku terhadap teman, siapapun itu.
Jika aku mau melangkah, maka aku harus berdiri tegak dengan dua kaki saja. Jika tidak, aku akan kelelahan mengikuti langkah kaki yang lain.
"Siskaaaaa, maafkan aku ya. Kalau mulai sekarang kita bakal jarang bareng lagi 😢 aku sedih sih, tapi mau gimana lagi. Ternyata pak Nicholas gak main-main promosiin aku jadi asdos" di ujung hari aku memeluknya sebelum kami meninggalkan kelas.
__ADS_1
"awh,lebay kamu. Ntar juga tidur bareng" ucapnya cuek.
"hehe, iya juga sih. Tapi udah gak bisa pulang pergi barengan terus" aku masih merengek
"it's okay Kay. Hidup gak akan pernah sama. Gak selamanya kita akan bersama. Do the best deh buat kamu. Kamu layak dengan ini semua" ucapan Siska penuh keyakinan.
"kamu masih ada acara setelah ini? " tanya nya kembali.
"iya, ada sedikit pengarahan buat ngisi materi besok pagi, sama dosen pajak" aku memberi tahu.
Kemudian kami keluar dari ruangan bersama. Siska langsung ke parkiran sementara aku menuju ruang dosen.
Sebelum aku sampai di ruang dosen, ada iklan lewat ternyata. Si ganteng pujaan hati melintas dengan menaburkan senyuman. Aishhhh, dinginnya rasa hati. Lelah ini menjadi tak berarti lagi.
Pukul empat lewat aku baru keluar dari ruang dosen. Sebelum meninggalkan area kampus aku menyempatkan solat Ashar terlebih dahulu.
Saat aku memasuki halaman masjid, eh dia lagi yang sedang duduk manis di serambi masjid. Akhir-akhir ini aku juga jarang melihat Dian kumpul bersama teman-teman satu gengs dia. Mungkin karena sudah mulai beda strata ya 😄
Anggap saja tempat umum, aku tidak harus menyapa dia secara khusus. Lagi pula dia sedang duduk dengan memangku laptop.
Keluar dari masjid akhirnya ku sapa dia. Sekedar nya sajalah. Sekedar kenal, tetanggaan. Sekedar kenal, satu organisasi. Sekedar kenal, teman chattingan.
"hhhhhhhhhhh" aku tertawa dalam hati. Betapa pengecut diri ini untuk mengakui bahwa aku mencintainya.
Hast, apalah arti sebuah cinta. Jika pada akhirnya hanya akan membawa petakan.
Kubur sementara kata cinta, kejarlah meraih cita. Kiranya kelak memang harus bersama, biarlah takdir yang akan menuntunnya. Sungguh lelah diri ini menghadapi drama cinta, seakan tak pernah ada habisnya.
Aku kembali melangkah meninggalkan Dian yang masih duduk manis di serambi masjid. Aku menuju tempat parkir. Saat sudah memasuki mobil, handphone ku berbunyi
ttttrriinng ~ Dian
__ADS_1
"aku akan KKN di desa xxxx (tempat dimana pesantren ku berada)."
Jelas saja aku terkejut. Sudah pasti ini bukan tanpa di sengaja. Bisa saja dia yang mengusulkan tempat itu dan dengan susah payah dia sendiri yang mengurus ijin di sana.
Tapi bukan hal aneh sih jika ketua BEM dengan mudah negosiasi.
Aku bisa apa, terserah dia sajalah.
"kapan berangkat? " ~send
tttrriingg ~ Dian
"besok siang"
"ok, semoga betah di sana" ~send
apalagi yang bisa ku katakan?
Bukan kuasa ku untuk merubah keadaan, bisa saja aku menjauh. Tapi takdir selalu membuat kami untuk dekat.
Entah itu dengan disengaja atau tidak, yang pasti segala sesuatu tidak akan terjadi tanpa campur tangan Allah.
Anggap saja perjuangan Dian selama ini mulai berbuah manis. Selama belum ketahuan oleh ibunda permaisuri nya.
Lagi-lagi nama itu. Hayati lelah jika harus kembali di kait-kaitkan.
"OK, tetap jaga jarak. Sosial distancing masih berlaku" ~ send
Kembali aku tekankan pada Dian, supaya di manapun berada tidak lantas membuat dia lupa bahwa antara aku dan dia masih tercipta jarak secara nyata.
__________________tbc________________
__ADS_1