KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Misi Berakhir


__ADS_3

Waktu berlalu dengan cepat, dan saat ini tepat jam sebelas, ditandai dengan lonceng jam di dalam rumah yang berbunyi.


Sementara kak Jo mulai mau menyuarakan isi hatinya. Sebentar dia berbicara, diam lagi. Dan aku harus kembali berusaha membangkitkan mood baiknya supaya mau berbicara kembali.


"yang kakak mau Kayra kan? sekarang Kay sudah di sini kak, Kay di sini untuk kakak. Kakak bisa mengatakan apapun yang kakak rasakan. Kayra akan dengarkan" rasanya aku sudah ingin mencapai final, sudah tak sabar lagi dengan drama patah hati ini.


GEREGETAN MENAHAN SABAR


"kak, ayolah kak bicara. Ayo kita bicara jika kita memang ada masalah. Keluarkan perasaan kak. Jika memang harus berteriak, berteriaklah. Jika memang harus menangis, menangis saja. Tapi setelah itu sudah. Jangan menjadikan diri kakak seperti ini.


Jangan mengekang isi hati kakak, tapi pada akhir nya fisik kakak yang harus tersakiti"


Kak Jo mulai bangkit dari tempat duduknya. Aku berharap emosi dia terpancing sehingga bisa mengeluarkan perasaan apapun yang dia pendam.


"Kayra BENCI dengan pribadi kakak yang seperti ini" aku menarik tangan kak Jo saat dia hendak beranjak.


Di luar dugaan ku, tapi seperti keinginan ku.


Seketika badannya berbalik dan mengungkung ku di atas kursi. Tatapannya intens, bahkan aku bisa merasakan hembusan nafasnya.


"sungguh kamu mau tau? " ucapnya berat, seolah menahan banyak beban perasaan.


Kemudian aku mengangguk


"Kamu tau, seberapa lama kamu menyiksa ku dengan tidak mau bertemu aku?


Kamu tau, seberapa banyak rindu itu tertampung untuk menunggu waktu?


Kamu tau, seberapa banyak harapan yang berkumpul mulai beberapa tahun yang lalu?


Kamu tau, rasanya kecewa?


Kamu tau, rasanya patah hati?


Kamu tau, rasanya di khianati sahabat sendiri?


Kamu tau, rasanya sakit yang tak nampak?


Seberapapun kamu mengungkapkan, orang lain tidak akan pernah bisa melihat luka yang kamu alami.

__ADS_1


Luka yang tak terlihat itu jauh lebih menyakitkan Kayra! "


Setiap kalimatnya menyayat hati ku. Butiran airmata jatuh tanpa suara.


Bahkan kalimat terakhir yang kak Joe bisikkan di telinga ku, berhasil membuatnya tertampar.


Butiran air mata ku semakin besar, bahkan kali ini aku tidak bisa menahan isak tangis. Sehingga ku bungkam mulut ku dengan tangan ku sendiri.


ini belum selesai


"Aku cowok Kayra. Mana bisa aku menangis, yang ada aku justru tertawa. Menertawakan takdir yang sedang menertawai ku.


Seandainya saja aku menceritakan hal ini pada orang lain, apakah mereka tidak justru menertawakan kebodohan ku?


Aku yang terlalu bodoh, mencintai mu selama bertahun-tahun, padahal sudah jelas tidak ada respon baik dari kamu.


Aku yang terlalu bodoh, mengartikan kebaikan mu selama ini. Jelas-jelas semua itu hanya karena persahabatan kedua orang tua kita.


Aku yang terlalu bodoh, sampai-sampai tidak tau bahwa sosok wanita yang aku banggakan bersama sahabat ku, adalah wanita yang sama.


Aku bodoh Kayra. Aku bodoh! Aku bodoh, aku bodoh"


Sementara aku masih belum mampu beranjak. Isak tangis ku belum reda. Kini rasa bersalah itu menghantui ku.


Ku lihat kak Joe memukul pohon beberapa kali, pasti untuk melampiaskan perasaannya.


Tapi batang pohon itu tidaklah halus, tangan dia bisa terluka.


"kak, sudah hentikan" reflek aku memeluk nya dari belakang.


"kamu sudah mendengar semua kan? itu yang kamu inginkan? kenapa masih disini? " kak Jo mengusir ku?


Tapi aku tau, dibalik kalimat pengusiran itu adalah sebuah perhatian yang diharapkan.


"dengan keadaan kakak yang seperti ini? Mana bisa aku pergi? " ku raih tangan kak Jo yang sudah mengeluarkan darah.


"sebenarnya apa mau kamu, Kayra"


Mendadak suara kak Jo jadi menakutkan, galak. Tapi dia berhasil menyekap ku di balik pohon dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"semakin lama kamu di depan ku, itu hanya akan membuat ku semakin sulit melupakan kamu.


Semakin kamu mendekati ku, itu hanya akan membuat ku semakin berharapan.


Nyatanya apa, itu hanyalah sebuah harapan palsu!


Dan semakin kamu mengejar ku, itu hanya akan membuat ku semakin menginginkan mu.


Apa kamu tidak tau itu? "


Astaga, wajah kak Jo semakin mendekati wajah ku. Bahwa dia mulai mencium i leher ku. Beruntung ada jilbab yang menghalangi. Tapi tetap saja, bulu kuduk ku merinding, aku semakin takut.


"kak, hentikan kak. Berhenti! " terpaksa aku membentak kak Jo.


"kamu takut, atau jijik dengan aku yang seperti ini? " kali ini justru tangannya yang mulai meraba wajah ku. Dan aku semakin jijik. Bukan dengan dirinya yang sedang terpuruk, melainkan dengan apa yang kak Jo lakukan saat ini.


"STOP kak! Berhenti! " aku mengibas tangan kak Jo.


"kakak boleh marah sama Kay, kakak boleh kecewa sama Kay, kakak boleh benci sama Kay. Tangan jangan pernah melecehkan Kay" kali ini terbalik, aku yang menyudutkan kan Jo. Bahkan aku menunjuk-nunjuk tepat di depan wajah kak Jo.


Rasa bersalah ku, rasa belas kasihan ku, kini berubah menjadi menjadi kemarahan, sejak apa yang terjadi beberapa detik yang lalu.


"JANGAN BERHARAP BISA MENYENTUH KU LAGI"


PPPLLLLAAAKKKK


Tamparan itu berhasil aku daratkan di wajah kak Jo, kemudian aku pergi dengan menyeka air mata. Semoga mamanya kak Jo tidak mendengar percakapan kami dan tidak melihat kejadian ini.


Saat aku memasuki rumah hanya ada pembantu yang sedang menyetrika baju. Rumahnya tante sedang menidurkan si kecil.


Tanpa menunggu lagi aku berpamitan dan segera melaju pergi meninggalkan rumah itu. Dan itu akan menjadi kali terakhir aku menginjakkan kaki di sana.


Setelah beberapa meter aku keluar dari komplek rumah kak Jo, aku menepikan mobil. Rasanya tak kuat lagi menahan sesak di hati. Aku menangis sejadi-jadinya. Entah untuk hal mana, yang pasti aku hanya ingin menangis saat ini.


Ponselku berbunyi beberapa kali, ternyata teman sekelas. Pasti bertanya kenapa aku tidak masuk kelas.


Akhirnya aku hanya mengirimkan pesan, aku katakan jika sedang tidak enak badan.


*Mahasiswa se-teladan aku, mana mungkin sih bolos, iya Khan 😁

__ADS_1


______________TBC*______________


__ADS_2