KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Dulu dan Sekarang


__ADS_3

Pagi ini mobil ku tidak langsung melaju ke arah kampus, juga tidak ke arah rumah kak Jo. Tujuan utama ku adalah rumah.


Selain kangen sama masakan mama, aku juga ingin mendiskusikan tentang perkembangan kondisi kak Jo.


Aku sadar jika sebenarnya ini bukanlah tanggungjawab ku, seandainya saja tidak ada hubungannya persahabatan antara mama dan orang tua kaka Jo, mungkin aku akan lebih mudah untuk abai.


Aku hanya bisa selalu berdo'a, semoga aku mampu dalam mengemban semua amanah yang berada di pundak ku saat ini.


Disisi lain aku hanyalah manusia biasa, yang sebelumnya bahkan aku sesosok gadis kecil yang manja,penakut, selalu berlindung di ketiak sahabat, siapa sangka jika saat ini justru aku mengemban beberapa amanah yang itu sangat tidak mudah.


Berkat Siska, musuh yang kemudian menjadi sahabat sehingga mampu membuat aku bertransformasi hingga sejauh ini.


Dan kini apa yang terjadi, justru aku yang sering kali meninggalkan dia karena berbagai macam kesibukan ku. Sementara dia, sekarang berubah menjadi gadis yang lebih agamis. Sekalipun dari segi sikap tetaplah suka bertingkah. Bukan Siska namanya kalau tidak suka bicara asal, ceplas ceplos.


Tapi bukan dari itu semua lantas kita tidak patut untuk berjilbab bukan?


Karena berjilbab adalah kewajiban bagi seorang muslimah. Sementara watak dan sifat merupakan keturunan mungkin, kebiasaan, akibat pola asuh, atau mungkin faktor yang lainnya.


"assalamu'alaikum ma" ucap ku begitu menginjakkan kaki di dalam rumah.


Sepi, tidak ada yang menyambut ku. Selain aroma-aroma yang menggelitik hidung dan perut.


Aku sampai rumah hampir jam enam pagi. Dimana jam-jam seperti ini mama masih menyibukkan diri di dapur. Sementara adek, pasti sedang bersiap untuk pergi ke sekolah. Dan papa, sedang ada di kamar mandi mungkin. Pembantu pun pasti masih berkecimpung di kamar mandi dengan setumpuk pakaian kotor.


Tujuan utama ku adalah dapur, menyapa mama. Dan sudah pasti, aku temukan mama sedang berdiri di depan kompor dengan pakaian dinas terbaiknya.


"waalaikumsalam. Sudah cerah sekali anak mama sepagi ini? " sapa mama,tak lupa dengan kecupan hangatnya. Sekalipun tangan belepotan dengan bumbu-bumbu, kecupan kasih sayangnya tetap menyambut ku.


"masak apa ma, Kayra sudah lapar" aku berlari kecil ke meja makan, mencicipi makanan apapun yang sudah ada di sana. Hal yang tidak bisa aku tahan lagi untuk tidak aku lakukan.

__ADS_1


"cuci tangan dulu kakakkkkkk" eh, si ratu kesehatan berteriak dan mulai menuruni tangga.


"iya-iya, pake sendok ini juga" seketika itu juga keheningan terpecahkan.


"iwh, adek. Kenceng sekali peluknya. Gak bisa nafas nih" belum juga selesai mencuci tangan, dapat pelukan mendadak dari arah belakang.


"lagian, kakak. Datang bukan nengok adeknya dulu, malah tengokin masakan" protes adek.


"yaaa tadi kan habis tengok makanan mau terus naik ke kamar maunya. Tapi kamu udah muncul duluan dek"


Kesibukan pagi di meja makan yang sangat aku rindukan. Riuh penuh cinta yang membuat aku merasakan kenyang kasih sayang, sebelum pada akhir nya kenyang makanan.


Bagaimana tidak, sambil bantu mama menyiapkan masakan ke atas meja, ada saja makanan yang di suapkan ke mulut. Tanpa aku minta pun mama sudah hafal, setiap kali masakan akan matang, tangan mama sudah terulur dan mulut ku siap untuk mencicipi.


Sementara si adek, dia mendapat bagian menyiapkan buah. Entah sengaja atau bagaimana, dia selalu mendapatkan potongan yang tak seimbang di akhir. "daripada bikin jelek tataan di piring, nih buat kakak aja" dia bilang seperti itu. Dan seketika itu juga tangan dia terulur di depan mulut ku. Bagaimana aku menolak?


Sampai pada akhirnya papa keluar dari kamar bersama mama. Sudah dengan baju kerja masing-masing dan aroma parfum yang tidak pernah berubah. Kami semua duduk manis untuk sarapan.


"kakak nanti ke kampus jam berapa" tanya papa sembari menunggu mana yang sedang menyiapkan makanan ke piring.


"agak siang sih pa, Kayra gak ada jadwal ngasdos"


"horre, aku boleh dong minta antar ke sekolah kak" si adek menyela pembicaraan.


"tumben, gak bawa motor sendiri. Gak ah, sekali-kali biar dianterin sama mobil". Sejak awal dia masuk SMA memang tidak pernah diantar menggunakan mobil. Bukan karena mama membedakan antara aku dan adek, tapi mau adek sendiri yang pergi dengan ojek saja. Dia bilang lebih cepat. Karena dia sering berangkat mepet.


"mau barengan sama papa? "


"ish, papa basa-basi. Kita kan arahnya berlawanan"

__ADS_1


"iya deh, iya. Kakak antar"


Sesaat suasana hening. Menikmati isi piring masing-masing.


Mama terbiasa memasak dengan banyak menu, karena kesukaan kami memang masing-masing.


"Kayra bawa bekal ya nanti ma" sayang kalau sisa udang asam manis gak ada yang habiskan.


"ok, mama siapkan"


"sudah yok kak, udah mepet nih"


"dasar adek saja yang kebiasaan berangkat mepet" hardik mama.


Setelah berpamitan kami pun segera berangkat.


Melewati jalan-jalan kecil untuk menghindari macet, supaya si adek kesayangan tiba disekolah tidak terlambat.


Sesuai target, mobil berhenti di depan gerbang tepat saat pak satpam akan menarik pintu gerbang untuk di tutup. Itu artinya bel baru saja berbunyi. Tak disangka jadi ratu telat si calon dokter.


"yaudah buruan sana"


"makasih kakak ku sayang" teriaknya sambil berlari melewati gerbang.


Beruntung si pak satpam masih mengingat wajah ku. Pak satpam mengenal ku dengan baik sewaktu aku masih di SMA dulu. Akhirnya kami mengobrol sebentar.


Tak lama aku pun pergi meninggalkan area sekolah. Sebelum ada guru yang melihat dan mengenali aku, bisa lebih lama lagi nanti aku di sekolah.


_____________TBC____________

__ADS_1


__ADS_2