
Rahardian POV
Akhirnya berani juga Johan menampakkan wajahnya di depan Kayra.
Aku diam, ingin melihat seberapa besar dia bisa menepati janjinya.
Tak di sangka, masih saja timbul ketakutan dalam diri Kayra. Brengsek memang si Johan, bisanya dia membuat rencana yang bisa memberikan pukulan berat pada Kayra. Awas saja jika sampai Kayra mengalami trauma. Kata maaf tidak akan cukup.
Bagaimana pun aku lelaki yang memiliki sifat marah. Apalagi wanita yang selama ini sangat aku sayangi di buat menangis sejadi-jadinya. Perhitungan itu pasti aku lakukan.
Esok harinya setelah aku mendengar cerita Kayra, aku langsung mendatangi Johan ke rumahnya.
Kebetulan sekali saat aku datang Johan sendiri yang membuka kan pintu.
Ada seorang wanita yang saat itu sedang duduk bersama nya di bangku teras, dan aku sangat tau bahwa itu adalah Nahla, adik Kayra.
Tidak heran jika ada Nahla di rumah Johan, aku sudah tau seperti apa kedekatan kedua keluarga itu. Sehingga aku biasa saja.
Hanya saja yang terkadang muncul di benak ku, tau tidak yah Nahla dengan apa yang terjadi pada Kayra?
"hay" Johan menyapa ku singkat.
Tanpa basa basi aku segera mengangkat kerah bajunya. Dan kepalan tangan hampir saja mendarat di wajahnya, namun aku urungkan.
Aku sangat yakin dia sudah tau maksud dari kedatangan ku.
"santai bro, santai" ucapnya.
"apa, santai? setelah apa yang loe lakuin ke Kayra?"
"aku tau kamu pasti akan datang Dian" Johan melepaskan genggaman tangan ku pada bajunya.
"ayo ngobrol di dalem" dia menuntun ku untuk mengikuti nya.
Kami bertiga berjalan menuju taman belakang. Bertiga, karena Johan mengajak serta Nahla.
Sementara aku dan Nahla, hanya saling tersenyum sekilas. Hubungan ku dengan keluarga Kayra yang lain tak jauh berbeda, tidak terlalu dekat. Bahkan bisa di bilang cuek.
"sebelumnya aku minta maaf" ujap Johan. Dan aku hanya tersenyum kecut mendengar nya.
"harusnya maaf itu buat Kayra. Gak berlaku buat gua.
Loe tau, sampe berapa hari Kayra nangis gara-gara perbuatan loe?! " aku kembali naik pitam mendengar ucapan maaf dari Johan yang begitu enteng nya.
"Dian, kendalikan diri kamu. Ada Nahla" Johan memberi isyarat.
Sepertinya kedatangan ku tidaklah tepat, tapi sudah kepalang basah. Tanggung.
__ADS_1
"setelah apa yang kamu lakuin sama Kayra, kamu masih setenang ini?
Dan kamu Nahla, apa kamu sudah tau tentang semua ini? " kali ini aku menatap Nahla.
Nahla mengangguk.
Gila, adiknya sendiri tega mempermainkan hidup kakanya.
"GILA ya kalian" spontan kata itu terucap.
"bukan gitu Di, aku gak segila itu buat nyakitin Kayra.
Kamu lupa bahwa selama ini akulah orang yang selalu berusaha menjaga dia, melindungi dia, membahagiakan dia, bahkan disaat kamu dan ibu mu yang menyakiti Kayra!
Kamu pikir aku hanya pura-pura sayang sama Kayra, setelah penantian ku selama ini.
Kamu pikir aku bahagia, lihat Kayra pergi dengan air mata?
Kamu pikir aku sengaja lakuin itu buat ***** ku semata?
Aku gak se-bejat itu Di. Kamu cukup tau aku bukan? kita bersahabat lebih dari setahun" setelah apa yang dia lakukan, masih saja dia mengatas namakan persahabatan.
"terus... atas motif apa loe lakuin itu semua sama Kayra? apa untungnya buat loe" hati ku masih saja memanas, apalagi tau jika Nahla ikut terlibat atas kejadian ini.
"kak Dian, tenang kak. Jangan sampai orang tua kak Jo dengar misal tiba-tiba datang" dan, semakin panas dengan pembelaan dari Nahla.
"kamu juga Nahla, bisa ya permainin perasaan kakak kamu sendiri"
"gak kayak gitu! Makanya dengerin dulu" Johan membela Nahla.
"aku cukup sadar dengan apa yang aku perbuatan kemaren sama Kayra. Aku bukan cowok brengsek Di.
Aku lakuin itu, supaya Kayra menjauh"
"menjauh kamu bilang, setelah apa yang Kayra lakukan buat kamu selama ini? " Lagi-lagi aku dibuat heran dengan apa yang Jo katakan.
"kak Dian, tenang dulu kak" Nahla, dia bisa setenang itu mengetahui kakak nya di permainkan oleh Johan.
"semua karena aku tau, Kayra terlalu baik. Dia orang yang keras kepala dalam hal kebaikan. Dia tidak akan berhenti berjuang sampai apa yg ditujunya berhasil.
Dan kamu tau, apa artinya itu?
Dia akan terus mendatangi aku. Mungkin aku bahagia untuk sesaat, dan kembali bersemangat. Tapi itu sama saja aku hidup dalam mimpi. Semua terasa indah. Namun saat aku bangun, semua akan hilang begitu saja. Karena hati dia untuk kamu, dan pilihan hidup dia bersama kamu.
Apa kamu tau seperti apa hancurnya hati ku?
Aku tidak mau terus hidup dalam bayang-bayang. Aku memang butuh waktu untuk menyembuhkan luka ku, tapi dengan terus adanya Kayra di dekat ku, luka itu tidak akan pernah sembuh.
__ADS_1
Aku hanya ingin Kayra menjauh, aku ingin Kayra membenci ku" ucapan Johan berhenti.
"iya kak, itu semua juga atas saran ku. Membuat kak Kayra membenci kak Jo dengan sendirinya.
Tapi aku tidak tau, jika kak Jo akan menggunakan cara itu". Nahla melanjutkan penjelasan Johan. Namun nada suaranya melemah saat di akhir kalimat.
Sementara aku hanya bisa diam mencerna perkataan Johan. Antara iya dan tidak untuk mempercayai ucapannya.
Tapi memang ada benarnya juga apa yang dia katakan.
"apalagi kedatangan dia atas permintaan mama. Sudah pasti dia tidak akan mudah untuk pergi begitu saja, jika aku hanya menyuruhnya dengan kata-kata.
Tenang aja, aku gak akan pernah lagi jadi bayang-bayang kebersamaan kalian.
Tapi ingat, kebahagiaan Kayra adalah MUTLAK. Sekali saja kamu menyia-nyiakan dia, aku orang pertama yang akan mengambil nya dari kamu! " Ada penekanan di akhir kalimat, bahkan sampai Johan mengangkat kerah depan kemeja ku.
"urusin itu ibu kamu, sebelum membawa Kayra terlalu jauh" tangan Johan terlepas. Dan aku faham, ada kemarahan Johan di sana.
Lalu Johan pergi meninggalkan aku dan Nahla. Mugkin dia butuh waktu untuk kembali mengatur perasaan. Sebagai sesama lelaki, aku akui. Dia cukup gentle untuk mengakui sebuah kekalahan.
"Kak Dian, maafin aku ya. Dan tolong, jangan kasih tau kak Kayra tentang semua ini.
Aku tau mungkin dia sangat terluka atas hal ini. Tapi kak Dian lah obatnya.
Aku cukup tau kak Kayra, sudah cukup kesedihan nya selama ini. Kak Dian kan yang selalu bikin kakak aku kaya gitu. Tapi kak Kayra gak pernah bisa benar-benar benci sama kakak. Karena di hati kecil dia ada cinta.
Dan saat kak Kayra akan mulai mendapatkan kebahagiaannya sendiri, masih saja ada bayang-bayang nama kak Jo dalam benak dia.
Dia takut menyakiti perasaan kak Jo. Tapi dia juga tidak bisa lepas dari kak Dian.
Aku rasa sekarang waktu yang tepat kak. Perjuangkan kak Kayra dihadapkan keluarga kakak, jika memang kak Dian sayang sama kak Kayra.
Soal kak Jo, InsyaAllah aku bisa mengatasi. Hanya saja selama ini orang tua kami menganggap aku ini 'kecil'. Dan anak kecil tidak tau apa-apa. Sehingga aku tidak pernah dilibatkan dalam hal ini.
Andai saja aku tau dari awal, Mungkin kak Kayra gak harus mengorbankan tenaga juga waktunya untuk datang kesini. Dan kejadian kemarin tidak perlu terjadi.
Aku titip kak Kayra, ya kak Dian"
Lagi-lagi aku hanya bisa diam. Aku merasa di gurui oleh dua orang sore ini.
Mencoba mencerna semua perkataan Johan juga Nahla.
Dalam benak ku, aku hanya bisa berdoa, semoga ini bentuk dukungan mereka untuk kebersamaan ku dan Kayra.
Johan tidak lagi muncul menemui kami. Akhirnya aku pamit pada Nahla. Dan orang tua Johan juga belum pulang, jadi aku bisa melenggang pergi tanpa basa-basi pagi.
_________________TBC________________
__ADS_1