
Tadi malam sudah terlalu mengantuk, tak sempat lihat HP.
Pagi hari setelah solat subuh aku cek HP, karna semalam aku tinggalkan Chat dengan Remond begitu saja. Hari ini kita harus bertemu untuk mengembalikan kamera.
Betul saja, ada 7 pesan belum terbaca. Pesan terahir berbunyi
"yasudahlah kalo sudah tidur, besok pagi aku ke rumah kak Gilang pagi-pagi. Siang ada acara di sanggar, cameranya mau dipakek. Gapapa yah ✌"
Aku mulai berfikir, sanggar? hari ini? Jangan-jangan tempat di adakanya acara pakde Her.
Pesan hanya aku Read, karna masih terlalu pagi, belum tentu juga Remond sudah bangun.
Adek mengajak jalan-jalan pagi ini, terahir kalinya menikmati udara pagi naan asri.
Apalagi di musim liburan seperti ini, ramai para remaja jalan-jalan pagi.
"udahan yook... keburu siang" ajak adek,sudah gak sabaran aja
"aku gak ikut aja yah, mau packing" ucap Melan.
Dia memang tertinggal belum packing, karna cucian dia kering paling ahir.
Bude memaksa kami untuk langsung mencuci baju,
"dari pada bawa pulang baju kotor" beliau bilang.
Sementara punya aku sama adek sudah langsung di packing sesaat setelah diangkat dari jemuran.
"ok dewh... ditinggal dulu yah kakak cantik" ucap adek sembari menutup kembali pintu kamar
Saat kami keluar bude sudah di teras menyirami tanaman.
"pagi sekali bude tanamannya dimandikan" ucap adek
"iyah, mumpung belum pada mandi, gantian airnya" jawab bude
"Jalan-jalan dulu bude" aku berpamitan.
"iya, Hati-hati. Gilang sudah berangkat baru saja, kalian gak janjian?" bude bertanya
"gak bude, tadi malam kita sudah masuk duluan kak Gilang masih sama teman-temannya" aku menjelaskan
Setelah itu kami mulai melangkahkan kaki.
Tak ada orang yang kami kenal disana, juga tak kami jumpai kak Gilang. Ini kali kedua kami menyusuri jalan Kampung ini selama satu minggu kami disini, hafal sih jalan pulang, tapi tak berani jalan terlalu jauh.
Saat jam menunjukan pukul 05.15 kami sudah berjalan arah pulang. 25 menit cukuplah untuk menikmati udara dingin khas kota ini.
Kami tiba dirumah bude, Melan sudah berada di dapur bersama bude. Sementara kak Gilang belum juga terlihat
"kak Gilang belum pulang bude" tanya ku
"belum, dia kalo olahraga lumayan lama. Biasanya sama tengok kebun coklat" bude memberi tau.
Hemp... pantesan tadi gak ketemu di jalan.
Masih ingat, kak Gilang yang pagi-pagi sudah menghilang kemudian datang membawa buah coklat, sesaat setelah kami baru saja tiba dari Jogja.
"Nahla.....beneran kamu mau mandi, ini ambil air hangat" bude meneriaki adek yang terlihat berjalan ke arah kamar mandi dengan handuk di tangan.
"Kay HP kamu bunyi terus tuh, Remond" Melan memberi tau
"gak diangkat? "
"tadinya sih enggak, karna bunyi terus.. ya aku jawab ahirnya"
"okeh, aku telp balik"
sembari berjalan ke arah kamar untuk mengambil HP.
Sepagi ini berdiam diri dikamar kok gak ok rasanya, jadi aku ambil HP dan berjalan ke arah teras.
Ada pakde Her disana sedang menyiapkan beberapa peralatan tari.
"mau berangkat pagi-pagi pakde? "
"iya, Khan mesti rias anak-anak dulu. Nanti kamu diantar kak Gilang sama Bude, maaf ya pakde tinggal terus, kebetulan lagi mau ada pentas sih"
"dalam rangka apa memangnya pakde"
"piala bergilir bupati Banyuwangi"
hemp...event besar juga,pantesan pakde sibuk sekali
Pakde masih sibuk menyiapkan peralatan, aku mulai memencet nomor Remond.
Langsung diangkat, hemmmpp
"iya Rey, kenapa"
"kenapa, kamu ini. Semalam ngilang gitu aja, di read juga gak ada balesan"
"maaf, dipikirnya kamu masih tidur tadi"
"gak apa yah aku ambil kamera pagi-pagi, sudah di backup semua belum? "
"sudah kok, aku kirim ke e mail"
karna gak mungkin ke mana-mana aku bawa flashdisk
"aku berangkat habis ini"
aku lihat jam, masih jam 6 lewat
"gak kurang pagi? "
"yah Khan nanti mesti mindahin data dulu, mau ke rumah temen juga ambil lensa"
"okelah, silahkan aja. Alamat aku share lokasi"
"udah tau, dari kak Gilang"
percakapan berahir, dan setelah adek yang mandi ahirnya aku yang bergegas mandi.
Kasihan Melan, bantuin bude sendirian dari tadi
"cocok jadi calon mantu" aku goda Melan
"apaan sih" Melan segera menepis, takut di dengar bude mungkin
__ADS_1
Begitu aku keluar dari kamar mandi, meja makan sudah full dengan sajian. Aroma semerbak bikin perut kembang kempis, apalagi udara dingin bawaannya pengen isi perut mulu.
Kak Gilang sudah duduk di meja makan saja, entah sejak kapan dia pulang.
Duduk dengan segelas susu hangat bersanding pisang goreng.
"kak.... enak" gak tahan buat gak nengokin dulu
"mau... " tanya kak Gilang sambil menyodorkan gelas berisi susu
"dikit yah, susunya"
"masih ada di belakang, barusan merah sendiri" eh, malah ditarik lagi tangannya dan masuk ke mulut sendiri
"eh.. beneran merah sendiri?! " tanya ku heran
"gaklah, bohong. Tetangga yang merah aku yang beli.
Sudah sana ganti baju dulu yang bener"
ahirnya diusir sama kak Gilang.
Sementara di sudut lain, Melan sedang duduk dengan memainkan HP ditemani si adek yang juga bermain HP.
Melihat aku yang berjalan ke kamar, Melan segera menyusul
"ngiri banget deh sama kalian.... punya kakak top markotop amat"
"udah dibilangin... adopsi aja jadi kakak, atau jadi gebetan gitu"
Melan tak lagi berkomentar, ternyata buntutin aku ke kamar cuma buat ambil handuk kemudian keluar lagi, gantian mandi.
Suasana pagi ini berasa hangat ditengah dinginnya udara perkebunan. Setelah semua selesai mandi dan bude juga sudah memandikan kak Nafis, alarmnya sarapan pagi berbunyi.
Tak dirumah tak disini, sama saja rupanya. Bersyukur punya ibu yang selalu memperhatikan keluarga dan anak-anak nya.
Kulihat jam sudah hampir jam 7,Remond belum datang juga. Mungkin sebentar lagi, atau mungkin dia kerumah temannya lebih dulu.
"kamu mau ikut ke sanggar, apa ke kebun coklat? " tanya kak Gilang, sementara aku masih bingung dengan pertanyaan itu karna belum tau akan ada agenda apa untuk penutupan pagi ini, eciiiee
"Nahla sama Melan mau ke kebun coklat, kalo kamu mau ikut ke sanggar nanti sepulang dari kebun kakak jemput, sekalian jemput Nafis."
sepertinya adek sama Melan buat rencana saat tadi aku mandi. Terus untuk sanggar, apa maksudnya?
"ngapain aku ikut ke sanggar kak? suka tarian juga enggak"
"lha... Remond mau kesini Khan?! "
"iya, buat ambil kamera"
"gak ikut?? gak diajakin sama dia? "
"siapa juga aku, mau ngekor kemana-mana. Dia mau pemotretan acara tari gitu katanya"
"lha iya, foto di acara nya Papa itu. Gak tau kamu???? "
"enggak. Gak crita apa-apa dia. Kok malah kakak yang tau? "
"iya, Ngobrol-ngobrol waktu di Baluran kemaren itu. Ternyata dia cucunya pemilik sanggar terbesar di Banyuwangi"
"owh... gitu. Ternyata sempit ya dunia itu"
Baru juga kami ahiri perbincangan soal dirinya, langsung datang orang nya. Suara deru motor memasuki halaman rumah.
Ehhh STOP! kemana jiwa gadis rumahan kamu Kayra??? sejak ketemu nih anak sepertinya mulai nakal kamu ya.
atau... semenjak pertahanan berhasil di terobos sama si Johan???
"assalamu'alaikum"
Langkahnya mulai memasuki rumah dan senyum mengembang tak lupa tersungging dari bibir imutnya.
Bude menyambutnya dengan ramah dan mempersilahkan masuk. Ditemani oleh kak Gilang, sementara aku langsung masuk untuk mengambil kamera begitu melihat sosok dia memasuki rumah.
Tak lama aku kembali dengan kamera di tangan ku. Terlihat Remond dan kak Gilang berbicara akrab.
Aku ulurkan kamera ke arah Remond
" ikut ke sanggar yuk" ajak Remond
aku lihat ke arah kak Gilang,bermaksud meminta pertimbangan
"terserah kamu, mau ikut yang mana. Yang pasti balik sebelum dhuhur kalo gak pengen ketinggalan pesawat nanti" kak Gilang memberi kebebasan pilihan
"barang kamu sudah di packing semua belum? " gantian Remond yang bicara
"sudah kok, tinggal yang dipakek aja" jawab ku singkat.
Tak berlama-lama, kak Gilang yang berdiri untuk memintakan izin pada bude.
Pakde Her sudah berangkat ke sanggar miliknya, sementara kak Nafis masih menunggu dirumah, nanti akan dijemput saat berangkat.
Dan nanti kami akan bertemu di lokasi. Begitu kata kak Gilang.
Aku berjalan keluar mengikuti Remond, setelah tadi berpamitan langsung pada bude.
Deru suara motor sudah berbunyi, ini untuk kedua kalinya aku boncengan motor, dengan orang yang berbeda pula.
Bismillah, tak pernah tertinggal kata itu. Aku naik dengan perasaan dag dig dug, apalagi ditambah kalimat godaan dari adek dan Melan tadi,sesaat sebelum aku keluar rumah.
Mencoba biasah saja, santai, sering berinteraksi dengan lawan jenis...tapi dalam konteks organisasi, bukan pribadi seperti ini.
Hanya saja aku sedikit lebih tenang dibanding saat bersama kak Jo, karna dia lebih sopan.. gak jahil gak iseng. Ditambah lagi kak Jo yang sudah terang-terangan nyatakan perasaan, jadi suka genit.
Semoga yang ini hanya sebatas suka bergaul
Kami sampai di Sanggar terbesar di Banyuwangi. Seperti yang di bilang kak Gilang, besar memang bangunannya, halaman juga luas. Ada banyak koleksi foto tarian dalam ruangan itu. Ada banyak gazebo dengan identitas yang berbeda, mungkin disiapkan untuk pos masing-masing tim tari.
Acara diadakan di halaman, sementara di dalam ruangan di desain untuk orang-orang penting sepertinya.
Remond langsung mengajak ke sanggar, karna semua anggota keluarga dia sudah berada disana. Termasuk kakak dan keponakan dia yang bertemu di kereta waktu itu.
Mengalir darah Seniman rupanya pada keluarga itu.
Beruntung bertemu bocah kecil itu, jadi aku tidak terlalu canggung berkumpul bersama keluarga besar Remond. Keluarga dia yang lainnya juga ramah-ramah.
Waktu sudah cukup siang, beberapa peserta lomba sudah mulai memadati halaman dengan menempati gazebo yang sudah bertanda tadi.
Sampai ahirnya aku lihat rombongan Pakde Her datang. Aku hampiri kak Nafis, aku ajak dia bersama ku.
__ADS_1
Benar-benar beruntung ada dua teman kecil, karna Remond sudah sibuk sendiri sejak dari tadi. Padahal acara belum dimulai, auto di cuekin ini.
"ngapain juga tadi ngajakin, huhh" aku menggerutu, sedikit kesal
Acara dimulai, suara keributan hening, hanya suara musik mengiringi tarian yang terdengar. Kemudian disusul sambutan tepuk tangan yang mengiringi pergantian dari satu tim ke tim yang lain.
Hingga beberapa menit acara berjalan, bapak Bupati Banyuwangi hadir sendiri rupanya, di iringi sang istri. Tak menyangka aku bisa hadir di acara besar seperti ini.
Remond benar-benar tak terlihat wajahnya, hanya disuguhi punggung sedari tadi.
Rasanya terlalu sulit untuk berbicara saja, hanya bisa memandang dari kejauhan.
Saat tiba sambutan bapak Bupati, Remond terlihat menyerahkan kamera yang dia bawa pada orang lain.
Kemudian berjalan menghampiri aku.
"gimana.. ?? "
"apanya"
"acaranya lah"
"bagi pecinta seni sih mungkin ini luar biasa,tapi cukup keren lah bagi ku"
" kamu gak suka ya" tampak bernada sedikit kecewa
"gak gitu juga sih"
"tadinya sih aku ajak kamu kesini, biar berkesan... "
belum selesai bicara teman dia yang di depan sudah melambaikan tangan.
dreet dreet
"maaf ya. Nanti aku ikut antar ke bandara kok"
pesan dari dia masuk.
hemp, aku tak bisa berkomentar lagi. Selain kembali duduk manis dan ikut menikmati acara demi acara. Lain halnya aku, kak Nafis terlihat nampak memperhatikan dan bersorak beberapa kali.
dreet dreet
"kamu tunggu di luar halaman ya, kakak sebentar lagi sampe"
ponsel ku kembali berbunyi, lha... kak Gilang. Sudah jemput saja.
Ahirnya aku lihat jam dan ternyata sudah jam 11 lewat.
Aku ajak kak Nafis menepi, lihat kanan kiri berusaha mencari keberadaan pakde Har. Tapi terlalu riuh sama orang, sehingga tidak ku temukan. Biarlah nanti di telpon sama kak Gilang, kalau kami sudah di jemput
Kemudian aku kirim pesan ke Remond
"kak Gilang sudah di perjalanan jemput"
~send
cukup lama aku menunggu, karna si juru kamera sedang terlihat fokus pada objek
dreet dreet
"ok, setelah ini aku juga keluar"
"kamu gak apa tinggalkan acara, Khan belum selesai"
~send
dreet dreet
"sudah aku titip sama teman, dia malah asli fotografer"
"okelah"
~send
Aku dan kak Nafis sudah di luar halaman sanggar, kak Gilang tak lama datang, disusul dengan Remond yang sudah siap dengan jaket dan helm di tangan.
berlebihan banget gak sih ni cowok, gimana kalo kak Gilang merasa ada yang gak beres dan negur aku. Mana aku belum bilang sama kak Gilang kalo Remond ikut antar ke bandara.
Setelah aku beritau kak Gilang untuk memberi kabar ke pakde Her, ahirnya aku kasih tau kalau Remond ikut antar ke bandara.
Kak Gilang ok aja, tapi tetep... aku masih gak enak sama bude juga.
"Apa aku bilang 'ak usah' aja ya sama remond" aku mencoba minta pendapat kak Gilang
"naksir mungkin sama kamu dek"
kak Gilang ah, sama aja kaya adek dan Melan.
"aku jadi takut sendiri kak. Dia baik sih, sopan. Tapi kalo terlalu dekat, sementara dia masih orang baru, orang asing, aku takut malah jadi boomerang nantinya"
aku sampaikan pada kak Gilang tentang ke khawatiran ku. Mungkin saja kak Gilang bisa ngasih pencerahan.
"nanti kakak carikan info tentang dia"
Hanya sesingkat itu jawaban kak Gilang. Sementara aku masih sering memperhatikan kaca spion, untuk memantau keberadaan Remond yang masih saja mengekor di belakang mobil kak Gilang.
Kami sampai dirumah, Melan dan adek sudah nampak bersiap.
Aku segera rawat ke kamar mandi kemudian solat. Diluar terdengar suara bude, adek dan Melan yang sibuk mempersiapkan oleh-oleh.
Selesai solat aku kembali membereskan barang-barang ku.
Setelah semua beres aku keluar kamar, Remond masih di jamu baik oleh kak Gilang. Bude tidak bertanya-tanya, tapi ya gak tau lagi kalau sensusnya sama kak Gilang.
Melan yang tampak begitu ingin mengintrogasi, sayangnya tak banyak waktu lagi. Setelah oleh-oleh terkemas semua, kami segera mengeluarkan barang bawaan kami. Dibantu kak Gilang dan Remond kali ini. Lumayan, dapat asisten gratis 😆
Selesai bude menyiapkan kak Nafis, kami segera berangkat.
Jadi tak tega lihat Remond yang kembali ngekor di belakang mobil. Tadinya kak Gilang sempat menawari dia untuk gabung di mobil, tapi dia menolak.
Untuk kembali kesini ambil motor, itu memakan waktu. Sehingga dia rencanakan setelah dari Bandara langsung pulang ke rumah dia.
Karna mesti mengurus sisa-sisa pekerjaan tadi siang.
Cukup jauh jarak dari rumah kak Gilang ke bandara, hampir 2jam.
Begitu sampai kami segera berpamitan satu sama lain. Kak Gilang dan Remond mengantar sampai tempat pemeriksaan bagasi, karna bawaan kami jadi bertambah banyak.
Cek bagasi selesai, kami harus berpisah. Terasa berat meninggalkan kota ini, beserta keramahan di dalamnya.
__ADS_1
"tinggalkan hati mu disini, kembalilah lain waktu"
Ada yang berbisik di telinga. Kemudian senyumnya mengembang, dan lambaian tangan kak Gilang serta Remond mengantarkan kepulangan kami.