
Jika saat menunggu, waktu terasa begitu lambat. Lain halnya saat merasa bahagia. Waktu terasa menjadi begitu cepat berlalu.
Baru juga kemarin rasanya aku kembali ke rumah. Hari ini sudah harus kembali lagi ke Pesantren. Bahkan kejadian demi kejadian yang terjadi di luar dugaan, rasanya membuat ku enggan untuk kembali meninggalkan tempat ini.
Aargh, kenapa aku menjadi plin-plan seperti ini. Disaat semua masalah itu datang, dengan tekat bulat aku meninggal kan rumah. Dan sekarang, setelah semuanya membaik, aku enggan untuk kembali ke Pesantren. Tempat yang telah menampung ku selama aku berada dalam ke masalah. Tempat yang telah memberikan aku tambahan ilmu dan juga kasih sayang baru.
Harusnya aku tak boleh seperti ini.
Aku terus memberi semangat pada diri sendiri sembari memasukkan barang-barang ke dalam tas.
Rasanya seperti mimpi saja kebahagiaan ini. Semua terjadi tanpa aku ketahui sebelum nya.
Kebahagiaan yang bertubi-tubi. Belum sempat senyum rekah hilang dari bibir ku, sudah di kejutkan lagi dengan kebahagiaan yang lain. Rasanya sampai lelah bibir ini tersungging.
Dengan sangat berat aku harus bersiap untuk meninggalkan semua mimpi indah kemarin. Lebih tepat nya, meninggalkan seseorang yang telah memberikan semua mimpi indah itu.
Arrgghh, rasanya aku belum rela untuk berpisah dengan Dian. Berpisah dengan membawa semua kebahagiaan ini ternyata lebih berat rasanya. Jika dibandingkan saat aku memutuskan untuk menjauh darinya karena kebencian.
kklleekk
Terdengar suara pintu di buka. Membuyarkan semua angan-angan ku.
Begitu aku melihat ke arah pintu, ternyata mama yang masuk.
"sudah siap sayang? " tanya mama sembari mengusap puncak kepala ku.
"belum ma, rasanya masih kangen" aku merengek. Menit kemudian aku masuk ke dalam pelukan mama.
"ada Dian di bawah" ucap mama datar. Yang kemudian membuat aku terkejut dan melepaskan diri dari pelukan mama.
Ada apa lagi sih? Kenapa gak kasih kabar dulu?
Bisa jadi kedatangan dia semakin membuat ku berat untuk kembali ke Pesantren.
"ada perlu apa dia kesini ma? " aku mencoba mencari tau dari mama.
"mama tidak tanya tadi. Coba aja kamu tanyakan sendiri.
Cepat turun, kasian kalo menunggu lama. Mama mau balik ke butik lagi" lalu mama berdiri dan berjalan meninggal kamar ku.
Setelah kepergian mama aku segera mengambil kerudung seadanya. Karena baju-baju sudah aku bereskan.
"hay" sapa ku, begitu aku menuruni tangga.
"assalamu'alaikum" kata Dian.
"iya, iya. Wa'alaikumsalam" aku tau, kalimat yang dia ucapkan sebenarnya untuk mengingatkan ku.
"berangkat jam berapa nanti, biar aku antar ya" kata Dian. Dan membuat aku terdiam untuk sesaat.
__ADS_1
"gimana caranya, kan aku bawa mobil sendiri? " tanda tanya besar dalam benak ku. Bukan aku meremehkan. Dia saja selama ini kemana-mana memakai motor tua kesayangannya.
"biar Nahla sama Melan yang bawa mobil kamu" kata Dian singkat, tanpa bertanya apapun pada ku.
Dia mengambil keputusan sendiri begitu saja? Kalau adek sama Melan yang pakai mobil ku, j**angan bilang aku berangkat pakai motor tua bareng dia! Ada Eyang di sini, bisa-bisa terjadi perang mulut.
"mau aja kak, itung-itung kencan bareng mobil barunya kak Dian" adek yang baru saja masuk ke dalam rumah ikut nimbrung begitu saja. Sedangkan aku tidak tau dengan apa yang di maksud adek.
"mobil baru? " aku mengernyitkan dahi menatap Dian. Yang di tatap tersenyum lebar.
Jadi, dari pagi dia bilang sibuk....sibuk beli mobil? Hanya untuk mengantarkan aku kembali ke Pesantren?
"jadi itu yang kamu kerjakan dari pagi,yang bilangnya 'sibuk'? " tanya ku memperjelas apa yang ada dalam pikiran ku.
"iya, maaf ya. Harusnya aku ngajakin kamu tadi, biar bisa bantu pilih. Tapi aku pergi pakai motor butut, gak enak mau ngajakin kamu"
"astagfirullah Dian,memangnya aku se matre apa sih sampai kamu berfikir seperti itu?
Kalo kamu gak rela aku naik motor kesayangan kamu, kan aku bisa anter kamu pakai mobil ku"
"gak enaklah, ngrepotin kamu jadinya.
Sudah gak usah bahas yang tadi.
Deal ya aku yang anterin"
"mereka nunggu di luar aja kalo kamu gak mau orang pesantren tau.
Yang penting orang Pesantren tau, kalau kamu sekarang sudah punya ku"
Aku tercengang mendengar perkataan Dian.
"maksudnya?
" iya, biar ustadz Billal gak salah faham lagi. Takut nya masih kekeh aja buat deketin kamu"
Aku berusaha menelan ludah dengan susah payah. Dengan mata membulat menatap ke arah Dian. Bisanya dia berfikir seperti itu.
"aku tau, laki-laki kalau sudah punya kemauan itu akan selalu maju sampai ia tidak punya celah lagi.
Dan aku tidak rela kamu terus di dekati sama orang lain"
Oh, jadi ini maksud dan tujuan dia memberi ku gelang dengan inisial nama di bagian atas. Supaya semua orang tau, jika aku sudah miliknya. Posesif juga dia ternyata.
"Kayra....mau ya"
"Dian...... " aku sampai tidak bisa mengungkapkan betapa bahagianya aku saat ini. Entah kenapa aku justru bahagia dengan sikap posesifnya.
"iya, mau kan? "
__ADS_1
"Aku tidak punya alasan untuk menolak.
Tapi, gimana adek sudah tau lebih dulu ya kalo kamu punya mobil baru?"
"iya, tadi aku sudah kontak adek sama Melan duluan sebelum kesini"
"owh, jadi sekarang udah punya cs ya di rumah ini"
"iyalah, kalo Johan aja bisa. Kenapa aku enggak. Gak mau donk kalah dari dia"
Seketika hati ku bergemuruh mendengar nama itu kembali di sebut.
Dan seperti nya Dian menyadari perubahan pada raut wajah ku.
"Kay... maaf-maaf.
Aku reflek aja menyebut nama dia tadi"
Aku hanya menganggukan kepala. Suasana riang gembira seketika berubah menjadi amarah, penyesalan, kekecewaan dan entah perasaan apalagi.
Dengan sekuat tenaga aku memejamkan mata, menahan agar tidak menangis.
"Kayra, maaf kalo aku jadi bikin kamu sedih" Dian mengelus puncak kepala ku.
"sudah ya, jangan sedih lagi. Aku jadi merasa bersalah.
boleh aku peluk, sebentar saja"
Dengan mata yang masih terpejam, kini kepala ku berada dalam pelukan Dian. Terasa nyaman, aroma segar tubuhnya mulai merasuk ke dalam otak ku, menyejukkan hati. Menggantikan gemuruh yang baru saja terjadi di dalam sana.
"sudah ya, aku minta maaf. Aku tidak bisa melihat kamu seperti ini.
Kita bicarakan hal lain yang bisa buat kamu bahagia aja gimana? "
Kini pandangan kami bertemu. Setelah nya Dian melepaskan tangannya dari tubuh ku.
"gimana kalo.. kita beli makanan, atau oleh-oleh gitu buat orang Pesantren"
Aku langsung mengiyakan. Karena sejak pagi aku sudah berencana membeli oleh-oleh untuk ummi. Tapi belum sempat juga, akhirnya memutuskan untuk. membeli sambil berangkat saja.
"Nahla... mau ikut gak? " tanya Dian pada adek. Sepertinya sudah benar-benar cs mereka sekarang.
"gak ah, daripada jadi obat nyamuk" tolak adek.
Akhirnya aku berjalan menaikan tangga untuk mengambil kunci mobil.
Ku serahkan kunci mobil pada Dian, lalu kami pergi berpamitan pada mama.
________________TBC_______________
__ADS_1