KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
SAH


__ADS_3

Serangkaian prosesi panjang siraman telah selesai. Soal lelah, jangan di tanya.


Belum lagi di rumah dilanjutkan dengan acara pembacaan Qhatmil Qur'an dan kirim do'a. Tentunya bukan aku sih yang terlibat dalam acara itu, hanya saja ingin istirahat tidak bisa.


Bagaimana pula bisa istirahat, para sepupu keponakan beserta balatentara nya tak henti-henti keluar masuk dari kamar ku.


Pasalnya kamar ku ikut di hias dengan dekor bunga segar. Sebenarnya bukan aku juga sih yang minta, tapi tidak dipungkiri aroma harum khas bunga-bunga segar memang memberikan aroma terapi tersendiri untuk otak. Kesan menenangkan yang timbul saat di hirup dalam-dalam.


Sampai akhirnya oma yang turun tangan menyuruh keluar semua mahluk kecil itu.


Kini hanya tersisa aku seorang diri. Mencoba merebahkan tubuh. Siapa tau aroma-aroma harum ini bisa mengantarkan ku untuk terlelap.


Entah berapa lama aku terlelap. Rasanya badan masih pegal-pegal. Namun apa daya,saat subuh menjelang suara di luar kamar sudah riuh sekali. Apakah orang-orang itu tak punya lelah? Padahal aku yang mau menikah,tapi seperti mereka yang semangat sekali. Padahal juga sudah memakai jasa WO, tapi kenapa mereka masih ribet juga?


Owh, bagaimana aku bisa lupa, kita semua di sini kan juga butuh makan. Astagaaaaa


Aku menuruni tangga. Dapur rumah tak terlihat lagi mana ujung-ujungnya. Maklum lah, jika tidak begini kapan lagi mereka berkumpul semua seperti ini? Ini moment langka.


Selesai mengambil beberapa cake aku kembali ke atas.


"nanti pukul setengah enam yang rias datang ya Kay" kata bude Shinta.


"boleh gak bude,kalau di rias nya sambil tidur" kata ku.


"boleh saja. Kalau kamu ingin hasil nya menjadi badut" sahut tante Nila.


"katanya jadi ratu, sehari semalam. Apanya, yang ada malah capek semua" gerutu ku.


"siapa suruh nikah dadakan" kak Gilang menimpali.


Singkat tapi menusuk.


Hingga pagi menjelang aku sudah duduk rapi di depan meja rias. Perasaan dag dig dug masih menyelimuti. Ditambah tetap tidak ada kabar dari Dian. Rindu, apakah aku merindukan dia?


Dengan polesan dari perias pengantin terbaik di kota ini, wajah ku berubah menjadi seseorang yang aku saja hampir tidak mengenali. "manglingi" kalau kata orang Jawa.


Saat aku selesai di rias, semua anggota keluarga yang lain sudah siap. Beberapa mobil sudah berjajar dengan hiasan pita di setiap pintu nya. Melihat itu semua rasanyaaaaaa, aaakkhhh aku benar-benar akan menikah hari ini.


Tak terasa sebutir air mata lolos dari pelupuk mata. Entah itu air mata bahagia atau apa.


Tanpa aku perhatikan lebih dalam lagi, aku pun mulai di tuntun untuk masuk ke dalam mobil.


Sebelum sempat pintu dibuka, segerombolan manusia yang sangat aku harapkan kehadiran nya datang dengan wajah berbinar dan seketika membuat kehebohan.


"Kayraaaaaa, uwh... cantik banget"


"Kayra selamat yaaa"


"Kayra maaf baru bisa datang hari ini"

__ADS_1


Suara ketiga gadis yang bersahutan berhasil menyita perhatian beberapa orang.


Bahkan Meysa datang dengan pelukan dan langsung cipika cipiki, sepertinya dia lupa jika aku sudah di rias secantik ini.


"yuuuk, cusssss...... pengantin sudah di tunggu ya. Nanti keburu luntur tuh make up" kata sang asisten perias. Entah kalimat sindiran atau peringatan itu, yang pasti membuat ketiga sahabat ku mundur seketika.


"kalian ikut ke tempat ijab kan? " tanya ku pada mereka.


"iyalah, ngapain juga sepagi ini dateng kalo cuma buat jadi satpam di rumah kamu" celetuk Siska. Aku memutar bola mata, jengah. Sepertinya ada yang salah dengan pertanyaan ku.


"ok, ngrumpi nya lanjut nanti. Kita berangkat sekarang" Lagi-lagi si asisten memperingatkan.


"aku jalan paling belakang, sambil nunggu kak Maryam" kata Siska sambil melambaikan tangan saat aku memasuki mobil.


Alhamdulillah, akhirnya kebahagiaan ku lengkap sudah hari ini. Semua orang terdekat ku ikut hadir menyaksikan hari bersejarah dalam hidup ku ini.


Aku ditemani mama, adek dan kak Sofia dengan sopir kak Gilang, melajukan mobil di tengah-tengah rombongan. Ada lima belas mobil yang mengiringi. Rasanya sesuatu sekali, sungguh berkesan dan mungkin tidak akan pernah bisa di lupakan. Aku merasa benar-benar bag ratu hari ini. Yang bahkan, bermimpi jadi putri presiden saja tidak pernah.


Tiba-tiba muncul Kak Rendra dengan mobil tugas polisi nya mengambil posisi paling depan. Sehingga rombongan kami nampak di iringi oleh mobil polisi. Memberikan jalan bebas hambatan. Skenario dari mana lagi ini??


Aku tersenyum simpul mengingat semua kejadian indah yang ku terima beberapa hari ini.


"Kak Rendra?????


Dia bilang gak bisa ikut karena ada dinas luar kota" kata adek terkejut.


"ya luar kota lah. Dia dinas di Semarang, sekarang ngiring manten di Jogja" ahirnya kak Gilang angkat bicara setelah berhenti tertawa. (manten\=penganti)


"aissttt, kakak kakak ini. Ternyata ngerjain aku"


"sebenarnya bukan maksud ngerjain gitu dek, tapi kamu nya aja yang gak nyambung" kata kak Sofia.


"iyalah, dia kan lola. Loading Lama" kembali kak Gilang bicara. Yang sudah pasti langsung dapat amukan dari adek.


"pengantin di larang tertawa lebar. Ntar make up nya pecah" celetuk kak Gilang yang seketika membuat aku menahan perut. Sakit, tawa yang akan keluar tiba-tiba terhalang.


"apaan sih kak. Aturan dari mana itu" kata ku.


"dari asisten make upper kamu itu" kata kak Gilang sinis. Seketika aku teringat kejadian tadi sebelum berangkat bersama teman-teman.


"tau tuh. Galak gitu ya dia. Dasar manusia setengah wanita" timpal adek.


Mungkin sudah ada suatu hal yang terjadi diluar sepengetahuan aku. Hal buruk mungkin, yang membuat "ses Nita" (begitu pintanya untuk disapa) semakin memiliki image tak ramah.


Sayangnya aku tak ada kesempatan untuk mengkonfirmasi. Telepon ku berdering ada panggilan masuk dari Dian. Menampilkan wajah segarnya dengan baju putih dan balutan bunga melati di leher. Sudah siap duduk di depan bapak penghulu. Ada pula papa nampak terlihat di sana.


Tadi pagi memang sempat di beri tahu jika prosesi ijab akan di percepatan. Sehingga wali nikah yang diminta untuk hadir lebih dulu. Sementara pengantin wanita bisa menyusul.


"maaaa, ijab kobul akan segera di laksanakan" kata ku, menatap mama lekat. Hati ku sepersekian menit sempat membaik, kini kembali bergetar. Bahkan lebih hebat dari sebelumnya.

__ADS_1


"iya. Kita do'akan dari sini ya sayang" mama memeluk erat pundak ku.


Kami semua mengangkat tangan, diam sejenak untuk memberi bantuan do'a. Semoga ijab kobul berjalan lancar.


"gak usah tegang gitu Kay" goda kak Sofia.


"kelihatan banget ya kak, kalo muka aku lagi tegang"


"ma, pegang jantung aku ma. Seperti habis lari maraton saja"


Yang nampak di dalam layar saat ini ialah prosesi berlatih "mengucapkan ijab kobul".


" pakai bahasa Jawa, Indonesia, Arab, Ingris, atau yang lainnya? " Sontak di sambut tawa oleh sebagai orang. Pak penghulunya lucu juga.


"bismillah, bahasa Arab" jawab Dian tegas. Hati ku semakin bergemuruh. Tapi insyaAllah, dia mampu. Aku tau itu. Dan dia juga telah menyanggupi menjadi surah Al Baqarah sebagai mahar.


Kenapa Al Baqarah, karena itu surah terpanjang dalam Al Qur'an.


Dengan harapan, akan ada kekuatan, kesabaran, kegigihan, keuletan, dalam sepanjang kehidupan rumahtangga kami kelak.


Suara "SAH" telah menggema memenuhi ruangan saat aku mulai melangkah kan kaki masuk.


Jujur saja saat ini tubuh ku gemetar, dengan air mata yang sudah menggenang di ujung pelupuk mata. Ah, melankolis sekali aku ini.


Masih selalu ada MAMA, yang menopang ku. Memberi ku kekuatan. Hingga saat ini. Mungkin setelah ini tidak lagi, atau bahkan masih tetap saja sama hingga nanti.


Kedatangan ku langsung di sambut kata hamdalah. Lalu aku di persilahkan untuk duduk di samping Dian. Mencium tangannya, lalu mengangkat kedua telapak tangan untuk berdoa bersama.


Kini berlanjut pada prosesi penandatanganan berkas berkas.


Tak lama sesi foto pun berlangsung.


Pose pertama yang aku rasakan penuh penghayatan ialah, saat dia menggenggam erat kedua tangan ku dan mencium kening ku dengan lekat.


Maaf syaa Allah, rasanya tak bisa terungkapkan. Bahagia, haru, rindu, kesel juga, campur aduk jadi satu.


Setelah sekian hari di campa kan tiada kabar satupun. Akhirnya bisa kembali bertemu juga. Dengan status baru sebagai istri. Yang sudah HALAL mau di sentuh model apapun.


Sungguh, rasanya aku ingin memeluk dia erat.


Sayangnya itu bisa membuat riasan pengantin ku jadi berantakan. Malas juga kalau di omelin sama ses Nita.


Berlanjut dengan pose-pose foto yang lainnya.


Tatapan kami bertemu, hanya pada saat itu aku bisa mengatakan bahwa aku sangat merindukan dia. Itupun kalau dia faham arti dari tatapan ku.


Semua keluarga sudah antri untuk foto bersama. Jadi harus sabar untuk bisa mengatakan langsung "aaaakkuuu kkkaanngggeeennn".


___________________^_^__________________

__ADS_1


__ADS_2