
Akhirnya kak Jo duduk di kursi sebelah ku. Karna uluran tangannya tidak ku sambut.
"kamu nangis" dia coba memperhatikan wajah ku yang masih saja menunduk.
"gak, cuma kelilipan" jawab ku singkat.
Kelilipan? kalau saja aku angkat kepala dan dia lihat mata ku sembab, tentu tidak akan percaya. Dan ada justru pertanyaan demi pertanyaan.
"kakak sama siapa? " karna di dalam masih terdengar suara papa ngobrol, sudah pasti kak Jo tidak datang sendirian.
"diajakin papa" kak Jo pun masih penasaran, sampai ahirnya dia memegang pundak ku
"kamu kenapa, cerita sama kakak kalau kamu mau" kak Jo berusaha meyakinkan aku. Tapi aku masih saja tak ada keberanian untuk mengangkat kepala.
Memang sih, kak Jo nampak lebih asik aja. Lebih nyaman bicara sama dia, sudah gak genit lagi. Tapi masa iya, dia yang naksir aku, kejar-kejar sekian lama tak juga ada respon dari aku, malah aku curhat ke dia soal cowok lain.
Kiranya harus ada yang patah hati, cukup aku dan Dian saja.
Sampai ahirnya seseorang dengan suara berat menyapa kami dan mengajak kak Jo untuk berpamitan.
Ahirnya, aku tidak harus berbohong.
__ADS_1
Kak Jo pulang, saat bersalaman dengan papanya kak Jo pun aku tetap membungkukkan kepala.
Mereka berdua memasuki mobil dan aku segera masuk ke rumah.
Tidak ada adek, mama sedang membereskan sisa jamuan. Aku langsung saja berlari menaiki tangga dan masuk ke kamar.
Lagi-lagi tangis ku pecah.
Masih terlalu berat untuk menerima semua ini berahir, padahal belum juga di mulai.
Apakah kebencian ku selama ini tanpa sadar menghadirkan cinta?
Cinta macam apa, benci tapi cinta?
Kenapa terasa begitu sakit saat ini?
mampukah aku untuk tidak lagi mengenal dia?
Apa menjalin hubungan diam-diam seperti yang dia katakan itu akan lebih baik?
tapi tidak, itu artinya aku berbohong, dan satu kebohongan akan disusul dengan kebohongan yang lain. Sepandai pandai nya menyimpan bangkai pasti suatu saat tercium juga. Akibatnya abisan jadi lebih fatal saat ketahuan ustazah.
__ADS_1
Ya Allah, kenapa aku tidak tetap kecil saja,tetap bisa bermain dengan siapa saja. Sehingga tidak akan ada kebencian dari siapapun. Yang ada justru cinta dan kasih sayang di mana-mana.
Pikiran ku masih berkecamuk tentang banyak hal. Tak kusangka akan berahir dengan sepilu ini.
Kembali ku tatap kardus yang sudah ku pindahkan di bawah kasur, supaya tidak sering terlihat oleh ku.
Ku ingat lagi, benda apa yang mungkin masih terlewatkan.
Semakin lama menatap benda-benda ini yang ada hanya akan membuatku pilu.
Sudah ku tekad bulatkan untuk ku kembalikan.
Entah suara tangis ku terdengar sampai ke bawah atau tidak, yang pasti aku hanya ingin rasa sesak ini pergi bersama airmata yang jatuh.
Untung saja besok gak ada kegiatan lagi di sekolah, mata ku bengkak sudah hampir sebesar bola bekel.
Kemudian terdengar suara dering telpon, ku lihat nama kak Jo yang muncul.
Sudah pasti, dia ingin tau. Tapi suara ku saat ini sedang tidak memungkinkan untuk berbicara, seraknya sudah seperti suara radio rusak.
Ahirnya aku kirim pesan saja, supaya kak Jo tidak penasaran lagi dan bisa tidur dengan nyenyak.
__ADS_1
Setelah itu aku ke kamar mandi untuk mencuci muka dan berbaring bersiap tidur.
Semoga tidak sampai terbawa mimpi, sudah sakit di dunia nyata. Semoga mimpi yang indah lah, biar sedikit dapat obat. Ketemu sama pangeran tampan kaya raya lah, misalnya.