KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Malam minggu


__ADS_3

Kali ini kami berjalan pulang tidak hanya bertiga, ada juga kakak-kakak yang rumahnya memang searah dengan kami.


Perjalanan hening, begitu sampai di depan rumah ku... Melan langsung menarik lengan ku.


"ayo ke rumah. Dek, pinjam kakak kamu dulu yah" tanpa bertanya aku mau atau gak


"pemaksaan ini" ucap ku


"biarin.. mau penculikan juga terserah"


kami berjalan beberapa langkah lagi sementara adek sudah masuk gerbang.


"kamu hutang cerita sama aku" cetus Melan.


ada tante Fifi, mama Melan sedang nonton TV tidak lupa aku menyapa dan salim, sudah seperti mama sendiri.


"Ega kemana tante, kok sepi"


Melan sudah meninggalkan aku dan naik ke kamar, sementara aku masih ngobrol sesaat sama Mamanya.


"ada dikamar, pain PS sepertinya"


Belum sempat bertanya lagi kemudian aku ditawari keripik pisang, buat sendiri katanya. Dan pastinya gak nolak, lumayan buat teman ngobrol 😁


"Kayra bawa ke atas ya tante" ucap ku sambil sambil menggendong toples dan berlari menaiki tangga.


Melan sudah duduk di depan TV. TV berada di ruang tengah, karna ada Ega juga penghuni kamar atas.


Benar saja, dari kamar terdengar suara main PS tapi pintu ditutup rapat.


"main sama siapa Ega"


"temennya mungkin" jawab Melan singkat tanpa ada niat untuk melihat ke dalam.


"bagi drong kripiknya" Melanjutkan meraih toples yang aku pegang.


kemudian kami larut dalam obrolan.


Tiba-tiba ada bunyi iklan lewat "kruucuuuukk" Melan tertawa.


"hhhhhh, bunyi perut kamu itu Kay"


"laper neng, gila aja tadi kak Jo pesen makanan buanyak banget. Gak dihabiskan Khan sayang. Begitu masuk kamar, baru pengen merem... adek sudah nyuruh mandi. Kamu sih, main narik-narik aja,harusnya aku makan dulu tadi"


jelas ku panjang lebar. Ni perut memang gak bisa di kondisikan


"halah... kayak sama siapa aja ini"


dia berdiri kearah kulkas untuk mengambil sesuatu.


Dan.... marmer cake jadi teman malam minggu.


"terus-terus... gimana lanjutnya sama kak Jo"


"sepertinya tadi pertemuan terahir" jawab ku datar


"cie... cie.... ada yang sedih mau ditinggal gebetan" Melan menggoda


"eh... gebetan apa sudah pacaran ni"


Melan segera melanjutkan kalimatnya kembali.


"brisik... makanya denger dulu. Baru satu kalimat sudah dipotong, jadi sepotong-sepotong... dilanjut cerita gak" mulai sedikit sebel dengan asas praduga yang ngawur


"ya aja aku cuma jadi pendengar, dengerin radio donk"


Melan memang berbeda sama aku, dia suka banyak tanya... gak seperti aku yang pendengar baik., huhhu ✌


"mau di kacangin lagi itu sudah gak mempan buat dia mah. Terlalu keras untuk aku dinginkan"


kali ini Melan tidak lagi bertanya


"dia sudah terlanjur masuk dalam kehidupan aku, percuma pasang topeng di depan dia.


Tapi untuk pacaran.... ya kamu tau sendiri itu juga tidak akan. Yasudah sahabatan saja.


Lebih dekat dari sekedar teman..kayak kita


(aku mentoel-toel lengan Melan....biar gak manyun) tapi gak pacaran"


aku mengucap kalimat terahir dengan semangat


"owh... jadi gitu. Itu artinya kamu masih ngasih harapan donk sama kak Jo"


aku diam sejenak berfikir


"bisa jadi sih... gak taulah. Ribet ngomongin perasaan itu, cinta mah.... omdong. Nafsu yang ada, pacaran sebelum nikah"


cetus ku dengan sinis


"hayyyo...kamu sudah ngapain sama kak Jo?! "

__ADS_1


" Melan mulai ...pertanyaan yang sudah pasti jawabnya GAK NGAPA-NGAPAIN" bikin emosi jiwa aja kadang-kadang, mana perut lapar


"aku terus yang cerita nih, kamu kek"


tenggorokan mulai kering ey


"apanya yang mau di ceritakan, hidup aku mah gini-gini aja, damai tentram aman dan nyaman"


kemudian aku timpuk dia pakek bantal sofa


" kak Fahri gimana" aku mulai bertanya


"gak gimana-gimana" jawab Melan kethus.


"beneran ya yang dibilang kamu"


"tau tuh.... " jawab Melan nampak tidak suka.


"udah seperti balik ke jaman Siti Nurbaya aja, pakek jodoh-jodohan" Melan melanjutkan.


waaa... dari kalimat dia sepertinya ada yang menarik niiii


"maksudnya gimana, perjelas donk"


"mama Khan memang temenan baik sama Ummi nya kak Fahri sejak dari sekolah. Entah perjanjian mereka itu mulai kapan"


lanjut Melan dengan tidak bersemangat.


"trus kamu taunya kapan?? bukannya kamu memang ngefans ya sama Kak Fahri. Jadi bagus donk kalo bisa nikah sama pujaan hati, huhu" godaku.


"iya... itu dulu sebelum dengar bisik-bisik tetangga dari mama. Fans sih fans... tapi gak harus berujung pada pemaksaan Khan?! "


dia semakin tampak tidak suka.


Kemudian aku sandarkan kepala dia di bahu ku, tanpa ada penolakan. Karna kita sahabat... saling berpelukan dan memberi semangat satu sama lain, itu sering kami lakukan.


"lempeng gitu kak Fahri, bisa kehilangan masa muda aku kalo lepas SMA harus nikah sama dia"


haha, sepertinya ini yang dia pikirkan 'kehilangan kebebasan'.


Aku masih menjadi pendengar setia, menunggu dia melanjutkan ceritanya.


"tau ya dengar pas Mama cerita sama Mama kamu itu. langsung lemes aku Kay"


"trus... trus" aku jadi makin penasaran


(tapi masih bisa ditahan, gak banyak pertanyaan. uuppssh)


"dan ternyata???? " aku tak mau menduga-duga, kembali diam menunggu Melan ngomong


"itu baru obrolan biasa. Belum juga disampaikan sama kak Fahri. Hanya saja Mamanya kak Fahri selama ini tidak pernah melihat kak Fahri dekat sama cewek"


"oooouuhh... begitu. Jadi baru perjanjian antar Mama nih.. "


aku tak bisa menahan tawa, emak-emak itu yah...


"ya... gitu. Jadi aku bisa lega. Awas aja kalo sampe maksa-maksa, kabur aku dari rumah"


"wahahhahahahh" mendengar kalimat Melan ini aku lebih ingin tertawa lagi


"memangnya mau kabur ke mana neng?? punya tempat emang buat kabur? "


karna selama ini kami anak rumahan, yang selalu nurut sama emak bapak.


"jalan kita berbeda. Tapi sama-sama bikin menguras isi perut ternyata"


eh... aku salah sebut


"isi kepala maksudnya"


"kamu masih laper, habis ini keluar yuk ke warung seafood. Aku jadi laper lagi"


"memangnya kamu sudah makan tadi? "


karna kami sampai dirumah samaan, tapi aku masih terpotong ngobrol sama adek ditambah tiduran sebentar.


"iyalah... sampe rumah langsung makan. Habis renang, keluar tenaga banyak. Emangnya kamu, renang pura-pura? "


melan tertawa dan aku ikut tertawa, kita ini.... kalo habis BT jadi suka laper aja.


Entah Mamanya melan dengar obrolan kami atau tidak, tapi dari dalam kamar sudah terdengar sepi. Sepertinya sudah tidur


"eh... kamar Ega sudah sepi. Jangan-jangan papa kamu dari tadi yang maen sama Ega"


aku mulai khawatir.... khawatir di dengar dan laporin ke Mama 😀


"kayaknya bukan... tadi Papa bilang mau jenguk om Edi, habis kecelakaan"


Melan keluar dari kamar sudah siap memakai jaket


"yaudah yok... nanti kita tanyak sama Mama aja"

__ADS_1


Melan sudah berjalan menuruni tangga.


Begitu kami sampai dibawah, ternyata Mana Melan lagi ada di kamar mandi, jadi kami cuma pamitan pergi beli makan.


Kemudian kami ke garasi untuk mengambil motor. Tak jauh dari masjid ada warung tenda seafood, rasanya tak kalah enak dan bersih...sekalipun hanya warung tenda.


Baru saja Melan menyalakan motor, ada suara pintu terbuka.


"siapa Mel" tanya ku


"palingan juga Mama, ayo naik"


Aku segera naik, kulihat jan tangan..waktu menunjukkan pukul 21.20


tapi diluar masih ramai, malam minggu.


dan.... deg, begitu kami sampai ditikungan terlihat Dian yang baru saja masuk rumah.


"Melan...... jangan bilang yang di kamar dari tadi itu kakak kamu"


sudah pasti mendengar semua obrolan kami.


"kak Dian.... halah biarin! gak penting juga Khan" jawab Melan cuwek.


Mereka memang tidak memiliki kedekatan, masih kalah dekat sama aku, hehe. Dian yang jarang dirumah, juga jarang buka mulut kalo Melan yang ngajak ngobrol. Karna pada ahirnya Melan mengintrogasi tentang sikap dia ke aku.


Begitu kami sampai di warung seafood, nampak ramai.... tapi sudah duduk dengan piring masing-masing. Jadi kami tidak perlu menunggu lama.


Jujur sama kami jarang keluar malam-malam, jadi kami take away saja.


Menunggu beberapa menit dan selesai.


Kami segera pulang. Tapi aku tidak kembali ke rumah Melan.


"Mel... aku langsung balik aja" diapun tk bertanya lagi. Melan masukkan motor ke garasi dan aku segera lari ke rumah.


Dirumah sudah sepi... ada Mama di ruang tengah yang masih berhadapan dengan kertas2.


"assalamu'alaikum.... Mama mau kepiting asam manis?? "


tanya ku sambil jalan ke dapur.


"beli di depan" kami berbicara jarak jauh, karna saat ini aku berada di dapur memindahkan makanan ke piring.


"boleh dew, tapi Mama gak udah pakek nasi"


aku bawakan piring kosong untuk Mama.


Adek mah mana mau makan malam-malam, sudah pasti juga dia sudah makan tadi.


"Papa sudah tidur ma? "


"iya... tadi habis isya sudah masuk kamar"


Aku makan ditemani Mama. Mama yang memang menjaga pola makan sehingga hanya makan kepiting tanpa nasi. Aku sih harusnya begitu, apalagi kalo ada si adek kecil calon dokter.


Berhubung ini darurat perut kerucuk kerucuk.... sesekali tak apalah.


Selesai makan seperti biasa aku membereskan dan mencuci bersih.


Tak langsung ke kamar, karna perut masih full pantang untung langsung tidur.


Aku temani Mama yang masih berkencan dengan lembaran kertas HVS, sedang membuat rancangan sepertinya.


Jam menunjukkan pukul 23.15 Mama nampak bembereskan berkas-berkasnya.


"sudah ayo kak tidur"


aku juga sudah mulai mengantuk. Tapi ada sesuatu yang baru aku ingat


"eh sebentar... HP Mama mana? " tanya ku


"kanapa" tanya Mama singkat.


"pinjam sebentar, mau kirim pesan ke Melan"


Mama langsung mengulurkan Hp yg tadinya sudah di kemas diatas kertas-kertas.


Sengaja aku simpan nomor Melan di HP Mama, biar gak ribet kalau sewaktu-waktu ingin menghubungi. Ribet ambil HP di garasi (kamar Mama, mungkin saja readers sudah lupa 🙂)


"besok jogging, ok. Aku samperin ke rumah kamu" ~send


setelah mengirim pesan ke Melan segera ku kembalikan HP ke Mama. Dan kami menuju kamar masing-masing.


^_^


hay... autor menyapa lagi 🙂


begadangnya jangan sampai pagi ya, tidak baik untuk kesehatan.


Spesial edisi panjang untuk malam yang panjang, buat menemani para readers setianya aku di malam minggu 😘

__ADS_1


selamat bermimpi indah


__ADS_2