
Malam ini aku dan Siska akan berangkat ke Peran dengan ditemani kedua orang tua ku juga kak Maryam dan kedua orang tuanya.
Awalnya aku ragu saat mama akan mengajak adek juga, tapi bagaimanapun juga dia bagian dari keluarga. Untuk beberapa hal aku memang ragu jika dia bisa menjaga rahasia, tapi untuk hal ini papa sendiri yang turun tangan untuk menutup mulut adek supaya tidak memberi tahu kan pada siapapun dimana tempat ku yang baru.
Suara deru mobil memasuki halaman rumah. Siska datang. Sementara aku masih menyiapkan beberapa barang. Terdengar suara riuh dibawah, rupanya ada orang lain selain Siska. Dan betapa bahagianya aku ketika menengok kebawah dan mendapati kedua orang tua Siska yang turut mengantarkan. Pasti Siska bahagia sekali.
Benar saja, baru beberapa langkah aku kembali ke kamar, Siska sudah mengagetkan ku dengan suara berisik nya.
"Kayra, aku seneng deh... " Siska memeluk ku dari belakang.
"iya, sudah tau" aku memotong kalimatnya sebelum dia selesai bicara.
"apa juga ku bilang, gak ada orang tua yang gak sayang sama anaknya" aku kembali melanjutkan kalimat ku sembari memasukkan barang terakhir ke dalam tas. Aku sungguh tidak ingin jiwa kesepian dalam diri Siska kembali muncul sehingga menunjukkan sisi jahat nya kembali.
"selesai, yoook" kami berjalan menuruni anak tangga, bisa ku lihat raut wajah bahagia menghiasi diri Siska kali ini. Sungguh, bahagia itu sederhana sekali. Bukan mobil mewah atau jatah bulanan yang juta-an. Kenapa harus itu semua jika dengan sedikit waktu yang diluangkan untuk bersama saja sudah membuat hati begitu bahagia. Dan ingat, waktu tidak akan mampu dibeli oleh siapapun.
Semua siap, kami memasuki mobil masing-masing dan segera melaju menembus kegelapan malam.
Ketika melintas di depan rumah Dian, Tiba-tiba muncul perasaan yang aku sendiri tidak mengerti. Hati ku berdesir, gelisah tak menentu.
Seketika kembali melintas semua ingatan tentang dia.
Dia, kenapa harus selalu dia. Semua tentang dia. Serasa tak pernah ada habisnya. Haruskah jiwa ini kembali membenci nya. Atau kembali memaafkan dirinya.
Mama memeluk ku dari arah samping. Seakan mengerti kegelisahan ku.
"niatkan dengan mengucapkan basmalah, semua akan baik-baik saja" tak banyak kata yang mama ucapkan, mungkin mama mengerti jika pikiran ku sudah terlalu penat.
Perjalanan menuju pesantren tidak melewati rumah kak Maryam. Sehingga kami membuat janji untuk bertemu di persimpangan terakhir sebelum masuk ke pesantren. Tempatnya masih di kawasan Kota, tapi lumayan jauh dari kampusku. Mengenai armada yang nanti aku dan Siska gunakan, akan di bicarakan lebih dulu dengan pihak pesantren. Jika memang di ijinkan maka mobil akan di antar menyusul.
__ADS_1
Tiga mobil kini berjalan memasuki halaman pesantren. Dari depan sudah nampak sepi, mungkin saja jam belajar para santri sudah usai. Hanya nampak beberapa santri cowok berusia remaja tengah berkumpul di halaman depan. Melihat kedatangan kami mereka membantu membuka kan gerbang.
Lain halnya dengan di depan, di kediaman pak Kyai nampak ramai. Mungkin keluarga kak Maryam yang lainnya sengaja menyambut. Seperti yang pernah di tuturkan kak Maryam, semua keluarga dari ummi aiya tinggal di area pesantren. Karena mereka para gus menjadi pengasuh juga pengajar di pesantren. Sementara kepemimpinan pesantren di pegang oleh saudara sulung ummi aiya, pak Kyai Ali Mustafa. Hanya ummi aiya seorang yang memilih untuk berbisnis mengikuti sang suami, tak lain adalah abah nya kak Maryam.
Kini lima keluarga berkumpul,ditambah lagi dengan keluarga ku juga keluarga kak Maryam. Sehingga tujuh keluarga lebih tepat nya. Terbayang bukan seperti apa riuhnya. Beruntung rumah utama pak Kyai sangat besar. Ada banyak sekali anak-anak di sana, mulai dari usia remaja, belasan, hingga balita. Bahkan ada satu balita tengil yang berusia dua tahunan. Pasalnya, menurut penuturan kak Maryam balita itu paling banyak tingkah diantar saudaranya yang lain.
Tak lama setelah semua keluarga menyambut, berlalu lah mereka menuju kediaman masing-masing. Suasana menjadi hening. Dan kini kembali pada inti kedatangan kami semua. Mama, papa juga kedua orang tua Siska menitipkan kami pada pihak pesantren.
Ada banyak hal yang menjadi pertanyaan, terutama bagi kedua orang tua Siska yang selalu menyediakan segala kebutuhan Siska. Siska memang jarang ada waktu bersama kedua orang tuanya, tapi soal fasilitas, jangan di tanya. Aku bukanlah tandingan nya. Mungkin hal itu yang dulu membuat Siska sempat keluar jalur. Mudahnya akses ke mana-mana, fasilitas selalu ada sementara jauh dari pantauan orang tua. Dan kini kedua orang tua Siska menyesali itu semua. Itu sebabnya mereka menerima permintaan Siska dengan tangan terbuka bahkan menyempatkan waktu juga untuk ikut mengantarkan ke pesantren.
Kini pembahasan sudah hampir berada di ujung. Pada intinya aku dan Siska bukanlah benar-benar mondok, mengingat aku dan Siska yang juga seorang mahasiswa. Tapi kami di beri kebebasan penuh untuk mengikuti setiap materi juga acara yang ada di pesantren. Dan juga, kami tidak di tempatkan di asrama seperti santri pada umumnya. Kami diminta untuk menempati sebuah rumah yang tadinya dibangunkan untuk keluarga kak Maryam. Tapi karena keluarga kak Maryam tinggal di tempat lain, jadi hanya di tempati saat kak Maryam beserta keluarga berkunjung saja. Terkadang di tempati oleh tamu keluarga pesantren yang lain saat berkunjung juga.
Aku sangat berterima kasih atas apa yang diberikan. Sebenarnya diperlakukan seperti santri pada umumnya pun aku tidak masalah. Karena tekat ku kemari hanyalah untuk mencari kedamaian. Tapi jika memang diberi tempat yang lebih nyaman, aku sangat berterima kasih.
Apalagi Siska, terbiasa dengan kemewahan mungkin akan sedikit menggerutu jika kami benar-benar menempati asrama santri seperti lainnya.
Malam semakin larut, entah sopan atau tidak kehadiran kami di pesantren malam-malam seperti ini. Jika tidak di dampingi oleh kak Maryam beserta keluarga, sudah pasti kami tidak akan berani.
Pelukan erat seakan tak ingin berpisah dapat aku saksikan dari ibu dan anak itu. Bukan aku, melainkan Siska. Karena mama sudah tau rencana ku jauh-jauh hari, dan pastinya mama tidak akan membuat langkahku berat.
Aku merangkul Siska, mencoba meyakinkan kembali dengan pilihannya. Toh aku dan dia masih bisa kemanapun kapanpun, mau pulang ke rumah kapan saja juga tetap sah. Karena kami kan santri istimewa, hehehe.
"preman kok cengeng" sengaja aku menggoda Siska, supaya hilang rasa sendu dalam dirinya.
"assem loh Kay" ucap Siska sembari berjalan meraih kopernya.
Malam ini aku dan Siska masih ditemani kak Maryam. Betapa baik kakak satu itu, aku merasa sangat beruntung telah mengenal nya.
"aku bantu beresin kamar, tapi gak bantu beresin isi koper loh ya" kak Maryam bercanda.
__ADS_1
Sebenarnya tadi juga sudah di bersihkan, hanya saja merapikan sarung bantal juga selimut yang baru saja kak Maryam keluarkan dari dalam lemari.
"semoga kalian betah ya disini" ucap kak Maryam.
"Mudah-mudahan kak. Tapi gak tau lagi sih kalo Siska" ucap ku sembari menyenggol Siska dengan ujung kaki.
"apaan sih" dia tangkis kaki ku.
"katanya gak peduli, ternyata ditinggal pulang mau mewek" kali ini aku benar-benar punya kesempatan untuk terus mengerjai Siska.
Kak Maryam tetap menunggu di dalam kamar selama aku dan Siska memasukkan baju ke dalam lemari. Dia duduk di kasur ditemani dengan laptop yang menyala. Entah apa yang Maryam kerjakan.
Akhirnya selesai. Setelah aku dan Siska menyimpan kembali koper, kami bertiga segera mengambil wudhu dan solat berjamaah bertiga. Dengan kak Maryam berdiri di depan sebagai imam.
Usai solat, kami sudahi kegiatan malam ini dengan berbaring di atas ranjang. Ranjangnya luas, empuk, seprei nya juga halus, dingin. Sudah pasti akan membuat tidur kami semakin nyenyak.
_______________^_^______________
ekhm, ekhm, adakah yang sudah menunggu Kayra kembali hadir 👆👆👆
akan dimulai suasana baru di pesantren ya.
Oh ya, sebelum nantinya dapat protes dari pembaca, karena penggambaran suasana di pesantren yang tidak sesui, autho bisikin dulu sini
(author nya gak pernah nyantri, jadi biarkan mengarang bebas, ok) ✌
yang suka boleh tinggalkan jejak, like, vote, atau coment gitu
yang masih setia baca 😍😍 boleh banget, tunggu up selanjutnya
__ADS_1
yang tidak suka, semoga segera suka 😆😆