
menghitung hari
detik demi detik
masa ku nanti apa kan ada
jelang cerita
kisah yang panjang
menghitung hari
padamkan saja
kobar asmaramu
jika putih itu tak kan ada
Sepagi ini aku tengah bersemangat menyirami bunga-bunga di halaman sembari mendendangkan lagu Krisdayanti. Pekerjaan yang biasanya tak pernah ku lakukan, sudah satu minggu lebih ini menjadi kebiasaan rutin ku setiap pagi. Lumayan untuk mengisi waktu luang. Melihat bunga-bunga yang segar menjadikan pikiran ini lebih segar pula.
Entah sejak kapan aku mulai senang berdendang, yang pasti sejak ujian nasional berahir aku jadi sering mencari kesibukan baru. Sekedar menghibur diri sembari terus mengikuti perkembangan kampus-kampus yang ingin aku tuju.
Hemp, memang benar apa yang pernah mama katakan. Orang kalau sudah tidak suka, yang terlihat hanyalah sisi negatifnya.
Aku yang menjadi lebih sering solat berjamaah di masjid, justru menjadikan bahan pembicaraan baru bagi ustadzah Zia.
"sengaja ke masjid untuk mencari perhatian putranya"
Astagfirullah, andai saja aku tidak berfikir panjang. Memangnya seganteng apa sih putranya itu, mirip Rezki Aditya? iya sih, tapi aku gak ngefans.
Bisa jadi ini hari terahir ku ber quality time bersama tanaman-tanaman dirumah. Karna besok sudah pengumuman kelulusan. Setelah ini aku akan disibukkan dengan hal baru pastinya. Sudah gak sabar pengen merasakan jadi mahasiswa.
Setelah beberapa hari waktu berlalu dengan lebih lambat,ahirnya hari ini waktu ku kembali terasa normal.
Pasalnya beberapa hari kemarin Melan disibukkan dengan acara di rumah Neneknya yang akan pergi haji. Sehingga waktu ku banyak terbuang sekedar untuk mundar-mandir dari butik ke rumah. Keluar masuk kamar, menjadi hampa rasanya tanpa memikirkan pelajaran. Chattingan sama temen-temen bosan juga kalau kelamaan ngetiknya.
Pasti bakal kangen setelah ini. Semoga saja masih tetap bisa quality time bersama. Karena agenda dari masing-masing sudah memilih kampus incaran yang berbeda-beda.
Hari ini aku sama Melan sengaja mengatur jadwal untuk pergi ke salon bareng. Biar lebih rilex aja untuk menghadapi pengumuman besok.
Tak di sangka, untuk menyabut hari kelulusan saja begitu menegangkan rasanya. Padahal dulu juga sudah pernah waktu di SMP. Entah kenapa, kali ini sensasinya berbeda. Mungkin karena perjuangan yang dilalui bersamaan dengan konflik-konflik lain. Jadi semakin lama perjuangan terasa menjadi lebih menantang.
"padahal kalian juga sudah pasti lulus" ucap Rahardian.
Setelah membaiknya hubungan kami waktu itu, baru kali ini kami kembali bertemu.
Dia sengaja ikut perawatan, capek katanya habis acara-acara kemarin.
Padahal juga Melan tau kalau pasti ada udang di balik rempeyek, tapi dia sekarang menjadi pendukung kakaknya selama itu tidak merugikan aku. Yang pasti saat ini kami tengah berada di tempat yang jauh dari rumah dan dia tidak pergi dari rumah bersamaan dengan kami.
"gak boleh sombong dulu, takabbur itu namanya" ucap ku.
Padahal beberapa hari kemarin aku masih saja dibuat kesal oleh perkataan ustadzah, tapi entah kenapa emosi ku lebih stabil saat ini.
"kamu kenapa gak pernah solat jama'ah ke masjid lagi? "
tanya Dian. Benar tidak tahu atau hanya untuk sekedar basa-basi
"gak denger apa kamu mas. Marah-marah di rumah nenek. Ngatain kalo Kayra ke masjid cuma buat deketin kamu"
Melan langsung terpancing emosi.
Harusnya itu hanya menjadi rahasia keluarga mereka. Tapi apa daya, kami yang menjadi sahabat dari bayi mana bisa saling menyembunyikan sesuatu.
"benarkah? astagfirullah jadi malu aku Kay sama Perkataan-perkataan ummi"
ucap Dian sambil menyapu wajahnya, mungkin saja dia benar-benar menyesalkan perkataan umminya.
Itulah sekilas perbincangan kami sebelum ahirnya kami dipanggil untuk masuk ke bilik masing-masing.
Sudah hampir dua jam aku di bilik ini. Sekarang saatnya memanjakan kaki.
Sembari menunggu aku meraih ponsel di dalam tas. Ada beberapa pesan
__ADS_1
----- kak Jo -----
"besok kan udah pengumuman kelulusan. Pulangnya aku jemput yah"
---- raharDian ----
"kalo udah kluar duluan, tunggu ya"
---- Reymond ----
"Kay, aku jadi kuliah di Jogja loh 😊🥰"
ketiga cowok itu???
seketika hilang selera buat bales chatt Masing-masing. Baru juga kemarin tenang, haruskah aku tempel di kening ku peringatan HARAP TENANG ADA UJIAN
Sepertinya hari tenang ku akan berahir seiring berahirnya ujian.
Aku dan Melan keluar bersamaan. Sengaja tidak aku sampaikan pesan dari kakaknya, berharap dia masih berada di bilik kami bisa langsung pulang.
"ngapain sih jalan kaya maling aja kamu" tegur Melan
"eh, gak. Sambil mengingat aja, ada yang ketinggalan apa gak" aku berusaha mengelak.
sambil berjalan Melan nampak menghubungi seseorang. Tak lama setelah telepon nya mati pintu dari bilik pria terbuka. Perasaan ku sudah was-was. Dan ternyata benar, yang keluar orang yang tak di harapkan.
"kita minta antar ke masjid dulu ya, nanti pesen mobil online dari sana"
Melan memberi tau, sementara aku hanya tercengang.
Boncengan sama Dian?
Lagi pula ini sudah hampir pukul 2 siang belum solat dzuhur. Tidak mungkin juga kita pinjem motornya aja, gak ada yang bisa bawa motor sport. Terpaksa hanya bisa pasrah menerima.
Sekitar 10menit mereka pergi, Dian sudah muncul lagi.
"ayo" ajaknya
11 12 sama motor kak Jo. Itu artinya aku harus pegangan untuk naik.
Bismillah ajalah, yang penting bukan untuk niat buruk.
Beruntung sudah tidak setegang saat pertama di bonceng motor sama kak Jo.
Tak lama juga sudah sampai. Begitu aku datang Melan sudah selesai solat.
"tunggu ya, solat barengan sama aku" ucap Dian sembari melepas Helm.
Menolak pahala 27° itu gak baik.
Selesai aku wudhu Dian juga sudah selesai rupanya. Cowok memang selalu serba cepat.
Untuk pertama kalinya, dengan perasan tak karuan berdiri menjadi makmumnya.
Jangankan di belakangnya secara langsung, yang kebetulan berjajar terpisah tirai saja hati sudah dag dig dug.
Bismillah, niat karna Allah.
"semoga besok hasilnya memuaskan"
ucapnya sebelum aku berdiri meninggal kan tempat solat.
Sementara diluar
"ecie, romantis. Aku yang adeknya aja gak pernah diajakin solat jama'ah berdua" Melan menggoda.
"siapa suruh solat duluan" ucap ku dengan expresi yang berbeda seperti
"ye, baper yeee" ucap Melan lirih sembari mendekat ke telinga
"aku udah pesen mobil online" ucap nya kembali.
Tak lama setelah Dian keluar dari masjid, mobil yang di Pesan datang.
__ADS_1
Ya, dia keluar lebih lama. Entah do'a apa saja yang dia panjatkan. Padahal tadi aku berdo'a sudah panjang. Ternyata do'a dia lebih panjang lagi.
"kak duluan ya" Melan berpamitan.
"makasih tumpangan nya" ucap ku.
kemudian kami pergi lebih dulu.
Selepas quality time bersama, kami memasuki rumah masing-masing. Setelah tadi sama Melan, setelah ini sama bantal guling, nanti malem lanjut sama keluarga.
Seperti biasa mama sedang di butik dan papa yang masih kerja di siang hari begini. Adek juga palingan tidur di kamarnya. Jadi aku langsung masuk ke kamar.
Baru juga mengganti pakaian, handphone sudah berdering.
--- raharDian calling ---
"assalamu'alaikum. Kenapa? "
"wa'alaikumsalam, sudah sampe rumah? "
"udah barusan. Kamu sendiri? "
"belum, masih makan"
"oh, lanjut deh. Mau tidur"
"ya udah, assalamu'alaikum"
"wa'alaikumsalam"
percakapan berahir. Sudah dipastikan dia sedang berada di luar rumah jika berani menelpon.
Badan benar-benar terasa segar, kenapa juga baru kali ini aku mau coba pergi ke salon. Padahal juga mama biasanya ngajak. Bisa di rasakan bedanya, karna aliran darah lancar mungkin yah.
Selepas Asar aku turun, rupanya papa baru saja datang. Sedangkan mama masih di butik, jadi kali ini aku yang belajar buat kopi untuk papa.
"pa, kopinya sudah aku taruh di depan. Aku ke mau ke butik" aku memberi tau papa.
setelah aku sampai butik ternyata adek sudah ada disana lebih dulu.
"anak mama cantik semua, minta tolong di tutupin ya. Mama belum solat asar"
baru datang malah dapat bagian closing. Punya karyawan tapi selalu pulang belakangan. Itulah mama.
Selepas magrib aku juga adek membantu mama di dapur untuk menyiapkan makan malam.
Selalu dengan menu terbaik dari mama. Kali ini aku request udang balado.
Sekalipun terkadang harus masak dengan banyak macam tapi mama tidak pernah mengeluh. Jadi semakin tidak enak hati untuk makan diluar jika tidak benar-benar tersesak.
(makan ya, bukan jajan. Kalau jajan itu wajib biar pikiran tetap seimbang)
Malam berlalu dengan bermain tenis meja. Olahraga malam.
Papa suka olahraga malam kalau paginya tidak sempat olahraga.
Pagi ini aku berangkat bersama Melan. Menikmati waktu-waktu terahir. Setelah ini mungkin saja jadwal kelas kita tak lagi sama. Karena memilih jurusan yang berbeda. Masih kampus yang sama untungnya.
Tiba di sekolah suasana dalam aula sudah ramai sesak. Masih sama seperti tahun lalu rupanya.
Aku dan 3M sengaja menunggu di gazebo depan sekolah,beberapa meter dari aula. Tapi masih terlihat suasana aula.
Begitu waktu pengumuman kurang 15 menit, link baru kami terima melalui pesan whatsapp beserta pasword masing-masing untuk membuka pengumuman.
Kami segera merapat ke aula untuk berdoa bersama.
Suasana menjadi hening setelah do'a di panjatkan. Kali ini kami menunggu dengan wajah-wajah tegang. Menghitung waktu, dan
"teeeeeennngggg"
lonceng berbunyi pertanda link bisa dibuka.
Sejenak keadaan masih hening, ada yang sujud syukur, ada yang berdo'a cara Kristiani, ada yang meneteskan airmata haru. Ada yang bersorak kegirangan. Sampai ahirnya kami berhampuran saling berpelukan.
__ADS_1