
Setelah melepaskan semua emosianya, Dian nampak lebih baik. Dan sekarang ia katakan ingin tidur dengan paha ku sebagai bantal.
Kalau begini caranya bagaimana bisa aku menikmati es kelapa muda? Seperti yang tadi dia janjikan. Lagi-lagi aku hanya bisa menelan ludah.
Dian enak sudah melepaskan dahaganya. Sekarang giliran aku yang di buat haus tak tertahankan. Setelah mengikuti les privat adegan dewasa yang tidak lewat jalan semestinya.
"maaf ya aku belum bisa menceritakan semuanya. Karena jujur, aku saja masih bingung dengan semua yang terjadi dalam hidup ku. Aku sendiri belum bisa berfikir panjang, juga belum bisa memutuskan. Rasanya masih terlalu bercampur aduk menjadi satu"
"iya, gak masalah. Aku cukup mengerti. Sekarang tidurlah" terus ku belai rambut tebal nan hitam.
Rasanya hati ku ikut tentram menyaksikan Dian damai dalam tidur nya. Ujian hidup ku bersama nya dulu mungkin hanyalah sebuah awal. Dan inilah ujian hidup sesungguhnya yang harus dia hadapi.
Hingga rasa kantuk pun menghampiri ku. Sapuan udara dingin dari baling-baling AC membuat aku semakin terbuai dan tak butuh lagi segarnya es kelapa muda untuk mendinginkan teriknya matahari di siang ini.
Entah sampai berapa lama aku tidur dalam posisi duduk, hingga kemudian Dian menggoyangkan tubuh ku, membangunkan ku.
"sayang, kita pulang ya" rasanya masih seperti di awang-awang suara itu terdengar.
Aku menyibakkan tangan yang menggoyangkan tubuhku.
"ngantukkkkk" kata ku lirih.
Setelah itu aku tidak merasakan lagi tubuh ku di guncang.
Tapi anehnya, begitu aku benar-benar terbangun
dan membuka mata, aku sudah berada di dalam mobil.
"lho... Di. Kok sudah di dalam mobil. Aku tadi ngigo ya, tidur sambil jalan? " tanya ku penuh kewaspadaan. Betapa malunya jika iya.
"iya. Tadi kamu jalan sambil merem. Seperti si buta dari gua hantu aja" kata Dian santai.
"Dian yang bener sih" aku meragukan candaan dia.
"iya beneran. Tadi kamu aku gendong ke mobil"
Spontan ucapan Dian membuat aku memukul mukul kecil lengan Dian.
"kok malah di pukul sih.
Ciem kek, sambil bilang " makasih ya sayang, udah gendong aku""
"permintaan yang selalu bikin enak di kamu tuh"
"nah, emangnya kamu gak ngrasain enak juga? Ibadah loh ciuman suami istri itu"
"oke oke, aku kalah"
Akhirnya aku lakukan seperti apa yang Dian ajarkan. Ku cium sekilas pipi sebelah kiri sambil mengatakan kalimat yang dia ajarkan tadi.
"ngomong-ngomong, kerudung ku mana? Jangan bilang ketinggalan di sana tadi" aku sudah panik mengingat saat ini kepala ku polos tanpa penutup.
__ADS_1
"enggak. Itu ada di belakang"
Aku segera meraih kerudung itu dan mengenakannya kembali.
"rumah masa depan seperti apa lagi yang kamu maksudkan setelah ini? " tanya ku sembari memasang kerudung.
"rumah masa depan, ya rumah masa depan sungguhan. Rumah, buat kita kedepannya" kata Dian terputus-putus.
"kamu beli rumah? " tanya ku penuh selidik.
"gak juga.
Pokoknya kamu akan tau nanti"
Hening. Hanya suara musik yang baru saja Dian nyalakan yang terdengar.
Kalau sudah di bilang begitu, mau aku bertanya sampe gimanapun juga gak akan diberi tau. Jadi lebih baik kalau aku diam saja. Menanti satu kejutan lagi menyambut ku.
Menikmati alunan lagu lawas dari Ebiet G ade yang tak pernah membuat bosan para pendengar nya. Sebuah bait yang menyampaikan pesan namun tidak menggurui. Tersembunyi makna begitu dalam, dalam syair yang begitu sederhana.
Laju kendaraan membawa kami ke arah pusat kota Yogyakarta. Cukup jauh dari rumah, rumah orang tua kami maksudnya. Aku tak menyangka jika Dian akan secepat ini menyiapkan rumah untuk kami tinggali berdua. Karena sebelumnya Dian tak bernah bertanya apapun, ataupun mengatakan apapun.
Benar saja, telah sampai lah kami di halaman depan sebuah apartemen. Aku berusaha menelan ludah kasar. Keinginan yang selama ini sempat muncul dalam benakku, tapi tidak pernah berani mengeluarkan nya dari pikiran. Karena sudah pasti di larang sama mama.
"it's my dreams" rasanya ingin mengeluarkan kata itu.
Tapi takut salah, sebab Dian belum mengatakan dengan pasti. Bisa jadi kesini hanya mampir ke tempat teman dia atau keperluan yang lainnya.
"selama ini kamu belum pernah bertatap muka secara langsung kan sama kakak ku?
Kita akan temui dia dulu"
Aku bungkam. Mengangguk pelan. Untung saja tadi tidak sungguhan bertanya.
Pintu lift terbuka. Dian pencet salah satu nomor. Sudah pasti itu unit tempat kakaknya berada.
Sepanjang jalan keluar dari lift Dian menggenggam tangan ku. Padahal di sekitar sepi, tanpa Dian gandeng pun juga tidak akan ada yang memperhatikan ku.
Tibalah kami di depan sebuah pintu apartemen. Anehnya Dian sendiri yang menekan tombol di pintu masuk.
"surprise" kata Dian saat pintu terbuka.
Ada bucket bunga besar di atas meja. Dan sebuah kotak coklat.
"katanya mau ke tempat kakak? " aku kembali mengingat kan sembari terus melangkah masuk.
"tadinya. Tapi baru saja dia kirim pesan, lagi keluar sebentar antar teman"
"jadi.... ini..... "
"jadi inilah rumah masa depan kita" peluk Dian dari arah belakang.
__ADS_1
"apa kamu suka? " sambung nya lagi.
"apapun yang kamu berikan, aku suka" aku berbalik dan mengecupnya sekilas.
"terimakasih banyak" sambung ku.
"kamu menggoda ku, jadi malam ini kita bermalam di sini" kata Dian sembari membawa ku ke arah kamar.
Apa-apaan ini. Dia selalu saja membuat keputusan sendiri. Tempat ini jauh dari rumah. Sedangkan besok ke tempat KKN aku memerlukan barang-barang ku. Tadi sudah ijin mendadak, tak mungkin besok. lagi. Bisa gak lulus KKN aku.
"stop! Turunkan aku" kata ku tegas.
"kenapa sayang? " tanya Dian heran.
"kita pulang, sekarang juga" aku sudah terlanjur kesal sama Dian.
"kok pulang, kan kita belum lihat ruangan yang lain. Belum ketemu sama kakak juga" kata Dian panjang lebar sambil mengejar langkahku keluar kamar.
"kamu kenapa sih, kenapa tiba-tiba"
Aku tiba-tiba berhenti hingga tubuh kami bertabrakan.
"pokoknya aku mau pulang. Besok aku mau masuk KKN"
"aidah.... ngambek....
oke, kita pulang sayang. Cuma bercanda sayang" Dian menahan tangan ku.
"kamu sih, kebiasaan ambil keputusan sendiri, dadakan. Aku gak suka"
"iya iya, maaf. Janji gak lagi deh.
Ayo sekarang kita lihat ruangan lain" sebelah tangan Dian sudah menarik tangan ku untuk mengikuti langkah nya.
Menuju dapur, kamar mandi luar dan berujung di balkon.
"kapan kita bisa belanja perlengkapan yang lain? " kamipun berhenti di balkon, menikmati semilir angin sore ini.
"kapan yah? Minggu ini seperti nya jadwal ku penuh. Hari minggu nanti aku ada janji ketemu sama dosen pembimbing" karena ini sudah masuk minggu terakhir KKN, bisa jadi di akhir pertemuan juga akan mengadakan acara kecil-kecilan nantinya.
Dian tampam menarik nafas berat.
"yasudah lah. Belajar yang rajin, biar cepet lulus. Yang penting sudah ada kasur, itu lebih dari cukup. Anggap saja kita sedang bulan madu. Kita habiskan sepanjang waktu diatas ranjang, ya sayang" kata Dian sembari terus memberikan atmosfir menyejukkan di balik telinga.
Hembusan lembut yang berulang berhasil menggoyahkan keteguhan ku. Ditambah lagi dengan sentuhan jari jemari yang mulai menari kesana kemari.
Kemesraan itupun tak bisa terelakkan lagi. Terjadi untuk kesekian kali. Ibarat rasa haus yang tak akan pernah terpuaskan. Apalagi penyatuan yang sesungguhnya belum benar-benar terlaksanakan.
Kini aku sadar, kami bukan lagi sepasang kekasih, melainkan sepasang suami-istri. Sedangkan hubungan itu adalah suatu kebutuhan. Cepat atau lambat pasti akan terjadi.
Bahkan bisa dikatakan saat ini aku sangat menginginkan. Sayangnya tamu bulanan belum juga pulang.
__ADS_1
_____________________^_^___________________