KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Belajar Tanpa Batas


__ADS_3

Terkadang bekerja dalam sebuah TIM itu bukanlah suatu hal yang mudah. Kita harus mengalah bukan hanya untuk satu orang, kadang juga untuk beberapa orang sekaligus.


Disini memang aku bukanlah ketua kelompok, tapi mau tak mau aku pun harus ikut andil ketika sebuah keputusan harus diambil dengan sangat alot.


"gays, kita ini TIM. Kalau satu saja yang tersandung batu, maka semua akan ikut merasakan sakitnya.


Waktu kita sudah tidak banyak untuk mendapatkan tempat magang. Demi efisiensi waktu dan tenaga, bagaimana kalau kita magang di kantor papa ku saja"


"wah, beneran Kay kita bisa magang disana? Kantor expor impor xxx itu kan?"


"beneran...itu milik papa kamu Kay? "


"kamu kenapa gak kasih tawaran dari awal aja sih, udah capek kita muter ke sana kemari"


Dari beberapa komentar saja membuat aku mengernyitkan dahi. Pada akhirnya masih saja mendapat cercaan.


"iya, itu milik keluarga ku. Sebenarnya dari awal papa sudah menawarkan pada ku. Hanya saja aku ingin kita berusaha mencari dulu"


"it's okay. Yang penting kita dapat tempat. Benar yang di katakan Kayra. Usaha itu penting gayss" kata ketua kelompok.


Pada akhirnya aku memutuskan untuk menerima tawaran dari papa, sepertinya itu lebih baik. Sebab kami bisa terus bersama dalam satu kelompok, tanpa terpecah.


Hari-hari yang melelahkan akhirnya terlewati juga. Aku beserta kelompok pun sudah mendatangi kantor papa dengan segera.


Aku menghadap dengan di temani oleh ketua kelompok dan wakilnya. Tanpa mendapatkan kendala lagi kamipun di terima untuk magang di sana selama tiga bulan ke depan.


Berbeda dengan aku yang sudah merasa sangat lega, ada nafas berat saat Dian tau jika aku memutuskan untuk magang di tempat papa.


"kenapa gak milih di tempat aku aja sih sayang? Kan enak, kita bisa pergi pulang bareng. Siang bisa makan bareng"


"idih, itu mah enak di kamu sayang.


Kurang nyaman aja kalo satu kelompok di pisah-pidah. Anak-anak pada protes" aku pun berusaha untuk profesional, tidak mencari keuntungan pribadi.


Kalau dari sisi aku sendiri, siapa yang tidak bahagia bisa sama-sama bareng suami terus? Tapi nanti yang ada malah membuat tidak fokus pada tujuan utama.


"yasudah lah. Yang penting sudah dapat tempat. Jadi minggu ini kita bisa pulang ke apartemen dan berproses dengan tenang"


"berproses, maksudnya? " tanya ku heran. Dian selalu saja mempunyai kata nyeleneh saat berbicara.


"proses... bikin bayi" jawabnya sambil mengernyitkan sebelah mata.

__ADS_1


"astaghfirullah sayang, kamu ini. Pikirannya kesituuuuu mulu.


Weekend itu kan butuh istirahat, pikiran juga badan. Yang penting kita memiliki quality time berdua. Gak harus yang selalu begituan lah"


Tak di pungkiri, bercinta itu memang membuat ingin lagi lagi dan lagi. Di sisi lain, dengan bercinta juga menjaga keharmonisan pasangan, selain sebagai ibadah dari sisi agama. Sebab dengan hubungan itu dapat memunculkan hormon kebahagiaan.


Namun di sisi lain, setelah nya badan terasa remuk redam. Apalagi dengan semangat gempuran empat lima, semalam suntuk, bahkan non stop hingga pagi. Itupun kadang masih tambah. Sangat kentara dengan aroma pengantin baru. Dan nyatanya memang seperti itu.


Yah, itulah babak baru dalam sebuah kehidupan baru. Mau tidak mau, siap tidak siap. Semua kondisi ini menuntut aku untuk benar-benar menjadi dewasa dalam banyak hal.


Bahkan bukan hanya menjalankan kewajiban di atas ranjang. Sebagai bentuk cinta pun menyajikan makanan untuk pasangan itu juga menjadi sesuatu yang di butuhkan.


Seperti pagi ini, hari tenang setelah berhasil mendapatkan tempat magang. Jam kuliah juga masih nanti siang. Jadi aku memutuskan untuk terjun ke dapur lebih dulu. Mengekori mama yang sudah terjun di dapur sejak lepas solat subuh.


Wanita istimewa yang membuat aku benar-benar salut. Sekali pun sangat sibuk dengan pekerjaan sendiri, namun memasak untuk keluarga tetaplah menjadi prioritas utama.


Sedangkan aku, sampai sejauh ini bisanya mengandalkan mama untuk banyak hal. Sehingga membuat aku begitu malu saat di juluki "anak mama".


Aku merasa belum pantas untuk menjadi seorang istri. Apalagi seorang ibu. Rasanya itu masih sangat jauh dari angan-angan.


Perlahan aku mulai belajar untuk melakukan banyak hal. Belajar untuk memantaskan diri saat nanti suami benar-benar mengajak untuk tinggal terpisah dari orang tua.


Kondisi dan situasi menuntut ku untuk berperan ganda. Dan itulah hasil dari sebuah keputusan. Sebab setiap keputusan pasti memiliki konsekuensi tersendiri.


Belajar memahami isi dua kepala, yang notabene untuk memahami diri ku sendiri saja masih dalam proses belajar.


Mungkin inilah yang di maksudkan "siap lahir batin" dalam hal pernikahan.


Mama dan papa memang tidak melarang ku untuk menikah di usia muda, itu artinya aku harus menunjukkan pada mereka bahwasanya aku mampu untuk memikul segala sesuatu yang mencakup kedalam urusan pernikahan.


Berat, tapi tak masalah.


Ketika kita sudah memilih sebuah keputusan, maka mau tak mau kita pun harus berusaha 'mampu' untuk melewati hal itu.


"jangan terlalu keras sayang. Aku tidak akan pernah menuntut mu untuk melakukan itu semua"


"tapi setidaknya jangan menjuluki ku dengan 'anak mama'.


Itu membuat aku merasa tidak pantas untuk menjadi seorang istri"


Rupanya bukan orang lain, namun justru orang terdekat sendiri lah yang mengusik perasaan. Mungkin bagi Dian itu sebuah guyonan, dia anggap lucu. Tapi bagi ku, itu adalah sebuah bully-an.

__ADS_1


Setelah setengah hari kami habiskan waktu di mol untuk berbelanja, akhirnya bisa meluruskan kaki juga.


Untuk pertama kalinya jalan berdua setelah berstatus sebagai suami istri. Bahkan kami berbelanja sekalian untuk keperluan di apartemen.


"apa aku tidak layak untuk ikut menanggung sebuah urusan dalam pernikahan kita? "


tanya ku saat kami tengah duduk berdua di balkon apartemen.


Menikmati senja di sore ini sembari menyesap segelas teh hangat. Di temani oleh marmer cake buatan ku sendiri. Yang baru belajar bersama mama. Sekali pun bukan murni hasil tangan sendiri, tapi rasanya lebih bahagia saat menyantapnya.


"kenapa bertanya seperti itu? " tanya Dian sembari mengelus bagian kepala ku.


"karena sampai detik ini kamu belum juga menceritakan tentang permasalahan dengan ummi. Eh bukan, dengan keluarga besar lebih tepatnya.


Bahkan kamu belum juga mengenalkan aku pada kakak, padahal kita tinggal di apartemen yang sama bukan? "


"astaghfirullah, iya sayang. Maaf maaf, aku lupa. Aku terlalu fokus pada waktu untuk kita berdua setiap kali pulang ke sini. Lagian kakak juga sedang ada pekerjaan di Subang kemarin. Coba sekarang aku telpon ya, sudah pulang apa belum dia"


Lalu Dian mulai meraih handphone dan terdengar nada sambung tengah menghubungi seseorang. Mungkin sengaja dia loudspeaker, supaya aku ikut mendengar secara langsung.


"assalamu'alaikum, iya ada apa? " kata seseorang di balik telpon.


"*kakak kapan balik, aku mau mampir"


"ini sudah di apartemen. Tadi pagi baru pulang"


"ya sudah, nanti malam aku ke tempat kakak"


"ya, lepas magrib kakak tunggu*"


Tanpa ada kalimat salam lagi sebagai penutup, panggilan berakhir begitu saja.


"sebenarnya kakak sudah tau semua rahasia ummi sejak awal. Karena kakak sudah cukup besar waktu itu. Sudah mengerti dengan apa yang terjadi.


Tapi abi justru mendukung keinginan ummi. Sehingga kakak selalu saja berseteru dengan abi dan ummi. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari rumah saat dia mulai SMA. Dia memilih untuk kos, lalu membeli unit sendiri di apartemen ini setelah bekerja "


Aku mendengar cerita Dian dengan seksama sembari terus menyuapkan kue ke dalam mulut.


Aku jadi semakin tau, kenapa selama ini hubungan keluarga Dian nampak kurang harmonis. Dan aku kembali belajar tentang hidup, kehidupan. Bahwasanya segala sesuatu yang di awali dengan tidak baik, akan berakhir dengan tidak baik pula.


____________________^_^____________________

__ADS_1


__ADS_2