KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Gudeg Rasa Cinta


__ADS_3

Minggu ini adalah hari pernikahan Kak Maryam. Mulai dari pagi keluarga pesantren sudah meninggalkan kediaman mereka. Pesantren nampak sekali sepi.


Awalnya Ummi mengajak aku untuk ikut pergi bersama, tapi aku menolak. Aku merasa tidak sepenting itu untuk ikut hadir terlalu pagi.


Ummi meminta aku dan Siska untuk sarapan di kantin santri, tapi karena tidak terbiasa dan ingin mencoba suasana yang baru, akhirnya aku dan Siska memutuskan untuk makan di warung sekitaran pesantren. Ada warung ala-ala Jogja disekitar sini yang terkenal ramai. Dengan aneka lauk pauk dan tak ketinggalan gedeg nya yang menjadi favorit warga sekitar.


Saat aku hendak menutup kembali pintu gerbang, handphone ku berbunyi, kak Maryam.


"assalamu'alaikum kak" sapa ku


"Kayra, kenapa kamu tidak datang bersama keluarga pesantren? " aku diam sesaat. Pertanyaan macam itu, bukankah aku ini bukan siapa-siapa mereka?


"Kayra, kamu bisa dengar kakak" kembali suara dari bali telepon terdengar.


"iya kak maaf, tadi Kayra masih cuci baju dulu, hehe. Setelah sarapan Kayra berangkat ya" aku berbohong, padahal sejak kapan aku cuci baju sendiri. Kecuali pakaian dalam sih.


"kakak Ijab pukul 9. Kamu gak boleh telat" sementara aku melihat jam sekarang sudah hampir pukul 7.


"InsyaAllah ya kakak" hanya kalimat yang aku ucapkan. Padahal dalam hati aku mempunyai kalimat yang panjang


"apa pentingnya aku sih, ada aku atau tidak juga tidak akan berpengaruh. Atau jangan-jangan, sepupu kak Maryam itu telah membuat pengumuman ke keluarga besar? ah tidak, ini akan menjadi buruk sekali"


"Kay,awas batu" Siska menarik tangan ku karena hampir saja aku menabrak batu besar dan itu bisa membuat aku jatuh tersandung.


"astagfirullah" ucap ku spontan.


"jalan nglamun aja! urusan kamu jadi mak comblang itu udah beres. Sekarang urusannya penghulu yang bakalan nikahin" protes Siska.


"wahahahah, iya juga. Mungkin aku aja yang berfikir terlalu jauh" aku keceplosan.


"berfikir apaan emang" tanya Siska.


Dan sudah pasti aku tidak mungkin memberi tahu Siska tentang apa yang aku fikirkan. Bisa-bisa langsung di tertawakan sama Siska "kePDan kamu" begitu mungkin dia akan mengatai ku.


Saat memasuki kedai, langkah kaki pertama kali disambut oleh Dian dkk. Tapi kali ini dengan teman-teman yang berwajah baru.


Siska sempat kaget dan menahan tangan ku. Karena aku belum memberi tahu dia tentang Dian sedikitpun.


"nanti aku critain, udah ayok" aku menarik tangan Siska untuk masuk.


Sudah pasti, kedatangan ku tak luput dari pandangan sepasang mata Dian.


"gimana ceritanya? " Siska langsung memberi ku banyak pertanyaan setelah kami mendapatkan tempat duduk.


"heboh banget sih kamu ini, brisik" ucap ku sedikit berbisik.


"iyalah, nanti kalo ada apa-apa sama kamu, ujungnya juga aku ikut merasakan"


Aku jawab dengan senyuman.

__ADS_1


"aku sudah baikan sama Dian, hanya saja aku meminta dia untuk menutup diri lebih dulu. Karena dia punya perjanjian sama kak Jo,satu maju maka semua maju dan sebaliknya.


Dia KKN disini, semester ini dia akan menyelesaikan skripsinya"


"hemp, sepertinya ada informasi yang disimpan sendiri nih" sindir Siska.


"bukan begitu, tapi kondisi dan situasi belum memungkinkan. Nanti pasti aku critain versi lengkapnya. Sekarang buruan makan, kamu temenin aku ke nikahan kak Maryam Khan? "


"ekhm, gimana ya, temenin gak ya?


sepertinya disini ada yang lebih cocok buat nemenin kamu ke kondangan" Siska mulai menggoda.


"gak lucu Siska. Kalo kamu brisik, dijamin gak bakalan dapat versi cerita lengkap"


"who... takut, takut. Kayra marah"


"disuruh diem malah makin brisik. Buruan dimakan tuh"


Tidak diragukan, memang pantas tempat ini di jadikan favorit. Masakannya menggoyang lidah. Tata letaknya yang di pinggiran sawah, menjadikan lokasi ini sebagai "tempat mampir" bagi orang-orang yang sedang bersepeda.


Sepertinya syahdu ya, pagi-pagi bersepeda di pinggiran sawah. Suasana yang masih asri, udara yang masih segar. Jadi rindu, pengen pulang ke rumah Eyang.


"ekhmmm" ada suara seseorang yang tidak batuk tapi sengaja di bunyikan.


Aku dan Siska bersamaan mendongak "Dian" ucap ku dan Siska bersamaan.


Siska masih melongo melihat kedatangan Dian yang tanpa di undang. Sementara aku menahan tawa, mana tahan Dian diam dengan jarak yang sedekat ini.


"ekwh" jadi Siska yang salah tingkah.


"belum juga lihat artis Sis" ucap ku menggoda.


"anggap aja artis kampus" ih, si Dian bisa narsis juga.


Sementara Siska mendadak tersedak, batuk terpingkal.


"wah, Jangan-jangan kamu ini salah satu fans ku" helah, nih bocah ya.


Tidak terima dibilang fans Dian, setelah menelan makanan malah Siska dan Dian yang berdebat. Perasaan, gak sama kak Jo,gak sama Dian ribut terus.


"udah ah. Hobby kok ribut sih kamu ini Sis" aku menengahi.


"tau nih dia.


Betah sekali kamu sahabat sama dia" Sudah di tengahi, Dian malah bikin suasana panas terus.


"Dian udah awh, ganggu orang makan aja kamu ini. Kamu ngapain kesini? " kalau tidak begini mungkin tidak akan selesai perang mulut Siska dan Dian.


"nyapa aja" ucap Dian santai

__ADS_1


"dasar kurang kerjaan" Siska kembali menyeletuk.


"hais, kamu ini gak tau apa orang lagi bucin" Lagi-lagi ucapan dia tanpa di filter.


Seketika aku mencubit pinggang Dian.


Seberapa dekat sebenarnya aku dan Dian?


Sejauh mana sebenarnya aku mengenal dia?


Kenapa semakin kesini semakin banyak tingkah konyol, gokil, kekanak-kanakan, yang aku lihat dari dirinya.


Karena sejauh yang aku tau, dia selalu berusaha bijak, mengayomi, menasehati, hangat.


Apakah harus berbeda, saat bergaul dengan teman. Dan saat bergaul dengan seseorang yang dia sayang.


"gak datang ke nikahan dosen kesayangan? " kali ini aku yang dibuat tersedak dengan pertanyaan Dian.


Beruntung pertolongan segera datang, si pangeran peka keadaan rupanya. Segera dia ambilkan gelas berisi air jeruk yang memang itu punya ku.


"seperti situ rela aja kalo jadi kesayangan beneran" dengan nada jutek Siska berkata.


"datang kok habis ini" jawab ku singkat.


"sama dia? " Dian melirik ke arah Siska.


"iyalah, gini-gini lebih beruntung aku daripada kamu. Bisa tiap saat sama Kayra. Kemana-mana sama Kayra. Tidur sama Kayra. Gak cemburu tuh kamu" ingin tertawa juga mendengar ucapan Siska.


"cemburu sama kamu? aku masih normal.


Kamu masih normal juga kan Kayra? " Dian menatap ku.


"normal" jawab ku.


"nah, berati kamu aja tuh yang gak normal" Siska kembali terpojok.


Sebelum perdebatan kembali terjadi, aku menyuruh Dian untuk kembali bersama teman-temannya. Lagi pula aku tidak bisa lama-lama lagi berada disini.


"yasudah, salam sama pak dosen. Kalian hati-hati di jalan"


Dian kembali bersama teman-temannya, sementara aku dan Siska keluar dari kedai dengan melewati mereka.


Tak kenal maka tak sayang, setidaknya tersenyum tetap boleh kan. Jangan pernah lupa dengan tradisi di tanah Jawa. Sekalipun hati hanya untuk dia, tersenyumlah sebagai bentuk dari sedekah.


___________________^_^__________________


jangan lupa tersenyum 😄 ya, sekalipun belum bisa rutin up.


salam hangat dari Kayra, juga penulis nya 😍🥰😘

__ADS_1


Terima kasih untuk dukungan yang telah diberikan sampai sejauh ini


__ADS_2