
Perjalanan pertama dari pesantren ke kampus terasa begitu jauh. Mungkin untuk selanjutnya tidak akan lagi jika sudah terbiasa.
Mobil kak Maryam memasuki area kampus. Banyak mahasiswa berkumpul di depan, tak ketinggalan sekelompok anggota BEM yang terkenal suka nampang. Tak lain adalah Dian dan Johan and the gengs.
Entah informasi apa yang sudah aku lewatkan pagi ini, aku tidak tertarik untuk mengetahui. Karena aku tidak suka organisasi yang suka Kumpul-kumpul, demo sana demo sini.
Mobil kak Maryam menepi di sebelah pintu masuk, rupanya sudah ada pak Nicholas yang berdiri disana.
Entah kebetulan atau bagaimana, yang pasti kak Maryam belumlah faham dengan dua orang yang sampai membuat ku memutuskan untuk diam di pesantren. Dian dan Johan and the gengs berkumpul tepat di belakang pak Nicholas berdiri.
"kak kita langsung masuk ya, pak mari" aku berpamitan pada kak Maryam sekaligus menyapa dosen ganteng tapi jomblo. Eh, tapi sebentar lagi sudah gak jomblo lagi 🤭
Secepat mungkin aku menarik tangan Siska untuk segera pergi dari tempat itu.
"BERHENTI! tidak aku tidak juga kamu"
aku bisa mendengar jika itu suara Dian, dan siapa lagi yang dia tahan jika bukan kak Jo.
"kalian ini payah, ribuan cewek di kampus kenapa mesti rebutin satu cewek sih" Sama-sama aku dapat mendengar ucapan itu, yang pasti aku semakin mempercepat langkah kaki.
"udah-udah, sakit perut ku Kay. Gak bakalan ngejar mereka. Kamu dengar sendiri kan tadi" entah kenapa rasanya masih seperti momok dengan dua nama cowok itu.
"sorry" jawab ku singkat.
"ke kantin dulu beli minum. Traktir, tanggungjawab" nafas Siska masih terdengar terengah-engah. Tidak dipungkiri aku sendiri juga terengah-engah.
Kelas masih sepi saat aku dan Siska masuk. Hanya ada beberapa anak yang terkenal rajin, rajin nyontek tugas.
Jam pertama masih jam 9 nanti, sementara saat ini masih pukul 8 kurang. Maklum, namanya juga numpang. Jadi ya tetap berangkat sekalipun belum jamnya.
"eh, Kayra sama Siska. Tumben datang cepet, belum ngerjain tugas ya" tanya salah seorang.
"enak aja, mahasiwa teladan macam kita dibilang belum kerjain tugas" Siska selalu nyamber lebih dulu kalau sampai ada yang berani mengusik ku.
__ADS_1
"itu Kayra, kamu mah telatan yang ada Sis" ucapnya kembali, tak mau kalah dari Siska.
"beda tipis, maklumin aja" haha, akhirnya Siska yang kena skak mat.
"setelah ini gak akan telatan lagi Siska, aku jamin" sekali-kali aku belain Siska, masa cuma dia aja yang selalu belain aku.
Melihat teman-teman yang sedang mengerjakan tugas membuat aku menguap berkali-kali. Aku mengambil handphone ingin menelpon mama. Baru juga semalam rupanya aku sudah kangen mama. Kangen masakan mama,kangen suara lembut mama saat mengumpulkan suami dan anak-anaknya di meja makan. Sekali, dua kali tetap tidak ada jawaban. Aku menghembuskan nafas, sedikit kecewa.
Setelah itu aku mengutak atik pesan, ku kirim pesan pada adek tersayang ku. Kalau serumah suka sebel, baru pisah sehari saja ternyata sudah rindu.
Belum mendapat balasan pesan dari adek, pasti dia sedang jam pelajaran. Aku terus menggeser layar handphone, terasa ada yang berbeda. Sepi, tak seperti biasanya yang belasan pesan masuk. Jika tidak dari Dian ya dari kak Jo. Mau siapa lagi, hidup ku selalu berkutat dengan nama dua cowok itu.
Apa mereka sudah benar-benar lelah, atau bahkan sudah menyerah? ini baru beberapa hari sejak kejadian terakhir dan mereka berdua sudah menyingkir. Semudah itukah, mengingat kekerasan kepalaan mereka selama ini. Ternyata tidak ada tragedi seperti yang di tv-tv.
"lha, kenapa jadi memikirkan mereka? harusnya itu semakin bagus, karena mereka tidak akan menggangu ku lagi".
aku masih terus berfikir sendiri sembari menatap layar handphone.
" woy, nglamun pagi-pagi" Siska menyenggol ujung siku ku.
"hemp, palingan juga gak jauh dari D & J" ucapnya kembali setelah tidak ada respon apapun dari ku.
"D & J, siapa itu? " tanya ku. Baru kali ini aku mendengar Siska mengucapkan singkatan itu.
"halah, pura-pura lupa ya. Noh manusianya intip-intip di ujung jendela"
"heran ya, cowok se-cool mereka idola kampus pula, mendadak jadi bodoh cuma gara-gara Kayra"
"hust, apaan sih" aku timpuk Siska menggunakan ujung buku supaya dia sadar, bahwa ada orang lain di sekitar kita.
Selama ini belum pernah terhembus kabar soal masalah ku dengan dua cowok itu. Karena pemberitaan di kampus masih fokus pada kedekatan pak dosen muda dengan ku. Padahal itu ZONK. Entah siapa yang tanpa sengaja atau memang sengaja menyebarkan isu itu, yang pasti aku tidak perlu mengambil pusing. Bahkan harusnya aku berterima kasih, karena hal itu aku jadi banyak di kenal oleh orang-orang baru.
"ijin temui mereka ya, pengen ngolok kak Jo" dengan enteng nya Siska berkata.
__ADS_1
"GAK BOLEH! Kamu bisa keceplosan nanti dan menceritakan tempat baru kita padanya" mendengar larangan ku, Siska kembali duduk dan bibirnya sudah manyun sepuluh centi.
"kamu dan adek nih sama, suka kepancing kalo sudah ngobrol sama kak Jo" aku kembali mengingat bagaimana Siska bercerita kalau dia keceplosan mengungkapkan hubungan ku dengan Dian. Yang akhirnya terungkaplah misteri yang selama ini sama-sama mereka tutupi.
Untung saja Siska ngaku, padahal aku sudah neg think sama adek.
Sebenarnya aku tidak bermaksud menutupi kedekatan ku dengan Dian, karena semua itu murni terjadi bahkan sebelum aku mengenal Kak Jo. Aku hanya tidak mau, kak Jo mencari dia yang sudah membuat ku menangis juga terluka. Namun siapa sangka, ada kedekatan lebih antara mereka.
Ku putar tempat duduk Siska membelakangi jendela, supaya Siska tidak dapat lagi melihat mereka.
Perihal mereka yang masih mengintai dari ujung jendela, itu menjadi urusan mereka. Mau menjadi seperti apapun mereka, itu tanggungjawab mereka. Tapi aku yakin, mereka dua lelaki hebat yang sudah sama dewasa. Buktinya, mereka berhasil menjabat di dua posisi teratas, organisasi paling bergengsi di kampus. Dan juga, mereka sama-sama berhasil masuk ke kelas akselerasi. Seperti itulah kabar yang aku dengar, dari para fans mereka pastinya.
Bukankah seharusnya aku bangga, bisa berada di antara dua cowok paling bergengsi di kampus? tapi kenapa justru aku menyingkir?
Andai saja hidup sesimpel cerita di negri dongeng, mungkin aku akan bangga.
Sekalipun aku tidak di perjuangkan seperti yang di sinetron, tapi semua ini cukup rumit aku rasa. Belum selesai perasaan segitiga antara aku, Dian dan ustazah Zia. Harus terungkap lagi perasaan segitiga antara aku, Dian dan Kak Johan.
Masih mending aku mikir ribetnya rumus Phytagoras, dari pada mikir semua ini.
Jadi......kupikir-pikir, lebih baik aku menyingkir.
_______________^_^_____________
hay-hay 👋 Kayra menyingkir, tapi kalian harus tetap hadir ya. Apalah artinya tulisan ini tanpa kalian 😢
hehe, sebenarnya karya ini keisengan author semata. Tapi alhamdulillah dikasih lolos kontrak oleh pihak NT, dan pastinya ini karena kalian gays 😍😍😍😍
terimakasih banyak atas dukungannya sampai sejauh ini, kechup jauh ya 😘
mau LIKE, VOTE, COMMENT, BOLEH.
bagi yang belum 'mau' semoga di bulan ramadhan ini di bukakan pintu hatinya untuk meninggalkan jejak 🤲
__ADS_1
sekian dulu, selamat menikmati santap saur bagi yang menjalankan ibadah puasa. bye 😍🥰😘