KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Pertemuan para sahabat


__ADS_3

Alarm pagi sudah berbunyi, mama memanggil untuk segera turun sarapan.


Saking bersemangat nya aku dan Siska sampai lupa bahwa kami sudah menghabiskan waktu yang cukup lama berada di depan cermin.


Kali ini aku privat memakai make-up. Seperti biasah, awalnya aku menolak tapi Siska terus mendorong ku dengan berbagai macam penjelasan. Setelah aku fikir-fikir tidak ada salahnya juga. Bagaimanapun juga pada saatnya nanti pasti akan butuh, yang penting bukan untuk tujuan tabarruj.


"Kayra" tiba-tiba Siska memanggil nama ku dengan keras.


"hemp, apa? " sementara saat ini aku sedang memakai eyeliner, untung saja tidak ter coret saking kagetnya.


"ngajakin Remond yok"


kali ini aku lebih kaget lagi beruntung sudah selesai memakai eyeliner.


"ngapain sih, kasihan kan dia cowok sendiri. Ngrasa gak nyaman nanti" ucap ku sembari melanjutkan memakai make-up tipis-tipis.


"siapa bilang sendiri, kamu ajakin kak Jo juga gih"


"haha, kak Jo! enggak-enggak. Bukan ide bagus itu"


"kenapa sih, ayolah. Kasian Remond gak ada temen jalan-jalan"


"kan dia udah punya temen di kampus sekarang"


"iya juga sih. Biar ramelah, kurang seru kalo cuma jalan berdua"


"bentar deh, sepertinya minggu ini temen-temen ku lagi pulang di rumah. Kamu keberatan gak kalau aku ajakin 3M? "


"boleh deh daripada cuma jalan berdua"


"aku kirim pesan sama mereka dulu ya. Nanti selesai sarapan kita ke rumah Melan"


Setelah aku selesai memakai make-up dan memastikan bahwa hasil riasan ku sudah baik, aku dan Siska segera turun untuk sarapan.


Hanya butuh beberapa menit untuk menghabiskan makanan. Karena tadi sebelum olahraga sudah minum susu juga makan buah. Jadi tinggal menyantap makanan inti.


Setiap hari minggu pembantu libur. Selain usia yang sudah cukup tua, karena setia membantu mama sejak aku masih di dalam kandungan hingga saat ini. Juga karena anak-anak yang sudah besar, sudah bisa bantu-bantu,mama bilang.


Jadi mau tidak mau aku juga adek selalu meluangkan membantu mama di dapur saat hari libur.


Aku meminta Siska untuk menunggu di ruang tamu selama aku membawa mama.


Setelah semua selesai, aku sempat mencari keberadaan Siska. Ternyata menunggu di teras. Dia selalu senang memandangi taman kecil. Yang masih saja ku rawat kebersihan juga keindahannya hingga saat ini. Karena mama juga adek tidak ada yang suka berkebun, dulu awalnya ada tanaman hanya alakadarnya sebagai hijau-hijauan. Sekarang taman kecil ku jauh lebih berwarna.


"ayok ke rumah Melan"

__ADS_1


tanpa berfikir panjang Siska segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mengikuti langkah ku menuju rumah Melan.


Ada tante Fifi sedang berbincang di teras. Mempersilahkan aku untuk masuk karena Melan ada di dalam. Begitu aku sudah hampir menaiki anak tangga, justru ada seseorang yang turun dan hampir saja menginjakkan kaki di anak tangga pertama. Pandangan kami sempat bertemu.


Tercium aroma segar sehabis mandi dengan rambut yang masih setengah basah.


Tak sempat berkata apapun, orangnya sudah tersenyum dan kembali melangkah dengan cepat. Berpamitan untuk pulang. Aku hanya bisa menghela nafas panjang kemudian lanjut menaiki anak tangga demi anak tangga.


"masih disini tuh orang? "


ku jumpai Melan di depan TV saat aku sampai di lantai dua.


"sekarang sudah gak.


Hay Siska, duduk" ucap Melan singkat, dia selalu asik kalau sudah nonton drama Korea.


"betah juga ya, padahal mulai aku sama Kayra main basket tadi loh" ucap Siska ikut nimbrung


"tiap habis subuh juga udah disini Sis. Betah lha, cuci mata. Mandangin pujaan hati tuh, bilangnya aja numpang wifi ngerjain tugas" Siska hanya melongo mendengar penuturan Melan.


"tuh, kurang bukti apalagi sih Kay"


Siska sempat mendorong ku untuk menjalin hubungan secara diam-diam bersama Dian. Tapi itu bukan ide yang bagus aku rasa, jadi aku menolak dengan alasan 'belum yakin dengan perasaan Dian'.


"sudahlah gak usah di bahas itu.


"wah, yang bener. Mau-mau" ucap Melan dengan semangat


"aku udah kangen banget sama mereka" ahirnya Melan berdiri dan mengganti chanel koreanya.


"yaudah cepetan siap-siap" ucap Siska


"iya-iya, ini juga mau ke kamar" sahutan dari Melan sembari meninggal kan tempat duduk.


"udah mandi belum" aku menggoda Melan


"ya sudah lah, daritadi" ucap Melan saat hampir saja memasuki pintu kamar


"kirain, kamar mandinya disewa sama kakak tercinta" ucap ku dengan nada menurun karena takut di dengar oleh orangtua Melan.


Beberapa menit berlalu dan yang ditunggu sudah keluar dari kamar.


"dia mana berani masuk kamar ku, kan Dio cs nya kak Dian.


Udah yok berangkat" ucap Melan begitu keluar dari kamar.

__ADS_1


aku sama Siska yang jemput, malah dia yang jalan lebih dulu.


"ma, pa. Izin pergi dulu sama Kayra ya" Melan berpamitan kemudian disusul oleh ku juga Siska.


Kami meninggalkan kan rumah Melan dan kembali ke rumah ku.


Siska langsung memanaskan mobil begitu kami sampai, sebelum masuk ke kamar untuk mengambil tas.


"Nahla mau ikut? " Siska menawari adek untuk ikut serta.


"trimakasih kak, lagi banyak tugas" Adek memberikan penolakan sembari menunjukkan kertas yang sedang ia pegang.


Aku turun dengan membawa dua tas, satu milik ku dan satu milik Siska.


Setelah menemukan mama dan papa di butik kami segera berpamitan.


Seperti kesepakatan awal, aku yang menjadi supir kali ini. Mobil yang kami naiki perlahan meninggalkan halaman rumah. Karena aku sedang mengemudi jadi aku minta Melan untuk menghubungi teman-teman yang lain guna memastikan tempat bertemu.


Setelah mendapatkan kepastian aku segera menambah kecepatan menyusuri jalanan kota Jogja yang cukup lengang hari ini. Sehingga udara masih cukup bersih untuk membuka jendela.


Tapi, mana pernah Siska mengijinkan jendela mobilnya terbuka. "debu Kayu, debu" selalu saja dia berteriak seperti itu.


Tak jauh berbeda dari masa SMA, kami memilih bertemu di Mol dan berencana untuk menonton film bioskop. Ada film box-office terbaru kesukaan Melan dan Meysa.


"terserahlah yang penting jangan lupa beli popcorn" ucap ku.


"asal bukan horor aja yah! " Siska memperingati.


"perasaan kamu tuh udah terlalu lama kesepian di rumah, sendirian pula, tapi masih penakut aja"


aku tidak habis fikir ternyata seorang Siska itu penakut.


"kan ada tukang kebun, ada pembantu. Masa iya aku mau bergaul sama mereka"


mulai deh Siska keluar sombongnya.


"mau dijitak nih, mau"


sesering itu juga aku memperingati Siska untuk menjadi pribadi low profile, tidak membeda-bedskan setatus sosial. Karena semua orang butuh dihargai.


______________^_^______________


hay-hay


author kembali lagi. Updatenya tersendat-sendat nih, maafkan ya. Karena lagi ada tugas di dunia nyata 🙏 maklum, Mahmud 2 balita. Riweh.

__ADS_1


Trimakasih untuk yang sudah mampir dan masih setia mengikuti perjalanan Kayra 😘😘😘


__ADS_2