
Tinggal aku, Melan dan kak Jo yang duduk disana. Jemputan Meysa dan Melda sudah datang lebih dulu.
Dan kak Jo sengaja menunggu sampai kami dijemput. Kios bakso sudah sangat sepi, bahkan sebentar lagi akan tutup.
Setelah jemputan ku datang, aku dan Melan bergegas pulang. Sengaja Melan ku ajak pulang bareng.
"ok, Hati-hati dijalan"
ucap kak Jo sambil melambaikan tangan.
Saat dimobil Melan sudah mencolek ku berulang, pengen tau tentang pertemuan ku dengan kak Jo baru saja. Tapi aku memberi isyarat, ada pak Warno disana, sopir kepercayaan orangtua.
Dalam kepala ku masih terngiang, berat rasanya ingin segera bersandar memeluk guling, uwuhhh. Akhirnya kami sama-sama diam, pasang muka lelah usai belajar bersama.
Kulihat ke arah luar sepanjang jalan, sampai mata ku tertegun pada sebuah tulisan yang berada di tembok pembatas jembatan beberapa meter dari sekolah
...Kayra Putri Almaira...
...IPA 2a...
...081230xxxxx...
seketika ku pegang tangan Melan
"Mel"
dia nampak kaget, rupanya dia sedang memejamkan mata, tidur mungkin.
"itu" sahut ku dengan cepat
"appa??? " dia nampak kaget sambil toleh kanan kiri
"pak, minta tolong putar balik ke arah jembatan ya" pinta ku pada pak Warno
"kenapa neng, ada yang mau dibeli?? kita cari puteran dulu ya"
pak Warno tak nampak kaget, karna sudah biasa jika aku minta berhenti tiba-tiba karna suka jajan dipinggir jalan, hihi 😁
"ah kamu ini, makanan aja Kay"
Melan ikutan mengira bahwa aku mau beli makanan.
Beberapa saat kemudian mobil sudah terparkir di sekitar jembatan
"sebentar ya, tunggu "
ucap ku singkat sambil menutup kembali pintu mobil.
Bergegas aku hampiri dinding pembatas itu dan berusaha menghapus nama serta nomor telp yang ada disana.
Sayangnya tulisan itu memakai Permanen Marker rupanya, sementara aku hanya punya spidol warna kecil " yang penting nomor terhapus", pikir ku. Nyebelin banget sih orang-orang itu. Sungguh kesalnya!!
__ADS_1
"apaan sih Kay" tanya Melda begitu aku membuka pintu mobil. Rupanya dia memperhatikan ku dari dalam mobil.
"sudah pak, jalan"
perjalanan pulang kami lanjutkan.
Dalam hati rasanya menjerit ingin mengutuk orang-orang yang selalu saja menyalahi hidup ku.
"ada yg sengaja nyebarin nomor HP aku"
dengan diri ku yang super tertutup, pastinya akan sangat sulit untuk mendapatkan nomor ku jika sekedar untuk isenk saja.
"yaelah... kelihatan aja mata kamu"
entah kenapa, sejak saat itu, saat aku mulai sering mendapat gangguan, aku jadi lebih sering clingak clinguk memperhatikan tempat-tempat tak penting.
Dan sudah pasti, ada saja ku temui tulisan-tulisan tangan jelek disana.
"gadis bonekanya kak Jo jadi pusat perhatian" Melan menggoda,seketika ku cubit dia.
"aw... sakiiit"
ku beri isyarat supaya tidak berbicara lebih jelas lagi.
Sekalipun selama ini pak Warno tidak pernah berkomentar apapun mendengar obrolan soal teman laki-kali, setidaknya mendengar, bisa saja mama tanya-tanya.
3M sering main kerumah, juga belajar kelompok di rumah, jadi pak Warno sudah terbiasa dengan kami.
"aku itu salah apa sama mereka, anak lain yang suka capet banyak, kenapa mesti aku sih"
"yang diam lebih menantang" jawab Melan singkat kemudian tertawa berbahak
"mereka terlalu penasaran sama diri kamu Kay, gak usah dimasukin hatilah. Anggap saja angin lewat, kamu Khan biasanya gitu"
waaaa.... aku yang kena, berasa senjata makan tian.
Kenapa aku tanggapi serius juga yah
"tapi nomor HP. Nanti kalo nyebar beneran" aku terdiam beberapa saat
"tau sendiri, HP selalu parkir digarasi begitu sampai di rumah (gerutu ku).
"nanti banyak nomor baru masuk, malah aku yang diintrogasi sama mama. Males ah"
kali ini nada ku memelas, dengan wajah melemas.
"yang penting kamu gak bikin ulah, segalak apa sih mama kamu? "
iya juga sih, selama ini mama gak pernah marah yang terlalu, palingan cuma sekedar konfirmasi
"di ganti nomor saja mbak" pak Warno ikut nimbrung, memperhatikan juga ternyata diam-diam.
__ADS_1
"waaa.... betul itu" jawab ku dengan spontan dan penuh semangat
"dilihat aja dulu Kay, kalo memang nanti banyak nomor baru yang ganggu, ya sudah diganti aja. Tapi kalo gak, gak perlu lah"
waaaa... ni anak memang pantas jadi penasehat pendamping, xixixixi 😁
"betul juga itu yah, betul betul betul. Oklah, baik dilaksanakan"
kali ini membuat ku benar-benar lega. Berasa agak konslet aja setelah mendengar semua pernyataan kak Jo.
Sesampainya kami dirumah, Melan segera berjalan kerumahnya sendiri
"gak diantar yaaa" goda ku
"ok, lima langkah nyampek"
jawab Melan seperti sudah tak berenergi.
Akupun segera bergegas masuk rumah, lari keatas menuju kamar tidur.
KLLEEK,
pintu terbuka daaannnnn segera melempar badan keatas ranjang.
"kakak ih jorok, langsung meluk guling aja. Cuci kaki tangan dulu sana, kuman di mana-mana" ternyata si adek, Nahla mengingatkan ku.
Dia mengikuti ku masuk kamar.
Dia paling menjaga hidup sehat, pola makan sehat, mau jadi dokter nanti, katanya.
"mama kemana dek? " tanya ku ingin tau.
Karna biasanya mama selalu menyambut saat anak-anak nya pulang sekolah.
"biasalah, pengajian rutin"
ya Allah sampai aku lupa ini jadwal mama pengajian rutin. Penatnya hari iniii
"kamu ngapain disini, aku mau tidur ah"
"ewh,,, solat Asar dulu sana" sahut dia dengan cepat
"ini cari lem kakak, punya ku habis lupa beli" sambil mengutak-atik meja belajar ku.
"punya kakak juga habis, sudah buat kliping kemaren belum beli"
mata sudah tak bisa dibuka lagi rasanya.
"lagi gak solat. sudah ah keluar sana. Tutup pintu"
Dia tak banyak tanya lagi dan segera meninggalkan kamar, terdengar suara pintu tertutup. Dan aku, zzzzzztttttzzttttttttt 😴😴😴
__ADS_1
(gak pakek ngiler loh ya)