
Aku kembali ke bangku kuliah setelah kemarin bolos dua hari, tanggung kalau alasan sakit tapi cuma sehari.
Entah hal buruk dari mana yang mulai mempengaruhi ku, sehingga aku mulai berani untuk membolos.
Sekalipun aku tidak pergi ke kampus, tapi aku juga tidak bertemu Dian. Bahkan Dian tidak menghubungi ku sama sekali. Aku mengirim pesan juga tidak ada jawaban. Ok lah, mungkin dia masih sakit hati karena pemikiran nya sendiri.
Selesai jam kuliah pertama aku ada agenda jadi ekornya kakak dosen, pak Nicholas maksudnya. Baru kali ini pak Nicholas mengajak ku untuk mengisi kelas semester delapan. Itu artinya semester akhir. Sementara aku, semester empat itupun baru saja. Semoga otak ini tidak lola karena kepenuhan kapasitas.
Pak Nicholas tidak tanggung-tanggung men training ku. "kamu pasti bisa" selalu kata itu yang beliau ucapkan saat melihat wajah ku yang seratus persen kebingungan. Otak ku selalu diajak berfikir satu langkah lebih depan kalau sudah bertemu dengan pelajaran pak Nicholas.
Fix, tugas dari pak Nicholas berhasil membuat ku melupakan kejadian kemarin.
Belajar ikhlas menerima kemudian melupakan, itu pastinya tidaklah mudah. Bagaimana pun aku manusia biasa, yang punya rasa marah, kecewa juga sakit hati.
Seperti kata pepatah, keburukan satu hari bisa menghapus kebaikan bertahun-tahun. Itu benar adanya. Dan itu rasanya sangat menyakitkan. Di sakiti oleh orang yang kita percayai.
Saat ini mobil ku sudah parkir dengan rapi di depan kantor Desa. Untuk apalagi jika bukan untuk menemui Dian. Tidak bisa aku pungkiri, kesakitan dia menjadi sakit ku juga.
Ada raut wajah terkejut saat Dian melihat aku ada di sana. Aku memang sengaja tidak memberi tahu dia lebih dulu. Tapi sudah tidak ada cela bagi dia untuk menghindari aku karena aku menghadang tepat di depan motornya.
Tidak lupa tersenyum, sebagai sapaan awal bahkan aku bahagia bertemu dengannya.
"assalamu'alaikum, kamu yang turun... atau aku yang naik? " ucap ku begitu saja, begitu berani. Menurut ku.
Sementara dari arah samping bunyi bel berkali-kali berbunyi bersautan. Siapa lagi kalau bukan teman-teman KKN Dian. Dan aku tersenyum membalas sapaan mereka.
"ya sudah, ayo naik" akhirnya Dian yang meminta ku untuk naik ke boncengan motor.
Tak jauh dari kantor Desa ada kedai kopi yang biasa digunakan oleh para pegawai desa sebagai tempat istirahat siang. Dian memarkirkan motornya di halaman kedai.
"ayo masuk" ajaknya, dan aku mengekor di belakang. Pasti gak romantis ya untuk ukuran orang pacaran? Ya memang karena kami tidak pacaran. Terus apa dong namanya?????
Tanya sendiri, dijawab sendiri juga dalam hati. Karena aku di tinggal sendirian, Dian menghampiri seseorang di meja lain dan berbincang sebentar.
"kenapa gak cari tempat duduk " ada nada kaku yang bisa aku rasakan dari kalimatnya.
"nunggu kamu"
Tanpa ada jawaban lagi Dian sudah berjalan menuju meja yang kosong. Sabar, huftt
Pelayanan kedai menghampiri kami dan memberikan daftar menu. Hanya ada satu buku menu, dan dia menyuruh aku untuk memilih makanan lebih dulu.
Eh, kirain bakal lihat satu buku berdua gitu.
Boro-boro, duduk aja terpisah meja dan beradu pojok.
Istigfar Kayra, istigfar. Sejak kapan kamu jadi genit 😏 aaaarrrkkhhhh
"ada apa? " pertanyaan Dian membuyarkan pemikiran ku sendiri.
"Hahh??? ada apa dia tanya? ngeselin banget" aku menggerutu dalam hati.
__ADS_1
Gak enaknya pas lagi pengen-pengennya di perhatiin, di suport, yang ada malah di jutekin.
Tenang, harus tetap berfikir waras, gak boleh ikutan baper.
"kamu kemarin sudah datang, tapi kenapa langsung pergi begitu saja? " sudah tidak ada waktu lagi untuk basa-basi, hari sudah sore.
"sudah ada orang lain" jawabnya singkat dan itu membuat hati ku merasa tertusuk.
"kenapa tidak kamu tanyakan, kenapa ada ustadz Billal di sana? "
"aku cukup tau diri, aku tidak sebaik ustadz Billal. Aku tidak akan bisa bersaing dengan ustadz Billal, dari segi apapun"
"kamu justru tidak tau diri.
Apa kamu pikir perasaan ku hanya untuk persaingan, hanya untuk di perebutan kan? "
Seketika Dian menatap ku tajam.
"apa semudah ini kamu mempermainkan perasaan ku?
setelah sekian lama, setelah begitu banyaknya cara, setelah kejujuran yang kamu dengar dari mulut ku. Sekarang kamu menyerah dan membiarkan aku begitu saja. Kamu gak ada bedanya sama kak Jo"
Entah kenapa, kata "bersaing" itu membuat hati ku mendidih begitu saja. Apakah aku ini seperti barang yang di hadiah kan untuk orang yang menang dalam bersaing?
Bahkan air mata ku yang tumpah kemarin belum sempat berkumpul dengan penuh. Haruskah mengalir kembali?
Aku berdiri dan pergi begitu saja. Berjalan dengan cepat meninggalkan Dian yang sibuk meneriaki, memanggil nama ku berkali-kali.
Tuhan, luka kemarin belumlah kering. Harus kah terluka kembali? Apa benar, hanya ustadz Billal yang datang dengan pinangan, yang tidak akan membuat ku merasakan sakit hati?
tttiiinnn, tttiiinnnnn, ttittttiiiiinnnnnnn
bunyi bel motor Dian menghalangi langkah ku. Terpaksa aku berhenti karena dia berhenti tepat di depan ku.
"Kayra maafin aku"
Aku abaikan suara itu dan hendak melanjutkan langkah. Sayangnya tangan Dian menghalangi.
"Kay... kamu nangis lagi. Udah donnkk"
"jangan pernah pedulikan air mata ku,jika kamu masih menganggap perasaan ku ini hanyalah untuk persaingan"
Aku pergi, tapi di langkah ketiga ada seseorang yang menghentikan dengan pelukan eratnya dari arah belakang.
"Kayra maaf, maafkan aku yang terlalu cemburu melihat kamu di peluk oleh orang lain"
"cemburu? terus ninggalin aku gitu aja tanpa bertanya apapun?"
"ya.., aku mikirnya kedatangan ku udah gak ada gunanya lagi"
"kamu jahat"
__ADS_1
"iya iya, apapun itu. Asalkan aku di maafkan"
"pelukan kamu nih, bikin aku sesak nafas"
"oh iya, astagfirullah" tangan Dian seketika terlepas.
"Maaf, udah nyentuh kamu lagi. Reflek" ucapnya kembali liris
"kamu ini jadi cowok kebanyakan permintaan maaf"
"terus aku mesti gimana? aku terlalu takut melihat kamu pergi ninggalin aku"
"iwh, bodoh,bodoh,bodoh,kenapa kadang cinta itu bisa bikin orang jadi bodoh sih"
"kok jadi bodoh. Salah lagi kan aku"
"iya, kamu meluk kayak tadi di pinggir jalan. Untung aja gak jadi tontonan orang lewat, untung aja gak langsung di giring ke rumah pak RT"
"gak apa, aku mau kalopun di giring ke rumah pak RT dan harus nikah sekarang juga"
"tu kan, bodohnya kambuh lagi"
"kok malah ngatain aku bodoh terus sih"
"kamu pikir, dengan seperti itu aku akan bahagia? Bakalan jadi apa aku di tangan ummi mu???? "
"haaaaawh, iya maaf" sambil nyengir.
"tuh kan, maaf lagi.
Terus aja gitu, lakuin hal bodoh dan bilang 'maaf'. Lakuin hal bodoh lagi dan bilang 'Maaf' lagi. Mau sampe berapa banyak lagi hal bodoh dan berapa banyak lagi kata 'maaf'?
Aku capek Dian.
Dipermainkan perasaan terus sama kamu"
"ya Allah Kayra, harus dengan apa sih bungkam mulut imut kamu itu, biar berhenti ngomong?! "
"kamu...... " ucapan ku terhenti karena tangan ku ditarik untuk mengikuti langkah Dian.
"ayo cari masjid dulu, biar hati kita sama adem. Sebentar lagi magrib"
_________________^_^_______________
Hay-hay,maaf ya cerita nya terhenti dulu 😀 sedang menantikan adzan magrib.
Ok readers, tetap semangat menanti detik-detik berakhir nya kisah Kayra ya.
Karena.... hati Kayra udah terlanjur nemplok sama si Dian tuuuh 🤣🤣🤣
Tetap jaga kebahgiaan author 🥰
__ADS_1
Tinggal kan jejak buat yang udah mampir 😘
LIKE, VOTE, KOMENT, HADIAH, Terima kasih 🙏💕