
Seperti yang tadi siang Dian sampaikan, malam ini dia akan benar-benar datang bersama abi dan umminya.
Berbeda dengan sebelumnya yang asal melamar di depan orang banyak, kali ini dia memberikan kepastian tentang kedatangan dia bersama orangtua nya.
Lepas solat isya aku sudah bersiap-siap, mengganti pakaian dengan baju yang lebih pantas. Karena biasanya di jam seperti ini aku sudah memakai baju dinas rumahan, yaitu baju tidur.
Sembari menunggu kedatangan Dian, aku masih saja melanjutkan chat bersama para sahabat, yang masih saja ramai sejak tadi sore. Kehebohan terjadi karena Melan turut mengirimkan foto saat Dian memakaikan cincin di jari ku. Sungguh ini di luar skenario.
Kehebohan tentang pertunangan Melan sudah aku sampaikan di grup sejak siang. Baru saja grup mulai sepi, gantian Melan yang memberikan kejutan dengan mengirim foto tersebut. Sehingga kehebohan kembali terjadi.
Sementara Siska, berkali-kali mengirimkan pesan juga telepon, menggerutu, karena diam-diam aku melangsungkan lamaran. Padahal sudah aku bilang kalau semua rencana Dian, dan aku tidak tau apa-apa.
Andaikan hari ini dia tidak ada acara temu keluarga, sudah pasti tiba-tiba muncul itu anak.
"assalamu'alaikum" suara ustad Amin membuat ku meletakkan handphone. Yang ditunggu datang juga.
Dengan senyuman yang sulit di tahan, aku berusaha keras untuk tetap bersikap normal. Menyembunyikan perasaan bahagia yang masih saja mengembang, seakan membawa ku terbang.
Papa, mama juga eyang mempersilakan Dian beserta keluarga untuk masuk. Sementara aku dan adek langsung menuju dapur untuk mengambilkan minuman dan kue.
Tak lama kemudian mama menyusul ke dapur juga.
"ma... mama, aku tunggu di belakang saja ya" pinta ku pada mama.
"kenapa begitu? " tanya mama.
"deg-degan ma... malu, senang, campur aduk rasanya" aku mencoba menjelaskan tentang perasaan ku saat ini.
Rasanya belum siap kembali berhadapan secara langsung dengan ustadzah Zia.
"anak mama sudah besar" mama justru mencium kening ku sekilas.
"yasudah terserah kamu saja. Sini biar mama ya h membawa nampan kue" mama mengambil alih nampan berisi kue dari tangan ku.
"ecie... kakak.... ciee" adek masih saja menggoda.
"mana Kayra mbk? " tanya ustadz Zia saat melihat yang kembali ke ruang tamu hanya mama dan adek. Dari meja makan, tempat ku duduk saat ini, aku bisa mendengarkan percakapan dengan jelas.
Lalu mereka semua berbasa-basi entah membahas apa saja.
Sementara adek kembali ke belakang dan saat ini tengah duduk bersama ku.
"kak..... dicari calon mertua tuh" adek memberi tahu. Padahal tanpa diberi tahu pun aku sudah mendengar.
Tak lama chat dari Dian yang masuk
"kok sembunyi"
Hanya ku baca, sampai beberapa menit aku belum juga membalas. Bingung mau dijawab seperti apa.
~ttrriinngg~ Dian
"katanya minta cepet di halalin, sudah datang malah ditinggal sembunyi âšī¸"
Aduh, keluar gak ya.... keluar..... gak... keluar.... gak... gak... keluar.....
Akhirnya aku memberanikan diri untuk keluar dan duduk disamping eyang saat Ustadz Amin mulai menyampaikan niat dari kedatangan mereka.
Akupun duduk, dan sesaat pandangan ku bertemu dengan pandangan ustadzah Zia. Beliau tersenyum, sekalipun aku merasa senyum itu tidak lagi setulus dulu. Saat semua permasalahan diantara kami belum terjadi.
Pembicaraan menjadi tidak setegang yang seharusnya, mungkin.
__ADS_1
Karena jawaban dari pinangan itu sudahlah pasti, diterima.
Kini yang menjadi fokus dari pembicaraan adalah, tanggal kelahiran, weton, karena bagaimana pun juga keluarga eyang masih menganut kalender Jawa.
Dan selanjutnya adalah mengenai rencana dari pernikahan itu sendiri.
Di sini mulai timbul keinginan yang berbeda antara ustad Amin, yang menginginkan pernikahan cepat, guna menghindari fitnah sekaligus menghindari dari perbuatan yang mendekati zina.
Sementara papa ingin aku menyelesaikan studi ku terlebih dulu. Minimal selesai S1.
Tak berhenti di sana, ustadz Amin masih mengajukan penawaran "kuliah setelah menikah kan masih bisa pak"
"iya, tapi tetap saja fokus itu akan terpecah. Saya mau Kayra fokus dulu pada pendidikan nya. Setelah itu mencari pengalaman, ya... minimal satu tahun lah. Sebelum pada akhirnya saya tarik dia di perusahaan sendiri.
"bagaimana Dian, kamu mengijinkan Khan kalau Kayra tetep mengurus perusahaan setelah menikah? " Papa menego terlalu jauh, menurut ku.
"pa, ini tentang pernikahan anak-anak. Kenapa jadi perusahaan yang dibawa-bawa" mama mengingat kan.
"begini ustadz Amin, sejauh ini ustadz dan ustadzah tau sendiri, kalau anak-anak jarang bertemu, jarang berinteraksi. Begitu kan anak-anak? " mama menatap ku bergantian dengan Dian.
"Jadi saya rasa tidak masalah lha kalau pernikahan anak-anak menunggu sampai Kayra lulus S1 dulu
Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa. Kita cukup tau dengan anak-anak kita, insya Allah mereka anak-anak yang taat pada agama" kali ini mama yang mengajukan penawaran.
Kali ini aku sangat setuju dengan pendapat mama. Sekalipun, naluri ingin cepat di halalkan, tapi akal sehat harus tetap berjalan. Lagi pula waktu satu tahun tidaklah terlalu lama.
Jika dulu kami mampu melewati jarak yang terpisah dengan waktu yang cukup lama, maka satu tahun tidaklah cukup berarti.
Itu dulu, sebelum kami saling memiliki rasa yang sama. Sebelum kami memiliki keinginan dan tujuan yang sama.
Namun kini, mampukah rasa itu di bendung untuk waktu yang cukup lama? Jangankan satu tahun, satu hari menahan rindu saja rasanya berat.
"bagaimana dengan kalian? " akhirnya eyang menanyai aku dan Dian.
Kami berdua sama tercengang. Rupanya menghadapi para orang tua tak semudah menghadapi perasaan kami berdua. Yang bisa saja berteriak dan meneriaki semaunya.
Aku tersenyum, begitupun dengan Dian.
"Apa Dian setuju jika menikah menunggu Kayra lulus kuliah? " mama yang bertanya.
"iya tante, tidak apa. Sekalian sambil saya menabung dulu" jawab Dian.
"tapi jika sebelum jangka waktu itu tiba, sudah terjadi suatu hal. Semisal kalian terlalu sering bertemu, maka harus bersedia untuk nikahkan secara siri terlebih dulu" ustadz Amin menekankan satu point tambahan.
Aku dan Dian saling menatap, dengan susah payah aku menelan ludah sendiri. Ini ancaman, atau peringatan?
"apa kalian setuju? " ustadzah Zia ikut berbicara kali ini.
"HARUS SETUJU. Itu satu-satunya jalan tengah.
Amanah sebagai orang tua itu berat loh ya, pak Wijayakrama" Ustadz Amin kembali menekankan.
Baiklah...baiklah, otak ku mulai mencerna. Apa yang di katakan Ustadz Amin memang benar.
Jadi pada intinya semua keputusan kembali pada kami. Cepat atau lambat pernikahan itu ya tergantung kami. Seberapa mampuh kami untuk menjaga amanah. Terutama amanah dari Allah.
Aku mengangguk, menandakan bahwa aku setuju dengan keputusan terakhir yang disampaikan oleh ustadz Amin.
Lalu Dianpun ikut menganggukkan kepala, tanda setuju.
"insya Allah, kami akan menjaga amanah itu dengan baik" jawab Dian.
__ADS_1
Kesepakatan sudah di dapat. Kini giliran orangtua yang kembali bicara soal hari pernikahan.
Aku beranjak dari ruang tamu. Ikut bergabung menonton drama Korea bersama adek.
Tak lama setelah aku pergi, Dianpun ikut bergabung bersama aku dan adek.
"hawh, di mana-mana drama Korea" begitu keluhannya saat sudah ikut duduk di depan TV. Maklum, drama Korea sedang booming di di negara kita đ
Sebenarnya aku sendiri tidak suka sih, adek kan yang jadi penggemar drama Korea.
"pasangan yang serasi" ucap adek.
"maksudnya" ucap ku bersamaan dengan Dian.
"nah, kan. Protes juga barengan" kata adek.
"apaan sih, gak jelas" keluh ku.
"kakak berdua tuh, Sama-sama gak suka drakor. Pasangan yang serasi Khan? "
Aku dan Dian bertatapan sesat lalu.....
"Johan ya yang suka drakor" kata Dian.
Kenapa tiba-tiba menyebut nama itu. Bahkan aku sudah hampir lupa dengan nama itu. Kalaupun aku ingat, yang ada hanya akan menyakitkan.
"ngapain sebut nama itu sih" kata ku sinis.
Kali ini Dian dan adek yang saling bertatapan. Tumben, seperti ada apa-apa saja.
"apaan sih kak Dian ini" dengan cepat adek menyambar.
Kini aku menatap Dian dengan tatapan penuh selidik.
"jangan gitu ah.
Aku cuma ingat kalo Johan suka nonton drakor" Dian menjelaskan.
Aku masih tetap Diam. Seketika dada ku terasa sesak, penuh dengan amarah jika mengingat kejadian terakhir bersama kak Jo. Kebaikan dia selama ini lenyap sudah. Kini yang tersisa hanyalah kebencian.
"maaf ya, aku gk sengaja. Reflek aja tadi, pas keinget" Dian kembali menjelaskan.
Suara riuh dari ruang tamu memenuhi ruangan. Pertemuan dua keluarga yang sebelumnya tidak pernah terjadi, tak menyangka bisa secair itu.
Ustadzah Ziapun seakan tak pernah terjadi apa-apa.
Pembicaraan mengalir begitu saja. Sementara waktu terus berjalan tanpa ada yang mampu menahan.
Akupun duduk terdiam menyimak tontonan yang sama sekali aku tidak mengerti. Begitupun dengan Dian dan juga adek.
Adek, sudah pasti dia menikmati tontonan nya. Bagaimana dengan Dian, apakah diam karena menyesal telah menyebutkan nama seseorang yang membuat suasana hati ku menjadi buruk secara tiba-tiba?
Sampai akhirnya ustadz Amin memanggil ku untuk pamit undur diri. Kami bertiga pun serentak berdiri dan ikut bergabung bersama yang lain.
Semua telah berpamitan. Dan di akhir kata ustadzah Zia memeluk ku "maafkan ummi yang pernah hilaf"
aku membalas nya dengan anggukan. Lalu tersenyum dan aku raih tangan ustadzah. Aku cium lekat-lekat tangan itu.
Tangan yang dulunya menjadi surga kedua bagi ku. Dan kini, itu akan benar-benar terjadi. Beliau lah surga kedua setelah mama,ibu mertua.
_________________TBC________________
__ADS_1