
Setelah kemarin seharian Siska menemani ku berkutat dengan buku-buku, ditambah malam tadi lanjut mengerjakan sampai hampir subuh. Hari ini sebagai tebusannya aku akan menemani kemanapun dia ingin pergi. Sebagai tebusan atas hutang-hutang yang kemarin juga sih. Sebenarnya masih tersisa beberapa soal, tapi aku sendiri sudah mentok tidak dapat jawaban. Jadi nanti akan aku tanyakan pada pak Nicholas.
Alarm berbunyi,menandakan waktu pukul 5.30. Karena takut tertinggal solat subuh ahirnya aku set alarm. Mau tidur jam berapapun yang penting tidak meninggal kan solat, begitu pesan mama.
Aku dan Siska segera beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Kali ini kita solat bersamaan.
Setelah solat Siska kembali ke atas tempat tidur. Ku tinggalkan dia di dalam kamar, aku turun untuk melihat suasana pagi di luar rumah.
Tidak seorangpun di ruang tamu,begitu aku masuk ke dapur ada mama yang selalu sibuk dengan aktifitas paginya di depan kompor.
Seperti biasa, papa dan adek sudah pasti pergi jogging. Jadi tidak heran jika setiap pagi di ahir weekend tidak menemukan mereka di dalam rumah.
"maaaa, aku bantuin masak nanti ya. Mau olahraga dulu sebentar biar seger. Biar Siska gak tidur lagi"
Ucap ku sembari melihat apa saja yang dimasak mama.
"yasudah cepetan sana" mama tidak pernah menuntut anak-anaknya untuk dibantu memasak, tapi mama minta agar anak-anaknya tetap bisa memasak. Mau pendidikan setinggi apapun pada ahirnya nanti seorang wanita akan tetap menjadi ibu bagi anak-anaknya. Menciptakan kerinduan dari dalam rumah itu penting. Sehingga sejauh mana pun anak-anaknya melangkah kelak, akan selalu ada yang dirindukan, minimal rindu dengan masakan ibunya.
Aku kembali keatas untuk mengajak Siska bermain basket. Baru juga dibicarakan, begitu aku masuk kamar dia sudah memeluk guling dengan eratnya. Mau bangunkan gak tega juga. Akhirnya aku tutup kembali pintu kamar.
"Kay... Kayra" terdengar suara panggilan dari dalam kamar
aku kembali membuka pintu kamar
"kirain tidur beneran" ucap ku begitu masuk ke dalam kamar yang disambut dengan timpukan bantal dari Siska. Nih anak terkadang memang sedikit sableng, karena terlalu lama dirumah sendirian mungkin.
"basket yuk biar badan seger"
hanya disambut oleh badan Siska yang terus meliak liuk ke kanan-kekiri.
"dibawah olahraga nya woy"
__ADS_1
aku tarik aja tangan Siska, sebelum semakin siang semakin panas.
Sehat sih matahari pagi, menghangatkan pula. Masalahnya posisi ring menghadap ke arah matahari terbit, silau.
Tak lupa melakukan pemanasan ringan sebelum olahraga apapun guna menghindari cidera.
Kemudian tembakan demi tembakan meramaikan ring. Pantulan bola membuat kami berlari dengan lincah.
Sengatan mentari pagi membuat suasana semakin panas, keringat mulai bercucuran. Ahirnya kami putuskan untuk istirahat setelah permainan 15 menit.
"Kay... pangeran kamu tuh" ucap Siska yang membuat aku melihat ke sepanjang jalan.
"mana, siapa? gak ada siapapun di sepanjang jalan" jawab ku dengan mata masih memperhatikan kearah jalan
"diatas tuh, dari tadi" aku langsung loading dan menengadah ke arah rumah Melan.
"kebiasaan" gumam ku.
"cie, yang selalu punya pengagum rahasia" Siska menertawakan ku.
"entahlah, mau dibilang 'jangan' juga gak akan mempan. Gak capek apa yah dia terus seperti itu" terkadang aku juga heran dengan sikap cowok satu itu.
"tapi kamu juga suka kan di perhatikan gitu, ciee ciee"
Siska masih saja menggoda.
"entahlah. Nano-nano. Kadang harus ramah, kadang harus menahan tawa, kadang harus pura-pura gak kenal, kadang harus bersikap profesional. Secara gak langsung dia ngajarin aku kelas akting"
"begitulah, hidup penuh sandiwara"
"termasuk sandiwara cinta? "
__ADS_1
pertanyaan ku disambut dengan lemparan bola dari Siska
"udah ah, waktunya kembali ke dunia nyata"
kemudian kami bermain lagi, tak lama kemudian papa dan adek pulang. Itu artinya kami pun harus mengakhiri permainan. Mandi dan bersiap untuk sarapan. Ditambah lagi dengan aroma-aroma yang keluar dari dapur mama menggelitik hidung, jadi bikin lapar.
Aku meminta Siska untuk mandi terlebih dulu, jadi ada waktu beberapa menit untuk membantu mama. Tapi membantu apa? begitu aku masuk kedapur ternyata dapur sudah bersih.
"bantu mencicipi aja kak" kata mama
ya paling semangat kalau yang satu ini. Sambil menghidangkan di meja sambil mencicipi.
Setelah semua tertata rapi diatas meja, aku beranjak pergi untuk mandi. Begitu membuka pintu kamar, aroma semerbak mewangi sudah memenuhi seluruh ruangan.
"pakai parfum sebotol kamu Sis? " aku menegur Siska yang masih duduk di depan cermin di meja rias.
"iyalah, kan habis ini mau jalan-jalan. Siapa tau ada cowok ganteng yang nyangkut" jawab Siska.
"hadewh, ambil dah ambil. Gak minat aku mah" ucap ki sambil berlalu berjalan ke arah kamar mandi
"iyalah gak minat, udah ada pujaan hati"
sejak aku menceritakan perihal Dian semalam, Siska jadi sering mengatai aku. Entah kenapa dia bisa yakin kalau aku menyukai Dian. Padahal aku sendiri tidak, perasaan macam ini. Aku tidak berani mengklaim bahwa aku menyukai dia. Terlagi dengan segala kondisi yang ada, takut patah hati. Orang bilang patah hati itu sakit sekali.
Guyuran air shower meluruhkan seluruh keringan. Menyegarkan badan juga pikiran. Setelah seharian penuh disibukan oleh lembaran-lembaran pertanyaan.
Tak kalah bersemangat dari Siska, akupun merindukan jalan-jalan sambil jajan.
_____________^_^____________
have a nice day gays,
__ADS_1
trimakasih utk yang masih setia mampir, jangan lupa tinggalkan jejak yaa 🥰🥰🥰🥰😘