
Tidak kusangka akan bertemu dengan Remond saat sedang bersama kak Jo.
Tidak ku sangka pula kembali bertemu Remond secepat ini. Rasanya baru beberapa hari aku pulang dari Banyuwangi. Seminggu juga belum genap.
Apa yang akan terjadi dengan mereka berdua? bisa kah mereka bersahabat setelah ini?
Aku lihat kak Jo memang tidak mengabaikan setiap pertanyaan dari Remond. Tapi jawabannya juga sedikit keluar dari jalur. Sedangkan si Remond malah semakin mepet aja dengan pertanyaan-pertanyaan lanjutan. Padahal tau juga kalau jawaban kak Jo bernada tidak iklas.
Aku hanya menahan tawa melihat tingkah merek berdua.
Faktanya memang tidak ada hubungan kedekatan antara kami bertiga. Maka pertanyaan dari Remond juga Kak Jo, aku jawab dengan jawaban yang sama pula.
"we are friend" hanya saja perbedaan nya, butuh waktu lama untuk bisa menerima kak Jo menjadi teman akrab. Sementara dengan Remond, pertama ketemu sudah langsung akrab saja.
Mungkin itu yang membuat kak Jo lebih sensitif.
Kesedihan ku kemaren berganti menjadi senyuman saat menjumpai dua pria tampan. Yah, sepertinya aku tidak perlu tidur dulu untuk bisa bertemu dengan pangeran.
Di depan mata sudah ada dua pangeran yang nyata. Yang satu cakep putih tinggi bak Stefan Wiliam. Dan yang satu lagi putih imut cute bak Aliando Syarief. Yang satu pinter (pinter gombalin aku) yang satu lagi fotografer (suka fotoin aku). Sama-sama dari keluarga kaya pula.
Jadi, kenapa aku masih harus menangis hanya gara-gara Rezki Aditya KW?!
Awh, aku jadi ketawa-ketawa sendiri dengan diri ku yang saat ini. Kelamaan bergaul sama mereka bisa-bisa bikin Nilai UAN ku merah. Lebih buruk dari berseteru sama Rezki kw.
Eh, Rahardian maksudnya.
__ADS_1
Mengingat mereka lumayan untuk mengobati getirnya hati. Sekalipun aku tidak tau itu akan bertahan sampai kapan. Yang pasti harus sesegera mungkin aku musnahkan, karna pertaruhan nilai UAN jauh lebih penting. Semoga saja nanti setelah liburan usai, kembali bertemu 3M, akan membuat aku jauh lebih tenang.
Ekhm, rupanya aku sudah melupakan dua lagi sahabat ku selama liburan ini. Tak ada kabar juga dari mereka. Jadi gak sabar pengen cepet masuk sekolah.
Setelah kami berpisah di CFD tadi, kak Jo langsung tancap gas dan kembali lagi ke tempat bubur ayam yang tadinya dia kepengen. Untung masih ada, karna waktu sudah cukup siang. Terlihat kak Jo yang wajahnya lebih cerah, karna sudah tidak ada lagi Remond.
Aku yang kembali duduk di sebelah kak Jo hanya melirik sekilas. Kak Jo tidak bicara sih, jadi aku asik dengan pikiran ku sendiri. Sementara adek masih menikmati jajanan yang tadi dia bungkus.
Berasa mimpi ketemu dua cowok cakep. Telat sadar mungkin lebih tepatnya. Nunggu patah hati dulu baru mata terbuka.
Dikejar kejar Stevan William kok cuek aja, untung dia sabar.
Giliran sama si Aliando Syarief, langsung meleleh tapi gak sampe mepet-mepet yah. Belum mepet aja sudah di pepet terus, takut deh.
Otak halu ku mulai ambyar ketika mobil kak Jo memasuki halaman rumah. Sepanjang perjalanan kak Jo benar-benar hanya diam, jadi merasa tidak enak sendiri.
Lagi-lagi tidak ada jawaban dari kak Jo, haruskah aku minta maaf secara khusus? tapi apa salah ku? awh, jadi ribet begini. Padahal sama teman, ketemu teman juga. Gak kebayang malahan kalau punya pacar. Rempong pastinya. Ini gak boleh itu gak boleh, padahal jadi suami juga belum. Surga masih di telapak kaki ibu juga. Huft
"temenin kak Jo sana, biar aku yang siapkan" main nuambar aja si adek ini. Sepertinya dari tadi dia jiga memperhatikan sekalipun tidak komentar.
Ribet ribet ribet!
mesti ngapain juga, mau di gendong apa? atau di papah? atau dituntun bila perlu?
ahirnya aku masuk ke kamar dulu ganti baju.
__ADS_1
Setelah aku turun kak Jo masih depan, sedang ngobrol sama Papa rupanya.
"ayo kak makan dulu"
"belum makan kalian, jam berapa ini" Papa bertanya dengan nada kaget. Tentu saja, seorang Kayra yang doyan makan, ngemil sampai jam 11 belum makan.
"sudah jajan tadi pa, mampir ke CFD beli" aku jawab sembari masuk kembali ke rumah
"kak Jo lagi ngidam bubur ayam ini. Mama dia yang hamil, calon kakak yang ngidam" kak Jo berjalan di belakangan. Rupanya kali ini mulai buka suara
"Hhhhh... bisa aja kamu mikirnya kesana."
Ternyata sudah tersedia menu lain di meja. Aku buka tudung saji, dan isinya gurami asam manis.
"kak Jo, wajib nambah ya. Enak nih masakan mama" hehe, sekali-kali aku promosikan masakan mama, siapa tau bisa jadi sampingan kalau nanti sudah bosan jadi designer.
"kenyang ah" ternyata kak Jo menolak.
"bubur itu kenyang cuma sebentar kak, lewat aja di perut"
"kakak mah suka gitu. Habis olahraga isi perut balas dendam" nah, ini adek calon dokter
"kamu aj deh yang makan, aku lihatin. Ntar kan sudah ikutan kenyang" lha, gombalan macam apa ini. Sudah sumringah lagi. Bawaan perut lapar apa ya yang tadi itu?
Setelah perut kenyang ternyata moodnya kembali normal. Baguslah. Jadi tidak merepotkan.
__ADS_1
Sekarangpun aku mulai merasa Kak Jo mulai betah dirumah ini, berlama-lana disini. Bahkan sudah akrab sama mama papa juga adek, aku bisa apalagi. Tidak mungkin aku usir kan?! toh sekarang dia bukan tamu ku seorang, seisi rumah sudah dia kenal. Jadi aku tidak harus terpaku menemani ketika kak Jo main disini.