
Memiliki suami yang sudah lulus sarjana lebih dulu ternyata enak juga ya. Ditengah kesibukannya bekerja masih saja menyempatkan waktu untuk membantu ku dalam beberapa hal. Dikala fikiran ku sudah buntu tak mau bekerja lagi, ada suami yang siap menyegarkan pikiran lagi.
Mulai dari membantu mencarikan buku referensi, membantu mengetik, auditing, membuatkan minuman penyegar, pokoknya menyenangkan sekali lah mengerjakan skripsi ditemani suami.
Sampai pernah suatu ketika, pulang ke apartemen dengan wajah masam gara-gara disaat waktunya rapat dokumen yang dibawa ternyata salah. Yang masuk tas kerja justru salah satu buku referensi ku.
Sebenarnya ikut merasa bersalah sih, itu terjadi pasti karena dia ikut menemani ku begadang semalaman, sehingga pagi telat bangun. Dan tidak fokus saat menyiapkan perlengkapan kerja.
Setelah kejadian itu ternyata tidak membuat Dian berhenti untuk membantu ku. Sampai sebesar itukah rasa sayangnya pada ku?
"sudah sayang, istirahat aja. Aku kerjain sendiri bisa kok. Percaya dewh, aku pasti bisa selesaikan sendiri"
"gak masalah. Aku sudah membawa kamu kesini, membatasi kamu dari kampus, pasti kamu bosan sekali setiap hari di rumah sendiri. Harus mikirin skripsi dua puluh empat jam"
Aku berusaha menahan celotehan, ternyata dia sadar jika sudah merenggut setengah dari kebebasan ku. Aku hanya menyebikkan bibir.
Tapi tak apa, anggap saja ini bentuk pengabdian seorang istri kepada suaminya.
"gak perlu merasa bersalah gitu dewh, katanya biar bebas pacaran tiap saat" sindir ku.
Seketika aura ruangan yang redup berubah menjadi panas. Sepertinya ucapan ku justru membangunkan serigala yang tengah tidur.
Suasana yang masih sore berubah menjadi gelap gulita. Dengan sigapnya sebelah tangan menyibak gorden yang masih menjulang tinggi. Dan sebelah tangan lagi memeluk erat pinggang ku. Seakan takut jika aku akan melarikan diri. Padahal sudah jelas itu tidak akan terjadi. Sebab dialah pelarian terahir ku.
Sore itu kembali memberikan kenikmatan pada kami. Kenikmatan yang berhasil kami teguk berkali-kali. Entah kenapa rasanya sama-sama menjadi candu untuk kami. Bagaikan obat yang menyehatkan jiwa raga, menghapuskan segala luka yang pernah ada. Membasuh dahaganya cinta yang tertahan sekian lama. Entah dengan kalimat apa lagi ku lukiskan kata, rasanya sudah habis semua. Hanya kucupan demi kecupan yang kini mewakili segala rasa. Sebahagia inikah saat bisa bersamanya? Harusnya aku tak pernah menyesali segala kepedihan yang dulu pernah terjadi, jika pada akhirnya akan berbuah semanis ini. "maafkan aku Tuhan, jika pernah berburuk sangka atas takdir Mu".
Semenjak tinggal di apartemen ini, waktu menjadi tak jelas lagi bagi kami. Bisa saja bangun dan tidur sewaktu-waktu, bahkan berendam tengah malam berduapun pernah kami lakukan. Entah Dian atau aku yang sudah gila, yang pastinya kami sama-sama mengingkan. "Seindah ini ya pacaran halal itu" seringkali ucap ku pada Dian juga pada diri ku sendiri. Rasanya jadi tidak menyesal, menikah muda. Sekalipun dunia ku banyak yang terenggut begitu saja. Termasuk para fans yang menyingkir secara serentak, hihiihi.
Dunia ku kini benar-benar teralihkan.
Dunia setelah pernikahan memang seindah itu, sampai-sampai aku sering mendapat protes dari para sahabat. "Siang malam sibuk sama skripsi, atau siang malam sibuk sama suami?" protes Siska.
Mereka belum tau saja, jika waktu ku tersita dua puluh empat jam untuk belajar, belajar dan belajar. Belajar jadi ibu rumah tangga baru, maksudnya. Belajar masaklah, belajar bikin kudapan, belajar rapiin rumah, belajar berkebun, belajar....belajar apa lagi ya?
__ADS_1
Intinya "belajar" gitu deh. Belajar bukan soal pelajaran sekolah aj khan?
"Harusnya kamu gak perlu lakuin semua itu sendiri sayang, kita kan bisa sewa pembantu. Kalau kamu gak mau ada pembantu setiap hari, minimal seminggu sekali lah.
Kalau kamu gak nyaman sama orang baru, kita bisa pakai pembantu di rumah mama atau di rumah ummi. Kamu gak harus melakukan semua itu sendiri"
Kurang lebihnya seperti itulah celotehan suami, hampir setiap hari.
Menikmati masa pengantin baru tidak harus dengan makan tidur saja khan?
Belajar dari mama, menjadi seorang istri plus ibu yang multitalenta itu sepertinya menyenangkan. Jadi yah, bukan hal buruk juga kan jika aku mencoba belajar banyak hal. Selagi masih ada waktu untuk belajar. Anggap saja sedang mengajukan proposal pada Allah, biar segera dikasih amanah anak 😉
"hari ini ada rencana kemana yang?" tanya Dian begitu keluar dari kamar dengan baju dinas kerja yang sudah harum semerbak mewangi.
"mau ke percetakan. Alhamdulillah sudah selesai, semoga tidak ada refisi" jawab ku sambil menyiapkan sarapan ke dalam piring yang sedang ku pegang.
Setiap hari aku memang memasak sendiri, sekalipun sejauh ini masih dibuatkan bumbu-bumbu oleh mama ataupun ummi. Kecuali jika kami membuat janji untuk makan diluar.
"ah, masih lebih hebat kamu. Mantan petinggi BEM" goda ku.
Bukan karena alasan, karena sampai sejauh ini nama Dian masih saja kerap terdengar di telinga ku saat aku melintasi area kampus.
"kamu juga hebat sayang. Bagi ku kamu yang paling hebat" morning kiss mendarat lagi dan lagi di pagi ini. Bukan hanya pagi ini saja sih, melainkan setiap hari.
"heemmpp....masakan ny sedap. Se-sedap bibir kamu" lanjutnya sambil berbisik di sebelah telinga.
"halah, gombal. Yang bikin sedap itu racikan bumbu mama sama ummi.
Udah awh, laper. Daritadi perutnya sudah bunyi"
Bahkan bukan hanya morning kiss saja yang menjadi kebiasaan kami selama di apartemen, melainkan makan sepiring berdua. Tidak jarang juga makan disuapi suami, rasanya seperti mimpi saja. Terasa seperti ABG labil yang sedang pacaran saja. Jadi suka senyum sendiri kalau ingat moment berdua.
"yach....yang. Kalau skripsi kamu sudah selesai, gak ada alasan lagi donk buat tinggal berdua di apartemen terus-terusan" gerutu Dian.
__ADS_1
"sayang, plis yah. Kita ini kan sudah nikah, bukan pacaran lagi. Jadi tetep ada hak lah buat kita tinggal dimana aja" jawab ku sambil membereskan meja makan.
"dan bebas nglakuin apa aj. Iya kan?" sambung Dian.
"iya, tapi yaaa asal tau tempat aja" aku menyodorkan satu gelas air putih.
"orang yg lagi bucin itu banyak hilafnya yang. Suka lupa tempat" ku lanjutkan kalimat ku sambil berjalan kesana kemari.
"mau berangkat sekarang juga? Barengan yuuk. Apa mau di antar ke kampus sekalian?" Dian menawarkan.
"duluan ajalah. Aku berangkat sendiri.
Mau ngapain ke kampus yang, tebar pesona ya?" perasaan aku tidak menyebutkan nama kampus sejak tadi.
"kan anterin sayang"
"ke per-ce-ta-kan kalo lupa. Bukan kampus ya"
"iya iya. Kemana ajalah itu. Mobil kamu kan ada di rumah mama, kalo lupa"
Oh, astagfirullah. Bagaimana bisa aku lupa?
Efek terlalu lama berdiam diri di dalam kamar mungkin ya.
Aku menanggapi Dian dengan tersenyum.
"pesen ojek online ajalah kalo gitu"
"TIDAK! Lebih baik aku antar daripada pergi sama orang lain"
Keluar sudah jiwa protektifnya. Dan sudah pasti tidak ada tawar menawar lagi kalau sudah begini.
___________________^_^__________________
__ADS_1