
Hari berganti hari, tak terasa satu pekan telah aku lalui di tempat baru ini. Semua mulai terasa biasa. Rutinitas di pesantren juga satu meja makan dengan keluarga pesantren. Dan lagi, tak terasa selama ini juga aku berpisah dengan mama papa tanpa kabar sedikitpun. Semua kesibukan yang ada rupanya berhasil menyita waktu ku. Hingga untuk merindukan mama papa saja aku tak sempat. Apalagi memikirkan Dian dan Johan.
Segala sesuatu jika dijalani dengan niat yang baik memang akan menjadi lebih mudah. Di pesantren aku mulai di sibukkan dengan agenda-agenda menjelang bulan suci Ramadhan. Sementara di kampus aku mulai di sibukkan dengan persiapan mengikuti program Percepatan atau Akselerasi.
Pak Nicholas benar-benar menggembleng beberapa mahasiswa yang akan mengikuti kelas akselerasi. Bahkan beliau lebih banyak menghabiskan waktu di kampus padahal waktu pernikahan beliau bersama kak Maryam tinggal sebentar lagi. Bisa tenang seperti itu karena pak Nicholas menyerahkan sepenuhnya acara pernikahan pada keluarga mempelai wanita. Mengingat kondisi ibu pak Nicholas yang masih saja Keluar masuk rumah sakit.
Kini beberapa mahasiswa calon akselerasi sudah tau jika kedekatan ku dengan pak Nicholas semata untuk membantu beliau menemukan jodoh, jadilah aku di juluki mak comblang oleh mereka. Sebenarnya bukanlah maksud ku untuk memberi tahu kan pada mereka. Siapa lagi kalau bukan Siska. Dia yang selalu seperti cacing kepanasan setiap kali mendengar kasak-kusuk tentang aku dan pak Nicholas.
"kasih tau aja sama mereka kenapa sih. Atau kamu memang suka kalau di gosipin sama pak Nicholas?" kalimatnya seolah memberi ku tamparan keras. Bagaimana mungkin aku suka di gosip kan sama pak Nicholas. Akhirnya aku buka suara untuk mengklarifikasi semua tuduhan mereka.
Aku sudah tidak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi. Bagaimanapun aku berusaha menutup diri dari pembicaraan publik, tetap saja pada akhir nya nama ku terlibat dalam hot news di kampus. Tidak di SMP, SMA, bahkan kuliah sekalipun. Sekian lama aku berusaha menutup diri dengan susah payah. Menghindari kak Jo juga Dian yang aku kira dengan bersama mereka nama ku menjadi terekspos. Nyatanya menghindari mereka tidak juga menyelamatkan nama ku dari daftar mahasiswi terpopuler. Rasanya telinga ku berdenging setiap saat. Di mana pun aku berdiri ada saja yang membicarakan tentang aku dan pak Nicholas. Semoga dengan klarifikasi pada sebagian kecil mahasiswa ini berita nya bisa sampai pada seluruh kampus.
"sis, kamu kenapa? " nampak begitu lusuh wajah Siska dengan bibir yang terlihat pucat. Semenjak di pesantren aku dan Siska mengurangi kegiatan di depan cermin. Bahkan terkadang mengoles lipgloss saja lupa.
"kepala ku pusing Kay" Siska memijat-mijat pelipis.
"kurang tidur atau kurang makan? " aku tempelkan telapak tangan ku untuk mengecek suhu badan Siska dan hasilnya normal.
"gak demam kok" ucap ku kembali.
"balik aja yok, udah gak ada kelas khan" ajak Siska.
"sebentar tunggu pak Nicholas kasihkan lembar latihan untuk di rumah" karena kedekatan ku dengan pak Nicholas, selalu saja aku menjadi kaki tangan beliau.
__ADS_1
"sini aku oles minyak kayu putih, mungkin saja kamu masuk angin" aku keluarkan botol minyak dari dalam tas.
Setelah mengoleskan minyak pada Siska aku mencoba menghubungi pak Nicholas.
"oh iya-iya maaf bapak lupa. Kamu bisa ambil ke ruangan dosen, saya masih repot menyiapkan materi untuk kelas lain ini" suara beliau dari balik telpon.
"Sis aku antar kamu ke mobil dulu ya. Lembar tugasnya suruh ambil di ruangan dosen" aku mulai memasukkan buku-buku ke dalam tas.
Setelah mengantarkan Siska ke parkiran aku segera berlari kecil menuju ruang dosen. Saat akan menyeberang aku terpaksa berhenti karena ada motor yang melintas. Dan, deg jantung ini masih saja bergetarterlihat saat pandangan kami bertemu. Padahal sudah tertutup rapat dengan helm teropong, hanya mata saja yang terlihat. Rupanya Dian sudah mengganti motornya dengan motor baru.
Iklan sudah lewat, aku kembali berlari menuju ruang dosen.
"kamu kenapa lari-larian dari tadi" sapa pak Nicholas begitu aku sampai di depan gedung C, tempat ruangan dosen.
"bapak sudah selesai, tapi sudah terlanjur menyuruh kamu kesini" ucap beliau santai.
Aku mengambil lembaran kertas yang di berikan oleh pak Nicholas dan segera pamit.
"Siska kurang enak badan pak. Saya permisi"
tanpa menunggu jawaban dari beliau aku segera memutar balik badan dan kembali berjalan dengan langkah cepat. Mengesalkan sekali para dosen itu, bisanya tinggal perintah ini begini itu begitu. Kesal ku dalam hati.
"kenapa manyun begitu" Siska bertanya begitu aku masuk ke bangku kemudi. Sekarang aku telah terbiasa menjadi sopir pribadi Siska karena aku numpang di mobilnya.
__ADS_1
"padahal juga sudah selesai, bukanya kasih kabar dianterin kek, malah dengan santai nunggu di depan gedung. Lihat aku yang lari-larian malah di ketawain. Ngeselin" jawab ku kesal.
"pak Nicholas? " tanya Siska
"iyalah, siapa lagi" jawab ku singkat.
"hust, gitu-gitu dosen kesayangan kamu" eh, jawaban dia malah nyeleneh.
"idih, siapa juga yang sayang"
"kalo ada yang lihat interaksi kamu sama pak Nicholas di luar kampus, kalian tuh udah gak seperti dosen sama mahasiswa. Udah terlalu dekat, pantesan aja pada di ngegosip. Emangnya kak Maryam gak cemburu tuh sama kamu? "
Ampun. Seperti sengatan listrik saja kalimat Siska. Pedas benar ucapan dia hari ini. Kena skak mat terus gara-gara pak Nicholas.
"jadi yah, diam diam kamu punya anggapan sama seperti anak-anak yang lain? " emosi ku mulai naik mendengar kalimat Siska.
"aku tuh cuma ngasih tau fakta Kay, yang mungkin kamu sendiri gak bisa melihat itu"
"tidak setiap kedekatan melibatkan perasaan. Tidak setiap orang bisa di cintai. Jangan selalu menilai hubungan laki-laki dan perempuan dengan sebuah perasaan. Apa hanya orang yang kita cinta yang boleh dekat? Apa kita gak boleh punya sahabat, teman dekat? Mungkin aku hanya nyaman dengan pak Nicholas dan sudah menganggap nya seperti kakak sendiri. BUKAN CINTA"
TBC
____________^_^__________
__ADS_1