
Ini adalah hari terakhir aku ujian semester. Dan lusa, hari minggu aku berencana mengajak Siska untuk pulang. Rasanya rindu ini sudah terlalu berat untuk aku tahan lagi. Hampir setengah tahun tidak bertemu mama tercinta. Tak kalah beratnya dengan rindu pada papa. Karena kata orang, sosok ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuan nya.
Kali ini aku dan Siska meminta izin pada ummi untuk pulang beberapa hari. Dan Ummi memaklumi, karena kami lama tidak pulang. Kecuali putra terbaik Ummi, yang aku rasa sengaja mencari perkara
"tidak bisa, satu hari saja cukup. Kamu bisa tertinggal materi jika izin terlalu banyak" rasanya aku sudah cukup jengah untuk berhadapan dengan ustadz Billal.
Aku goyang-goyang lengan Siska, memberi isyarat supaya dia saja yang mengahadapi ustadz Billal.
"gak apalah Bill, mereka anak-anak yang cerdas. Tidak akan keteteran kalau hanya ijin 3 hari saja" Yes, alhamdulillah. Dapat pembelaan dari Ummi sebelum Siska berkata apapun. Sukurin gak tuh, umpat ku dalam hati.
Orang baik memang akan selalu dapat pertolongan. Ucap ku dalam hati sembari melangkah pergi,setelah berpamitan pada Ummi.
"rese emang ustadz kesayangan kamu itu Kay" ucap Siska begitu kami telah sampai di rumah paviliun.
"idiwh, ogah amat! cari masalah emang tuh orang" ungkap ku kesal.
"untung Ummi baik" ucap Siska datar.
"Ummi mah, emang baik. Super baik. Baik banget malah" aku membenarkan perkataan Siska.
"terus, kenapa kamu gak mau jadi menantunya kalo gitu? " tanya Siska tiba-tiba dan membuat aku tersedak oleh air liur ku sendiri.
"lha, emang gua nikah sama emaknya???? " reflek aku jawab dengan nada lebih keras.
Sampai Siska membungkam mulut ku dan mengalihkan pembicaraan.
"udah ah, gak penting. Yang penting sekarang kita packing" ish..... semangat amat ya yang mau mudik.
Jadi ikut merasakan sensasi mudik yang luar biasa. Berbeda dari sebelum-sebelumnya. Lebih ada debaran rindu yang menggebu. Padahal juga hampir setiap hari sudah telponan sama mama, papa, juga adek. Tapi tetap saja berbeda sensasi.
Ternyata Siska tak lain dari aku, sama-sama punya semangat menggebu untuk pulang. Tumben, bisa jadi aku sebut seperti itu. Karena biasanya Siska paling malas kalau di ajak pulang.
Menghitung hari, semakin di tunggu rasanya semakin lama saja.
Apalagi ustadz Billal belum juga menyerah menghadang kepulangan ku dan Siska. Dengan cara memberikan tugas yang luar biasa banyaknya.
"untuk bekal liburan di rumah, supaya tidak main saja" kata beliau.
Awh, EGP lah (Emang Gua Pikirin). Iya-iyain aja. Belajar jadi Siska kedua. 😀
Aku juga sudah memberi kabar pada Dian, jika aku akan pulang untuk beberapa hari.
Tak bisa ku pungkiri, saat pikiran ku kembali ke rumah, akan selalu ada bayang-bayang ustadzah Zia di sana. Sekalipun Dian sudah berusaha meyakinkan aku, bahwa semua sudah akan baik-baik saja. Perasaan ku masih saja dag dig dug tak menentu. Aku sendiri tak mengerti apa yang sebenarnya ku rasakan. Tercampur aduk menjadi satu. Keringat dingin yang keluar saat hal itu melintas dalam pikiran.
Sampai akhir nya hari yang ditunggu datang juga. Betapa bahagianya.
__ADS_1
Hanya saja, aku dan Siska harus mengendarai mobil sendiri-sendiri.
Semakin lama, kami semakin jarang satu mobil lagi. Terkadang rindu, masa dimana kami saling bercanda tawa saat di jalan. Awh, seandainya...... seandainya.....seandainya......
Hanya bisa berandai-andai.
Bahkan aku telah menyiapkan rencana untuk berkumpul bersama 3M. Sudah rindu berat juga berkumpul bareng mereka. Semoga saja waktu dan kesempatan berpihak pada kami.
Setelah berpamitan pada Ummi aku dan Siska segera pergi. Karena tidak ada ustadz Billal di rumah dan berharap semoga tidak muncul sampai kami benar-benar pergi. Daripada menghambat perjalanan.
Mobil ku dan Siska beriringan berjalan keluar dari pesantren. Hanya untuk tiga hari, pikir ku. Terbesit sedikit kesedihan saat meninggalkan halaman tempat ini, rasanya sudah mendarah daging. Menjadi rumah kedua yang patut untuk di rindukan juga.
Minggu pagi menjadi sangat ramai saat banyak orang yang terjun ke jalan untuk berolahraga, ataupun sekedar berbelanja. Car Free Day, lama juga tidak ketempat ini. Terakhir kapan ya? sampai aku lupa, hihi 😁.
Tapi Siska sudah terlanjur jauh,gak jadi turun deh. Kurang asik jalan sendirian.
Kini fokus utama ku kembali ke rumah. Pasti mama sudah masak-masak, untuk menyambut kepulangan putri sulungnya ini, seperti biasa.
Dengan penuh semangat aku menginjak gas. Menambah kecepatan menyibak rimbunnya hutan. Aku beralih ke jalan alternatif yang bebas dari macet, karena hari minggu seperti ini banyak titik kemacetan di kota. Ini lebih jauh, tapi Siska sudah menunggu ku di sana tadi. Okelah, kapan lagi menguji adrenalin, melaju dengan kecepatan di atas 40km/jam.
Klakson sempat aku bunyikan beberapa kali menyapa Siska saat jalan masuk ke rumah sudah satu jengkal lagi.
Siska langsung pulang, karena rindu yang sama kami rasakan.
Mobil ku kini melaju pelan di depan rumah Dian,nampak sepi.
Begitu aku turun dari mobil, ada suara tak asing yang langsung menyambut ku. Kak Gilang.
Astagfirullah, aku sampai melupakan kakak ter-ter ku.
Rupanya kehidupan baru ku di Pesantren merubah banyak hal. Termasuk kedekatan ku dengan keluarga. Karena waktu untuk bermain handphone jelas berkurang selama di sana.
"kakakkkkkk" aku langsung berhamburan lari ke arahnya. Dan kini telah selesai memeluknya sekilas.
"cuma sekejap gitu kangennya" kak Gilang malah menggoda.
"haist.. modus" ucap ku sambil duduk melepaskan sepatu.
Dari dalam rumah kembali muncul si 'kakak kecil' yang sekarang sudah menjelma menjadi gadis remaja. Bahkan tingginya sudah hampir menyamai ku.
"ini... kakak kecil yang tumbuhan terlalu cepat, apa aku yang gak tumbuh-tumbuh ya? " gumam ku sambil berjalan memasuki rumah, bersalaman dengan pakde, bude, dan kerabat yang lain. Ternyata ikut serta juga keluarga kandung dari bude.
Tak hanya itu, dari arah dapur juga masih terdengar suara riuh.
Aku berjalan menghampiri sumber suara. Mencari mama tercinta yang lupa menyambut kedatangan anak sulungnya, sangking banyaknya tamu yang di jamu.
__ADS_1
Dan, kejutan tak terkira. Rupanya mama sedang berduet membuat kudapan bersama eyang.
Pelukan erat langsung ku tujukan pada dua wanita luar biasa itu.
Rasanya, sudah bertahun-tahun kami tidak berkumpul seperti ini. Entah sedang ada acara apa yang tidak aku ketahui, pantas saja mama meminta ku untuk izin pulang beberapa hari. Bilangnya cuma kangen, tidak taunya... ada kejutan dari jauh.
"sudah.. sudah... peluknya. Eyang engap" eyang melepaskan tangan ku dan kini berbalik Eyang yang mencium ku.
"kangen Eyang" rengek ku. Kemudian Eyang melepaskan celemek yang tengah di kenakan. Menuntun ku berjalan ke depan, bergabung bersama yang lainnya.
Sementara dari arah atas, adek turun bersama sepupu yang lain. Masya Allah, terasa hangat sekali rumah ini, senyum ku penuh haru.
Pantas saja riuhnya tak terkira, sudah seperti burung yang bernyanyi bersahutan di pagi hari. Pertanyaan tiada putus-putusnya, sangking banyaknya. Apa karena begitu lama kami tidak bertemu?
"sudah kumpul semua. Kita sarapan dulu ayok" teriakan mama dari arah meja makan membuyarkan pertanyaan para netizens ✌
Semua orang mulai menuju meja makan. Namun aku menyempatkan naik tangga untuk menengok kamar ku tercinta sebentar saja.
Aroma parfum di kamar masih tetap sama. Jendela sudah terbuka lebar. Ada seseorang yang tengah duduk di teras rumah tetangga, sedang asik memainkan laptop nya.
Aku ambil handphone dari dalam tas. Mulai membuka aplikasi whatsapp. Ada satu pesan teratas, dari orang yang sama dengan yang ku pandangi saat ini. Dian
"peluknya jangan kelamaan, nanti aku cemburu"
Aku tersenyum tipis,sampai sejauh ini hobi dia masih saja sama. Memata-matai ku dari teras rumah lantai dua Melan.
Kemudian ku tekan tombol panggilan. Beberapa hari ini kami jarang sekali mengobrol. Bahkan aku tidak memberi tahu dia kalau aku akan pulang.
Dari balik jendela suara kami terhubung lewat saluran telepon. Aku melambaikan tangan dengan alasan senyum. Menyapanya namun tanpa suara.
Begitupun dengan yang berada di sebrang. Begitu dia menjawab panggilan, aku hanya mengatakan "jendela" dan pandangan kami saling bertemu meskipun terpisah jarak yang cukup jauh.
Kami baru saling menyapa dengan senyuman, sudah terdengar suara panggilan dari bawah.
"Kayra, ayo sarapan dulu" suara mama yang begitu khas di telinga.
"ya maaa" teriak ku menjawab mama.
"mau sarapan dulu" ucap ku singkat pada seseorang yang masih berdiri di sebrang dengan senyuman.
"ok" jawabnya singkat, lalu panggilan terputus.
Hawhhhhh, gayanya yang suka sekali menjungkir balikkan hati ku, bikin gemes. Harus ya sesingkat itu jawaban dia?
Tapi sayang, ini bukan waktu yang tepat untuk mempertanyakan itu.
__ADS_1
Aku meletakkan handphone dan segera berlari menuruni tangga bergabung untuk sarapan bersama yang lain.
________________TBC______________