
Rahardian POV
Perasaan itu terkadang begitu rumit untuk di mengerti.
Antara kemauan, penolakan, hasrat yang bisa saja tak mampu ku bendung jikalau kutatap senyum itu.
Sementara aku hanya tau satu hal, perasaan itu belumlah halal.
Bukan aku tidak peduli dengan semua laki-laki yang mencoba menggoda mu, mengganggu mu untuk sekedar ingin mencari perhatian mu.
Mengetahui itu membuat ku benar-benar tidak tenang berada di kejauhan sana.
Sekalipun dengan dekat aku hanya bisa diam, setidaknya aku tau bahwa kau tidak pernah membiarkan mereka menyentuh hidup mu.
Sampai aku dengar sendiri dari ucapan mu, bahwa kau telah mengizinkan seseorang menyentuh hidup mu, hati ku kembali berkecamuk tak menentu.
Terasa begitu menyakitkan saat mencoba melawan.
Mencoba mengikuti, akupun tidak tau kemana arus kan pergi membawanya.
Kiranya ku paksakan, mungkin tidak akan berjalan sesuai dengan yang aku harapkan.
Hingga ahirnya ku putuskan untuk menunggu dalam do'a.
Diam menghadapi segala kebisingan yang terjadi.
Namun yakinlah, kau tetap menjadi gadis kecil ku yang dahulu.
Biarlah ku tutup rapat segala ambisi ini, semoga keegoisan tak lagi menyakiti mu.
Namun bukan pula aku menyerah, aku akan tetap menjaga mu dalam do'a.
Tak seharipun terlewatkan untuk menyebut nama mu dalam do'a ku.
Semoga itu lebih baik, ketika ku gantungan segala rasa ku pada Dia sang pemilik hati.
__ADS_1
Ku titipkan segala rindu pada Nya.
Ku bisikkan segala keluh pada Nya.
Semoga kau akan terjaga, kiranya kelak kau yang akan mendampingi hidup ku.
Ku tepis segala ambisi, ketika aku menyadari itu hanya akan menyakiti mu.... juga aku.
Waktu terus berjalan, kini usia ku tak lagi anak-anak dan aku tidak bisa membiarkannya terbuang sia-sia begitu saja.
Yah, aku sudah gagal menjadi apa yang Ummi inginkan.
Entah setan apa yang sudah mengganggu ku, sampai sampai ingatan tentang gadis kecil itu lebih menguasai, dibandingkan hafalan al Qur'an yang selama ini ku perjuangkan.
Semakin ku ikuti semakin menyiksa perasaan ini.
Terlagi saat aku tau Ummi menuding dia sebagai kesalahan, atas kegagalan ku.
Memang tak seharusnya, dia hanyalah gadis kecil yang tidak tau menau tentang apa yang aku mau.
Bahkan untuk berhadapan dengannya saja aku tak mampu.
Aku takut, ambisi ku ini tak lagi mampuh terbendung saat menerima sambutan dari nya.
"maaf... maaf... maaf"
rasanya ingin sekali ku cetuskan kata itu.
Tapi dengan begitu akan terbuka jalan kedekatan kembali,
aku takut.....
aku takut penentangan akan menyertaj kebersamaan kita.
Aku hanya berfikir, saat ini yang harus aku lakukan adalah 'bangkit'
__ADS_1
bangkit dari segala keterpurukan.... agar bisa kembali memperjuangkan mu, gadis kecil ku.
Setiap ucapan adalah do'a.
Dan selalu ada do'a harapan baik disana
semoga kelak kita ditakdirkan hidup bersama.
Mungkin belum saat ini, kita sama-sama belum siap.
Tapi aku berdo'a, pada saatnya nanti.....
akulah yang akan mengucapkan ijab bersama mu.
Biarlah saat ini kita sama berjuang, melawan segala jeritan di hati.
Sekalipun hanya menatap mu dalam diam, mencuri pandang...
itu sudah cukup untuk memberi ku semangat, memperjuangkan mu dalam do'a ku.
Maafkan aku yang terlalu pengecut
Maafkan aku yang mungkin menyakiti mu
Maafkan aku.......
Mudah-mudahan kebencian mu tidak lebih besar dari keinginan mu untuk kita tetap bersama seperti di waktu kecil dulu.
"ku tatap foto kusam masa kecil dahulu. Saat kamu memakai topi dari daun.... hasil karya pertama ku yang guru ajarkan di TK.
Semoga kelak aku pula yang akan memasangkan cincin di jari manis mu.
Tak terasa air mata ku menetes. Yah, aku memang terlalu pengecut untuk mengutarakan itu semua. Aku terlalu takut untuk mengembangkan rasa ini.
Kiranya belum saat ini, semoga kelak kita bersama sebagai KEKASIH HALAL, Kayra Putri Almahira.
__ADS_1