
Dengan langkah berat aku meninggalkan Dian dan beranjak mengikuti langkah kaki kak Jo.
Dia berjalan lebih dulu menuntun langkah ku untuk mengikuti nya menuju halaman samping gedung. Ada taman kecil di sana.
Aku masih berdiri dengan jarak lebih dari satu meter saat kak Jo sudah menghentikan langkah nya.
Beberapa saat kami berdiri pada posisi masing-masing. Tak ada yang mencoba mendekat. Desiran tak menyenangkan kembali menyerang ku. Apalagi dengan hanya kami berdua di sini. Entah rasanya aku ingin berlari atau justru memaki.
Sampai akhirnya kak Jo melihat ke arah ku. Dapat ku lihat jelas sosok yang dulu maskulin. Selalu berpenampilan rapi, rambut segar, aroma wangi. Dengan sekuat hati aku tetap bertahan saat langkahnya mulai mendekat.
"selamat Kayra" dengan nada berat akhirnya kata itu lolos dari bibir nya.
"atas pernikahan...
Semoga kebahagiaan selalu menyertai kalian" sejenak kak Jo memalingkan muka. Setelah sempat kalimat nya tertahan.
Aku cukup tau, pasti berat untuk mengatakan hal itu. Guratan kesedihan nampak jelas di sana. Tapi aku bisa apa?
Ketika rasa amarah itu berubah menjadi iba. Hati ini terlalu lemah untuk menyaksikan seseorang yang tengah terluka perasaan nya.
Sejahat inikah aku????
Aku mencoba menahan air mata. Pukulan yang tadinya ingin ku lontarkan berubah menjadi sebuah pelukan. Aku masih ingat setiap nasehat yang keluar dari mulut mama. Berlapang dada, mencoba memaafkan semua.
Aku tak boleh menjadi mahluk egois yang sudah mendapatkan kebahagiaan namun masih saja menyimpan kebencian pada dia yang hatinya telah ku lukai.
Sekali pun aku tak ingin. Sekali pun ini bukan salah ku. Takdir Tuhan siapa yang bisa memilih?
Kini kami berpelukan dengan saling menumpahkan air mata. Mencoba menguapkan segala rasa yang menyiksa jiwa. Aku tak peduli lagi apakah ada orang lain yang mendengar, atau pun melihat. Bisa ku rasakan, air mata kak Jo pun membasahi pundak ku. Ya, bisa ku rasakan baju ku di bagian pundak terasa basah. Meskipun tangisan kak Jo tidak terdengar seheboh isak tangis ku.
"Kayra maaf"
"maafkan aku"
"aku minta maaf"
"aku salah"
"aku minta maaf"
"maaf Key"
__ADS_1
Berulang kali kata maaf itu di ucapkan dengan penuh penekanan. Pelukan erat yang seakan dia takut akan terjatuh.
Seluruh atmosfer terasa memanas, padahal kami sedang berada di tempat terbuka.
Kata demi kata yang keluar dari mulut kak Jo, menyiratkan kerapuhan nya saat ini. Jika aku ikut dalam kerapuhan ku juga, kapan kami akan keluar dari kondisi ini?
"sudahlah kak. Aku sudah memaafkan.
Sekali pun melupakan itu bukanlah hal mudah.
Kita tutup semua hal tentang kemarin.
Mari kita coba memulai semua dari awal. " kata ku penuh penekanan, menahan isakan.
"aku malu. Sama kamu, orang tua kamu, orang tua ku, bahkan pada diri ku sendiri"
"apa yang kakak lakukan mungkin memang salah. Tapi tidak ada yang salah dengan sebuah perasaan. Hanya saja, sekarang aku sudah SAH menjadi istri orang. Takdir tidak membuat kita berjodoh. Jadi tolong, lepaskan lah aku. Itu akan lebih baik untuk kita bersama" perlahan aku mengurai pelukan kak Jo.
Tidak ada penolakan, hanya saja kini ia berganti menggenggam erat tangan ku.
"iya Kay. Aku tau itu. Dan itu sudah pasti. Aku akan berusaha mengubur dalam-dalam perasaan yang ku punya. Bahkan memikirkan kamu saja sekarang aku tak berhak"
Rupanya Dian telah selesai mengganti pakaian.
"aku memang meminta kamu untuk berbicara dengan Kayra. Tapi bukan untuk menyentuh nya lagi" dengan langkah cepat Dian menghampiri kami. Lalu di genggam nya sebelah tangan ku.
"iya, tau. Dia sudah punya mu, sorry" dua lelaki itu saling berbicara dengan nada sinis.
Akhirnya kami duduk bertiga. Dengan Dian sebagai pendengar setia sekaligus sebagai penjaga. Bahkan dia sama sekali tidak melepaskan genggaman tangan ku sekali pun wajahnya berpaling menatap hal yang lain.
Aku dan kak Jo saling berbicara. Dia kembali mengklarifikasi tentang kesalahan nya di masa lalu. Kurang lebih seperti apa yang pernah di ceritakan mama pada ku. Hanya saja ini lebih dari sisi nya.
Satu sisi aku marah, namun di sisi lain aku bisa memaklumi. Semua memang tidak akan mudah, saat kita harus melupakan seseorang namun justru dia semakin mendekati.
Ku akui jiwa besar kak Jo yang masih mau menampakkan hidungnya di acara pernikahan ku ini. Pasti itu sulit. Pantas saja sejak tadi dia menghilang. Namun aku tidak berniat untuk menanyakan hal tersebut. Takut berimbas pada perasaan yang lain.
Jika dia saja sudah berbesar hati untuk menerima semua Takdir Tuhan ini, maka tak ada lagi alasan bagi ku untuk tetap menyesal kan.
Menyesali pada diri ku sendiri yang telah memberikan luka pada orang lain. Karena pada dasarnya kita tidak akan bisa membahagiakan setiap orang. Karena itu bukanlah tugas kita.
Setelah perbincangan panjang antara aku dan kak Jo, kami bertiga bersalaman. Saling berpelukan sejenak.
__ADS_1
"ingat ya, ini hanya sebagai tanda bahwa kita semua tetap sahabat. Antara aku dan kamu. Juga antara kamu dan Kayra. Awas aja kalo lain waktu aku lihat masih mepet-mepet sama Kayra. Apalagi berani menyentuh dia" Dian memberikan ultimatum saat kami tengah saling merangkul.
Untuk pertama kalinya aku mendengar langsung ultimatum Dian pada kak Jo. Sedekat apapun mereka, hingga sebuah persahabatan yang masih tetap di perjuangan. Ternyata masih tetap saja ada sisi posesif nya.
Itulah perasaan manusia. Kompleks. Nano nano.
Setelah sekian panjang jalan yang ku lalui. Sekian banyak perasaan yang ku rasakan. Pada akhirnya aku merasa lega. Semua kembali membaik saat aku memulai sebuah fase kehidupan baru.
"berani pulang gak. Hati-hati sampe rumah di jadiin sate kamu ntar" kata Dian pada kak Jo.
"kok bisa gitu? " tanya ku yang tak tau maksud dari ucapan Dian.
"iya, dia udah ketahuan kalo habis kurang ajar sama kamu. Tadi pagi mama sempat cerita ke mama dia, sebelum acara di mulai" kata Dian. Kini dia lebih rileks, tangan kami tidak lagi saling bertautan.
Aku menelan ludah dengan kasar. Ternyata selama ini benar-benar tertutup rapat semua tentang aku dan kak Jo.
Namun tak lama aku menghela nafas lega. Karena kini semua sudah terlewati disaat kedua orang tua kami tau. Tak bisa ku bayangkan jika apa yang terjadi antara aku dan kak Jo, membuat dua keluarga yang sudah seperti saudara berseteru.
Aku tersenyum lega menatap Dian. Lalu tangannya mulai bergerak meraih pundak ku. Mengusap nya berulang dan mendekat kan kening ku untuk di kecup nya sekilas.
"aku tau kalian sudah gak tahan berlama-lama di sini" kak Jo bangkit dan berpamitan.
"thanks ya bro. Aku berhutang banyak sama kamu. Titip Kayra dan........ berbahagialah" mereka saling berpelukan.
Bisa ku saksikan interaksi dua lelaki yang dulu berseteru untuk ku, kini kembali menghangat. Aku pun tersenyum bahagia untuk persahabatan mereka.
Lalu kami bertiga pun kembali ke dalam gedung. Karena semua acara telah selesai. Keluarga pun telah selesai merapikan kembali semua barang. Tinggal tim WO yang sedang sibuk dengan bagian mereka.
Kami kembali di ke dalam gedung dan di sambut oleh dua mama mama yang tengah tersenyum sumringah.
Siapa lagi kalau bukan mama dan mama nya kak Jo. Rupanya sudah dari tadi mereka memperhatikan kami bertiga yang tengah duduk di luar.
Aku dan kak Jo sama-sama di hujani ciuman oleh kedua mama kami. Lalu bergantian mama mencium kak Jo dan aku di cium oleh mama nya kak Jo.
Lalu mereka berdua meraih tangan kami dan menyatukan nya.
"kita semua keluarga" kata mama, sembari menarik Dian untuk bergabung dalam keintiman kami.
Kami pun saling memandang dan tersenyum.
____________________^_^__________________
__ADS_1